Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah insiden wawancara yang intens, hubungan palsu Arazka dan Maura semakin meyakinkan publik, tapi justru membuat Maura semakin galau. Sementara itu, pasangan lain menemukan kenyamanan dan tantangan dalam dinamika mereka.
☕ Kopi Dingin dan Kejutan Manis
Di perpustakaan, Kinara Putri Santosa sedang sendirian, sibuk mengerjakan tugas biologi yang lumayan rumit. Ia terlihat fokus, sesekali menghela napas karena kesulitan memahami materi.
Tiba-tiba, sebuah gelas iced coffee latte diletakkan di samping bukunya.
"Nih. Biar gak lemot," ujar suara lembut.
Danis Putra Algifary berdiri di sebelahnya, tersenyum manis. Ia terlihat segar dalam kemeja kotak-kotak.
"Kak Danis! Kok tahu aku di sini?" tanya Kinara, terkejut.
"Gue tadi gak sengaja liat notes loe di loker, katanya mau ngerjain tugas di perpustakaan. Udah gitu, gue ingat loe suka coffee latte dingin," jawab Danis, terdengar sangat perhatian.
Kinara tersenyum malu-malu sambil memegang gelas kopi itu. "Makasih banyak, Kak Danis. Kakak perhatian banget."
Danis duduk di seberang Kinara. "Loe ngerjain apa? Kayaknya pusing banget."
"Ini, Kak. Tugas biologi tentang ekosistem laut. Aku gak ngerti sama siklus rantai makanan ini," keluh Kinara.
Danis tersenyum. "Sini, gue bantu."
Danis mengambil buku Kinara, dan dengan sabar, ia menjelaskan rantai makanan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Meskipun Danis termasuk anggota ALVEGAR, ia selalu dikenal sebagai role model akademik yang cerdas dan telaten.
Kinara menatap Danis, bukan hanya mendengarkan penjelasannya tentang ekosistem laut, tetapi juga menikmati kedekatan dan kesabaran Danis.
"Oh! Jadi gitu ya, Kak! Aku baru ngerti sekarang. Ternyata Kak Danis pintar banget," puji Kinara tulus.
Danis tertawa pelan, tawanya terdengar sangat merdu. "Gue gak cuma bisa main basket, Kinara. Gue juga bisa bantu loe belajar."
Kinara menunduk, memainkan ujung pulpen. "Kak Danis, aku mau nanya, boleh?"
"Nanya apa? Soal ALVEGAR?"
"Bukan. Soal... kenapa Kak Danis baik banget sama aku? Aku kan cuma cewek biasa, suka lemot lagi," tanya Kinara, suaranya pelan.
Danis menghentikan penjelasannya. Ia menatap Kinara lurus. Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi tulus yang membuat Kinara berdebar.
"Kinara," kata Danis lembut, "Gue gak peduli loe lemot atau enggak. Loe itu cewek paling tulus dan baik yang gue kenal. Loe gak pernah fake dan gak pernah berusaha jadi orang lain. Loe itu selalu bikin suasana jadi tenang dan damai. Gue nyaman banget sama loe."
Pengakuan tulus itu membuat pipi Kinara memanas. Ini bukan godaan playboy, ini adalah pengakuan dari Danis yang selalu tenang.
"Aku... aku juga nyaman sama Kak Danis," balas Kinara jujur.
Danis tersenyum lagi, senyum yang kali ini lebih hangat dari kopi di depannya. "Udah. Jangan dipikirin. Fokus belajar. Nanti kalau ada ulangan, gue temenin belajar lagi, ya?"
🥋 Latihan Keras dan Gombalan Jujur
Di dojo akademi bela diri milik ayah Keysha, Asean Mahardika terlihat kelelahan setengah mati. Ia baru saja menyelesaikan sesi latihan Kyokushin-Judo dengan Keysha.
Keysha, meskipun terlihat tidak berkeringat, tetap fokus. "Lagi. Gerakan loe masih lambat," perintah Keysha, suaranya datar.
"Gila, Keysha! Latihan loe ini bukan latihan, ini siksaan!" keluh Asean, terengah-engah. "Loe beneran bukan robot kan?"
Keysha menghela napas. "Fokus. Loe tadi bilang mau belajar counter cepat. Sekarang, loe buang ego playboy loe. Anggap aku lawan, bukan cewek cantik yang harus loe gombalin."
Asean duduk di lantai, bersandar di dinding. "Gimana gue gak gombal? Loe tuh cantik banget pas lagi serius gini. Rambut loe diikat, fokus, dan gila... skill loe ngalahin semua cowok yang gue kenal."
Keysha tidak marah. Ia justru mengambil botol air dan melemparkannya ke Asean. "Minum. Latihan harus serius."
Asean meminum air itu. "Gue serius, Keysha. Jujur, skill loe itu seksi. Loe tuh superwoman yang kalem."
Keysha duduk di sebelahnya, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Kenapa loe mau belajar serius? Loe kan playboy. Bela diri loe udah cukup buat berantem di jalanan."
Asean melihat ke langit-langit, ekspresinya berubah menjadi serius. "Gue pengen tahu inner strength loe. Loe itu pendiam, tapi loe punya kekuatan yang luar biasa. Itu bikin gue penasaran."
Keysha menoleh ke Asean. Wajah playboy itu kini terlihat tulus. "Loe... berbeda hari ini."
"Gue janji gak flirting saat latihan. Tapi gue gak janji kalau hati gue gak tertarik. Loe tuh original banget, Keysha. Gak ada gimmick sama sekali. Dan itu langka," ujar Asean jujur.
Keysha tidak menjawab, tapi ada senyum sangat tipis, nyaris tak terlihat, yang terukir di bibirnya. Senyum yang membuat Asean merasa usahanya selama ini terbayar lunas.
"Besok jam lima," kata Keysha, lalu ia berdiri. "Jangan telat."
Asean langsung bangkit, semangatnya kembali membara. "Siap, Boss! Sampai ketemu besok!"
Asean tahu, strateginya benar. Keysha tidak butuh rayuan, Keysha butuh tantangan dan kejujuran. Dan ia siap memberikan Keysha keduanya.
***
TO BE CONTINUED