Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Laki laki tidak tau berterima kasih
Akhirnya Adelia menemukan klinik dua puluh empat jam yang buka. Dia memarkirkan mobilnya di sana.
Adelia membuka pintu mobil tanpa menatap Kael. Dia melihat ke arah mobil sepupunya yang juga memasuki halaman klinik.
Dia tersenyum sambil melambaikan tangan yang dibalas dengan kedipan lampu dim Ayra.
Adelia menatap Kael yang sudah keluar dari mobil, tanpa kata berjalan duluan ke arah pintu masuk klinik.
Laki laki itu mendapatkan tiga jahitan dikeningnya.
"Lebih baik besok kamu istirahat dulu," ucap Adelia ketika mereka akan memasuki mobil laki laki itu. Dia akan mengantarkan laki laki itu pulang ke apartemennya.
"Hemm...."
Adelia hanya menoleh ketika mendapat jawaban deheman begitu tanpa mau bertanya lagi.
Dia kemudian menjalankan mobil laki laki itu menuju ke apartemennya.
Hening.
"Kita ngga kenal. Kamu ngga perlu terlalu perhatian," cetus Kael yang akhirnya ngga tahan juga didiamin Adelia. Sebentar lagi mereka akan tiba di apartemennya.
Adelia ngga menjawab. Dia mengacuhkannya. Karena hatinya masih kesal akibat jawaban laki laki itu tadi.
Terima kasih, kek. Sekarang malah nyolot, batinnya kesal.
Kael meliriknya. Gadis itu tetap fokus ke depan. Teringat dulu waktu bertemu maen padel, gadis itu hanya diam saja, tidak banyak bicara. Mendengarnya bersuara saat di bar dan barusan.
Suaranya mahal amat, dengus Kael kesal. Dia juga ogah bertanya lagi.
Mobil memasuki parkiran apartemen. Saat sekuriti mendekat, Adelia menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Pak Kael? Anda kenapa?" tanya sekuritinya dengan nada cemas begitu melihat wajah Kael saat dia menunduk tadi.
Adelia membuka pintu mobil membuat sekuriti itu mundur.
"Pak, saya hanya mengantar sampai di sini. Tolong bapak saja yang mengantarnya sampai ke kamar."
"Baik, mbak. Akan saya antarkan."
Adelia tersenyum sekilas ke arah sekuriti itu sebelum melangkah pergi.
Kael menatap Adelia kesal. Apalagi gadis itu tidak berkata apa apa padanya dan pergi begitu saja.
Saat Adelia membuka pintu mobil Ayra yang sudah merapat juga di depan apartemen, sepupunya tersenyum seakan meledeknya.
"Kirain diantar sampe ke kamar.' Suara tawa Ayra berderai.
"Ya enggaklah." Wajah Adelia masih manyun. Dia masih sebal. Harusnya dia memang ngga usah terlalu baik dengan laki laki itu.
"Loh, kok, malah kayak marah?" ejek Ayra lagi.
"Malas aja nanti kalo harus ketemu lagi."
"Loh, kan, bisa pake ojol aja. Sesuai request dia."
Oh iya, batin Adelia.
Udah, Del, jangan khawatirin laki laki ngga tau terima kasih gitu, batinnya mengingatkan.
Ayra masih tergelak sambil menjalankan mobilnya.
"Kayaknya kalo sama dia, ngga akan ada masalah," ucap Ayra lagi.
"Kenapa? Kamu masih mau sama Levi?" ejek Adelia.
"Hiii..... Nggak ya.... Aku mau nyari yang single dan pemberani."
Adelia akhirnya bisa tertawa .Kasian juga sepupunya, ditaksir suami orang dan laki laki insecure.
"Ya udah. Si Kael buat kamu aja."
"Ogah."
Keduanya kali ini sama sama tergelak.
*
*
*
"Terima kasih, pak," ucap Kael setelah sekuritinya memarkirkan mobilnya.
"Sama sama, Pak Kael. Pak Kael kecelakaan dimana?" tanya sekuritinya ikut keluar dari dalam mobil bersama Kael. Tadi dia sempat memperhatikan bagian depan mobil Kael yang ada baretnya.
"Nabrak pembatas jalan tadi."
"Saya antar sampai ke kamar, pak?" tawar sekuriti itu.
"Ngga usah, pak. Saya bisa sendiri," tolak Kael.
"Baik, pak." Sekuritinya memperhatikan Kael hingga memasuki lift.
Kenapa kalo nolong setengah setengah, omel Kael di dalam lift yang sepi.
Sakit di kepalanya sekarang sudah mendingan.
Setelah keluar dari dalam lift, dia berjalan pelan menyusuri lorong ke arah rumahnya.
Ponselnya berdering ketika dia akan membuka pintu kamarnya.
Levi menelponnya. Orang asing yang sudah dia anggap keluarganya.
"Baru pulang?"
"Ya," jawab Kael sambil melebarkan pintu kamarnya.
"Tadi aku ke apart, kata sekuriti kamu belum pulang."
"Aku ke bar." Kael menutup pintu kamarnya. Dia berjalan pelan ke arah kamarnya.
"Oooh.... Mabok lagi?"
Kael mengabaikannya. Dia sudah berada di dalam kamarnya.
"Lev, besok aku ijin ngga masuk, ya?"
"Mau pergi?"
"Tadi aku nabrak pembatas jalan."
"Apa?! Sekarang keadaan kamu bagaimana?" Suara Levi terdengar panik.
"Tadi aku udah ke klinik."
Terdengar helaan nafas Levi
"Sekarang udah ngga apa apa?"
"Hanya nyerempet." Kael mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
Terdengar helaan nafas Levi.
"Syukurlah."
Hening sesaat.
"Aku ketemu Ayra dan Adelia."
"Serius?"
Kael tersenyum miring mendengar nada antusias Levi
"Masih berharap dengan Ayra?" ejek Kael kemudian tertawa berderai.
"Si@lan," umpat Levi.
Kael tambah tergelak.
*
*
*
Di kediaman Wijaya Agra.
"Masih belum ada kabar dari Kael?" tanyanya dengan suara menggelegar. Enam bulan sudah berlalu, tapi orang orang kepercayaannya masih belum bisa menemukan putranya.
Keempat laki laki itu menunduk sangat dalam mendapat makian tuan besarnya.
"Terakhir tuan muda hanya bisa terdeteksi terbang ke Dubai. Tidak ada indikasi tuan muda keluar dari Dubai. Kecuali kalo tuan muda menggunakan identitas palsu," jelas salah satu yang menjadi kepala orang kepercayaannya.
BRUG!
Orang orang yang ada di dalam ruangan di dalam rumahnya terkejut melihat Wijaya Agra menggebrak meja dengan keras.
"Dia tidak mungkin menghilang begitu saja." Walau selalu membuatnya marah, hatinya juga cemas dengan keberadaan putranya yang seolah raib ditelan bumi.
"Mungkin dia memang ingin pergi," ucap istrinya pelan. Istri keduanya karena istri pertamanya-maminya Mikael sudah meninggal tiga tahun yang lalu.
"Kael tidak mungkin melepaskan hak warisnya begitu saja."
"Buktinya dia ngga ada kabar sampai sekarang." Istri keduanya-Latifa masih mencoba mempengaruhi suaminya.
"Dia pasti ngga berani muncul. Apalagi dengan kehebohan yang sudah dia lakukan. Dia pasti takut kamu marah," bujuk istrinya lagi.
Perkataan istri keduanya masuk juga ke dalam pikiran Wijaya Agra.
"Tiga hari mau menikah malah menghilang. Dia pasti sudah merasa sangat bersalah. Pesta pernikahan besar besaran dibatalkan begitu saja," sambung istrinya lagi, makin mengompori suaminya.
Wijaya Agra makin terdiam. Ini adalah keanehan yang kesekian kali. Tiba tiba saja putranya membatalkan pernikahan yang dia inginkan. Hilang tanpa kabar.
Calon istrinya ditinggal begitu saja. Padahal dulu Mikael selalu menentangnya karena tidak setuju dengan pilihannya. Tapi sekarang?
Wijaya Agra menghembuskan nafas kasar.
Ada yang aneh. Tapi dia belum mendapatkan jawaban. Gadis yang akan dinikahinya itu juga mengunci mulutnya rapat rapat.
"Sepertinya tidak apa apa kalo Arsa yang menjadi pengganti kamu," ucap Latifa lagi. Arsa adalah putranya dengan Wijaya Agra. Walaupun dia istri kedua, tapi dia melahirkan Arsa lebih dulu. Sayangnya status pernikahannya belum disahkan sampai sekarang.
"Papa dan mama akan menentang habis habisan. Tunggu kepastian kabar Kael dulu."
"Sampai kapan, Agra? Sudah enam bulan dia menghilang. Tidak ada yang tau keberadaannya." Latifa tanpak frustasi. Padahal tinggal selangkah lagi putranya akan menguasai semua harta suaminya.
Wijaya Agra menatap orang orang kepercayaannya yang masih menunduk.
"Cari Kael sampai ketemu. Dubai, Jepang, London. Pokoknya semua negara yang biasa dia datangi!" perintahnya lagi dengan suara menggelegar.
"Ba baik, pak."
Kyknya Kael ingat Adel deh