Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penderitaan Yang Serupa
#21
“Ayu, kau tak tidur, kah?”
“Sebentar lagi, Bu. Aku belum mengantuk,” jawab Ayu untuk tawaran Bu Jumini, ia terlalu sibuk membolak-balikan buku bacaan baru yang dipinjamkan Bu Giana. Dengan memanfaatkan cahaya dari luar jendela sel untuk membaca, tak apalah, asal rekan satu sel nya tidak terganggu dengan kegiatannya membaca buku.
Enam bulan berlalu sejak kali pertama Bu Giana memberi pelajaran pertama, dan di titik ini Ayu semakin merasa bahwa inilah passionnya. Kemampuannya membuat desain semakin berkembang sejak Bu Giana rutin meminjamkan bukunya satu persatu.
Ayu berkenalan dengan dunia desain pakaian secara otodidak, jenis pakaian, dan corak pola warna-warni pakaian yang umum dipakai warga di negara 4 musim sesuai dengan musim masing-masing. Jika ada hal yang tak dipahami, maka Ayu akan bertanya pada Bu Giana di pertemuan berikutnya.
Namun Bu Giana tetap menekankan bahwa yang penting ia pelajari sebagai pondasi awal, adalah pakaian untuk warga negara Indonesia sendiri. Disamping karena mudah dan harga bisa disesuaikan dengan kantong masyarakat, Ayu juga akan lebih mudah memahami selera pasaran untuk kaum mayoritas di Indonesia.
Sungguh mengherankan, bagi Ayu yang tak pernah mengenal apa itu desain pakaian, memakai baju, ya, tinggal pakai saja, tak perlu memikirkan sebelum menjahit baju ia harus menggambarnya di atas kertas terlebih dahulu.
Tapi sekarang ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba bangkit, seolah begitu haus, dan ingin meneguk sebanyak-banyaknya ilmu tentang desain pakaian.
Tapi di tengah keheningan, tiba-tiba ada suara teriakan entah dari sel nomor berapa.
“Opsir, tolong!” ulang suara itu berulang-ulang.
Ayu berjalan ke pintu, menempelkan telinga di sana, mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi. Namun, hanya suara-suara tak jelas yang ia dengar. Tapi ia juga mendengar tangis kepanikan.
Keesokan harinya, barulah kabar itu jelas, bahwa semalam ada napi yang berusaha gantung diri. Ayu terdiam, ternyata ada seseorang yang memiliki kondisi sama dengan Ayu di awal-awal menjadi Napi.
“Buruan! Malah bengong, antri panjang, nih!” sentak salah seorang napi yang sedang mengantri sarapannya. Ayu tersadar dari lamunan, dan kembali menjalankan tugasnya pagi ini, yakni membantu bagian dapur, menyendok nasi serta lauk untuk para napi yang mengantri sarapan pagi.
“Lain kali, kalau kerja yang bener, dong. Jangan hanya bengong!” ucap orang itu dengan nada kasar, alih-alih berterimakasih. namun, Ayu mulai terbiasa, sehari-hari mendengar omongan kasar, umpatan menggunakan kata-kata seisi kebun binatang, serta bahasa yang awam lain yang merembet ke arah pornografi.
Tapi, ya, sudahlah. Namanya juga di lapas. Ayu sudah bisa melewati masa-masa perundungan itu. Dulu sering ia alami, tapi banyak rekan sesama yang membantunya, hingga Ayu mampu melawan kekerasan antar sesama napi tersebut.
Selesai sarapan, Para Napi beraktivitas di lapangan, ada yang olahraga ringan, atau sekedar berjemur di tengah terik matahari. Ayu berpapasan dengan perawat klinik, “Bu, dengar-dengar, semalam—”
“Iya, tapi Alhamdulillah, masih selamat, karena aksinya keburu di ketahui rekan satu selnya.”
Ayu bernafas lega, “Syukurlah,” ucap Ayu penuh syukur.
Beberapa hari kemudian setelah acara kajian rutin dari pemuka agama yang khusus didatangkan ke lapas. Akhirnya Ayu punya kesempatan bertemu dengan napi tersebut, wanita itu duduk seorang diri di sudut mushola, dengan tatapan yang hampa.
Tak bisa di pungkiri, bahwa kondisi wanita itu, sama seperti kondisi dirinya beberapa tahun silam ketika awal-awal resmi menjadi narapidana. Situasi yang sungguh mengerikan pada saat itu, bila kembali merenungkan peristiwa di masa lalu tersebut, masih membuat Ayu merinding ketakutan.
“Ayu—” sapa Ibu Pembina lapas.
“Ibu—”
“Kamu dengar juga, ya?”
Ayu tersenyum, “Iya, Bu. Kebetulan lagi semalam saya belum tidur, jadi masih mendengar suara-suara teriakan.”
Wanita itu masih bengong, dengan tatapan kosong, Ayu pun bingung hendak memulai dari mana.
Beberapa saat kemudian, ponsel ibu pembina lapas berdering, “Ayu, ajaklah ia bicara sejenak,” pesan Ibu Pembina Lapas.
“Iya, Bu,” jawab Ayu singkat.
Setelah Ibu Pembina pergi, Ayu menggeser posisi duduknya, ia menghadap wajah sang napi baru tersebut.
“Kenalkan, namaku Ayu.” Ayu mengulurkan tangannya.
Wanita itu menatap tangan Ayu, lalu menyambutnya, “Risma.”
Hanya mendapat sahutan saja, Ayu sudah merasa senang, hingga senyumnya mengembang.
Ayu meremas tangan Risma dengan pijatan lembut, dan mulai berkata. “Aku pun—”
“Aku tidak bersalah, mereka memfitnahku. A-ku hanya pembantu di rumah besar itu— ketika terjadi pembunuhan— a-ku sedang mengantar minuman ke ruangan Tuan Besar.”
Dengan kalimat terbata Risma mulai berkisah, wajah yang semula pias dan kosong, kini berubah menjadi tangis kepanikan.
“Sumpah! Hanya sekali Tuan Besar memberiku bantuan, tapi, mereka menggunakan itu sebagai alasan bahwa aku mulai serakah, hendak mencuri uang di brangkas Tuan Besar.”
“Anak-anakku di desa, bagaimana nasib mereka?” isak Risma.
Dengan tenang Ayu mengusap rambut Risma, “Iya, tenang dulu, nanti aku minta bantuan Ibu Kepala agar mencarikan pengacara,” ucap Ayu mencoba menenangkan kepanikan Risma.
“Pengacara— pengacara—” Risma tertawa sumbang, “Pria yang katanya pengacaraku, ternyata— tak berbuat apa-apa ketika mereka menuntutku dengan hukuman penjara seumur hidup.”
“Aku— aku— tak tahu, kenapa mendadak semua menjadi rumit, tak ada yang mau menolong orang miskin. Pengacara itu, pasti sudah disuap anak-anak Tuan Besar!”
Risma kembali bersikap emosional, karena mentalnya tak siap dengan semua tekanan bertubi-tubi yang menghantam hidupnya yang serba terbatas.
Melihat Risma yang kembali panik, Ibu pembina buru-buru menghampiri mereka, kemudian membawa Risma ke klinik dengan bantuan 2 orang opsir.
Dari jauh, Ayu hanya bisa menatap pemandangan tersebut, dengan rasa iba, dan mulai bertanya-tanya, apa memang harus semenyedihkan ini takdir menjadi orang susah? Para orang kaya bisa semena-mena menjadikan orang susah sebagai tumbal untuk menutupi kesalahan mereka.
Ayu meremas dadanya yang terasa nyeri, membayangkan penderitaan Risma yang serupa dengan penderitanya sendiri.
•••
Esok harinya—
Lapas benar-benar heboh, karena mendapati tubuh Risma meregang nyawa dengan cara yang cukup mengenaskan.
Semua orang terdiam, semua orang menatap jasad Risma dengan pandangan iba, setelah mengetahui bagaimana alasan wanita itu berada di lapas. Menanggung hukuman dari perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.
Ayu terus melangkah mengikuti opsir yang menggotong jasad Risma, hingga mendekati pintu perbatasan, Ayu pun menghentikan langkah kakinya.
Beberapa saat kemudian dua orang opsir melintas di dekatnya, “Pengacara Bu Risma sudah datang menjemput.”
“Oh, iya, syukurlah pengacaranya bertanggung jawab.”
Hampir saja Ayu muntah di tempat, karena dua orang opsir Itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayu masih membeku di tempatnya, dari jauh ia melihat seorang pria berpakaian resmi datang menjemput jenazah Risma. Pria itu adalah Gunawan Wicaksono, pria yang dulu menjadi pengacara Ayu, dan berakhir dengan kekalahan telak.
Dalam benaknya Ayu, ia kembali bertanya, apakah dulu ia juga salah satu korban pria itu? Pria yang semula baik dan berkata hendak membantu, tapi kemudian berakhir dengan vonis mengerikan.
Ayu meremas teralis besi yang menghalanginya, batinnya bergemuruh, dengan berjuta pertanyaan yang harus ia cari jawabannya.
“Gunawan— aku pasti akan mencarimu, juga mencari tahu semua sepak terjangmu. Dan aku tak akan tinggal diam bila memang benar kamu sudah bermain-main dengan kalangan yang menimpaku."
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah