Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.
Di area bermain, Zayn dan Zoey sedang asyik melihat badut yang membuat balon berbentuk binatang. Keduanya sangat menikmati aksi badut tersebut bersama pengunjung yang lain. Hingga kemudian seorang gadis yang melihat mereka tampak mengernyit heran.
"Bukankah mereka anak-anak yang hampir tertabrak waktu itu?" gumamnya lantas memperhatikan sekeliling.
"Bagaimana bisa mereka ada di sini?" Gadis yang tak lain adalah Elvira Dianara itu sibuk berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
"Seharusnya mereka bersama orangtuanya, kan?"
Iapun akhirnya menghampiri Zayn dan Zoey.
"Hai," sapanya dengan senyum ramah. "Kalian berdua ada di sini? Sama siapa? Papa mamanya mana?"
Zayn dan Zoey menoleh, dan melihat seorang gadis cantik tersenyum kepada mereka. Keduanya mengerjapkan mata bingung, harus menjawab apa.
"Oh ya, kenalkan kakak, Vira," kata Vira sambil mengulurkan tangannya mengajak mereka bersalaman.
Namun, kedua anak itu tampak ragu, dan saling beradu pandang, seolah bertanya apa harus menerima perkenalan Vira atau tidak.
"Kata Papa, kita tidak boleh berbicara dengan orang yang tidak dikenal." Zayn membuka suara.
Vira tersenyum pada mereka. "Baiklah, tapi Kak Vira kenal tuh, sama papa kalian."
Zayn dan Zoey kembali saling berpandangan lalu menatap Vira dengan tatapan penuh keraguan.
"Jangan takut, kakak bukan orang jahat, kok." Vira mencoba meyakinkan. "Memangnya kakak ada tampang jahat, ya?" tanyanya kemudian dengan wajahnya dibuat sedih.
Zayn dan Zoey serentak menggelengkan kepala. "Tapi..."
Vira tersenyum, ia merasa kagum kedua bocah itu begitu teguh pada pendirian. "Ya sudah kalau kalian tidak mau berkenalan dengan kakak."
Baru saja selesai Vira ngomong. Tiba-tiba dari arah berlawanan seorang pria berjalan dengan tergesa-gesa sehingga hampir menabrak si kembar andai Vira tidak lekas menarik mereka ke dalam pelukannya.
Vira mendekap keduanya dengan erat. "Hai, hati-hati dong, kalau jalan. Banyak anak-anak kecil di sini," serunya seraya menatap orang tersebut dengan sengit.
"Maaf, Mbak. Saya buru-buru." Pria itu menjawab sambil berlalu.
Zayn dan Zoey merasa nyaman dalam pelukan Vira. Mereka seolah mendapatkan kehangatan dari seorang ibu yang selama ini mereka rindukan.
"Kalian aman sama kakak," kata Vira sambil membelai lembut kepala mereka kemudian melepaskan pelukan dan berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua anak itu.
"Bagaimana kalau kita beli es krim? Kalian mau, kan?" tanya Vira sambil menatap keduanya.
Zayn dan Zoey saling pandang, lalu dengan kompak mengangguk setuju.
Vira tersenyum kemudian menggandeng keduanya menuju stand penjual es krim.
"Kalian suka rasa apa?" tanya Vira sekali lagi.
"Zoey suka stroberi," jawab Zoey cepat dengan ekspresi ceria.
"Zayn suka vanila," seru Zayn sambil bertepuk tangan.
Vira tersenyum gemas melihat tingkah mereka.
Setelah mendapat es krim kesukaan masing-masing Vira mengajak mereka duduk di kursi di bawah payung bundar.
"Kalian ke sini sama siapa?" tanya Vira disela menikmati es krimnya.
"Sama Papa, Kak," jawab mereka kompak.
"Terus mama kalian nggak ikut?" tanya Vira lagi.
Zayn dan Zoey serempak menggeleng. "Mama dan Papa kami sudah berpisah, Kak," jawab Zayn jujur.
Vira terkesiap, tangannya yang hendak menyuapkan es krim ke mulutnya seketika terhenti. "Ya Tuhan, apa yang terjadi pada mereka, sampai memilih berpisah. Padahal sudah dikaruniai anak-anak sedemikian manisnya?" batinnya. Ia menatap Zayn dan Zoey dengan tatapan iba.
"Masalah rumah tangga orang tidak ada yang tahu." gumamnya dalam hati lalu menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.
Selanjutnya tidak ada obrolan di antara mereka. Ketiganya sibuk menikmati es krim dengan pikiran masing-masing. Lebih tepatnya Vira yang sibuk berpikir.
"Bagaimana kalau kita main setelah makan es krim?" tanya Vira. "Kakak akan menemani kalian bermain."
Zayn dan Zoey tersenyum lalu mengangguk dengan mantap.
Vira kemudian mengajak mereka ke arena bermain. Ketiganya bercanda dan tertawa bersama. Vira tampak menikmati kebersamaan dengan kedua anak kecil itu.
.
Sementara itu, setelah menjawab beberapa pertanyaan wartawan, Darrel baru menyadari sesuatu. Kedua anaknya tidak ada bersamanya.
"Zayn...Zoey...! Di mana kalian?" gumamnya panik. Seakan separuh napasnya menghilang.
Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru berharap menemukan sosok anak-anaknya di suatu tempat.
"Maaf, Bu. Apa melihat dua anak kecil ini di sekitar sini?" tanya Darrel sambil menunjukkan layar ponselnya yang terlihat foto Zayn dan Zoey pada seorang ibu yang dijumpainya.
"Maaf, Mas. Saya tidak melihatnya. Saya baru saja datang," jawab ibu itu.
"Kalian ke mana, Zayn, Zoey?" Darrel mengacak rambutnya frustasi.
Hingga akhirnya dia mendengar suara tawa yang dikenalnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Darrel segera menghampiri tempat itu dan melihat kedua anaknya tampak begitu bahagia dengan tertawa gembira. Dia terpaku beberapa saat, ketika menyadari siapa wanita yang bermain bersama anak-anaknya.
"Papa...!" teriak Zayn dan Zoey sambil melambaikan tangannya.
Darrel tersentak lalu tersenyum kaku dan membawa langkahnya menghampiri mereka.
"Papa...! Ayo kita main bersama," ajak Zayn yang keluar dari arena bermain lalu menarik tangan papanya.
Darrel hanya bisa menurut tanpa berusaha menolak ajakan anaknya. Dia tersenyum canggung ketika telah berada bersama Zoey dan Vira.
"Pak Darrel sudah selesai sesi wawancaranya?" tanya Vira mencoba mencairkan suasana. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ada perasaan yang ingin meledak dalam dadanya karena senyuman Darrel.
"Oh, astaga! Senyumannya itu, loh," gumam Vira dalam hati. "Kok, ada sih, cowok senyumnya semanis itu?"
"Aaaa...i-iya, sudah," jawab Darrel gugup.
Entahlah dia sendiri pun tak tahu, mengapa bisa segugup itu di depan gadis yang menurutnya berusia jauh di bawahnya itu.
Vira menatap Darrel dengan senyum penuh arti. Sementara Darrel berusaha membalas senyum itu, tetapi matanya tanpa sadar menelusuri wajah Vira, mencari tahu apa yang sebenarnya ada di balik senyumnya itu.
Tiba-tiba, ponsel Darrel berdering, memecah keheningan yang terasa semakin aneh. Di layar tertera nama "Lucky". Kemudian tanda tanya besar muncul di benak Darrel. Mungkinkah masalah yang lebih besar telah menanti di balik panggilan itu?