NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang yang putus

Dampak dari dua video yang viral membuat restoran Starla langsung tutup. Pihak dari dinas kesehatan telah menyegel tempat usahanya. Sementara, dia sendiri tak bisa kemana-mana akibat video yang menyebutkan dirinya adalah seorang pelakor.

Starla sudah melaporkan semuanya ke pihak kepolisian. Akan tetapi, tak ada tindakan apapun yang diambil. Seseorang telah lebih dulu bergerak dan memberi suap sehingga kasus yang diadukan Starla hanya sekadar angin lalu.

"Nona Starla, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Bibi Wirda dengan perasaan cemas.

Sudah satu minggu Starla terus mengurung diri didalam rumah. Dia hanya keluar untuk makan sedikit lalu kembali masuk ke dalam kamar, entah melakukan apa.

Kabar keberadaan Boris masih saja bias. Tak ada petunjuk apapun selain postingan yang sempat dikomentari oleh salah satu karyawannya.

"Tidak tahu, Bi," jawab Starla. "Aku sudah berusaha keras untuk membantah semuanya tapi tidak berhasil. Orang-orang malah makin menyudutkan aku. Apalagi, polisi juga tidak bergerak untuk menegakkan keadilan untukku."

Mata Starla terlihat membengkak. Cahaya cantiknya masih terpancar indah meski sedikit pucat. Berat badannya terlihat bahkan sudah turun tiga kilogram dalam waktu sesingkat itu.

"Nona Starla... Kenapa Nona tidak meminta bantuan pada Tuan Arlo? Mungkin, jika Tuan Arlo yang menemani Anda ke kantor polisi, para polisi itu baru mau bekerja untuk menegakkan keadilan."

Starla diam sejenak. Sepertinya, itu bukan ide yang buruk. Saat ini, satu-satunya orang yang bisa membantunya hanya sang Ayah. Dengan pengaruh nama besar sang Ayah, para polisi itu pasti langsung bergerak cepat untuk menangani kasusnya.

"Baiklah, Bi. Aku akan mencoba untuk meminta bantuan pada Papa. Tapi... Apa dia bersedia?" tanya Starla sedikit ragu.

"Tentu saja dia bersedia," angguk Bibi Wirda dengan yakin. "Nona itu putri kandungnya. Walau Tuan Arlo sedang marah, tapi dia tak mungkin mengabaikan Nona Starla jika sedang dalam kesulitan."

Berpegang pada keyakinan Bibi Wirda, Starla memutuskan untuk menemui sang Ayah. Dia menarik napas panjang berkali-kali sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam.

Namun, langkah kakinya tiba-tiba melambat saat mendengar suara percakapan dari arah ruang keluarga. Secara reflek, Starla memilih untuk bersembunyi lalu menguping pembicaraan antara sang Ayah dan juga keluarga barunya.

"Starla pasti akan sangat marah kalau sampai dia tahu bahwa para polisi itu tidak mau menindak kasusnya gara-gara Papa yang melarangnya," kata Kanaya sambil tertawa kecil.

Perempuan itu sedang bersandar mesra di bahu Nino.

Ya, Nino juga ada di sana.

"Mau bagaimana lagi? Semua ini juga salahnya. Siapa suruh dia menolak untuk memberikan restoran itu padamu," timpal Arlo.

Degh!

Starla menahan napas. Matanya mendadak jadi panas. Dalam hitungan sepersekian detik, air matanya sudah jatuh berguguran.

"Tapi, Papa... Bukankah itu terlalu kejam? Papa bahkan menyewa beberapa aktor untuk memfitnah Starla. Sekarang, restoran itu sudah tutup. Kasusnya juga tidak ditangani dengan benar oleh pihak kepolisian. Bahkan... Papa sengaja menyewa buzzer untuk merundungnya di media sosial."

"Semua itu memang pantas untuk dia terima."

Dada Starla terasa sesak. Ucapan sang Ayah sukses memutus benang kasih sayang terakhir yang masih berusaha Starla pertahankan diantara mereka.

Dan kini, setelah semuanya benar-benar putus, Starla hanya merasakan kehampaan. Dengan sisa tenaga terakhir, Starla tertatih meninggalkan tempat itu.

"Nona Starla, Anda mau kemana?" tanya seorang pelayan kepada Starla. "Sudah bertemu dengan Tuan?"

Starla tersenyum saja. Dia mengusap air matanya lalu berjalan gontai meninggalkan tempat itu.

Pelayan itu menganggap senyum Starla sebagai jawaban 'iya'. Itu sebabnya, dia tak melaporkan kedatangan Starla lagi kepada sang majikan.

"Kenapa kamu masih menangis, Starla?" gumam Starla pada diri sendiri. "Apa yang kamu tangisi, hah? Bukankah, kamu sudah terbiasa diperlakukan tidak adil? Seharusnya kamu tahu, kalau kamu memang tidak pernah berada di hati Ayah kandungmu sendiri."

Dia tertawa miris lalu menyalakan motor matic-nya untuk meninggalkan rumah besar sang Ayah.

****

"Nanti, kalau Starla sudah menyerah dan bersedia memberikan restoran itu padamu, Papa akan menebus semua kesalahan Papa kepadanya. Papa akan membawanya kembali, mengembalikan semua hak-haknya serta memberi ganti rugi atas empat tahun yang dia jalani di luar negeri tanpa sepeserpun uang dari Papa."

Arlo kembali melanjutkan kalimatnya saat Starla berbalik pergi. Wajahnya diliputi rasa bersalah. Tentu saja, hal tesebut membuat Grace dan Kanaya jadi tidak senang.

"Papa... mau membawa Starla kembali?" tanya Kanaya.

"Tentu saja," angguk Arlo. "Dia tetap anak kandung Papa. Tidak mungkin, Papa tega membiarkan dia terlantar di luar sana." Nada suara Arlo terdengar meninggi.

Kanaya tersenyum palsu. "Baguslah kalau begitu. Aku senang sekali kalau Papa bersedia membawa Starla kembali. Nanti, aku dan dia pasti akan jadi saudari yang akur. Papa tenang saja."

"Kanaya benar, Sayang. Dia dan Starla pasti akan jadi saudari yang akur suatu saat nanti. Soal mendidik Starla, serahkan saja padaku!" imbuh Grace.

"Jangan," tolak Arlo. "Kamu tidak perlu ikut campur soal Starla. Biar aku sendiri yang mendidiknya," lanjutnya.

Grace tersenyum paksa. Sepertinya, sang suami mulai mempedulikan Starla lagi. Hal itu akan menjadi ancaman untuk kedudukan Grace dan Kanaya.

"Bagaimana kalau Starla tahu jika Om Arlo adalah dalang dibalik semua ini? Menurut Om Arlo, apakah Starla bersedia kembali atau malah semakin menjauh? Paling parah... mungkin saja Starla tidak akan mengakui Tuan Arlo sebagai Ayah lagi."

Arlo yang baru saja hendak meminum tehnya mendadak tertegun. Cangkir di tangan sedikit goyang. Isinya hampir tumpah, andai Grace tidak membantu dia menahan bagian bawah cangkir.

"Hati-hati," kata Grace.

Arlo tersenyum simpul. Setelahnya, ekspresi wajahnya mendadak jadi kaku. Sementara, tatapan tajam Nino tampak membidik Arlo tanpa meleset sedikit pun.

"Aku tidak akan pernah membiarkan Starla tahu," jawab Arlo.

Nino menyeringai, muak. Jawaban itu adalah jawaban terbodoh yang pernah dia dengar. Starla tidak akan tahu? Sepertinya, Arlo tidak tahu seberapa cerdas seorang Starla. Gadis itu tak akan pernah berhenti mencari sampai benar-benar menemukan dalangnya.

"Nino, kenapa kamu menanyakan hal itu pada Papa?" tanya Kanaya yang duduk di sebelahnya.

Pertanyaan Nino berhasil mengusik Arlo. Kanaya takut, Arlo bisa saja berubah pikiran dan malah mengurungkan niatnya untuk terus menyerang Starla.

"Tidak apa-apa. Hanya penasaran saja," jawab Nino seraya tersenyum manis.

Tak ada yang tahu jika didalam hati Nino, badai sedang bergejolak hebat. Sedikit demi sedikit, dia akhirnya tahu tentang kehidupan Starla.

Ibu Starla meninggal dunia setelah tahu perselingkuhan suaminya dan Grace. Setelah kepergian sang Ibu, Ayahnya membawa sang selingkuhan pulang. Pun, dengan anak tirinya.

Dan, semenjak kehadiran dua wanita itu, hidup Starla tak lagi sama. Sang Ayah lebih mencintai anak tirinya dan membiarkan Starla terus mengalah.

Starla bahkan dikirim ke luar negeri dan tidak diberi uang untuk bertahan hidup. Itu sebabnya, Starla terpaksa menjadi simpanan Nino. Semua demi bertahan hidup dan tetap melanjutkan kuliah.

"Tuan, apa Anda tidak akan membantu Nona Starla?" tanya Dika kepada Nino saat perjalanan pulang ke apartemen.

Nino mengurut ujung pelipisnya. "Tidak," jawabnya tegas. "Aku ingin dia datang sendiri untuk memohon bantuan ku, Dika. Dengan begitu, aku pasti bisa memilikinya lagi."

1
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!