Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
...🥀🥀🥀🥀...
Deg.
Bak tertampar dengan kenyataan.
Aziz mengerut kan kening nya dalam, ‘Kenapa hati ku sakit ya, mendengar perkataan Nisa! Hanya rekan kerja! No pacar, no kekasih! Hubungan kita sudah berakhir?’
Tuing tuing.
Ujung jari telunjuk Nisa menoel noel lengan kekar Aziz.
“Kalo mau mati gegara patah hati, jangan bawa aku serta! Kasihan para pria tampan di muka bumi ini. Tau gak! Mereka itu sedang antri menunggu aku membuka hati.” goda Nisa dengan nada terkekeh.
Aziz tergelak menimpali nya, dengan tatapan meremeh kan, “Hahaha mana ada pria tampan mengantri untuk mendapat kan mu! Itu sih jelas kamu aja yang terlalu tinggi menghayal!”
Tuk tuk.
Aziz mengetuk ngetuk kepala Nisa dengan kepalan tangan nya. Sementara tangan satu nya lagi tetap fokus pada kemudi. Netra nya acap kali menatap Nisa dengan tatapan mengejek.
“Bangun bangun! Jangan tidur terus! Kamu harus terima kenyataan, kalo di dunia ini belum ada pria yang tulus mendekati mu! Jangan kan yang tulus, pria yang be jat sekali pun, rasa nya enggan berurusan dengan wanita ceroboh seperti mu!” ejek Aziz.
“Ihs dasar sirik! Bilang aja kamu iri! Udah terus terang aja. Kamu itu berharap aku tetap menjadi kan mu kekasih sungguhan ku kan?” cerocos Nisa dengan penuh percaya diri.
Aziz pura pura memuntah kan isi perut nya, “Uuuuwek. Najis! Aku berharap pada mu? Salah besar, Nona ceroboh! Aku justru senang dengan berakhir nya hubungan pura pura kita. Aku gak perlu lagi bersandiwara di depan orang tua mu!”
Nisa menatap nyalang Aziz, dengan wajah merah padam, jari telunjuk mengacung pada wajah Aziz, “Jaga bicara mu ya asisten koki sia lan!”
“Ini mulut ku! Bebas aku mau kata kan kau sia lan, najis, ba bi, an jing sekali pun! Kamu gak berhak melarang ku, nis! Kita impas!” timpal Aziz dengan nada meremeh kan.
Nisa mengepal kan tangan nya kesal, “Sia lan! Kamu membalas ku?”
Aziz mengerdik kan bahu nya acuh, gak peduli semarah apa wanita yang ada di sisi nya itu.
“Seperti yang kamu kata kan sebelum nya, Nis! Mata mu bebas untuk melihat ku dengan tatapan cinta atau pun sinis. Begitu pun aku. Mulut ku bebas berkata najis atau apa pun. Cukup adil aku rasa!” ujar Aziz dengan santai.
Nafas Nisa memburu kesal, ia menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, menatap lurus ke depan dengan angkuh.
“Oke! Kita gak tau kedepan nya akan seperti apa! Bisa aja kan! Saat ini kamu kata kan aku najis! Tapi jangan salah kan aku, jika dalam 1 waktu kamu gak melihat ku, atau kamu melihat ku dengan pria lain.
Akan membuat mu frustasi dan mencari ku! Sampai saat itu tiba, kamu baru menyadari. Betapa penting nya aku untuk hidup mu!” jelas Nisa tanpa menatap Aziz.
“Hahaha dasar bodoh! Kau itu terlalu percaya diri, Nis! Sampai kapan pun, gak akan ada wanita yang penting dalam hidup ku!” sarkas Aziz.
“Tunggu dan lihat saja! Jika Tuhan sudah berkehendak, apa pun bisa aja terjadi!” ketus Nisa dengan bibir mengerucut kesal. Ia menutup kembali toples cemilan nya.
Nisa memiring kan duduk nya, dengan tubuh nya yang condong ke arah kursi penumpang bagian belakang. Namun Nisa memaling kan wajah dari Aziz, saat kedua nya beradu pandang.
‘Sumpah demi apa pun! Berani bangat gua ngomong gitu ke Aziz. Tapi gimana kalo kenyataan nya gua duluan yang gak ikhlas liat Aziz di deketin perempuan lain? Mati kan gua jadi nya! Gua duluan dong itu yang jatuh cinta? Mampus dah!’ umpat Nisa.
Kedua tangan Nisa berusaha meletak kan toples cemilan, ke kursi penumpang yang ada di belakang.
‘Gila bangat! Bisa bisa nya aku kenal dengan makhluk astral versi manusia seperti Nisa.’ pikir Aziz.
Aziz melirik Nisa, netra nya memperhati kan apa yang di laku kan wanita ceroboh di mata nya itu.
Aziz mengerut kan kening nya, “Bisa gak? Kalo gak bisa di letak kan saja di dekat kaki mu! Ada yang gampang, kenapa harus cari yang ribet sih! Menyusah kan orang yang melihat nya! Tau gak!” cerocos Aziz dengan nada gak santai.
Nisa mendengus kesal, “Gak usah berisik! Fokus aja sama kemudi! Jadi cowok kok yo mulut nya ember bocor bangat!”
“Dasar keras kepala! Kalo di kasih tau nya! Ada aja buat ngejawab!” sentak Aziz dengan nada gak santai.
Dengan susah payah, Nisa meletak kan toples cemilan nya di kursi penumpang belakang. Lalu kembali pada posisi duduk nya semula. Ia menyandar kan punggung nya pada sandaran kursi mobil.
Nisa celingukan, menyadari jalan yang Aziz lewati berbeda dengan jalan saat ia datang ke rumah orang tua nya.
“Kamu mau membawa ku kemana? Ini jelas bukan jalan kembali ke kediaman utama, Ziz!” beo Nisa dengan tatapan menyelidik.
“Kan aku sudah bilang, kita dapat tugas membantu mensukseskan pesta Tuan Alex dan Nyonya Wati! Ada beberapa hal yang harus kita urus, mengingat acara nya di hotel.
Maka hotel itu lah yang harus kita datangi, kita saling berkomunikasi, bagi tugas dengan beberapa karyawan di sana.” jelas Aziz panjang kali lebar.
“Kamu gak lagi membohongi ku kan, Ziz? Gak lagi ngibul masalah pesta pernikahan Wati dan Tuan Alex?” cecar Nisa dengan tatapan menyelidik.
Aziz berdecak sinis, menatap sekilas Nisa yang tampak semakin menjengkel kan di mata nya, sebelum akhir nya pria galak itu kembali fokus pada ruas jalan yang akan mereka lalui.
“Gak ada untung nya buat ku membohongi mu, Nis!”
Nisa mengerut kan kening nya, dengan nada gak santai, “Ada lah, sudah pasti ada untung nya! Kita gak pake berlama lama di rumah orang tua ku! Pada hal aku masih sangat ingin menghabis kan waktu dengan ayah dan ibu ku!
Entah kenapa rasa nya aku begitu rindu. Pada hal baru beberapa saat aku memeluk ibu dan ayah.” gumam Nisa dengan tatapan yang sulit di artikan.
Aziz berdecak sinis, tanpa perasaan, “Kamu bisa tetap tinggal bersama orang tua mu, tidak perlu ikut dengan ku tadi!”
Nisa menghembus kan nafas nya kasar, “Itu sama aja aku melepas pekerjaan yang menguntung kan untuk ku! Sekarang kamu pikir! Di zaman sekarang, mana ada orang kerja santai, tapi gaji nya gede! Cuma di Tuan Alex tau gak!”
“Tumben wanita ceroboh, keras kepala seperti mu bisa mikir! Aku pikir otak mu udah gak bisa bekerja! Gak bisa berpikir secara rasional!” sentak Aziz.
Nisa memutar bola mata nya malas. Lama nya perjalanan yang di tempuh Aziz, di tambah perdebatan panjang kedua nya. Nyata nya membuat Nisa merasa lelah. Tanpa sadar mata nya terpejam, dengan dengkuran halus yang meluncur bebas dari mulut nya.
Ciiit.
Aziz menepikan mobil nya, tanpa pikir panjang. Pria dingin itu menyisipkan jaket yang semula ada di dalam dashboard mobil. Ia membuat Nisa nyaman, tanpa takut kepala Nisa terbentur tepian jendela mobil selama wanita itu tidur.
“Nisa sayang ibu dan ayah!” gumam Nisa dalam keadaan mata terpejam.
“Orang tua mu juga sangat menyayangi mu!” timpal Aziz dengan lirih.
Aziz kembali melajukan mobil nya.
“Damai bangat hidup gua dekat lu Nisa, coba aja dari tadi lu tidur! Gak akan ada drama panjang perdebatan kita.” gumam Aziz, tangan nya terulur, membenar kan rambut Nisa yang menghalangi wajah nya.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣