NovelToon NovelToon
CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: intan_fa

Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah sangka

"Mahen, usiamu sudah dua puluh enam tahun. Harusnya sudah siap untuk menikah," ujar Rina.

"Aku tidak punya pacar! Sudah jangan bahas menikah sekarang."

"Papa memang ada bilang akan mencarikanmu jodoh. Jodoh yang baik jelas asal usulnya dan di pastikan harus dari keluarga yang setara dengan kita," tutur Rina.

"Kalian benar-benar jahat padaku! Perasaan ke kak Bastian gak segitunya. Kalian mengizinkan dia menikah dengan pilihannya yang di cintai. Kayak gini di bilang gak pilih kasih!" gerutu Mahen.

"Hmmm ... Ya itu jelas. Rania itu anak sahabat mama, bersama Bastian sejak dari kecil. Lagi pula Bastian penurut dan tidak pernah membangkang dengan apa yang papa perintahkan!" jelas Rina.

"Mulai ... Selalu saja di bandingkan dengan kak Bastian!" sahut Mahen kesal.

"Sudah ... Sudah ... lanjutkan makannya. Kalau kamu tidak mau di jodohkan, segera carilah pacar dan kenalkan pada kami," pinta Rina.

Mahen mendelikkan matanya kesal dan menyuap makanannya dengan cepat. Setelah selesai makan, Mahen dan Rina berpamitan di depan restoran itu.

"Kenapa kamu gak bawa mobil yang ada di rumah sih? Kenapa harus pakai motor jelek seperti ini?" ujar Rina seraya menatap motor yang terparkir itu.

"I–ini ... Pakai motor lebih satset aja lebih cepat."

"Kalau mau pakai motor, kan ada motor sport-mu di rumah. Kenapa gak pake itu?" tanya Rina.

"Aghh mama ... Biarinlah aku merakyat. Aku juga mau merasakan jadi orang biasa," jawab Mahen.

"Hmmm dasar keras kepala semaumu sendiri gak bisa di atur!" gerutu Rina. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang untuk anak kesayangannya itu.

Tringggg ....

Pemberitahuan uang masuk pada ponsel Mahen.

"Mama gak usah kirim aku uang. Uangku masih banyak!"

"Uang jajan untukmu. Sudah, mama pulang dulu. Kamu sering-sering pulang ke rumah dan segera bawa calon!" pesan Rina.

"Hmmm iya iya ... Mama hati-hati. Bukannya ada sopir kok masih saja nyetir sendiri," tegur Mahen.

"Lebih enak nyetir sendiri." Rina memeluk anaknya itu dan masuk ke dalam mobil. Melajukannya seraya melambaikan tangan.

"Papa ngadi-ngadi banget mau carikan aku jodoh segala. Emangnya segak laku itu diriku?" gumam Mahen.

Di sisi lain, adegan Mahen dan Rina barusan di lihat oleh Naya yang kebetulan makan di restoran itu juga sekalian meeting dengan client.

"Saya gak salah lihat, kan, bu?" tanya Rossi bicara begitu dekat pada telinga Naya.

Membuah Naya terkejut menengok pada Rossi dengan tiba-tiba. "Kau ini."

"Ma–maaf ..." Rossi menarik mundur tubuhnya.

Lalu Naya kembali melihat keluar jendela memperhatikan Mahen yang berlalu pergi dengan motornya.

"Apa jangan-jangan mas Mahen peliharaan ibu tadi, ya? Terlihat mesra ..." ujar Rossi.

"Rossi ..." tatap Naya.

"Hehe ... Ma–maaf, bu ..." Rossi menunjukkan foto di ponselnya. "Soalnya terlihat mesra."

Naya mengambil ponsel Rossi. "Iya juga sih. Gak nyangka, ternyata Mahen peliharaan tante-tante kaya."

"Sayang banget, ya. padahal dia tampan ..." sahut Rossi.

Naya memberikan ponsel Rossi kembali. "Hmmm ... Kenapa kita malah jadi bergosip sih? Cek lagi berkas-berkasnya sebelum client datang!" titahnya.

"Sesusah itukah hidup Mahen sampai rela jadi peliharaan tante kaya?" batin Naya kepikiran.

Meeting berjalan lancar dan setelah selesai Naya juga Rossi kembali ke kantor. Sebelum keruangannya, Naya pergi keruangan pemotretan untuk melihat sudah sejauh mana.

"Ekhemmm ... Mana saya lihat hasilnya?" pinta Naya pada Mahen.

"Agh boleh. Sini ..." mengutak atik laptopnya sebentar lalu menunjukkannya pada Naya. "tinggal edit-edit sedikit, beres."

"Oke. Lakukan dengan baik, saya tidak mau hasilnya berantakan dan jelek!"

"Tenang saja, aku ahlinya tidak akan berantakan," ujar Mahen percaya diri.

"Baguslah! Kau punya skill, harusnya hidupmu lurus-lurus saja!" cetus Naya.

Mahen mengernyitkan dahinya, mencerna apa yang Naya maksud.

"Uang halal walaupun sedikit akan berkah daripada banyak, tapi uang gak halal bikin hidupmu sulit!" ujar Naya.

Mahen semakin tidak mengerti dengan apa yang Naya katakan.

"Lanjutkan!" Naya berlalu pergi.

"Hidup lurus, uang halal, uang gak halal? Apa maksudnya?" pikir Mahen.

Tidak ingin membuyarkan fokusnya, Mahen kembali melanjutkan pekerjaannya. Sampai waktu menunjukkan pukul empat dan ia bersiap untuk pulang.

Seperti biasa, sebelum keluar dari kantor. Mahen mengintip ruangan Naya dan mendapati Naya ada di dalam dan hendak masuk. Akan tetapi, sebelum pintu itu terbuka, Rossi menghentikan Mahen.

"Ehhh ... Ehhhh ... Jangan ganggu bu Naya. No ... No ...."

"Nemuin dia bentar doang!"

"Gak bisa! Kalau sore bu Naya terganggu, maka kita semua akan di suruh lembur! Sudah sana pulang," usir Rossi.

Mahen mengernyitkan dahinya heran.

"Hehh mas Mahen, kamu ganteng loh."

"Hahhaaa baru sadar, ya. Makasih-makasih ..." sahut Mahen.

"Ya maksudku, bisa kali hidup lurus cari cewek yang bener andalkan kegantengan mas Mahen itu," cetus Rossi.

"Maksudmu?" Mahen heran.

"Maksudku ya normal aja selayaknya cowok seusia mas loh. Ya, emang pasti mas butuh uang, tapi jangan jalan pintas gituloh ..." jelas Rossi.

"Apaan sih gak ngerti?" Mahen semakin heran.

"ROSSI ..." terdengar panggilan dari dalam ruangan Naya.

"Aduh ... Aku lupa ngasih berkas pada bu Naya." Rossi bergegas masuk meninggalkan Mahen yang kebingungan.

"Tadi Naya, barusan Rossi, pada kenapa menyuruhku hidup lurus? Emang hidupku gak lurus apa?" gumam Mahen.

1
Kaira
sejauh ini sih seru
Kaira
Harus jodoh Naya sama Mahen dong
Aruna
Naya cocoklah sama Mahen
Intan Diamond: penasaran, kan???
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!