NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Tampil terbaik

I miss you guys, i love you!

Happy Reading

Beruntung, kerumunan wartawan yang beringas itu dijaga ketat oleh barisan staf keamanan hotel yang bertubuh tegap. Jika tidak, kericuhan pasti akan pecah dan mereka mustahil bisa melangkah masuk dengan tenang.

Aluna segera menjalankan perannya. Ia melingkarkan tangannya dengan lembut pada lengan kiri Arkan, merapat pada sisi pria itu untuk memberikan kesan pasangan yang harmonis.

Senyum manis yang telah ia latih di depan cermin kristal semalam kini telah stand-by sempurna di wajah ovalnya, menutupi segala luka dan rasa lelah yang menghimpit batinnya.

​Arkan sedikit menegakkan bahunya saat merasakan jemari Aluna di lengannya.

​Langkah mereka di atas karpet merah disambut oleh pintu ballroom raksasa yang terbuka perlahan, menyingkap sebuah aula perjamuan yang dipenuhi oleh lampu kristal gantung yang menyilaukan dan aroma parfum kelas atas yang memenuhi udara.

​"Tetap seperti ini, jangan dilepas. " bisik Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari para tamu di depan mereka.

Ribuan pasang mata seolah terpancing.

Aluna dan Arkan muncul di sana, tampak seperti pasangan "Cherry Pie".

Manis, segar, tersaji di atas piring emas.

​Seluruh ruangan seakan menahan napas. Mereka terpukau oleh keharmonisan pasangan itu, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita di samping Arkan sebenarnya berasal dari kasta yang jauh di bawah mereka.

Aluna berusaha keras mempertahankan senyumnya, mengatur sorot matanya agar tetap terlihat elegan dan berwibawa, seolah ia memang harus siap melakukan apapun demi keperluan Arkan.

​"Jadi itu calon istri Arkan?"

​"Cantik sekali. Arkan benar-benar tahu cara memilih wanita," bisik seorang sosialita di sudut ruangan.

​"Wanita itu beruntung sekali bisa memilikinya. Benar-benar keberuntungan yang jarang sekali orang dapatkan," gumam tamu lainnya, menciptakan dengung yang memenuhi seisi aula.

​Aluna mendengar pujian-pujian itu.

Genggamannya pada lengan kekar Arkan mulai terasa pegal dan kaku. Rasa tidak nyaman yang hebat merayap—ia ingin segera melepaskan tangan itu dan segera cepat pulang.

​Di dalam, kilatan flash dari kamera ponsel para tamu menyambar.

Aluna yang tidak terbiasa dengan perhatian sebesar itu tersentak— matanya terasa pedih seakan disengat.

Secara refleks, ia mengangkat punggung tangannya untuk menghalau silau.

​'Silau sekali... bahkan di dalam sini pun mereka terus memotret seolah kami berdua, ' batinnya lelah.

​Arkan berdecak pelan, secara tak terduga pria itu mengangkat telapak tangannya, menciptakan tameng di depan wajah Aluna tanpa menyentuh kulitnya.

Tindakan yang terlihat sangat protektif di mata orang lain itu dibarengi bincang-bincang singkat para tamu.

​"Jangan mencengkeram lengan saya terlalu keras, kau mau saya dorong di depan semua orang? Hanya karena flash ponsel saja kau sudah sebodoh ini," desis Arkan tajam, berbisik.

​Aluna hanya bisa membalas di dalam hati dengan rasa sesak yang kian menumpuk.

'Siapa pun pasti akan terkejut... Mas Arkan selalu bicara seenteng itu. Aku benar-benar tidak suka dengannya.'

​Di tengah ketegangan, sosok tua dengan tongkat jalan berukir mewah mendekat. Tuan Seo Atmadja, sang kepala keluarga.

​"Selamat datang, Aluna," sapa sang Kakek.

​Dengan sigap, Aluna melepaskan rangkulannya pada lengan Arkan. Ia menarik sedikit rok gaun mewahnya yang berat, lalu membungkuk rendah dengan anggun—sebuah penghormatan ala bangsawan yang ia pelajari dari buku dongeng.

​"Kakek sudah bisa jalan?" tanya Arkan mengangkat sebelah alis, heran.

Ia terbiasa melihat sang kakek bergantung pada kursi roda, namun malam ini pria tua itu tampak cukup bugar dengan hanya bertumpu pada tongkatnya.

​"Kau kira kakekmu ini pincang atau apa?" sahut Tuan Atmadja sedikit kasar.

Matanya kembali beralih pada Aluna.

"Wah, cantiknya kamu, Nak..."

​Sang kakek mengelus pundak Aluna.

Aluna segera meraih tangan keriput itu dan menyalaminya dengan takzim, sebuah tindakan tulus yang membuat dada Tuan Atmadja membuncah bangga.

​"Begini, Arkan! Tiru sifat calon istrimu ini. Lihat kesopanannya... hohoho!"

​Arkan hanya berdiri kaku di samping mereka. Dalam hati, ia mendengus jijik.

'Menirunya? Cuih, najis,' batinnya penuh benci

​Namun, tawa Kakek Atmadja tidak bertahan lama.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut cokelat yang ditata seperti punuk unta datang.

Tubuhnya dipenuhi perhiasan berlian, seolah ia memamerkan seluruh isi kekayaannya malam ini.

Wanita itu adalah Rosa, tante Arkan, yang dikenal memiliki lidah setajam silet.

​Rosa menatap Aluna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan merendahkan.

​"Kau becus tidak sebenarnya, Arkan? Kenapa malah memilih rongsokan ini untuk dibawa ke pesta?" desis Rosa tanpa disaring.

​Aluna tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

'Lagi-lagi celaan... Bisa tidak sehari saja aku hidup tanpa dianggap sampah oleh orang-orang ini?' pikir Aluna dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia berusaha tetap tegar.

​"Tante Rosa, jaga omongan Anda," suara Arkan merendah.

"Dia akan menjadi istri saya. Apa masalahnya? Kenapa Anda datang dan tiba-tiba bersikap tidak sopan seperti ini?"

​Rosa tidak terintimidasi. Ia justru menutup mulutnya dengan kipas antik bermotif emas, tertawa kecil di balik bilah-bilah kipas itu dengan mata yang berkilat licik.

​"Ya, mau bagaimana lagi, Arkan? Orang-orang di ruangan ini penasaran, dia ini datang dari keluarga mana?" Rosa melirik Aluna dengan tatapan menghina.

"Bukan karena dia cantik dan tampak pas dengan gaun indah itu, tapi kalau latar belakangnya saja tidak ada dalam data keluarga konglomerat mana pun... sungguh disayangkan. Kau hanya sedang memoles sampah, Arkan. Haha!"

​Deg—

​Aluna terdiam kaku. Ia sempat melotot tak percaya mendengar kata "sampah" keluar begitu enteng dari bibir wanita terpandang itu.

Namun, ia segera menunduk, menggelengkan kepalanya sedikit untuk mengusir rasa sakit yang menghunjam dadanya.

Di tengah keramaian perjamuan ini, ia merasa ingin sekali menghilang saat itu juga.

...****************...

​Di tengah pesta yang semakin riuh, perhatian Arkan teralihkan. Seorang relasi bisnis penting dengan setelan jas abu-abu menarik lengannya, mengajaknya berdiskusi tentang proyek besar. Arkan sempat melirik Aluna sesaat—sebelum akhirnya melangkah menjauh.

Kini Aluna berdiri mematung sendirian di dekat meja buffet.

Di tengah hiruk-pikuk tawa dan denting gelas, ia merasa seperti wanita bisu yang kehilangan arah.

Saat jemarinya yang gemetar mencoba mengambil semangkuk es buah, seorang pria mendekat dengan langkah angkuh.

Kancing kemejanya sengaja dibuka lebar, sementara kedua tangannya terbenam di saku celana.

​"Kudengar kau akan menjadi pasangan Arkan? Menurutku, kalian sama sekali tidak cocok," ucap pria itu sembari meneguk wine.

"Mutiara indah secantik peri sepertimu jauh lebih cocok bersanding dengan pria tampan sepertiku. Namaku Mahendra Wijaya."

​Mahendra menyodorkan gelasnya, memaksa Aluna untuk minum.

Namun, Aluna menolak dengan tegas— Arkan sudah mengingatkannya agar tak menyentuh alkohol.

Mahendra justru semakin mendekat. Aroma parfumnya yang sangat menyengat menusuk indra penciuman Aluna, membuatnya harus menahan napas sekuat mungkin.

​"Maaf, saya ada urusan—"

​"Mau ke mana kau?!" potong Mahendra kasar.

Mahendra mencengkeram bahu Aluna dan menjedotkan punggungnya ke tembok dengan keras.

Ia memaksa dagu Aluna mendongak ke atas, walau wanita itu sudah memberontak.

"Jangan sok berani melawan, kau tahu siapa aku, hah?! Sekali saja kau membangkang, hidupmu tamat saat ini juga. Kau itu hanya jalang yang sok mahal, cuih!"

​Aluna tersentak, napasnya tercekat di kerongkongan.

Kata "jalang" itu kembali menghantamnya. Meski telinganya sudah berkali-kali mendengar hinaan yang sama, entah mengapa rasanya tetap sakit.

Di bawah kungkungan Mahendra, Aluna merasa harga dirinya benar-benar diinjak hingga ke dasar tanah.

​Sebelum Mahendra sempat melakukan tindakan tidak senonoh, sebuah gelas kaca melayang di udara dan hancur berkeping-keping tepat di tembok samping kepala Aluna.

PRANG!

Aluna memalingkan wajah ngeri saat salah satu pecahan tajamnya menggores pipinya, meninggalkan rasa perih. Setetes darah mulai merembes.

​Aluna membuka matanya perlahan, hanya untuk menemukan Arkan berdiri di sana dengan wajah merah padam. Begitu Mahendra lengah, Aluna segera menyentak dirinya, menjauh.

​Arkan dan Mahendra saling menghujamkan tatapan penuh kebencian—dua rival yang bara permusuhannya kini meledak di depan publik.

Arkan mencengkram lengan Aluna kasar, menarik tubuh wanita itu hingga menabrak dada bidangnya yang keras.

​"Bawa dia keluar dari sini sekarang!" teriak Arkan pada pengawal, suaranya menggelegar di seluruh aula.

​"Sialan! Kau marah istrimu digoda, hah?!" Mahendra meronta saat diseret paksa. "Bangsat! Lepaskan aku!"

​Jantung Aluna berdegup kencang.

Saat ia mendongak, ia terpaku mendapati bahwa Arkan tidak hanya murka pada Mahendra, tapi juga padanya.

Tangan Aluna ditarik dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang, membuatnya merintih kesakitan saat Arkan menyeretnya secara paksa ke tengah lantai dansa.

​Di bawah lampu kristal yang megah, musik klasik mulai mengalun.

Aluna yang baru saja terguncang, malah dipaksa melakukan gerakan dansa.

Pergelangan tangannya terlihat membekas, ia tak berdaya saat Arkan mengunci pinggangnya dengan lengan besarnya, memaksanya untuk menempel.

​Sambil berputar mengikuti irama, Arkan membisikkan yang sangat tajam sekaligus menyakitkan.

"Jalang, jangan buat ulah lagi. Sudah saya katakan, jangan memancing perhatian, bukan? Masih saja kau lakukan. Kau ini kekurangan obat atau bagaimana?"

​Arkan mempererat dekapannya, memastikan luka di pipi Aluna tertutup dari sudut pandang Kakek.

"Dansa saja dengan benar agar Kakek tidak curiga. Mengerti?!"

​Aluna hanya mampu meneguk ludah susah payah. Ia mengangguk pelan, membiarkan dirinya diputar-putar dalam pelukan pria itu.

...****************...

Suasana di dalam mobil sedikit tak nyaman.

Arkan duduk di sudut terjauh, menjaga jarak.

Ia terus memalingkan wajah ke arah jendela, membuang tatapan ke jalanan malam.

​Aluna, yang kini duduk meringkuk sambil meremas kain gaun mahalnya, tak lagi memiliki energi.

Rasa lelah yang luar biasa menyergapnya.

Ia menguap pelan, berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat mengantuk di depan pria yang selalu menilainya buruk itu.

Namun, beratnya beban mental dan fisik malam ini tak lagi bisa ditanggung. Perlahan, kesadarannya menipis, dan kepalanya luruh ke samping tanpa kendali.

​Arkan tersentak saat merasakan beban tiba-tiba mendarat di bahunya.

Ia menoleh cepat, tangannya sudah terangkat, siap untuk menyentak dan melempar kepala wanita itu menjauh kasar. Namun, gerakannya terhenti di udara.

​Tangannya mengambang sesaat, tertahan oleh pemandangan wajah Aluna yang tampak begitu sedih saat tertidur—dengan bekas luka goresan di pipi yang masih memerah.

Arkan berdecak kesal, menurunkan tangannya lalu memangku dagu dengan raut wajah gusar.

Entah mengapa, ia malah mengurungkan niat kasarnya dan membiarkan kepala Aluna tetap bersandar di bahunya.

​'Sialan! Awas saja besok. Kali ini kubiarkan kau seperti ini,' umpatnya dalam hati sambil mengusap wajahnya sendiri frustrasi.

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!