NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Lantai Pertama dan Si Topeng Badut

Suara pintu tulang yang berdentum tertutup di belakang Jiangzhu terdengar seperti vonis mati. Seketika, hiruk-pikuk Kota Seribu Topeng di luar sana lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit menara yang tak terlihat ujungnya. Udara di dalam sini terasa berat, berbau dupa murah dan karat darah yang sudah mengering bertahun-tahun.

"Lantai pertama: Aula Penjagalan," Yue berbisik, suaranya kini hampir tak terdengar di bawah tudung kepalanya. "Aturannya sederhana, Jiangzhu. Jangan menyentuh apa pun yang tidak bernapas, dan jangan percaya pada apa pun yang tersenyum."

Jiangzhu mengeratkan genggamannya pada tangan kecil Awan. Di ruang jiwanya, Li’er mulai gelisah. Hawa dingin yang biasanya tenang kini bergejolak, membuat pundak Jiangzhu terasa kaku.

"Bocah, ada formasi pengumpul jiwa di bawah lantai ini," Penatua Mo memperingatkan dengan nada serius. "Setiap tetes darah yang tumpah di sini akan dihisap oleh menara. Jangan biarkan dirimu terluka terlalu dalam, atau kau akan kering sebelum sempat naik ke lantai dua."

Mereka melangkah masuk ke sebuah aula berbentuk lingkaran yang luasnya hampir menyamai lapangan desa. Di sekeliling aula, ratusan obor dengan api berwarna hijau remang-remang berderit di dinding. Di tengah aula, berdiri seorang pria yang tampak sangat tidak serasi dengan suasana suram tersebut.

Pria itu mengenakan setelan tuksedo yang sudah luntur warnanya, dan wajahnya ditutupi oleh topeng badut porselen yang memiliki senyum sangat lebar hingga mencapai telinga. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah gergaji mesin kecil yang ditenagai oleh batu energi biru yang berdenyut.

"Selamat datang, tamu-tamu terkasih!" Badut itu tertawa, suaranya melengking tinggi, membuat telinga Awan berdenging. "Aku adalah Joker Kelabu, pemandu kalian menuju liang lahat. Yue, kau membawa mainan baru lagi? Oh, yang ini baunya... unik. Bau iblis, bau dewa, dan bau kotoran manusia yang dicampur jadi satu!"

Jiangzhu maju satu langkah, menutupi tubuh Awan dengan jubahnya yang lebar. "Kami hanya ingin lewat. Berapa harganya?"

"Harga?" Joker Kelabu melompat-lompat kecil, gergajinya mengeluarkan suara vroom-vroom yang mengganggu. "Di sini, mata uangnya adalah hiburan! Aku ingin melihat bagaimana seorang 'Nadi Lumpuh' sepertimu bisa menahan serangan dari koleksi-koleksiku. Jika kau selamat dalam tiga menit, kau boleh naik. Jika tidak... kepalamu akan menjadi koleksi lampion baruku!"

Tanpa menunggu jawaban, Joker Kelabu menjentikkan jarinya.

KLANG!

Dinding-dinding di sekitar aula terbuka, dan dari dalamnya keluar belasan sosok yang mengerikan. Mereka adalah manusia, tapi tangan dan kaki mereka telah diganti dengan pisau-pisau panjang dan pegas besi. Mata mereka kosong, dijahit dengan kawat tembaga.

"Budak Mekanik..." desis Yue. Ia segera melompat ke arah tiang penyangga di sudut aula, meninggalkan Jiangzhu di tengah-tengah. "Gunakan kepalamu, Jiangzhu! Jangan hanya otot!"

"Sialan kau, Yue!" umpat Jiangzhu.

Salah satu budak mekanik itu melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, didorong oleh pegas di kakinya. Jiangzhu menghunus pedang hitamnya tepat waktu.

TRANG!

Bilah pedang hitam beradu dengan pisau tangan budak itu. Jiangzhu terkejut; kekuatan budak ini setara dengan kultivator Tahap Inti Bumi awal. Padahal, ini baru lantai pertama!

"Awan, tutup matamu!" perintah Jiangzhu.

Ia memutar tubuhnya, melepaskan tendangan ke arah dada budak tersebut. Namun, tubuh budak itu terasa seperti besi dingin. Jiangzhu justru terpental mundur. Tiga budak lainnya mulai mengepungnya dari berbagai sisi, pisau-pisau mereka berkilat di bawah cahaya hijau.

"Pak Tua, beri aku saran!" batin Jiangzhu berteriak.

"Gunakan energi Li’er untuk membekukan sendi mekanik mereka! Besi tidak akan bergerak jika kau lapisi dengan es jiwa!"

Jiangzhu memejamkan mata sesaat. Ia membiarkan hawa dingin dari ruang jiwanya mengalir keluar melalui pori-pori kulitnya. Udara di sekitar Jiangzhu mendadak membeku, butiran salju hitam mulai jatuh di lantai aula.

"Seni Iblis: Embun Mayat!"

Jiangzhu mengayunkan pedangnya dalam lingkaran penuh. Gelombang hawa dingin yang pekat melesat keluar, menghantam kaki-kaki pegas para budak mekanik. Suara krek-krek terdengar saat sendi besi mereka membeku dan pecah.

Joker Kelabu bertepuk tangan dengan gila. "Menarik! Energi kematian yang sangat murni! Tapi bagaimana dengan ini?"

Sang badut menarik sebuah tuas di lantai. Tiba-tiba, lantai aula mulai berputar, dan dari bawah keluar gas berwarna merah muda yang beraroma manis.

"Jangan dihirup!" teriak Yue dari atas. "Itu racun perangsang kegilaan!"

Jiangzhu mencoba menahan napas, tapi gas itu masuk melalui pori-porinya. Seketika, kepalanya berdenyut hebat. Bayangan penduduk desanya yang membencinya, wajah Xiao Feng yang tertawa, dan kematian orang tua angkatnya muncul kembali dalam bentuk ilusi yang sangat nyata.

"Bunuh... bunuh mereka semua..." sebuah suara berbisik di telinganya.

Mata Jiangzhu mulai memerah. Ia melihat ke arah Awan, dan sesaat, gadis kecil itu tampak seperti monster yang ingin memakannya. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Kakak?" suara lembut Awan memecah kabut di pikirannya.

Tangan Awan yang kecil menyentuh lengan Jiangzhu yang gemetar. Kehangatan aneh mengalir dari telapak tangan gadis itu, menetralkan racun di dalam darah Jiangzhu. Cahaya biru jernih terpancar dari mata Awan, mengusir gas merah muda di sekitar mereka.

Jiangzhu tersentak, kesadarannya kembali. Ia menatap Awan dengan kaget, lalu berbalik ke arah Joker Kelabu dengan tatapan murni haus darah.

"Waktumu habis, Badut sialan," desis Jiangzhu.

Ia tidak lagi menggunakan teknik yang indah. Ia melesat maju, mengabaikan para budak mekanik yang membeku. Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan ubin lantai, ia muncul tepat di depan Joker Kelabu.

Joker Kelabu mencoba mengangkat gergajinya, tapi Jiangzhu lebih cepat. Ia mencengkeram leher baju badut itu dan menghantamkan kepalanya ke topeng porselen tersebut.

PYARR!

Topeng porselen itu hancur, memperlihatkan wajah seorang pria tua yang penuh dengan luka jahit dan mata yang juling.

"Kau..." Badut itu tergagap, ketakutan mulai merayap di wajahnya yang cacat.

"Permainan selesai," kata Jiangzhu dingin. Ia membenamkan pedang hitamnya ke perut sang badut, membiarkan energi Li’er membekukan organ dalamnya seketika.

Joker Kelabu jatuh berlutut, tubuhnya perlahan berubah menjadi patung es hitam sebelum akhirnya pecah menjadi serpihan kecil.

Aula mendadak hening. Para budak mekanik berhenti bergerak dan jatuh seperti rongsokan. Pintu menuju tangga lantai dua perlahan terbuka dengan suara berderit yang menyeramkan.

Yue turun dari tiang penyangga, menatap Jiangzhu dengan alis yang berkerut. "Kau hampir saja kehilangan akal sehatmu. Jika bukan karena bocah itu, kau sudah menjadi salah satu dari mereka sekarang."

Jiangzhu tidak menjawab. Ia hanya mengambil sisa batu energi dari gergaji mesin badut itu dan menyimpannya. Ia memandang Awan, yang tampak pucat setelah menggunakan kekuatannya tadi.

"Kita lanjut," kata Jiangzhu pendek, suaranya parau.

Ia menyadari satu hal: di Menara Kegelapan ini, kekuatannya sendiri tidak akan cukup. Ia harus belajar memahami apa sebenarnya kekuatan yang dimiliki Awan, sebelum para penghuni lantai atas menyadarinya lebih dulu.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!