Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Bayangan di Bawah Cahaya
Hutan Kuno di Sektor Utara Akademi Sihir Royal Aethelgard adalah wilayah yang terlupakan. Pohon-pohon di sini tumbuh begitu rapat hingga sinar matahari nyaris tidak menyentuh tanah, menciptakan senja abadi yang lembap dan berbau lumut. Murid-murid jarang datang ke sini, kecuali pasangan yang mencari tempat bersembunyi atau anak-anak nakal yang ingin membolos.
Di jantung hutan itu, berdiri sebuah patung tua yang menyedihkan.
Patung itu menggambarkan seorang kesatria yang memegang pedang patah. Wajahnya sudah terkikis oleh hujan asam dan angin selama berabad-abad, membuatnya tak lagi dikenali. Lumut hijau menutupi sebagian besar tubuh batunya, dan tanaman rambat melilit kakinya seperti ular.
Bagi murid lain, ini hanyalah rongsokan sejarah. Dekorasi taman yang gagal.
Tapi bagi Varian, yang sedang berdiri di hadapannya dengan seragam akademi rapi, patung ini adalah pintu gerbang.
"Pahlawan Pertama..." gumam Varian, membaca plakat kuno yang nyaris tak terbaca di kaki patung. "Ironis. Mereka memuja Cahaya, tapi membiarkan monumen pahlawan mereka membusuk di kegelapan hutan."
Varian menggeser kacamata sihirnya sedikit. Mata kanannya—Mata Iblis Malakar—terbuka sepenuhnya. Pupil vertikalnya berputar, memindai struktur realitas di hadapannya.
Dunia berubah di mata Varian. Dia tidak melihat batu dan lumut. Dia melihat aliran mana. Dan di sana, tepat di bawah alas patung itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum miring.
Ada kebocoran. Aliran mana berwarna hitam pekat, sangat tipis seperti asap rokok, merembes keluar dari celah tanah. Itu bukan mana alam. Itu adalah mana buatan. Mana Void.
"Hanya aku yang bisa melihat ini," bisik Varian. "Tempat persembunyian yang sempurna."
Varian berlutut. Dia meletakkan telapak tangannya di dasar patung. Dia tidak merapal mantra pembuka kunci standar akademi. Dia tahu itu tidak akan berguna. Mekanisme ini dibuat sebelum sihir modern ditemukan.
Dia mengalirkan Mana Void-nya sendiri. Energi ungu gelap mengalir dari tangannya, merayap masuk ke celah-celah batu seperti air, mencari kunci gembok magis yang tersembunyi.
Klik.
Suara mekanisme berat bergeser terdengar dari dalam tanah.
DRRRTTT...
Tanah di sekitar patung bergemuruh pelan. Semak-semak di belakang patung terbelah. Sebuah lempengan batu bergeser, mengungkapkan tangga spiral curam yang mengarah ke kedalaman bumi yang gelap gulita.
Bau udara purba—bau debu, ozon, dan kesunyian yang telah diperam selama ribuan tahun—berhembus keluar, menerpa wajah Varian.
Varian berdiri, menepuk debu dari lutut celananya. Tanpa ragu, dia melangkah turun. Kegelapan di bawah sana begitu pekat hingga obor biasa akan mati karena kurangnya oksigen murni. Tapi Varian adalah Raja Kegelapan; baginya, kegelapan adalah siang hari yang sejuk.
Tangga itu seolah tak berujung. Semakin dalam dia turun, semakin kuat resonansi energi di dadanya. Jantung naga di dalam tubuhnya berdetak selaras dengan aura tempat ini.
Akhirnya, dia sampai di ujung tangga.
Sebuah ruangan berbentuk kubah terhampar di hadapannya. Dindingnya terbuat dari batu obsidian hitam yang dipoles licin. Di dinding itu, terukir relief sejarah perang kuno yang tidak pernah diajarkan di kelas sejarah. Gambar "Dewa Cahaya" yang agung sedang bertarung melawan "Entitas Bayangan" yang tak berbentuk.
Varian mengabaikan sejarah itu. Perhatiannya tertuju ke tengah ruangan.
Di sana, di atas sebuah altar yang terbuat dari tumpukan tulang belulang raksasa, melayang dua bola energi hitam.
Bola Kiri: Berukuran sebesar kepala manusia, permukaannya bergetar dan bergelombang tidak stabil, seolah-olah ia membelah diri terus menerus.
Bola Kanan: Kecil, seukuran kelereng, diam mutlak, tapi memancarkan aura tajam yang membuat mata fisik Varian terasa sakit hanya dengan melihatnya.
"Sisa-sisa kekuatan Jenderal Bayangan zaman dulu," analisis Varian cepat. "Tersimpan tepat di bawah hidung Akademi Cahaya. Mereka duduk di atas bom waktu dan tidak menyadarinya."
Varian melangkah mendekat.
"Milikku."
Dia mengulurkan kedua tangannya sekaligus, menyentuh kedua bola itu.
"Absorb (Serap)."
ZIIING!
Dunia Varian meledak menjadi warna putih. Rasa sakit kembali menyerang—rasa sakit yang akrab. Informasi tentang teknik terlarang itu mengalir deras ke otaknya bukan sebagai kata-kata, tapi sebagai konsep abstrak yang membakar saraf-sarafnya dan menanamkan memori otot baru secara paksa.
Tubuhnya kejang sesaat, menerima update kekuatan yang brutal.
Beberapa menit kemudian, Varian membuka matanya. Napasnya terengah, tapi matanya bersinar penuh kemenangan.
Sihir Terlarang Pertama: "Echo of Existence" (Gema Eksistensi).
Varian melihat ke lantai. Dia memusatkan pikirannya pada bayangannya sendiri yang memanjang karena cahaya pendar dari dinding.
"Bangun," perintahnya.
Wuuung.
Bayangan di lantai itu menggeliat cair, lalu perlahan naik ke atas, mendapatkan volume, mendapatkan warna, dan mendapatkan tekstur.
Dalam sekejap, berdiri Varian kedua di sebelahnya.
Mereka identik. Tinggi yang sama, wajah yang sama, seragam yang sama. Bahkan tatapan matanya sama datarnya.
Varian Asli menyentuh wajah kloningnya. Kulitnya terasa nyata. Hangat. Ada detak jantung.
"Kau..." ucap Varian Asli, menguji koneksi mentalnya.
"...Adalah aku," jawab Varian Kloning serentak. Suara mereka memiliki frekuensi yang sama persis.
Ini bukan sekadar ilusi optik atau hologram sihir cahaya. Ini adalah Manifestasi Fisik dari keberadaan. Kloning ini memiliki 50% dari total kekuatan Varian, bisa menggunakan sihir, bisa berpikir mandiri (namun tetap terhubung telepati dengan Varian), dan memiliki massa fisik.
"Sempurna," Varian menyeringai lebar, menatap 'saudara kembarnya'. "Dengan ini, masalah terbesarku terpecahkan."
Selama ini, Varian khawatir aktivitas kriminalnya sebagai 'Void' akan bentrok dengan jadwalnya sebagai murid 'Varian Valdris'. Absen di kelas akan menimbulkan kecurigaan. Tapi sekarang...
"Aku bisa menjadi murid teladan di kelas, mencatat semua omong kosong profesor..." kata Varian Asli.
"...Sementara aku membantai musuh di luar dan membangun kerajaanku," sambung Varian Kloning dengan seringai yang sama jahatnya.
Masalah alibi Varian terpecahkan selamanya. Dia bisa berada di dua tempat sekaligus. Tidak ada yang akan mencurigai "Varian si Murid Teladan" melakukan kejahatan, karena saksi mata akan bersumpah melihatnya sedang duduk manis di perpustakaan saat pembunuhan terjadi ratusan kilometer jauhnya.
Varian kemudian mengalihkan perhatiannya ke dinding batu ruangan itu.
Sihir Terlarang Kedua: "Needle of Nihility" (Jarum Ketiadaan).
Dinding batu di hadapannya diperkuat sihir kuno yang sangat keras, setara dengan Barrier tingkat tinggi yang bisa menahan ledakan bom sihir.
Varian mengangkat jari telunjuk kanannya.
Dia tidak memanggil ledakan besar. Dia tidak memanggil naga api.
Dia memejamkan mata, memadatkan Mana Void-nya. Dia menekan, menekan, dan menekan energi itu hingga menjadi satu titik yang sangat kecil—lebih kecil dari ujung jarum jahit, nyaris seukuran atom.
Konsep sihir ini sederhana namun absolut: Fokus Mutlak.
Alih-alih menyebar kekuatan untuk menghancurkan area luas (seperti bola api), sihir ini memusatkan seluruh daya hancur ke satu titik mikroskopis. Tidak ada perisai di dunia ini, baik fisik maupun magis, yang memiliki kerapatan molekul cukup padat untuk menahan tekanan sebesar itu di satu titik.
"Pierce (Tembus)."
Varian menjentikkan jarinya pelan ke arah dinding.
Zipp.
Hanya ada suara desingan halus, seperti nyamuk lewat. Tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya menyilaukan.
Varian berjalan mendekat ke dinding batu setebal lima meter itu. Dia menyalakan api kecil di jarinya untuk penerangan.
Di sana, di permukaan batu obsidian yang keras itu, muncul lubang kecil seukuran jarum. Sempurna bulatnya. Varian mengintip ke dalam lubang itu. Cahaya menembus sampai ke sisi lain tanah, dan terus menembus batuan di belakangnya, mungkin berkilometer jauhnya.
Varian meniup lubang itu. Debu batu berhamburan.
"Mengerikan," bisik Varian, merasa puas. "Perisai Cahaya Uskup Lucius... Armor Sisik Naga... atau Jantung Pahlawan. Semuanya akan tembus."
Ini adalah teknik pembunuh tunggal (One-Shot Kill) yang paling mematikan. Kecil, tidak terlihat, tak terhentikan, dan sunyi.
Varian berbalik, diikuti oleh bayangannya yang kini berjalan sendiri.
"Ayo kembali ke asrama," kata Varian pada dirinya yang lain. "Besok, kita akan mulai sandiwara dua babak ini."