NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pembantaian Konvoi dan Transformasi Lengan Kedua

Udara dingin yang tidak wajar menyusup di sepanjang dasar Hutan Mati ketika suara gemerincing zirah baja mulai terdengar mendekat. Jiangzhu berjongkok di dahan pohon yang hangus, tubuhnya hampir menyatu dengan kegelapan sekitarnya. Di bawahnya, jalan setapak yang becek oleh lumpur asam mulai bergetar pelan.

Konvoi Sekte Cahaya Suci muncul seperti ular perak yang bersinar di bawah cahaya rembulan yang redup. Empat kereta kuda berlapis baja kokoh dikawal ketat oleh dua puluh ksatria berkuda, masing-masing memegang tombak dengan ujung kristal pemurni yang berkilauan.

"Target terdeteksi. Bersiap..." suara Baron Tua terdengar rendah melalui getaran transmisi energi di telinga Jiangzhu.

Jiangzhu tidak memberikan balasan. Seluruh fokusnya tertuju pada lengan kirinya. Lengan yang terbungkus kain itu sekarang berdenyut dengan intensitas yang luar biasa, memaksa Jiangzhu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan erangan. Rasa laparnya kini berbeda, bukan lagi keinginan akan makanan, melainkan kerinduan akan esensi kehidupan.

Sekarang, Bocah! Hancurkan kereta ketiga, peti obat ada di sana! Penatua Mo memberikan instruksi dengan urgensi.

BUMMM!

Ledakan pertama mengguncang hutan, dipicu oleh ranjau energi yang telah dipasang dengan cermat oleh para pemberontak. Tanah meledak ke atas, melemparkan kuda dan ksatria ke udara dalam kekacauan. Hujan lumpur asam dan darah menyiram barisan konvoi yang terkejut.

"Serang!" teriak Baron Tua, suaranya pecah dari balik semak-semak.

Jiangzhu melesat turun dari dahan pohon seperti bayangan hitam yang jatuh. Ia tidak langsung menghunus pedangnya. Ia mendarat tepat di atas kepala ksatria yang berada paling depan. Dengan tangan kirinya yang kini bersisik hitam, ia mencengkeram helm baja ksatria itu dengan kekuatan abnormal.

KRAKKK!

Baja setebal satu inci itu remuk seketika, berubah bentuk seperti kertas timah di bawah cengkeraman Jiangzhu. Ia merasakan esensi kehidupan pria itu terserap ke dalam dirinya dalam sekejap, meninggalkan mayat yang mengering dengan cepat. Mayat itu langsung ia lemparkan ke arah ksatria lain yang terdekat.

"Monster! Ada iblis di sini!" teriak para ksatria yang dilanda kepanikan, suara mereka menggema di antara pepohonan yang gelap.

Jiangzhu bergerak dengan brutal. Kecepatannya begitu tinggi hingga bayangan tubuhnya seakan tertinggal di belakang. Setiap kali lengan kirinya yang termutasi menyentuh zirah musuh, logam itu akan berubah warna menjadi hitam dan mulai membusuk akibat racun korosif yang terkandung dalam sisiknya. Jeritan dan dentang baja mengisi udara.

Di tengah kekacauan pertempuran, Jiangzhu merasakan sesuatu yang tajam menusuk punggungnya.

Zing!

Sebuah belati tipis yang dilapisi energi perak menembus pundak kanannya. Jiangzhu berbalik dengan cepat, matanya yang merah menyala tertuju pada pemuda pendiam salah satu anak buah kepercayaan Baron Tua yang berdiri dengan seringai licik di wajahnya.

"Maaf, Jiangzhu. Kepalamu terlalu berharga untuk dibagi," bisik si pemuda, tangannya bersiap menarik belati untuk serangan kedua yang mematikan.

"Kau... salah memilih lawan," desis Jiangzhu, suaranya terdengar serak dan dalam.

Lengan kiri Jiangzhu mendadak mengalami pertumbuhan yang mengerikan. Sisik-sisik hitamnya memanjang tajam, membentuk taji-taji runcing di sepanjang siku dan lengan bawahnya. Otot-ototnya membesar dengan cepat, menjadi tiga kali lipat dari ukuran lengan manusia biasa. Energi hitam pekat berdenyut di sekitar lengan itu.

Transformasi Lengan Iblis: Tahap Kedua - Penghancur Sumsum!

Jiangzhu menangkap leher pemuda pengkhianat itu dengan kecepatan yang tidak mampu diikuti oleh mata manusia. Ia mengangkat tubuh si pemuda ke udara, kakinya menggantung tanpa daya. "Kau menginginkan intiku? Mari kita lihat bagaimana rasanya ketika intimu sendiri yang ditarik keluar."

Jiangzhu tidak menggunakan pedangnya. Ia menusukkan jari-jari cakarnya yang hitam dan tajam langsung ke ulu hati pemuda itu. Suara robekan daging dan patahan tulang rusuk terdengar sangat jelas dan mengerikan di tengah bisingnya pertempuran. Pemuda itu bahkan tidak sempat mengeluarkan jeritan sebelum Jiangzhu menghisap seluruh esensi kultivasinya dalam hitungan detik. Tubuh si pemuda layu, menjadi kering dan hampa.

Status: Tingkat Inti Emas Tingkat 3 - Meningkat!

Jiangzhu melemparkan mayat itu ke arah Baron Tua yang sedang sibuk menjarah peti-peti dari salah satu kereta. Baron Tua tersentak kaget, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan mengerikan dari anak buah kepercayaannya.

"Baron! Ambil emasmu dan pergi, atau kau akan menjadi yang berikutnya!" raung Jiangzhu. Suaranya kini terdengar lebih mirip raungan naga purba yang penuh ancaman.

Baron Tua gemetar ketakutan, dengan cepat ia memerintahkan anak buahnya yang tersisa untuk menarik mundur peti-peti emas dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan. Ia sadar, Jiangzhu yang sekarang bukan lagi sosok yang bisa ia kendalikan atau manfaatkan.

Jiangzhu berbalik ke arah kereta ketiga, target utamanya. Para ksatria cahaya yang tersisa, meskipun dilanda ketakutan, mencoba membentuk barisan pertahanan terakhir. Namun, bagi Jiangzhu, mereka hanyalah sekumpulan domba di hadapan serigala buas. Dengan satu ayunan dahsyat dari lengan kirinya yang telah berubah, ia menciptakan gelombang kejut energi hitam yang pekat, menghantam kereta tersebut hingga hancur berkeping-keping.

Di antara reruntuhan kayu dan logam yang hancur, ia menemukan sebuah kotak giok hijau yang tersembunyi. Di dalamnya terdapat tiga butir Pil Embun Surga, obat yang sangat berharga.

"Dapat..." Jiangzhu jatuh berlutut, napasnya terengah-engah.

Energi brutal dari transformasi lengan tahap kedua ini mulai menyerang sistem sarafnya dengan hebat. Ia bisa merasakan sisik-sisik hitam itu merayap naik ke lehernya, hampir mencapai area di belakang telinganya. Rasa sakitnya begitu intens hingga ia mulai melihat ilusi, bayangan Li'er menari-nari di atas genangan darah para ksatria yang tewas.

Bocah! Stabilkan napasmu! Jangan biarkan kegelapan itu mencapai otakmu! Penatua Mo berteriak sekuat tenaga dalam benak Jiangzhu.

Jiangzhu merangkak perlahan menuju tempat Yue dan Awan bersembunyi, seperti binatang yang terluka namun mematikan. Tangannya yang bersisik menyeret di tanah, meninggalkan jejak parit yang menghitam oleh energi korosif. Aroma darah segar yang menempel di tubuhnya terasa begitu menggoda, ia harus mengerahkan seluruh sisa keinginannya agar tidak menggigit lengannya sendiri.

"Yue... ambil... obat ini..." Jiangzhu menyerahkan kotak giok itu kepada Yue tepat sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.

Ia ambruk di atas lumpur berdarah, tergeletak di tengah mayat-mayat ksatria cahaya yang kini terlihat seperti pajangan mengerikan di neraka. Hutan Mati kembali sunyi, namun aroma pembantaian hari itu akan tetap tertinggal untuk waktu yang lama, menandai kelahiran kekuatan baru yang begitu gelap, bahkan kegelapan itu sendiri enggan untuk mendekat.

Jiangzhu mencengkeram dadanya yang terasa seperti dihantam palu godam setiap kali ia mencoba menarik napas. Udara di Hutan Mati yang tadinya murni kini tercemar oleh bau belerang dan uap logam dari sisa ledakan kereta konvoi. Ia bisa merasakan darah hitamnya sendiri mulai mengental di bulu matanya, membuat pandangannya sedikit merah dan buram seolah ia melihat dunia melalui lapisan tipis kematian. Setiap kali ia menggerakkan lengan kirinya yang baru bermutasi, suara gemeretak dari balik sisik hitam itu terdengar seperti tulang yang sedang digiling perlahan oleh roda gigi raksasa.

"Berhenti menatapku seolah aku adalah eksperimen yang gagal, Yue," desis Jiangzhu, suaranya parau dan mengandung nada ganda yang menjijikkan suara kemanusiaannya yang serak bertarung dengan geraman Li’er yang tak henti-hentinya menuntut darah. Ia mencoba mengepalkan tangan kirinya yang kini memiliki taji-taji tajam di bagian siku, namun yang ia dapatkan hanyalah bunyi gemeretak logam yang memuakkan dari sendi-sendinya yang telah berubah menjadi senjata biologis.

Yue tidak menjawab, namun ia memalingkan wajahnya, menyembunyikan getaran di tangannya saat ia melihat mayat pemuda pengkhianat yang kini hanya berupa kulit dan tulang di kaki Jiangzhu. Di bawah cahaya remang hutan, lengan kiri Jiangzhu tampak berdenyut urat-urat ungu di balik sisik hitam itu bergerak-gerak seperti parasit yang sedang berpesta pora. Jiangzhu bisa merasakan kesadarannya sendiri mulai menipis, digantikan oleh rasa lapar yang asing, sebuah dorongan primitif untuk kembali menerjang sisa ksatria yang melarikan diri.

Bocah, jangan biarkan esensi mereka meracuni jiwamu, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar sangat letih, seolah ia baru saja ikut bertarung seumur hidupnya. Kau baru saja menelan kekuatan yang melampaui batas kewajaran manusia. Jika kau tidak segera menekan insting itu, fajar besok tidak akan melihat Jiangzhu, melainkan melihat iblis yang mengenakan kulitmu.

Jiangzhu memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah ibunya agar tetap waras, namun yang muncul hanyalah gambaran darah yang memercik di atas salju. Ia mencengkeram tangan kanannya yang masih normal hingga kukunya menusuk telapak tangan, mencoba merasakan sisa rasa sakit manusia sebagai jangkar terakhirnya. Di atas tanah hutan yang berlumuran darah ini, Jiangzhu menyadari satu hal yang pahit: ia telah menjadi pelindung bagi keluarganya, namun ia melakukannya dengan menjadi hantu yang paling mereka takuti.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!