NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Labirin Cermin Jiwa

Lantai dua Menara Kegelapan tidak berbau darah. Sebaliknya, udara di sini berbau seperti debu perpustakaan tua yang bercampur dengan aroma anyir air raksa. Begitu Jiangzhu melangkahkan kaki melewati pintu tulang, ia tidak menemukan aula besar atau arena jagal. Ia justru berdiri di sebuah koridor sempit yang seluruh dinding, lantai, hingga langit-langitnya terbuat dari cermin perak yang sangat jernih.

"Jangan menatap bayanganmu terlalu lama," Yue memperingatkan. Suaranya terdengar ganda, memantul di ribuan permukaan kaca. "Di lantai ini, cermin tidak memantulkan wajahmu, tapi memantulkan apa yang ingin kau lupakan."

Jiangzhu menatap lurus ke depan. Namun, sudut matanya tidak bisa berbohong. Di setiap cermin yang ia lewati, ia melihat bayangan dirinya sendiri, tapi dengan versi yang berbeda-beda. Di satu cermin, ia melihat dirinya yang masih kecil, sedang memegang perutnya yang kelaparan. Di cermin lain, ia melihat dirinya sedang tertawa gila di atas tumpukan mayat penduduk desanya.

"Kakak... aku takut," bisik Awan. Suaranya bergetar. Gadis kecil itu menutupi matanya dengan tangan mungilnya.

"Pejamkan matamu, Awan. Jangan buka sebelum aku menyuruhmu," perintah Jiangzhu. Ia merasakan hawa dingin di ruang jiwanya semakin menusuk. Li'er, mayat hidup di dalam dirinya, tampak sangat tidak nyaman dengan keberadaan cermin-cermin ini.

Bocah, waspadalah, suara Penatua Mo terdengar berat. Ini adalah 'Labirin Cermin Jiwa'. Cermin-cermin ini dibuat dari kaca arwah yang bisa menarik paksa jiwa yang tidak stabil. Jika kau melihat bayanganmu yang menangis, kau akan ikut menangis sampai matamu pecah. Jika kau melihat bayanganmu yang mati, jantungmu akan berhenti berdetak.

"Lalu bagaimana cara keluar dari sini?" tanya Jiangzhu lewat batin, sambil terus melangkah mengikuti Yue yang tampak sudah hafal jalannya.

"Cari pantulan yang tidak memiliki bayangan mata. Itu adalah pintu yang sebenarnya," jawab Mo pendek.

Tiba-tiba, Yue berhenti. Tubuhnya menegang. "Sial, dia sudah datang."

"Siapa?" Jiangzhu menghunus pedang hitamnya.

Dari arah depan, sebuah sosok keluar dari balik belokan labirin. Jiangzhu membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Sosok yang berjalan ke arah mereka adalah seorang wanita cantik dengan pakaian putih suci. Wajahnya lembut, penuh kasih sayang, dan matanya memancarkan cahaya yang menenangkan.

"Ibu...?" gumam Jiangzhu. Pedangnya perlahan turun. Itu adalah wajah yang selama ini hanya muncul dalam mimpinya yang paling samar. Wajah Dewi yang menjadi ibunya.

"Jiangzhu... putraku yang malang," sosok itu merentangkan tangannya. "Kemarilah, Nak. Tinggalkan pedang berdarah itu. Langit merindukanmu. Aku akan membawamu pulang ke tempat di mana tidak ada rasa sakit."

"Jangan dengarkan dia!" teriak Yue sambil melemparkan belatinya ke arah sosok itu.

TING!

Belati Yue terpental seolah menghantam baja. Sosok "Ibu" itu tidak terluka. Ia terus tersenyum, namun perlahan wajahnya mulai retak seperti porselen.

"Yue... kau selalu mengganggu," suara "Ibu" itu mendadak berubah menjadi berat dan parau. "Biarkan anak ini kembali ke asalnya."

Jiangzhu merasa kakinya bergerak sendiri. Kata-kata "Ibu" itu mengandung hipnotis yang sangat kuat. Ia merasa seolah-olah seluruh beban dunia yang ia panggul dendam, kemiskinan, dan kekuatan iblis bisa hilang hanya dengan satu pelukan itu.

BOOM!

Sebuah hawa dingin yang sangat tajam meledak dari dalam dada Jiangzhu. Li'er memaksakan energinya keluar, membekukan lapisan luar kulit Jiangzhu untuk menyadarkannya.

"Argh!" Jiangzhu tersentak. Kesadarannya kembali tepat saat tangannya hampir menyentuh tangan sosok itu.

"Itu bukan ibumu, Bodoh! Itu adalah Iblis Cermin Tingkat Tinggi!" Penatua Mo berteriak kencang di kepala Jiangzhu.

Jiangzhu melihat ke arah sosok itu lagi. Benar saja, di dalam cermin di belakang sosok itu, pantulannya bukan lagi wanita cantik, melainkan makhluk kurus kering dengan tangan yang panjangnya dua meter dan mulut yang dipenuhi gigi-gigi tajam seperti gergaji.

"Kau berani menggunakan wajahnya?!" amarah Jiangzhu meledak. Ia tidak pernah merasa semarah ini. Baginya, ibunya adalah satu-satunya hal suci yang tersisa di hatinya yang busuk.

Energi hitam dan ungu meluap dari tubuh Jiangzhu, menciptakan tekanan yang membuat cermin-cermin di sekitarnya retak.

"Seni Trinitas: Gerhana Jiwa!"

Jiangzhu melesat maju. Kali ini ia tidak mengincar fisik makhluk itu, melainkan mengayunkan pedangnya ke arah cermin utama di belakang si iblis.

PRANGGG!

Suara kaca pecah yang memekakkan telinga bergema di seluruh labirin. Begitu cermin utama itu hancur, sosok wanita cantik itu menjerit melengking, tubuhnya hancur menjadi debu abu-abu.

Namun, masalah belum selesai. Pecahan cermin yang jatuh ke lantai mulai bergerak sendiri. Ribuan kepingan kaca itu terbang ke udara, membentuk pusaran badai silet yang mengelilingi Jiangzhu, Yue, dan Awan.

"Pelindung Cahaya Biru!" teriak Jiangzhu pada Awan.

Awan, meskipun takut, segera melepaskan energinya. Sebuah kubah biru transparan menyelimuti mereka. Ribuan keping kaca menghantam kubah itu dengan suara denting yang bertubi-tubi.

"Yue! Di mana pintunya?!" Jiangzhu berteriak di tengah kebisingan badai kaca.

Yue menunjuk ke sebuah sudut di mana ada sebuah cermin kecil yang tergeletak di lantai, tidak ikut terbang. Cermin itu tampak kusam dan sama sekali tidak memantulkan apa pun.

"Itu dia! Tapi kita harus menembus badai ini dalam tiga detik sebelum kubah anak ini pecah!"

Jiangzhu mengambil napas dalam. Ia membiarkan Li'er mengambil alih sebagian tubuhnya. Kulit tangan Jiangzhu berubah menjadi hitam legam, kuku-kukunya memanjang. Ia memeluk Awan dan Yue sekaligus, lalu meledakkan seluruh energinya untuk menjadi tameng manusia.

"Lari!"

Mereka melesat menembus badai silet kaca. Jiangzhu merasakan punggungnya diiris oleh ribuan kepingan cermin, darahnya menyemprot ke dinding labirin. Namun, berkat Pain Immunity, ia tidak berhenti.

Mereka melompat masuk ke dalam cermin kusam di lantai.

Wush!

Sensasi jatuh yang tidak berujung menyelimuti mereka sebelum akhirnya mereka mendarat di sebuah lantai batu yang padat. Jiangzhu jatuh tersungkur, punggungnya hancur berantakan, bajunya kini hanya tinggal kain compang-camping yang basah oleh darah.

Awan segera menangis, tangannya mencoba menyentuh luka-luka Jiangzhu. "Kakak... Kakak berdarah banyak sekali..."

"Aku... tidak apa-apa," Jiangzhu berusaha tersenyum, meskipun wajahnya pucat pasi.

Yue bangkit berdiri, membersihkan debu dari pakaiannya. Ia menatap Jiangzhu dengan pandangan yang sulit dijelaskan. "Kau benar-benar gila. Kau melindungi kami berdua dengan tubuhmu."

"Jangan besar kepala," balas Jiangzhu parau. "Jika kau mati, siapa yang akan memanduku keluar dari tempat terkutuk ini?"

Jiangzhu bangkit perlahan, luka di punggungnya mulai menutup secara ajaib berkat energi Li'er, meninggalkan bekas luka baru yang tampak seperti pola sayap hitam yang patah. Ia menatap ke depan.

Mereka kini berada di sebuah jembatan gantung yang sangat panjang, menggantung di atas jurang api yang menyala-nyala. Di ujung jembatan, berdiri sebuah gerbang besar dengan tulisan: Lantai 14: Ujian Darah Para Leluhur.

"Kita semakin dekat, Jiangzhu," bisik Yue. "Tapi ingat, lantai selanjutnya tidak akan menyerang pikiranmu. Mereka akan menyerang garis keturunanmu."

Jiangzhu mengepalkan tangannya. "Biarkan mereka datang. Aku ingin tahu seberapa kuat darah 'Dosa Besar' yang mengalir di tubuhku ini."

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!