Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Rahasia
Sesampainya di Miami, Laura ingin mengunjungi Bibi Hellena, namun Aaron tidak mengijinkannya. Menurut Aaron, saat ini belum aman jika Laura kembali kesana sendirian. Hingga pria itu membawanya kembali ke mansion pribadinya.
Mansion yang besar dan mewah itu berdiri tegak dan gagah. Menyambut kedatangan Laura dan Aaron. Laura di buat terkesan melihat mansion itu. Dia tak menyangka jika Aaron memiliki mansion sebesar ini. Pantas saja Aaron bisa melakukan apapun yang dia mau. Ternyata pria ini sangat kaya. Bahkan kekayaan Rayyan Pattinson bukanlah apa-apa.
Aaron juga sudah meminta pelayannya untuk menyiapkan kamar untuk Laura. Sehingga saat Laura datang, dia sudah bisa langsung istirahat.
"Ini kamar mu, istirahat lah dulu!" Ucap Aaron saat mengantarkan Laura ke sebuah kamar di lantai atas.
"Terimakasih, tapi apakah kita tidak bisa langsung menyelidiki kasusnya?" Tanya Laura.
"Aku akan meminta Fred untuk mengurusnya." Jawab Aaron.
"Aku juga ingin ikut."
"Istirahat lah, Bill akan menemani mu." Ucap Aaron sambil menunjuk salah satu pelayan prianya yang sudah menunggu dirinya di depan pintu kamar.
Setelah itu Aaron pergi begitu saja meninggalkan Laura bersama Bill disana. Pria itu nampaknya sedikit gusar dan gugup. Sepertinya itu karena efek priapism yang di idapnya.
Bill mempersilahkan Laura masuk ke dalam kamar. Kamar yang begitu luas dan besar ini sudah seperti ruang tengah di rumah Ben.
"Saya sudah siapkan air panas untuk Nyonya Laura mandi." Ucap Bill yang ternyata pria gemulai, membuat Laura sedikit terkejut.
Karena dari luar Bill nampak seperti pria biasanya. Gagah dan tampan, namun ternyata itu hanya tampak luarnya saja. Bill ini kemayu, lebih tepatnya bencong. Tulang lunak. Gaya bicaranya di buat-buat agar terdengar halus, namun malah terdengar seperti orang cacingan.
"Oh ya, terimakasih." Ucap Laura.
"Selamat datang di mansion kami, Nyonya." Ucap Bill.
"Jangan panggil aku nyonya, aku hanya tamu disini." Laura nampak sungkan.
"Benarkah? Bukankah Nyonya Laura adalah alasan mengapa Tuan Aaron kembali ke mansion?" Bill berbicara sambil meliuk-liukan jemarinya yang lentik.
"Maksud mu apa? Aku tidak mengerti."
"Bukankah Nyonya Laura ini kekasih Tuan Aaron?" Bill nampak penasaran.
Sontak Laura langsung menggeleng saat mendengar hal itu. "Bukan!" Jawabnya singkat.
"Hahah Nyonya Laura ini suka bercanda ya!" Bill memukul pelan bahu Laura.
Sedangkan Laura hanya mematung di tempatnya. Dia sebenarnya sedikit geli melihat tingkah laku Bill yang seperti itu. Sungguh berbanding terbalik dengan badannya yang gagah dan kekar.
"Tuan Aaron terlihat kembali hidup dan kembali ke mansion setelah sepuluh tahun tidak pulang!" Ucap Bill penuh semangat saat menceritakannya.
Laura membulatkan kedua matanya. "Sepuluh tahun?" Batin Laura.
Melihat ekspresi Laura yang nampak kebingungan, Bill jadi penasaran dengan wanita ini. Apa benar Laura bukan kekasih Aaron? Tapi mengapa Aaron membawanya kemari? Begitulah kira-kira isi kepala Bill.
"Nyonya Laura benar-benar tidak tau?" Tanya Bill.
Laura menggeleng kecil.
"Astaga.. Benarkah? Nyonya Laura tidak tau jika di mansion ini ada peraturan yang ketat?" Bill nampak bersemangat untuk memulai bercerita.
"Apa?" Laura semakin di buat penasaran dan kebingungan.
"Di mansion ini, ada satu peraturan yang tidak boleh di langgar! Yaitu tidak boleh ada wanita disini! Tapi hari ini malah Tuan Aaron yang membawa wanita, bukankah itu aneh?" Bill menjelaskan.
Dahi Laura berkerut, alisnya bertaut. Aaron benar-benar penuh kejutan bagi Laura. Dia unik dan tidak biasa. Seperti satu banding sepuluh.
"Tuan Aaron juga sudah tidak kembali ke mansion ini selama sepuluh tahun! Tapi tiba-tiba dia kembali beberapa hari lalu, nyonya!" Tambah Bill.
"Benarkah?" Tanya Laura.
"Astaga.. Sepertinya ini cinta bertepuk sebelah tangan. Kasian sekali Tuan Aaron!" Celetuk Bill.
"Kau sedang mengarang ya?" Laura mencoba menyelidik.
"Mengarang? Siapa yang berani berbohong di mansion ini?" Bill kembali memukul lengan Laura dengan pelan.
Lama-lama Laura tak tahan lagi dengan perilaku Bill yang di anggapnya menggelikan. Dia memutuskan untuk mengangguk kecil agar percakapan mereka segera berakhir.
Setelah itu Bill berpamitan keluar dari kamar itu. Laura nampak lega setelah kepergian Bill. Dia duduk di tepi ranjang, memikirkan setiap perkataan Bill barusan.
"Apa benar?" Batin Laura.
Penjelasan dari Bill itu membuat Laura semakin penasaran dengan sosok Aaron. Kekayaan Aaron yang melimpah ini di tinggalkan selama sepuluh tahun? Kenapa? Dan peraturan macam apa itu? Tidak boleh ada wanita di mansion ini, apa itu artinya seluruh pelayan disini laki-laki? Pertanyaan itu memenuhi kepala Laura saat ini.
Sebenarnya Bill bisa membantunya untuk menjawab semua pertanyaan itu. Namun dia keburu merasa geli jika berhadapan dengan Bill.
**********
Di kamarnya Aaron merasa gelisah. Penyakit yang di idapnya ini memang selalu menganggu. Rasa nyeri di miliknya terus terusan berdenyut. Hingga Aaron merasa frustasi. Padahal ini sudah berdiri tegak sejak dua jam yang lalu.
Dia berpikir untuk pergi ke club malam ini. Menyewa pelac*r untuk mendapatkan pelepasan. Tapi.. Dia menahan nafas sejenak. Mengingat wajah Laura. Mengingat jika wanita itu ada di mansionnya sekarang. Ingin sekali rasanya memeluk Laura dengan kuat, atau kalau boleh bercinta dengannya. Namun Aaron tau, Laura pasti akan menolak hal itu.
Akhirnya Aaron memutuskan untuk pergi ke ruang rahasianya. Menenangkan diri disana sambil memandangi lukisan-lukisan wajah Laura yang tertempel di dinding.
Satu hembusan nafas yang kasar membuatnya sedikit lega. Aaron juga merasa rasa nyerinya mulai mereda sedikit demi sedikit. Dia berpikir akan menelpon Dokter Adrian jika hal ini tak kunjung membaik. Karena ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal seburuk ini.
Dokter Adrian sampai harus menyedot darah yang menggumpal di milik Aaron. Suntikan yang cukup besar itu penuh dengan darah dan rasanya akan sangat menyakitkan bagi Aaron.
Beruntung malam ini hal itu tidak terjadi lagi. Dia juga dapat manahan hawa nafsunya untuk tidak pergi ke club malam seperti biasanya. Aaron merasa tak sampai hati jika harus pergi kesana, seakan dia sedang menjaga hati seseorang agar tidak tersakiti oleh prilakunya.
Lamunan Aaron pecah saat mendengar suara pintu di ketuk beberapa kali. Dia menyipitkan kedua matanya. Karena seingat dia, Fred sedang pergi keluar untuk menyelidiki kasus penculikan Dante. Dan tidak ada yang berani mengetuk pintu ruangan rahasia ini selain Fred.
"Siapa?" Gumamnya.
Aaron bangkit dari tidurnya, berjalan menuju arah pintu yang di ketuk berulang kali. Saat Aaron membuka pintu, dia terkejut ternyata itu adalah Laura.
"Ada apa?" Tanya Aaron.
"Maaf menggangu, aku sedang mencari dapur. Dapurnya di sebelah mana ya?" Tanya Laura dengan polos yang memang sedari tadi berkeliling mencari dapur.
"Ayo!" Ajak Aaron yang berjalan lebih dulu di depan Laura.
Namun tanpa sengaja, Laura melihat lukisan dirinya yang telanjang di dinding ruangan rahasia itu. Sontak hal itu membuat dirinya membeku seketika. Matanya membulat sempurna.
Aaron yang menyadari hal itu segera menutup kembali ruangan rahasianya rapat-rapat. Dia terlihat seperti seorang maling yang tertangkap basah.
Saat mata mereka saling beradu. Jantung seakan di pompa lebih cepat. Pembuluh darah mengalir seperti banjir bandang. Membuat wajah keduanya memerah seperti buah tomat yang ranum.
Bersambung...
.
.