"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempertanyakan
"Ar!"
Vina mengusap air matanya, melihat Arnold yang berjalan di lorong itu.
" Bagaimana kondisi Oma?"
Arnold meraih Vina dan membawa kepelukannya. Menenangkan sang sepupu yang sudah berurai air mata.
Memperhatikan Vina yang begitu cemas dan berurai air mata. Icha tentu paham jika sepertinya kondisi Oma tidak baik-baik saja.
" Aku akan masuk." Icha berkata kepada kedua orang itu dan menatapnya bergantian.
Perhatian Arnold teralihkan kepada Icha dan mengangguk perlahan.
"Pastikan jika Oma masih ada bersama kita." Ia mengelus puncak kepala Icha. Tersenyum kecil melihat wanita itu mengangguk, sebelum berbalik menuju ruangan Oma mereka.
" Jangan cengeng seperti ini Vina." Arnold menenangkan Vina yang masih berada dalam pelukannya.
Keduanya memilih duduk di ruang tunggu. Sedangkan Rafael dan juga Icha, beserta beberapa dokter maupun perawat lainnya sedang memeriksa Oma mereka di dalam.
"Tentu saja aku sangat takut." Vina menjawab dan mengusap air matanya.
"Meskipun kita sudah dewasa seperti ini. Dan Oma Jasmine sudah sangat tua. Tapi aku belum sanggup jika harus kehilangannya."
Ucapan Vina membuat Arnold menghela nafas. Ia juga merasakan hal yang sama.
Oma Jasmine adalah sosok nenek yang begitu menyayangi mereka.. Dan tentu saja mereka tidak akan sanggup untuk kehilangan wanita itu.
" Percayalah. Oma adalah wanita yang kuat. Ia tidak akan meninggalkan kita begitu saja." Arnold kembali menenangkan Vina.
"Kami sedang menikmati sarapan di dalam, ketika tiba-tiba monitor itu berbunyi dan membuat kami tersadar. El memperhatikan tubuh Oma yang tersentak beberapa kali, sebelum El memeriksa Oma. Dan beberapa perawat yang datang ke dalam." Vina menjelaskan situasi yang terjadi saat ia dan Rafael sedang menjaga Oma Jasmine di dalam.
"Iya. Aku percaya. Kita memiliki dokter terhebat di keluarga kita. Dan kita harus yakin jika mereka akan menyelamatkan Oma." Sekali lagi Arnold menenangkan hina.
Saat ini yang berada di rumah sakit Hanya mereka.
"Aku sudah menghubungi papa dan juga Opa. Mereka akan segera kemari." Vina menyampaikan.
Mengangguk kecil mendengar ucapan Vina. Arnold akhirnya tidak menghubungi siapapun lagi. Karena ia juga tahu jika telah menghubungi Fasya Laksmana yang adalah Papa Vina beserta Devan. Maka laki-laki paruh baya sebagai putra sulung Opa Rama itu akan menghubungi yang lain dan memberitahukan kondisi Oma Jasmine.
Sebentar lagi keluarga mereka pasti akan berkumpul di lorong ini. Ia yakin itu.
"Kamu benar-benar tidur di ruangan Icha?" Vina menarik diri, dan melepaskan pelukan mereka. Memperhatikan Arnold dengan tatapan penuh selidik.
" Iya." Arnold menjawab.
"Dan kenapa hal itu terlihat membuatmu tidak percaya?" Ia mendengus melihat reaksi Vina yang melihatnya, seolah telah melakukan kesalahan.
"Dari sekian banyaknya kamar yang ada di rumah sakit ini. Bahkan di lantai ini, banyak kamar kosong! Kamu memilih kamar Icha? Yang benar saja!" Vina berdecak, masih tidak percaya dengan penjelasan Arnold.
"Ayolah! Menurutku hanya ranjang Icha yang paling steril untuk aku tempati."
Dan jawaban dari Arnold sukses membuat Vina kembali berdecak. Pikiran dan perhatiannya seketika teralihkan dari Oma mereka yang sedang diperiksa di dalam.
Vina memperhatikan sepupunya ini dengan tatapan yang semakin penasaran dan penuh selidik.
"Kamu tidak berbuat mesum di ruangan Icha bukan?" Tembak Vina dan hal itu sukses membuat Arnold melotot tajam, memperingatkan.
"Apa kamu pikir aku lelaki seperti itu?!" Mendengus kesal, tentu saja Arnold tidak terima dipertanyakan seperti itu.
"Siapa tahu bukan?" Vina mengangkat pundaknya.
"Kamu sengaja menjauh dari lantai ini, menuju lantai di mana keberadaan ruangan Icha berada. Karena di sana lebih banyak perawat yang berlalu Lalang. Mungkin saja, kamu tertarik dengan salah satu perawat itu. Atau salah satu dokter yang ada di sana. Kamu menarik salah satu diantara mereka dan membawa ke ruangan Icha. Melakukan perbuatan mesum di ruangan Icha, tanpa sepengetahuan Icha." Vina menjelaskan keraguannya.
'Tak!'
Sebuah sentilan di kening Vina menghentikan ocehannya.
Arnold geleng kepala mendengar semua asumsi Vina yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa Ia memiliki sepupu yang berpikiran sempit seperti ini.
"Itu sangat sakit tahu!?" Vina mengerutkan bibir, semakin kesal karena mendapat sentilan secara tiba-tiba.
"Paling tidak, itu cukup untuk menyadarkanmu. Agar tidak memikirkan hal-hal negatif tentang sepupumu ini." Balasan dari Arnold membuat Vina mendengus kesal.
"Siapa tahu kan? Kamu adalah laki-laki dewasa, yang berusia sudah matang. Masa iya kamu tidak tertarik dengan seorang wanita pun?" Vina menyipitkan mata dan tidak percaya.
"Bukan tidak tertarik dengan wanita Vina. Hanya saja aku pemilih, jika itu bersangkutan dengan seorang wanita." Dengan angkuh Arnold menjawab.
Dan hal itu sukses membuat Vina semakin mendengus kesal. Ia menyandarkan tubuh di kursi tunggu dan menunggu dalam diam. Sementara sang suami beserta Icha sedang memeriksa Oma di dalam.
" Percayalah. Oma pasti akan baik-baik saja." Arnold bisa mengenali perubahan raut wajah Vina yang begitu murung. Ia kembali menenangkan Vina.
"Apa kamu serius akan menikahi Icha?" Vina tiba-tiba bertanya soal niat Arnold yang ingin menikah dengan Icha.
"Jika itu satu-satunya cara untuk membuat Oma bersemangat. Dan tidak terlalu memikirkan aku, hingga membuat tubuhnya drop. Aku pasti akan melakukannya." Arnold menjawab dengan sorot yang begitu serius.
"Tapi kamu dan Icha tidak saling mencintai Ar." Vina mengingatkan.
"Aku tahu." Arnold tersenyum kecil. Ia tidak harus diperingatkan soal itu.
"Tapi di antara banyak wanita di luaran sana. Hanya Ica yang bisa kupercayai." ia menghela nafas.
" Icha sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Dan tidak akan ada masalah yang timbul jika itu bersamanya." Ia menjawab rasa penasaran Vina.
"Jika aku memilih wanita lain. Belum tentu wanita itu mengerti dengan kondisiku nanti." Arnold juga menjelaskan.
"Kamu tahu bukan, jika aku terlalu sering pergi ke Thailand untuk mengurusi perusahaan di sana? Aku tidak yakin jika itu wanita lain, akan tahan aku tinggalkan terlalu sering di negara kita. Dengan segudang pekerjaan yang aku miliki. Dan aku juga merasa tidak percaya untuk meninggalkan seorang wanita terlalu lama seperti itu. Siapa tahu jika wanita itu akan memilih menghianatiku." Ia menjelaskan semua hal yang selama ini ia hindari.
"Tapi kenapa dengan Icha, kamu tidak berpikir seperti itu?" Vina semakin tertarik mendengar alasan Arnold.
" Karena Icha adalah seorang dokter yang bekerja di bawah naungan Rafael. Itu sudah membuatku merasa jauh lebih lega." Arnold kembali menjawab.
"Kesibukan Icha sebagai seorang dokter di rumah sakit ini, akan membuat perhatiannya teralihkan, jika aku terlalu sering pergi ke Thailand untuk mengurus pekerjaan. Icha akan disibukan oleh pekerjaannya di rumah sakit ini. Dan yang membuatku lebih tenang adalah ia berada di lingkaran keluarga kita. Dan akan selalu dijaga. El juga bisa memastikan, selama Icha berada di rumah sakit ini ia akan diawasi. Dengan begitu aku yakin, Icha tidak akan memiliki niat untuk menghianati pernikahan itu nanti." Semua hal Arnold sampaikan.
Vina yang sejak semula membantah dan menolak pernikahan antara Arnold dan Icha seketika terdiam. Sepertinya Arnold benar-benar telah memikirkan ini dengan matang.
Ia melihat keseriusan yang begitu jelas dalam wajah sepupunya ini.
Namun Vina masih ragu dalam hatinya.
Sungguh, Apakah ini adalah keputusan yang tepat?
..........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik