Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Tahu
Telepon itu datang ketika Nabila dan Indy baru saja meninggalkan area fasilitas medis. Getaran ponsel di tas Nabila terasa seperti sengatan. Ia sudah tahu, bahkan sebelum melihat layar, siapa yang menelepon.
Nama Lukman menyala di layar. Nabila menutup mata sejenak, lalu mengangkatnya.
“Halo.”
“Satu jam,” suara Lukman terdengar dingin, datar, dan berbahaya. “Aku tidak mau tahu kamu di mana sekarang. Pulang. Sekarang juga.”
Nada itu bukan permintaan. Perintah mutlak.
“Aku masih ada urusan—”
“Aku tidak mengulang,” potong Lukman. “Kalau satu jam lagi kamu belum sampai rumah, jangan salahkan aku kalau aku jemput dengan caraku sendiri.”
Sambungan terputus. Indy menatap Nabila cemas. “Dia tahu?”
Nabila mengangguk pelan. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya keras. “Antar aku pulang.”
Perjalanan terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jakarta yang ramai justru membuat Nabila merasa semakin tercekik. Di kepalanya, berbagai kemungkinan berputar, marah, ancaman, bahkan kekerasan. Namun kali ini, ada satu hal yang berbeda. Dia tidak lagi hanya takut.
Begitu tiba di rumah besar itu, Nabila turun tanpa menoleh lagi ke Indy. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Apa pun yang terjadi, jangan ikut campur.”
Indy ingin membantah, tapi ia tahu keputusan Nabila sudah bulat. Di dalam rumah, suasana terasa dingin dan sepi.
Lukman sudah menunggunya di ruang keluarga. Jasnya masih rapi, dasinya belum dilepas. Ia berdiri membelakangi Nabila, menatap jendela besar.
“Kamu berani sekali,” katanya tanpa menoleh. “Pergi visum tanpa izin suami.”
Nabila menutup pintu perlahan. “Aku tidak perlu izin untuk melindungi diriku sendiri.”
Lukman berbalik cepat. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. “Melindungi diri dari apa? Dari aku?!”
“Dari kekerasan,” jawab Nabila, suaranya bergetar tapi jelas. “Dari perlakuanmu!”
Lukman tertawa pendek, dingin. “Jangan dramatis. Kamu istriku. Apa pun yang terjadi di rumah ini urusan kita.”
“Tidak,” potong Nabila. “Itu kejahatan.”
Senyum Lukman menghilang. Ia melangkah mendekat, membuat jarak di antara mereka menyempit. “Kamu sadar tidak, satu laporan dari mulutmu bisa menghancurkan kariermu sendiri?”
Nabila menegakkan punggung. “Aku sadar.”
“Publik mencintaimu karena citra bersihmu,” lanjut Lukman, suaranya menekan. “Istri pengusaha sukses. Perempuan elegan. Kalau mereka tahu kamu berantakan, penuh masalah rumah tangga, penuh skandal… apa kamu pikir mereka masih akan memujamu?”
Nabila menelan ludah. “Aku tidak peduli lagi!"
“Kamu akan peduli,” sahut Lukman cepat. “Saat kontrak filmmu dibatalkan. Saat brand-brand menjauh. Saat media mulai menggali gosip-gosip lama, atau menciptakan yang baru.”
Lukman berhenti tepat di depan Nabila. “Dan aku bisa melakukan itu dengan mudah.”
Untuk sesaat, ruangan itu sunyi. Hanya detak jam dinding yang terdengar, seperti hitungan mundur.
“Aku mau cerai,” ucap Nabila akhirnya. Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menantang.
Lukman menyipitkan mata. “Apa?!”
“Aku mau bercerai darimu,” ulang Nabila, kali ini lebih tegas. “Aku sudah cukup. Aku tidak mau hidup dalam ketakutan lagi.”
Wajah Lukman berubah gelap. Tangannya mengepal. “Kamu pikir semudah itu?”
“Tidak,” jawab Nabila jujur. “Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi aku siap.”
“Siap?” Lukman tertawa keras. “Dengan apa? Dengan keberanian kosong? Kamu lupa siapa aku?”
“Aku tahu persis siapa kamu,” balas Nabila. “Pengusaha besar. Punya koneksi politik. Punya polisi di saku. Tapi aku juga manusia. Aku berhak hidup tanpa disakiti.”
Lukman mendengus. “Kamu naif. Hukum tidak berpihak pada orang lemah.”
“Mungkin,” kata Nabila lirih. “Tapi aku tidak sendiri.”
Itu membuat Lukman terdiam sesaat. “Siapa?” tanyanya curiga. “Siapa yang menghasutmu?”
“Tidak ada,” jawab Nabila. “Ini keputusanku.”
Lukman menatapnya lama, lalu tersenyum, senyum tipis yang membuat bulu kuduk Nabila merinding. “Baik,” katanya pelan. “Kalau kamu mau perang, kita perang.”
Lukman meraih ponselnya. “Tapi ingat satu hal. Aku tidak akan kalah. Dan kalau kamu hancur di jalan, itu karena pilihanmu sendiri.”
Nabila menahan air mata yang menggenang. “Kalau aku hancur,” katanya pelan tapi penuh arti, “setidaknya itu bukan lagi karena aku diam.”
Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lukman yang berdiri kaku di ruang keluarga. Di dalam kamar, Nabila mengunci pintu, bersandar di belakangnya, dan akhirnya membiarkan air mata itu jatuh.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti