NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gebrakan

Radit menggeser kursinya perlahan, lalu berdiri sambil merapikan jas.

“Maaf, aku harus ke toilet dulu sebentar,” katanya singkat, lalu berjalan keluar dari ruang VIP restoran tanpa menunggu jawaban siapa pun.

Soraya meliriknya sekilas. Ada yang berubah dari nada suara Radit barusan.

Ayah Radit menyesap tehnya perlahan. Saat itu, Rania tahu… jika ia ingin benar-benar menancapkan kesan baik malam ini, ia harus menutupnya dengan keberanian yang anggun.

Ia menegakkan tubuh, lalu bicara dengan nada yang penuh percaya diri namun tetap sopan.

“Mohon izin, menyusul sebentar…”

Sang ayah menoleh pelan, alis kirinya sedikit terangkat.

“Ya?”

Rania tersenyum. “Saya ingin menyusul Radit sebentar. Saya khawatir dia kenapa napa.”

Ekspresi Mahendra berubah pelan. Sedikit terkejut, sedikit kagum.

“Jarang ada wanita yang mau bicara seperti itu, Soraya.”

“Saya bukan wanita biasa,” jawabnya pelan. “Dan saya tahu, menjadi bagian dari keluarga Mahendra bukan hanya tentang cinta dan status, tapi tentang keberanian.”

Ayah Radit menatapnya dalam. Lalu angguk kecil itu keluar, seolah tanda bahwa Rania—dalam wujud Soraya—telah naik satu tingkat dalam pandangannya.

“Silakan. Saya rasa… Radit tidak salah pilih.”

Rania membungkuk sedikit, sopan. Lalu melangkah keluar dengan anggun untun menyusul Radit.

Langkahnya tidak terburu, tapi penuh ketegasan. Dress elegannya tidak menghalangi gerakan, justru memperindah siluetnya saat berjalan melewati lorong restoran.

Di luar ruang VIP, ia tak melihat Radit langsung. Tapi seorang pelayan menunjuk arah toilet pria.

“Tuan Radit baru masuk ke sana, Nona.”

Rania mengangguk. “Terima kasih.”

"Wah. Ternyata sebesar ini Mahendra Grup. Sampai seorang pelayan pun tahu dengan pasangan kontrakku" gumam soraya.

Ia pun berdiri sejenak di depan pintu, menarik napas panjang.

“Aku enggak boleh lengah. Sekali ini, aku harus bisa sejajar. Bahkan jika semua ini hanya sementara.”

Tangannya terulur, perlahan membuka pintu toilet pria yang kebetulan sedang kosong dari pengunjung lain… kecuali

Radit.

Berdiri menatap cermin, membuka kancing atas kemejanya, membasuh wajah, lalu membuang napas keras. Kepalanya tampak penuh.

Sampai ia mendengar suara pintu dibuka dan tertutup kembali.

Radit menoleh cepat.

“Rania?” tanyanya pelan, nyaris tidak percaya. “Kamu… masuk toilet cowok?”

Rania berdiri tegak, tidak menunjukkan rasa canggung sedikit pun. “Dulu kamu bisa nyelonong ke toilet cewek tanpa rasa bersalah. Sekarang giliran aku.”

Radit menyipitkan mata. “Itu beda.”

“Beda kenapa? Karena kamu laki-laki?”

“Karena waktu itu di wilayah kekuasaan ku.”

“Dan sekarang aku sadar kamu selalu punya kendali di berbagai tempat.” Rania melangkah pelan, “Jadi tolong jangan langsung menuduh aku aneh.”

Radit menyandarkan tubuhnya ke wastafel, menyilangkan tangan di dada. “Terus, kamu ke sini mau ngapain?”

“Meluruskan.”

“Meluruskan?”

“Ya.” Rania menatap pria itu dalam-dalam. “Semua yang aku ucapkan tadi… soal latar belakang, soal keluarga, soal gelar dan pengalaman, itu—”

Radit memotong cepat. “Rekayasa?”

Rania mengangguk. “Aku enggak ingin keluargamu menganggapku remeh. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Tapi… aku juga bukan perempuan yang bisa diinjak. Aku cuma ingin terlihat setara. Setidaknya, sampai kamu dapat semua yang kamu butuhkan dari kontrak ini.”

Keheningan mengisi ruangan sesaat.

Radit memejamkan mata, membuka kancing lengan kemejanya, lalu melipatnya sampai siku. “Kenapa kamu enggak bilang sebelum-sebelumnya?”

“Aku enggak yakin kamu bakal setuju.”

Radit menatapnya, lama. Kemudian ia mengangguk pelan.

“Oke. Aku ngerti. Dan… ya, aku enggak marah.”

Rania sempat terlihat lega. Tapi Radit melirik ke samping, menatap cermin.

“Masalahnya bukan kamu, Ran. Tapi keluargaku. Kamu belum tahu seberapa jauh mereka bisa melangkah untuk ngejaga ‘darah’. Kalau mereka tahu identitasmu nggak sepadan kayak yang kamu bilang barusan, bisa-bisa mereka…—”

Ia tak menyelesaikan pikirannya.

“Kalau udah enggak ada yang mau kamu omongin, lebih baik kamu keluar sekarang. Biar enggak ada yang lihat,” ucap Radit akhirnya.

Rania mengangguk cepat. “Iya. Sebelum segalanya kacau.”

Ia melangkah pergi. Tapi sebelum menyentuh pintu, ia menoleh sebentar. “Terima kasih… udah ngerti.”

Radit tak menjawab, hanya mengangguk sekali.

---

Beberapa Saat Kemudian, Rania berjalan anggun kembali ke ruang makan. Ia masuk dengan langkah pasti, senyumnya kembali terukir, bahkan lebih elegan dari sebelumnya.

Ayah Radit sedang menuangkan minuman ke gelasnya, namun berhenti saat melihat Rania mendekat.

“Maaf, jika menunggu lama,” ujar Rania sopan. “Radit sepertinya kurang enak badan.”

“Oh?” Ayah Radit menaikkan alisnya.

Rania lalu menarik kursinya perlahan, “Dia memang kelihatan baik-baik saja, tapi sebenarnya… Radit itu mudah kena sakit perut kalau dikasih minuman mahal. Terutama yang punya kadar fermentasi tinggi.”

Ayah Radit menatapnya, terdiam sesaat. Lalu, bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum.

“Begitu ya…”

“Iya. Jadi… mungkin nanti kalau jamuan atau pertemuan keluarga lagi, saya yang akan bantu pilihkan menunya.”

Ayah Radit tertawa ringan, kali ini jauh lebih hangat dari sebelumnya. “Ternyata kamu tahu betul kelemahan anak saya.”

Rania hanya tersenyum, tidak membalas secara langsung. Tapi dalam hatinya, ia tahu… ucapan itu telah memantapkan satu langkah lagi dalam permainan ini.

Beberapa menit kemudian, Radit kembali dari toilet. Wajahnya sedikit pucat.

"Kamu emang gak pernah berubah" seloroh Ayahnya dengan santai.

Radit tak menjawab, justru ia menoleh pada Rania, mencari kejelasan.

"Enggak papa, akuin aja kalau kamu gak enak perut karena minum wine tadi. Sekarang, duduk di sini" balas Rania, seolah tahu segalanya.

Radit tak bisa berbuat lebih, selain menuruti perintah Rania kali ini.

Cahaya lampu kristal yang menggantung dari langit-langit menyorot lembut ke permukaan meja panjang berlapis linen putih. Di atasnya, berderet hidangan mewah; mulai dari steak wagyu, lobster panggang, hingga wine eksklusif yang dibiarkan tak tersentuh oleh Rania.

Radit duduk di sampingnya, tubuhnya tampak tegak, tapi sorot matanya belum juga tenang sejak Rania kembali dari toilet. Ada yang berubah. Terlalu drastis.

Rania terlihat anggun dengan gaun simpel namun mahal. Senyumnya selalu tepat, tidak pernah berlebihan.

Ayah Radit sendiri sesekali menatap Rania dengan pandangan yang dalam, mengamati tanpa bicara terlalu banyak.

Radit tahu, itu tanda bahwa sang ayah sedang menimbang sesuatu.

Saat itu, pelayan menyajikan hidangan utama: daging steak dengan saus khas dari Prancis.

Radit mengambil garpu dan pisau, mulai memotong dagingnya dengan cekatan. Tapi ia tampak tergesa, seolah pikirannya tidak ikut makan bersama tubuhnya. Saat itulah, garpunya miring, nyaris menjatuhkan potongan daging yang ia angkat.

Rania melihatnya. Ia langsung memiringkan tubuh sedikit, lalu membetulkan posisi garpu Radit dengan gerakan halus.

“Sayang, pelan dong. Enggak usah buru-buru makannya.”

Beberapa orang di meja langsung menoleh. Ayah Radit mengangkat sedikit alisnya, tertarik.

Sementara Radit… membeku sesaat.

Tangannya masih memegang garpu. Tapi jantungnya? Seperti dipukul dari dalam. Keras. Panas. Terkejut.

Dia tidak tahu kalimat itu akan punya efek sebesar ini.

Sayang.

Radit menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah Rania yang sudah kembali bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi pipinya memerah sedikit. Ia memang sedang ‘berakting’, tapi sorot matanya menatap Radit terlalu lama untuk ukuran akting biasa.

Dan belum habis keterkejutannya…

Saat ia akhirnya menyuap daging ke mulut, saus coklatnya sedikit menetes ke ujung bibir. Ia refleks hendak mengelap dengan serbet, tapi sebelum sempat…

Rania sudah lebih dulu bergerak. Dengan tisu dari pangkuannya, ia mencondongkan tubuh, lalu perlahan mengelap bagian bibir Radit yang terkena saus.

Sentuhan itu lembut. Nyaris tak terasa. Tapi cukup untuk membuat Radit kehilangan fokus sejenak.

Lalu suara Rania menyusul, rendah, terdengar seolah hanya untuk mereka berdua:

“Sayang, aku bilang pelan aja makannya. Ini kan lagi pertemuan keluarga…”

Radit menoleh cepat. Jarak wajah mereka begitu dekat.

Matanya memburu, mengunci sorot mata perempuan itu.

Rania tersenyum, hangat. Ringan. Tapi ada keberanian yang belum pernah Radit lihat sebelumnya di sana.

Ayah Radit memperhatikan semuanya. Namun ekspresinya tidak menunjukkan rasa curiga. Justru… lebih ke arah rasa kagum.

“Sepertinya kalian memang cocok sekali,” gumam sang ayah, lebih ke dirinya sendiri, tapi cukup jelas untuk terdengar.

Radit tak menjawab. Dia bahkan tidak yakin bisa bicara sekarang.

Karena satu hal yang ia sadari baru saja menusuk lebih dalam dari daging di piringnya:

Kalau semua ini hanya sandiwara… kenapa rasanya malah terlalu nyata?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!