Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Setelah beberapa jam kemudian pesawat yang di tumpangi Dewi pun tiba di Kalimantan, Hari sudah mulai gelap saat itu.
"Bagaimana ini, aku harus kemana mencari mas Abi" gumam Dewi saat sudah berada di bandara SUPADIO pontianak.
Dewi membuka Hp nya yang hanya tinggal 25% baterai tersisa, kemudian Dewi pun menghubungi nomor ponsel Abi.
Tak berapa lama kemudian sambungan pun terhubung.
"Halo mas Abi!" sapa Dewi.
"Halo, Dewi kamu di mana hah?!" jawab Abi dengan tidak sabar.
"Mas...bisa jemput aku enggak, aku lagi di bandara SUPADIO sekarang" ucap Dewi sedikit takut.
"Apaaa!!!...kenapa enggak bilang dulu kalau mau ke sini, memangnya kamu punya uang hah, bukanya jagain ibu malah keluyuran nggak jelas kamu ini!" oceh Abi.
"Mas..aku sudah terlanjur sampai ini dan nggak mungkin balik lagi kan, kamu mau jemput apa enggak sik sebenarnya!" balas Dewi yang sudah dongkol dan juga ketakutan berada di tempat jauh mana sendirian lagi.
"Iya-iya aku jemput, kamu tunggu saja di situ jangan kemana-mana nanti ilang malah berabe!" ucap Abi pada Dewi, kemudian sambungan pun terputus.
"Hah astagah...Dasar mas Abi nggak peka banget sih jadi orang!" keluh Dewi.
Dewi pun menunggu sampai satu jam lebih barulah Abi datang.
"Mas.....!" panggil Dewi saat melihat Abi yang sedang celingak celinguk mencari keberadaanya.
"Hah...cih dekil banget sih, jelek pula!" keluh Abi saat melihat sang istri yang di nikahinya 5 tahun yang lalu itu.
"Kamu ngapain sih ke sini!" oceh Abi pada Dewi.
"Bicara nanti saja sekarang ajak aku makan aku lapar" ucap Dewi yang sekarang sudah nggak sungkan lagi.
"Kamu...sejak kapan kamu jadi nyolot gini!" protes Abi pada Dewi.
"Sejak kamu enggak beres, sudah ayok jalan!" ucap Dewi yang langsung nyelonong gitu aja, Abi pun mengikutinya dari belakang, dia pun tak berinisiatif ngebawain tas yang di bawa Dewi padahal itu terlihat berat.
Mereka pun pergi ke sebuah warung yang berada tak jauh dari area bandara.
"Mas makan di sini mahal enggak harganya?" tanya Dewi pelan, dia cemas kalau makanan di warung itu harganya selangit seperti di restoran mewah.
"Mahal tapi enggak mahal-mahal amat, tapi kamu bayar sendiri aku nggak bawa uang" ucap Abi yang tidak tahu malu, Dewi pun membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Abi.
"Serius mas kamu ngomong gitu sama Aku?!" tanya Dewi memastikan lagi, Abi tiba-tiba tersadar jika sikap dia memang sudah keterlaluan.
"Ya...eh ya enggak lah, mana mungkin aku tega sama kamu, aku hanya bercanda saja" jawab Abi yang merasa sedikit malu pada Dewi.
"Cih...aku kira kamu beneran tega sama istri sah kamu ini, dan malah rela ngeluarin uang buat wanita lain di luar sana!" ledek Dewi bermaksut menyentil Abi.
"Ngaco banget kamu, mana ada aku kayak gitu, sudah ayok katanya mau makan, keburu malam loh" ajak Abi yang berusaha mengalihkan perhatian.
Kemudian keduanya pun masuk ke dalam sebuah warung makan, Dewi segera memesan makanan untuk mengganjal perutnya yang sedari pagi belum makan karena banyak pikiran.
"Kenapa kamu nggak telepon aku kalau mau kesini?" tanya Abi pada Dewi yang sedang makan.
Dewi menghentikan makannya dan memandang ke arah wajah Abi, kemudian berkata.
"Mas kamu jujur sama aku, apa kamu nikah lag!" tanya Dewi memastikan.
"Enggak, kata siapa aku nikah lagi, itu kabar bohong!" bantah Abi.
"Karsiman berani bersumpah demi Tuhan kalau dia lihat kau dan wanita bernama Wulan yang mengaku sebagai istri kamu!" ucap Dewi dengan tegas dan tatapan tajam pada Abi.
"Bohong itu, hoak dia, sumpah aku nggak nikah lagi kok, aku kerja di sini demi kamu dan ibu juga masa depan kita, masak kamu lebih percaya orang lain dari pada suamimu sendiri" sangkal Abi.
"Syukurlah kalau itu nggak bener, aku lega dengernya, tapi jika memang itu bener makan ceraikan aku sekarang juga, aku lebih baik pisah dari pada kamu bohongin!" ucap Dewi dengan yakin dan tegas.
"Kamu ngomong apa sih...enggak usah berfikir macam-macam deh, aku jujur dan setia sama kamu, nanti kita nginep di hotel besok kamu pulang ke jawa, kalau kamu di sini siapa yang jagain ibu!" ucap Abi yang nggak mau Wulan mengetahui kedatangan Dewi.
"Apa...kamu nyuruh aku balik besok, enggak salah mas?!" tanya Dewi penuh selidik.
"Apanya yang salah, sekarang kamu sudah tau kan kebenarannya aku enggak selingkuh dan enggak nikah lagi, lalu untuk apa kamu di sini, mending kamu di rumah jagain ibu biar aku tenang kerjanya" jelas Abi seenak udelnya.
"Astagah mas Abi, kok aku malah jadi curiga ya sama kamu!" ucap Dewi penuh selidik.
"Curiga kenapa?!" ucap Abi pura-pura nggak tau.
"Ya sudah lah besok aku balik deh kamu baik-baik di sini, aku enggak akan ganggu kamu lagi" ucap Dewi yang sudah gedeg dan pasrah dan nggak tau mesti bagaimana lagi.
Abi malah tersenyum puas melihat Dewi yang nurut dengan perkataannya begitu saja.
"sini, mana uangnya!" ucap Dewi sembari mengukurkan telapak tangannya meminta uang pada Abi.
"Uang apa?!" tanya Abi dengan polosnya.
"Tentu saja uang untuk beli tiket pesawat besok!" jawab Dewi dengan ketus.
"Enak aja, mana ada aku uang!" tolak Abi.
"Astagah minta orang balik tapi enggak mau ngasih uang, kamu kira pesawat itu milik nenek kamu yang enggak perlu bayar!" ucap Dewi kesal.
"Lah kan kamu sendiri yang kesini, ya kamu sendiri yang bayar tiket pulang!" bantah Abi.
"Mas...sekarang aku tanya sama kamu, aku ini siapa?" tanya Dewi yang sudah gemes sama Kelakuan Abi yang sok polos itu.
"Kamu ya istri aku lah" ucap Abi dengan santai.
"Nah pinter, sekarang aku tanya, tugas suami apa?" tanya Dewi lagi.
"Tentu saja mencari nafkah buat istri!" jawab Abi dengan pedenya.
"Nah kalau gitu nggak salah kan kalau aku minta uang sama kamu, kan memang kamu tugasnya nyari nafkah buat aku istrimu!" jelas Dewi dan itu langsung membungkam Abi.
"Astagah sialan, sejak kapan dia jadi pintar ngomong gini" gumam Abi dalam hati.
"Kenapa mas, apa aku salah ngomong?!" tanya Dewi dengan berani dan percaya diri.
"Ah enggak kok, kamu betul, ya sudah besok aku kasih kamu uang buat beli tiket pesawat, malam ini kamu tidur di hotel deket sini, besok aku akan mengantarmu kembali ke bandara" ucap Abi yang sok perduli pada Dewi padahal sikapnya justru sangat mencurigakan.
"Gimana, kamu setuju enggak, aku tidur di mes kantor, kalau ngajak kamu pasti akan di pecat" ucap Abi berkilah.
"ya udah terserah mas Abi saja, aku capek lelas pengen segera mandi dan tidur!" ucap Dewi dengan tegas.
Setalah selesai makan Abi pun mengantarkan Dewi buat nginap di hotel, sejak datang Dewi sudah merasakan keanehan pada dirinya, makanya Dewi sudah merencanakan hal yang besar di kepalanya.
cinta boleh wi gobloogg jangan