NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 – Pil dan Perhitungan

Malam itu, Ren Tao tidak langsung menelan pil pemberian Wei Kang.

Ia duduk bersila di barak, menatap botol kecil di tangannya cukup lama. Aroma obatnya kuat, murni, tanpa campuran berbahaya setidaknya di permukaan.

“Kalau aku Wei Kang,” gumamnya pelan, “aku juga akan pakai cara paling bersih.”

Ia membuka Cincin Retak dan mengalirkan sedikit energi ke dalamnya. Retakan halus di permukaan cincin berdenyut samar, lalu memancarkan sensasi hangat ke telapak tangannya.

Potongan informasi asing muncul di benaknya.

Pil Pemulih Meridian tingkat rendah. Aman. Efektif. Tapi…

Ren Tao menyipitkan mata.

Memberi hasil terbaik jika dikonsumsi saat meridian terbuka paksa.

Ia tersenyum tipis.

“Pinter,” bisiknya. “Kalau gagal, aku cacat. Kalau berhasil, aku jadi utang.”

Ren Tao tidak menelan pil itu. Ia menyimpannya, lalu memejamkan mata dan mulai berkultivasi sesuai catatan dalam cincin.

Ia membuka meridian secara perlahan, nyaris seperti menyelinap. Rasa sakit tetap ada, tapi kali ini terkendali. Tubuhnya bergetar halus, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Baru saat itu Ren Tao menelan pil.

Efeknya langsung terasa.

Energi hangat menyebar dari perutnya, menyusuri jalur meridian yang sudah setengah terbuka. Rasa sakit melonjak tajam, menusuk, membuat napasnya tersendat.

Ren Tao menggertakkan gigi.

Jangan berhenti.

Ia mengarahkan energi itu dengan presisi. Tidak mendorong, tidak memaksa. Hanya mengikis, sedikit demi sedikit.

Waktu terasa melambat.

Ketika fajar menyingsing, Ren Tao membuka mata.

Udara terasa… berbeda.

Ia mengangkat tangan, mengalirkan energi spiritual.

Mengalir.

Belum kuat. Belum stabil. Tapi jelas ia telah melangkah keluar dari titik nol.

Qi Gathering tahap awal.

Ren Tao tertawa pelan tanpa suara.

“Kalau mereka tahu,” gumamnya, “aku sudah mati pagi ini.”

Ia segera menekan auranya, menyamarkannya seperti sebelumnya. Ini bukan saatnya pamer.

Di lapangan latihan, kabar tentang Mu Chen menyebar cepat. Lengan kirinya tak bisa digerakkan dengan baik. Posisi seniornya goyah.

Beberapa murid mulai menjaga jarak.

Yang lain… mulai mencari sasaran baru.

Suara Wei Kang terdengar dari belakang saat Ren Tao sedang membersihkan pedang kayu. Murid inti itu berdiri dengan santai, ditemani satu pengawal.

“Kak Wei,” sapa Ren Tao sopan.

Wei Kang menatapnya sekilas. “Pilnya bagaimana?”

“Berhasil sedikit,” jawab Ren Tao jujur setengah jujur.

Wei Kang mengangguk. “Bagus. Berarti tubuhmu masih bisa dipakai.”

Ren Tao menahan senyum.

Wei Kang melanjutkan, “Ujian Murid Luar dimajukan. Dua minggu lagi.”

Ren Tao sedikit terkejut. “Cepat sekali.”

“Banyak kursi kosong,” kata Wei Kang ringan. “Banyak murid… gagal.”

Tatapan mereka bertemu.

Ren Tao paham maksudnya.

“Kamu ikut,” ujar Wei Kang, bukan bertanya.

Ren Tao menunduk. “Aku akan berusaha.”

Wei Kang tersenyum puas. “Aku akan menyiapkan tempat untukmu.”

Tempat di papan catur, pikir Ren Tao.

Setelah Wei Kang pergi, Luo Feng mendekat dengan wajah gelisah.

“Ren Tao, kamu sekarang dekat dengan murid inti?” bisiknya.

Ren Tao meliriknya. “Kenapa?”

Luo Feng tertawa canggung. “Nggak, cuma… hati-hati.”

Ren Tao menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.

“Aku selalu hati-hati.”

Malam itu, Ren Tao kembali ke barak dan melanjutkan kultivasi. Kali ini, ia merasakan batas baru.

Belum kuat. Tapi nyata.

Ia membuka mata dan berbisik pelan, “Dua minggu.”

Waktu yang singkat.

Cukup untuk naik satu langkah kecil.

Dan cukup untuk membuat banyak orang… salah hitung.

Ren Tao menatap langit-langit barak yang gelap.

Wei Kang ingin aku jadi alat.

Sekte ingin aku jadi korban.

Ia tersenyum dingin.

“Silakan,” gumamnya.

“Aku juga sedang butuh panggung.”

Di kejauhan, lonceng malam Sekte Awan Hitam berdentang pelan.

Ujian akan segera dimulai.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!