Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 16.
Sementara Damian yang sudah terpojok oleh proses cerai, akhirnya sepenuhnya sadar. Ia benar-benar bukan raja dalam permainan ini, ia hanya pion yang dipakai dan dibuang. Dalam satu malam, ia menarik semua dukungan hukum untuk Calista. Ia menyerahkan bukti percakapan, transaksi, dan rencana manipulasi bayi tabung yang dulu ia abaikan.
Calista ditangkap dua hari kemudian. Saat polisi menggiringnya keluar dari apartemen mewahnya, rambutnya kusut, matanya liar, ia tertawa histeris.
“Aku hanya ingin dicintai! Aku hanya ingin menang!” teriaknya histeris.
Tidak ada yang menjawab.
Lucca mendengar tentang kabar Calista ditahan atas laporan Damian, dia membiarkan Calista menghadapi konsekuensi pilihannya sendiri.
Sidang perceraian Viera dan Damian berlangsung cepat setelah itu. Dengan bukti perselingkuhan, manipulasi, dan kegagalan menjalankan tanggung jawab sebagai suami.
Hakim mendengarkan tanpa banyak ekspresi. Damian berdiri di ruang sidang dengan wajah pucat. Ia melihat Viera duduk tenang di sisi pengacaranya. Lalu hakim memutuskan perceraian secara sah.
“Pengadilan memutuskan,” suara hakim menggema, “Bahwa gugatan cerai dikabulkan. Ikatan pernikahan antara Tuan Damian dan Nyonya Viera dinyatakan putus secara sah.”
Palu diketuk.
Damian menutup mata.
Selesai.
Hak asuh penuh anak yang dikandung jatuh pada Viera, dan Damian tidak mengajukan banding karena anak itu memang bukan anaknya.
Saat palu diketuk, Viera tidak menangis. Ia hanya menghela napas panjang—seperti seseorang yang akhirnya keluar dari ruangan pengap tanpa jendela.Viera keluar dari ruang sidang dengan langkah pelan. Udara luar terasa berbeda. Lebih ringan, meski ada ruang kosong di dadanya.
Lucca menunggunya di luar ruang sidang, menjaga jarak. Ia tidak mendekat sampai Viera yang lebih dulu melangkah.
“Aku bebas,” kata Viera pelan.
Lucca mengangguk. “Ya.”
Tidak ada pelukan, tidak ada perayaan. Hanya keheningan yang terasa… damai.
Beberapa hari kemudian, saat kondisi Viera stabil, ia meminta Lucca duduk bersamanya.
“Aku ingin tahu semuanya tentang alasan kau pergi meninggalkanku,” katanya tenang. “Tanpa menyembunyikan apapun lagi.”
Lucca menatap Viera dengan tatapan dalam, lalu mengangguk. Ia menceritakan semuanya, tentang kemiskinan dan ditolaknya cintanya dulu oleh orang tua Viera. Lalu dengan ancaman pada keluarganya, akhirnya Lucca sebagai David pergi.Tentang keputusan bodoh dan egois menukar sp*rma, namun dia tak menyesal. Dan juga, tentang ketakutannya kehilangan Viera lagi.
Saat ia selesai menjelaskan, ruangan seketika sunyi. Viera menatap jendela, air mata mengalir tanpa suara. “Kau salah.“
“Aku tahu.” Lucca menelan ludah.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, aku tidak menjanjikan apa pun padamu.” Lanjut Viera.
“Aku tidak meminta apa pun,” katanya pelan. “Aku mencintaimu, Viera. Bukan untuk memiliki, bukan untuk kembali pada masa lalu. Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Dan jika suatu hari kau memilihku… itu harus karena kau ingin, bukan karena utang atau keadaan.”
Viera menutup mata, pengakuan cinta Lucca tidak terasa menjerat. Malah terasa… membebaskan. Dan di sanalah, di antara kejujuran dan luka yang belum sepenuhnya sembuh, sesuatu yang baru mulai tumbuh. Perlahan, tapi nyata.
Beberapa minggu setelah putusan cerai, dinamika mereka perlahan berubah. Bukan drastis, bukan romantis tapi nyata.
Lucca mengantar Viera kontrol kehamilan, dia akan duduk di kursi tunggu sambil membaca dokumen, tidak ikut masuk kecuali diminta. Ia akan selalu mengingat jadwal vitamin Viera, ia juga tahu makanan apa yang membuat Viera mual.
Saat Viera kelelahan, Lucca hanya berkata. “Aku akan selalu ada untukmu... meski kau belum mengijinkanku mendekat terlalu jauh."
Sampai suatu sore setelah kontrol panjang dan Viera tampak pucat, dia berkata lirih pada laki-laki itu. “Kau mau… menemaniku makan di apartemenku?”
Lucca terdiam sepersekian detik karena terkejut, lalu mengangguk. “Tentu.”
Itu makan malam paling sunyi yang pernah mereka jalani, tidak ada pembahasan apapun. Hanya dua orang dewasa, duduk berhadapan, dengan satu kehidupan kecil di antara mereka. Dan entah sejak kapan, Viera mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara Lucca masih selalu duduk di sisi kiri meja, posisi yang dulu pria itu pilih agar Viera merasa terlindungi. Cara Lucca tidak pernah menyentuhnya tanpa izin, bahkan cara Lucca menunduk saat tertawa kecil, seolah menahan diri agar tidak terlalu terlihat bahagia.
Dan, Viera bertanya dalam hati.
Mengapa kepribadian seseorang tetap sama meski bertahun-tahun berlalu, sementara kondisi finansial-nya telah berubah drastis?
Viera menghela napas. “David… cinta bukan hanya tentang niat baik, tapi tentang waktu yang tepat.”
“Aku tahu,” jawab Lucca lembut. “Dan aku akan menunggu waktu itu… jika memang akan datang.”
Viera menarik nafas dalam-dalam. “Kalau suatu hari, aku mengizinkanmu masuk lagi ke dalam hidupku… itu bukan karena masa lalu kita.”
Lucca mengangguk. “Aku tau, karena aku juga ingin... semua itu untuk masa depan kita.”
Hujan diluar Apartemen, turun semakin deras. Dan di antara rintik yang jatuh, sebuah hubungan yang dulu hancur… mulai dibangun kembali. Bukan dari cinta, tapi dari tanggung jawab. Juga dari kesabaran, dan pilihan yang akhirnya lebih dewasa.