NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak ingin pisah.

“Maaf, Mas… Hawa tidak bisa,” ucap Hawa lirih namun tegas. “Hari ini Hawa harus ke rumah sakit. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan sebelum resmi resign.”

Hawa bangkit dari kursinya, mulai membereskan piring-piring bekas sarapan dengan gerakan teratur, seolah ingin menyembunyikan kegugupan di balik kesibukan kecil itu.

Adam memperhatikannya sejenak. Ada sesuatu di wajah Hawa yang selalu membuatnya ingin menahan lebih lama, kenyamanan berbicara, senyum yang sederhana, semua terasa menenangkan.

“Hmm… kalau begitu,” Adam menyahut pelan, lalu berpura-pura berpikir. “Bagaimana kalau aku temani kamu ke rumah sakit? Sekalian aku cek kesehatan. Setelah itu, temani aku ke salon.”

Hawa menghentikan gerakannya. Menoleh perlahan.

“Salon ya?” alisnya terangkat ragu berpikir.

“Iya,” Adam tersenyum, kali ini lebih hangat.

"Aku enggak punya asisten di sini. Biasanya Harun atau Felix yang nemenin. Aku masih agak khawatir dengan kondisiku sendiri… kalau terjadi apa-apa, setidaknya ada kamu.”

Kalimat terakhir itu terdengar begitu cerdik atau mungkin terlalu jujur.

Hawa terdiam. Matanya menunduk, jemarinya saling meremas di depan perut.

“Tapi…” suaranya hampir tak terdengar.

Adam tidak memaksa. Ia hanya menunggu, namun sorot matanya jelas menyimpan harap.

Beberapa detik kemudian, Hawa menarik napas panjang.

“Baiklah,” katanya akhirnya, mengangguk pelan.

*

Pagi itu, Sydney diselimuti udara dingin yang samar. Langit tampak pucat, sementara lalu lintas mulai menggeliat pelan.

Harun melangkah masuk ke apartemennya dengan tubuh yang lelah. Semalaman ia bekerja tanpa jeda, rapat daring, dokumen kontrak, dan tekanan yang tak kunjung usai.

“Haduh… kenapa Adam belum juga kembali ke Australia? Ini sudah terlalu lama,” gerutu Harun pelan sambil berdiri di depan pintu apartemennya.

Begitu pintu terbuka.

“Surprise!” Harun tersentak.

“Raisa?” matanya membelalak. Wanita itu sudah berdiri di ruang tengah apartemen pribadinya. Apartemen yang setahun lalu dibelikan Adam khusus untuk sang adik.

“Sayang, kamu datang kok enggak bilang-bilang?” Harun mendekat, antara senang dan panik.

Raisa tersenyum manja, langsung memeluknya.

“Kan surprise. Lagian aku kangen, Mas. Enggak tahan jauh-jauh sama kamu.”

Harun menghela napas. Ada rasa hangat, tapi juga kekhawatiran yang langsung menyelinap.

“Besok aku rencana pulang,” katanya hati-hati. “Hawa sudah terus-terusan menelpon.”

Senyum Raisa langsung memudar.

“Mas…” suaranya bergetar. “Sebenarnya siapa sih wanita itu buat kamu?” matanya mulai berkaca-kaca. “Jangan bilang kamu sudah benar-benar menerima Hawa sebagai istrimu.”

“E...” Harun gugup. Lidahnya kelu.

“Aku yang selalu ada buat kamu,” suara Raisa meninggi. “Aku yang melayani kamu, menemani kamu, tapi kamu enggak pernah benar-benar total sama aku!”

“Bukan begitu, Sayang,” Harun mencoba meraih tangannya tapi Raisa menarik tangannya dengan kesal.

“Biarkan saja Hawa sama Mas Adam! Bukannya mereka yang seharusnya menikah? Kamu enggak pernah mikirin perasaan aku!”

“Jangan marah dulu,” Harun merendah. “Bukan aku enggak senang kamu datang. Tapi kalau sampai Mas Adam tahu kamu ada di sini… rencana kepemilikan perusahaan di Sumatera bisa batal. Kamu tahu sendiri sifat dia.”

“Tapi kemarin kamu bilang kalau ketahuan Mas Adam enggak masalah!”

“Iya, tapi bukan sekarang,” Harun mengusap wajahnya frustasi. “Aku cuma takut dia marah kalau pernikahan siri kita ketahuan terlalu cepat.”

“Jadi aku harus pulang lagi?” Raisa berdiri, wajahnya penuh kekecewaan.

Harun refleks menarik tangannya, mendekapnya dari belakang. Sentuhan itu selalu berhasil melemahkan Raisa.

“Karena kamu sudah di sini,” bisik Harun di telinganya, “apa yang bisa aku lakukan selain menerimamu?”

Raisa terdiam. Amarahnya luruh, berganti ambisi yang mengeras di dadanya.

"Dan hari ini masa suburku," gumamnya dalam hati. "Aku ingin hamil. Sekalian mengakhiri drama pernikahan Harun dan Hawa."

Rayuan maut Raisa berhasil meruntuhkan Harun, keduanya kembali memadu kasih sebagai pasangan suami istri dan Kota Sydney berpendar di balik jendela, menjadi saksi bisu akan percintaan mereka.

Di sisi lain kota,

Adam sudah berdiri rapi di ruang tamu, menunggu Hawa turun dari lantai dua.

Begitu Hawa muncul, Adam seakan lupa bernapas.

Seragam perawat membalut tubuh wanita itu dengan sederhana. Rambutnya ditata rapi khas seorang perawat, riasan wajahnya tipis namun membuatnya terlihat segar dan menenangkan.

Tatapan Adam tertahan terlalu lama.

“Sudah selesai?” tanyanya lembut, suaranya hampir seperti bisikan.

Hawa mengangguk kecil.

Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah. Sopir turun, membukakan pintu untuk mereka berdua.

Di rumah sakit, Adam menjalani pemeriksaan kesehatan ditemani Hawa. Beberapa rekan kerja Hawa sempat melirik penasaran.

“Itu suami kamu?” salah satu dari mereka berbisik.

“Bukan,” Hawa tersenyum canggung. “Dia kakak ipar aku.”

“Sudah punya istri?”

“Belum.”

“Wah… awas, Hawa,” canda mereka tertawa.

“Ipar itu maut!”

Hawa hanya tersenyum tipis, menahan rasa tak nyaman yang tiba-tiba menggelitik hatinya.

Setelah urusan medis selesai, Hawa sibuk mengurus berkas resign, penyerahan dokumen, foto perpisahan, salam-salaman dengan rekan kerja.

Sedangkan Adam menunggu di lobi, sesekali bekerja lewat ponselnya, menelpon kolega bisnis. Sampai sebuah notifikasi Instagram membuat alisnya berkerut.

"Raisa"

Adam memperhatikan ada Foto-foto di sebuah apartemen, apartemen Harun. Ada Pelukan, senyum intim, dan… cincin yang sama di jemari mereka.

“Ada Raisa di apartemen Harun?” gumam Adam.

“Cincin pernikahan? Apa mereka sudah menikah?” Ia langsung menelpon Felix.

“Felix, aku butuh bantuanmu.”

“Siap.”

“Cari tahu status Raisa dan Harun.

Secepatnya.”

“Baik.”

Hawa tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Mas Adam, maaf ya… Hawa lama.”

Senyumnya membuat Adam refleks tersenyum balik.

“Oh, enggak apa-apa,” katanya ringan.

Hawa tersenyum.

“Sampai besok pun aku rela nungguin kamu," gumam Adam memandangi senyuman itu.

“Kamu sudah ganti baju?” tanya Adam.

“Iya. Seragam tadi harus diserahkan.”

“Kamu sedih resign?” tanya Adam.

“Sedih dan bingung,” jawab Hawa jujur. “Takut kesepian, tapi jadi perawat juga menuntut profesionalitas tanpa mengenal waktu.”

Adam berjalan di sampingnya.

“Kamu enggak akan kesepian,” katanya yakin. “Biar aku saja yang memikirkannya.”

“Kenapa Mas Adam?”

“Enggak apa-apa,” Adam tersenyum. “Aku memang suka berpikir.”

Mobil membawa mereka ke sebuah galeri salon mewah.

Hawa hendak duduk di ruang tunggu.

“Mas, Hawa nunggu di sini saja ya”

“Tapi aku sudah terlanjur pesan couple,” potong Adam santai sebagai akal-akalannya yang sebenarnya tidak ingin jauh-jauh dari Hawa.

Tanpa menunggu persetujuan, ia menarik tangan Hawa masuk ke dalam.

Mereka reflek disambut olef para staf dengan ramah, sebagai pasangan maka diarahkan ke ruang khusus.

Jantung Hawa berdegup tak menentu.

"Setelah menikah… kenapa justru aku lebih sering bersama Mas Adam?" gumamnya dalam hati, resah, tanpa tahu bahwa batas yang ia jaga perlahan mulai memudar.

“Silakan, Mbak,” ucap staf wanita itu dengan suara lembut dan senyum profesional, sambil mengarahkan Hawa ke kursi di sebelah Adam.

Hawa spontan berhenti melangkah. Matanya melirik kursi itu, terlalu dekat. Jaraknya nyaris tak ada, hanya dibatasi sandaran empuk yang jelas-jelas dirancang untuk dua orang yang terbiasa berbagi ruang.

“Saya duduk di sana saja,” ucap Hawa cepat, menunjuk kursi lain di seberang ruangan. Nada suaranya terdengar sopan, tapi jelas menyimpan kegelisahan.

Staf itu tersenyum lagi, tetap ramah, namun kali ini disertai gelengan kecil.

“Maaf, Mbak. Tidak bisa,” katanya halus. “Karena ini paket couple, posisi duduknya memang harus berdekatan.”

Hawa terdiam. Kata couple itu terasa asing di telinganya, bahkan sedikit menyesakkan. Ia menoleh ke Adam sekilas, berharap pria itu berkata sesuatu. Namun Adam hanya tersenyum tipis, seolah situasi ini sama sekali tidak memberatkannya.

“Oh…” Hawa menghela napas pelan. “Baiklah.”

Tak ada pilihan lain. Dengan langkah ragu, Hawa akhirnya duduk di kursi yang dimaksud. Bahunya nyaris bersentuhan dengan lengan Adam. Kehangatan itu terasa nyata, terlalu nyata, hingga membuatnya refleks menegakkan punggung.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!