Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir dari Rumah
“Anak kurang ajar!” hardik Mia melayangkan tamparan kuat di pipi Sandra. “Berani-beraninya kamu rendahin harga diri suami kamu kayak gitu, Sandra!”
Sandra memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya spontan menatap nanar Mia. Seumur hidup, baru kali ini Mia menampar dirinya walau semarah apapun paruh baya itu terhadap dia. “Kenapa, Ma?”
“Kenapa? Masih bisa kamu tanya kayak begitu setelah kamu hina Arshaka?!” seru Mia dengan kemarahan yang tidak bisa tertahankan lagi. Mia sudah tahu semua hal yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
Begitu Sandra keluar dari apartemen, Arshaka masih bisa menghubungi Mia. Dia mengatakan bahwa Sandra akan tinggal ke kediaman Mia selama beberapa hari.
Namun, bagaimanapun orang tuanya, firasat seorang ibu tetaplah tajam hingga Mia mencecar Arshaka, tetapi Arshaka tetap pada prinsipnya, tidak menceritakan aib rumah tangga. Bertepatan dengan itu orang yang Mia percaya untuk mengawasi Sandra menghubungi dirinya lalu menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangga Sandra dan Arshaka setelah ia mencari tahunya.
“Mama tampar aku karena dia? Aku yang anak Mama, bukan dia. Aku tertekan nikah sama dia, harusnya Mama bela aku dong, bukan nyalahin begini!”
“Sadar Sandra, sadar! Mau sampe kapan sikap kamu kayak gini, ha? Pantas di umur sekarang masih bersikap kayak anak kecil? Nggak! Kamu udah nikah, kamu udah punya suami, udah punya tanggung jawab buat berbakti sama suami kamu. Bukan justru semakin hari semakin bertingkah kayak orang gila!”
“Gila begini Mama nggak pernah nggak menghargai mendiang Papa kamu barang sekali pun!” imbuhnya dengan kemarahan menggebu-gebu.
“Terus aja terus! Bela manusia sok suci itu. Nggak pernah ada yang ngertiin aku! Lagian sikap aku begini karena kalian juga. Udah aku bilang, aku cuma mau nikah sama laki-laki yang aku cinta dan yang cinta sama aku.”
“Mana, ha? Mana? Mana laki-laki yang cinta sama kamu? Bawa ke sini laki-laki yang cinta sama kamu. Kalo bener ada, Mama bantu kamu cerai sama Arshaka!” tantang Mia. “Mereka ngelirik kamu aja nggak pada sudi, Sandra! Jadi perempuan kalo nggak punya bekal ilmu agama yang cukup, paling nggak punya tata karma yang bagus.”
“Suami kamu hinakan, mempermalukan diri di depan umum. Di mana otak kamu? Inget omongan Mama baik-baik, selama kamu nggak minta maaf sama Arshaka dan nggak perbaiki hubungan kalian, nggak akan lurus hidup kamu. Camkan itu!”
“Stop, Ma! Stop!” Sandra berteriak keras sembari menjambak rambutnya emosional. “Stop bela dia dan liat anak Mama yang dibikin sakit sama dia.”
Mia merasa semakin berang dengan jawaban yang Sandra lontarkan. “Kamu sakit dibikin sendiri. Jangan kamu pikir Mama nggak tau itu. Arshaka cuma biasain kamu salat lima waktu dan menutup aurat. Kelewatan kalo kamu masih nyalahin sesuatu yang bener! Harusnya bersyukur kamu punya suami kayak dia yang mau ngajarin kamu dari nol! Ngaji surat pendek aja kamu nggak hapal selain Al-Fatihah!”
“Seburuk-buruknya Mama, seburuk-buruknya Papa, dan seburuk-buruknya pelaku maksiat, surat-surat pendek kayak gitu mereka masih hapal dan masih mau salat walau terpaksa dan nggak bisa khusyuk. Mau jadi apa kamu hidup kayak gini? Udah nggak ada yang mau deket sama kamu, bekal buat mati juga nggak ada selain dosa!”
“Urusan akhirat tinggal tobat sebelum mati, diampuni, beres!”
“Dasar dungu! Nyesel mama udah ngelahirin kamu, Sandra! Pergi kamu dari sini, Mama malu punya anak kayak kamu!” usir Mia melempar barang bawaan Sandra ke luar rumah.
Sandra melototkan mata melihat apa yang Mia lakukan. Ia lantas berteriak lagi, “Mama kenapa sih marahin aku terus? Aku anak Mama bukan sampe diusir kayak gini?”
“Kamu bukan anakku selama sikapmu ke Arshaka nggak diperbaiki.” Setelah berseru demikian, Mia meraih kunci mobil Arshaka yang berada di genggaman tangan Sandra. “Pergi! Dasar nggak tau malu. Udah kamu injek harga dirinya, masih kamu pake barangnya.”
“Ma!” teriak Sandra lalu menendang pintu rumah yang tertutup rapat. “Argh sialan! Ini semua gara-gara lo, Arshaka brengsek!”
***
Empat hari Arshaka dirawat di rumah sakit. Selama itu pula dokter terus memantau perkembangan kesehatannya yang semakin membaik, sebab respon tubuh pemuda itu terhadap obat-obatan, cukup baik.
Keluarganya, terutama Deeba dan Narestha sama sekali tidak mempertanyakan keberadaan Sandra yang tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali di sana. Seakan mereka tidak menganggap bahwa perempuan itu telah menjadi bagian dari mereka. Boleh jadi karena sakit hati dan menimbulkan amarah di dalam dada setelah mengetahui seluruh perlakuan Sandra terhadap Arshaka.
“Semua salah Ibu, seharusnya Ibu tidak menuntutmu untuk menikahinya saat itu. Maafkan Ibu, Nak.” Deeba memeluk hangat Arshaka. Hatinya dipenuhi oleh rasa sesal dan bersalah. Seharusnya saat itu dia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan hingga menghantarkan puteranya pada pernikahan yang jauh dari kata hangat, apalagi nyaman.
Pedih hati Arshaka mendengar permintaan maaf Deeba. Dia balas dekap wanita hebat yang menjadi jimat terbaik dalam hidupnya, Arshaka mengusap punggung sang ibunda.
“Jangan meminta maaf, bukan salah Umma. Jalannya sudah begini, aku menerimanya dengan ikhlas,” balasnya setenang mungkin.
“Bibirmu berkata ikhlas, tapi hatimu terluka parah, harga dirimu terinjak, kesabaranmu dipermainkan. Ini tidak adil.”
“Dunia memang tidak pernah adil dan ideal, Umma. Jangankan untuk manusia sepertiku, untuk manusia sekelas Rasulullah, manusia tercinta di sisiNya saja, dunia tidak pernah ada idealnya. Jangan sedih, aku sedang diuji olehNya melalui Sandra. Do'akan aku sanggup melalui semuanya dan ridhoi setiap langkahku. Insyaa Allah, selama Umma selalu ridho, aku akan baik-baik saja.”
“Sudah, Umma istirahat, ya?” Arshaka melerai pelukan, menatap wajah Deeba lalu mengusap air mata di sana. “Jangan kebanyakan menangis tidak baik untuk kesehatan.”
“Tapi—”
“Dee.” Narestha memperingati. Membuat Deeba lantas melipat bibirnya kembali lalu mengangguk, langsung mengerti bahwa yang Arshaka butuhkan saat ini adalah istirahat juga dukungan.
“Baiklah. Umma keluar, obatnya jangan lupa diminum ya?”
Arshaka menyenggut dengan senyum di bibirnya. “Nanti aku minum.”
Sepeninggal Deeba dan Narestha di kamarnya, Arshaka tenggelam pada buku bacaan setelah obat dari dokter ia minum. Dia sempat mengecek ponsel, sekedar untuk lihat apakah ada pesan atau story yang Sandra tinggalkan. Namun, nihil dan Arshaka belum ingin memusingkan hal tersebut. Hatinya masih sakit atas perlakuan tempo hari.
Tok, tok, tok!
Arshaka meletakkan buku tentang poligami yang sedang ia baca di atas meja. Ia menurunkan satu kaki yang bertumpu di atas kaki lain pun kian berdiri dan membawa langkahnya ke arah pintu.
“Ya, Bi?” Ia membawa pandangannya pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka.
“Maaf, Den. Ini, tadi ada yang mengantar mobil Aden kemari,” ucapnya seraya menyerahkan kunci mobil pada pemiliknya.
Arshaka mengerutkan keningnya sembari menerima benda tersebut. “Bibi tahu siapa yang mengantar?”
“Bibi tidak kenal, Den. Yang mengantarkan lelaki, usianya sepantaran dengan Aden, kira-kira. Dia juga tidak mengatakan apa-apa, hanya mengembalikan mobil saja.”
“Orangnya masih ada?”
“Tidak, dia langsung pergi.”
“Baik, Bi. Terima kasih,” ucap Arshaka menganggukkan kepalanya.
Arshaka kembali masuk ke dalam kamar. Tidak ingin memikirkan hal lain lebih dulu sebab ada sesuatu yang membuat hatinya kembali tercerai berai, pun ia a harus benar-benar memperhatikan kesehatannya. Perihal Sandra, gadis itu sendiri yang memilih jalan.
Ia tatap dalam cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Lalu denyutan sakit itu kembali tercipta. Menggelengkan kepala, Arshaka menyalakan LED aromaterapi, meletakkannya di mihrab lalu mematikan lampu kamar sebelum ia tenggelam dalam sujud, hingga ia tidak tahu jika sejak tadi Arvhi bolak balik keluar masuk kamarnya sebab begitu khusyuk dia beribadah.
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰