Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 13》
Malam itu, Albert pulang seperti biasanya, wajahnya tampak lesu, mungkin karna lelah bekerja, ia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri lalu pergi ke ruang makan, dimana Emily sudah duduk manis dengan senyuman.
Albert tidak tau apa yang terjadi sehingga Emily terlihat senang, jadi ia berkata, "Kau nampak bahagia, apa yang terjadi?"
Emily beranjak menunjukkan kue beras yang sudah tersedia di atas meja makan, ia sudah menyicipi beberapa tadi, dan r rasanya begitu enak, jadi ia senang.
"Kau harus mencobanya, aku yang membuat.. yah walau Bibi Vei juga membantu" Albert mengambil salah satu lalu memakannya dalam sekali suap, ia bisa merasakan rasa manis dari kue itu, juga berfikir bahwa kemampuan gadis itu dalam memasak bagus juga.
"Bagaimana? Enak bukan?," tanya Emily ingin memastikan.
"Ya, aku akan memakannya lagi setelah menghabiskan hidangan utama"
Mereka mulai makan dengan tenang, menghabiskan hidangan yang sudah disiapkan.
Selepas itu, Emily menyalakan tv di ruang tamu dan menyuruh para pelayan untuk menonton film bersamanya, lagian juga mereka sudah tidak ada pekerjaan dan tinggal menunggu waktu istirahat.
Albert dapat melihat mansion yang sangat ramai, penuh dengan tawa mereka, tak lama kemudian matanya bertatapan dengan Emily, gadis itu terlihat memancarkan kehangatan sehingga Albert tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Albert, apa kau ingin menonton film bersama?," tanya Emily, wajahnya ceria, melihat ekspresi itu membuat Albert sedikit terpesona.
Ia tak menjawab, namun perlahan berjalan menuju sofa dan di samping dekat Emily, melihat wajahnya dengan lebih dekat membuat hatinya berdebar.
Selama ini ia tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, menata diri dengan sempurna, menyelesaikan kuliah sarjana dengan cepat dan lulus dengan predikat terbaik, hingga mengejar gelar magister lalu mengambil alih perusahaan, bahkan perusahaannya sekarang sudah menjadi yang teratas dari yang lain.
Seluruh hidupnya bisa dikatakan tertata dengan rapih.
"Bukankah ini sangat menyenangkan?" Tanpa sadar, Emily menaruh kepalanya di bahu Albert, sepertinya rasa kantuk menghampirinya.
Ia masih bisa menghirup aroma parfum yang di gunakan Albert, seorang pria yang menurutnya sangat ketat pada dirinya sendiri, ia tak pernah melihatnya bersantai di mansion, Albert selalu memiliki ruang yang berbeda saat berada di situ, seolah tak bisa tersentuh oleh siapapun.
Bibi Vei baru saja datang, hendak mengantarkan susu yang tadi di minta Emily.
"Nona, ini susu yang Nona.. Oh, maaf Tuan," Bibi Vei kaget melihat bahwa Emily sudah lelap di sofa sambil menyenderkan kepala pada Albert, ia segera kembali ke dapur.
Albert dengan hati-hati mengangkat Emily, membiarkan kepalanya jatuh di dadanya dan tangannya di lingkarkan ke lehernya.
"Jika kalian sudah selesai menonton, matikan tv dan pergi beristirahat," ucap Albert pada para pelayan yang duduk di karpet.
Ia menaiki tangga dan membawa Emily menuju kasurnya, dengan perlahan ia memakaikan selimut lalu mematikan lampu dan keluar dari sana.
***
Beberapa minggu kemudian, saat Emily baru bangun dari tempat tidur, waktu sudah menunjukkan pukul delapan, tapi tidak papa bangun kesiangan, karna hari ini merupakan weekend.
Emily tak langsung membersihkan diri, karna ia mendapati panggilan telepon dari Kai.
"Hallo?," ucap Emily mengangkat telpon itu.
"Selamat pagi Kakak ipar!, bagaimana kabar mu?" Emily dapat membayangkan wajah Kai yang ceria meski hanya mendengar suaranya.
"Ehm, baik.. kenapa kau menelpon?," tanyanya lagi.
"Hari ini hari Sabtu, apakah kakak tidak ada kegiatan? Sepertinya tidak bukan?"
Memang biasanya Emily hanya akan bersantai di mansion pada hari libur, namun jika Albert mengajaknya keluar maka ia akan dengan senang hati pergi.
"Ya.. belum ada jadwal untuk keluar"
"Nah, bagus sekali.. bagaimana kalau kita pergi berkuda? Ada arena pacuan kuda yang baru buka dan aku ingin mencobanya"
Mendengar pacuan kuda, Emily membayangkan suasana lapangannya yang luas dengan pemandangan yang indah, namun sayang ia tidak tau bagaimana cara menunggangi kuda, jadi ia menjawab, "Mengapa aku harus ikut?"
"Ayolah, kakak bisa datang dengan suami kakak dan aku akan datang dengan pacar ku, bagaimana?"
Tawaran Kai agak bagus, membuat Emily berfikir.
"Ayolah, setelah itu kita bisa mengadakan barbekyu di hotel dekat sana, akan sangat menyenangkan!"
Nah, kalau soal makanan, Emily sangat mudah tergiur, ia langsung berkata, "Wah, boleh juga.. aku akan coba tanya Albert kalau dia mau ikut"
"Pasti dia mau ikut kalau kakak membujuknya!," kata Kai meyakinkannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap dulu"
"Ok kak!" Sambungan telepon sudah mati, sekrang waktunya Emily bersiap.
Setelah Emily mandi, ia turun ke bawah untuk mencari keberadaan Albert, akhirnya ia menemukan lelaki itu di ruang tamu, seperti biasa ia tengah membaca dokumen sambil duduk di sofa.
Jika hari biasa ia akan bekerja di ruang kerja namun pada hari libur ia akan mengerjakan tugas dimana pun, bisa di halaman, ruang tamu, kamar atau dapur, meski tempatnya berbeda namun bagi Emily sama saja mengerjakan tugas yang membosankan.
Emily segera mendekatinya lalu menyapa dengan lembut, "Selamat pagi"
"Selamat pagi juga," Albert mengangkat wajah dan mendapati Emily yang sudah memakai pakaian keluar, ia bingung karna biasanya Emily hanya memakai kaos sederhana.
"Mau kemana kau?," tanya Albert penasaran, ia menaruh dokumen dan memperhatikannya.
"Tadi Kai menghubungi ku dan mengajak pergi ke arena kuda, apakah mau ingin ikut?," tanya Emily dengan gugup karna Albert terlihat tidak tertarik, ia mengambil dokumen dan lanjut membaca.
Emily bisa melihat betapa seriusnya Albert, ia bahkan menyediakan kopi untuk mendampinginya mengerjakan tugas.
Emily tidak tahan dengan kebiasaan Albert yang terlalu ketat dengan dirinya, gadis itu mengambil kertas yang ia pegang lalu berdiri di depan Albert dengan mata yang tegas.
"Ada apa?," tanya Albert.
"Albert, apakah kau memang tidak ingin ikut? Jika kau tidak ingin maka aku ingin.."
Albert menghela nafas lalu menjawab, "Yasudah, pergilah jika kau ingin, mana berkasnya..," ia mengambil kertas yang Emily pegang lalu duduk kembali di sofa.
"Maksudku, aku ingin pergi dengan mu!" Albert terkejut, baru kali ini gadis itu memohon padanya.
Emily agak kesal, ia tak habis pikir mengapa Albert membuat dirinya seperti robot dan tidak mau bersantai sejenak, padahal tidak setiap hari ia memintanya untuk pergi keluar, bahkan Emily malah menunggu jika Albert ingin mengajaknya keluar barulah ia ikut.
"Mengapa aku harus ikut? Aku sibuk," Albert tidak mengerti mengapa ia harus pergi di saat ia sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu bisa mengerjakannya nanti, lagian tidakkah kamu mau menjaga ku disana?"
Albert meliriknya seolah tidak mengerti dan menjawab, "Bukankah ada Kai?"
"Ia membawa pacarnya, jadi pasti ia akan memperhatikan gadis itu, makanya aku mengajakmu dan juga aku tidak tau menunggangi kuda, jadi.."
Emily belum melanjutkan kata selanjutnya namun pria itu sudah berdiri dan merapihkan meja ruang tamu dan berkata, "Tunggu sebentar"
Pria itu berganti pakaian dengan cepat karna sebelumnya ia sudah mandi, Emily menunggunya di ruang tamu dan berdiri ketika ia sudah menghampirinya.
"Ayo kita pergi," ajak Emily namun Albert menahannya dan berkata, "Sarapan dulu, kau butuh tenaga untuk belajar menunggangi kuda"
Emily lupa, seharusnya ia makan sedikit sembari menunggu Albert selesai bersiap, tapi tidak papa, ia pergi ke dapur bersama Albert dan mulai makan dengan tenang.
Albert sendiri sudah makan karna ia bangun lebih awal darinya, hal ini sudah menjadi kebiasaan dan Albert tidak mempermasalahkan jika gadis itu bangun kesiangan.
Ia menatap Emily yang makan dengan lahap dan berkata, "Pelan-pelan saja, Kai akan menunggu kita"