NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12. Respect

Menjelang jam istirahat siang, suasana minimarket terpantau cukup tenang. Saat Acha sedang sibuk menata ulang deretan minuman di rak depan, lonceng pintu otomatis berbunyi nyaring.

Seorang pria paruh baya berpeci yang tak lain adalah pedagang bubur ayam langganan di sebelah minimarket melangkah masuk sambil membawa sebuah mangkuk styrofoam hangat yang terbungkus kantong plastik rapi.

"Eh, Neng Acha. Ini ada titipan bubur ayam hangat buat kru minimarket hari ini," sapa sang penjual ramah sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja kasir.

Vika yang kebetulan sedang berjaga langsung bersorak senang. "Wah, si Abah baik banget! Makasih banyak ya, Bah!"

Acha yang melihatnya sempat tertegun sejenak, langsung teringat pada kejadian beberapa waktu lalu saat dia sempat salah tingkah menduga bubur gratis itu adalah kiriman diam-diam dari Nathan.

Namun, kali ini Acha hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala mengingat kegeerannya kala itu.

Dia memutuskan untuk tidak mau ambil pusing atau menebak-nebak lagi. Toh, perutnya memang sedang keroncongan karena tadi pagi terburu-buru berangkat tanpa sempat sarapan.

"Udah, nggak usah dipikirin aneh-aneh, Cha. Rezeki anak soleh ini mah, lambung aman hati pun tenang," ledek Vika sambil membuka bungkusan bubur tersebut dan menyodorkan satu porsi ke hadapan Acha.

Tanpa pikir panjang, Acha langsung mengambil sendok dan menikmati bubur hangat itu dengan lahap.

Rasa gurih dan hangatnya kaldu ayam seketika memulihkan energi dan suasana hatinya, membuat paginya terasa jauh lebih baik—meski bayang-bayang sosok Nathan tetap sesekali melintas di sela suapannya.

Di tengah kenikmatan menyantap bubur hangat yang mengepul, Acha sesekali melirik ke arah pintu otomatis minimarket.

Harapan kecil agar Nathan muncul masih tersimpan rapi di benaknya, meski dia berusaha bersikap biasa saja di hadapan Vika yang terus-menerus melemparkan tatapan menggoda.

"Pelan-pelan makannya, Cha. Kayak yang nggak makan seminggu aja," ledek Vika sambil terkikik melihat Acha yang menyuap bubur dengan penuh semangat.

Acha baru saja hendak membalas ledekan sahabatnya itu dengan lemparan tisu ketika ujung sendok plastiknya tiba-tiba membentur sesuatu yang keras di dasar mangkuk styrofoam-nya. Alis Acha mengernyit heran.

Dengan gerakan hati-hati, dia mengaduk isi mangkuk tersebut menggunakan sendok, mencari benda asing yang terasa mengganjal tadi.

Begitu benda itu berhasil diangkat ke permukaan, mata Acha seketika membelalak lebar. Jantungnya langsung berdegup kencang seolah-olah dia baru saja melompat dari tebing tinggi.

Bukannya kerupuk tambahan atau potongan cakwe, melainkan sebuah selembar kertas kecil berwarna putih yang terlipat rapi dan terbungkus plastik kecil anti-air, terselip tepat di bawah tumpukan suwiran ayam.

"Ada apa, Cha? Kok muka kamu mendadak pucat gitu? Jangan-jangan kamu nemu paku lagi di buburnya?" tanya Vika penasaran, langsung merapat ke sisi meja kasir.

Tanpa menjawab, Acha dengan jemari yang sedikit gemetar mengambil bungkusan kecil itu, membuka lipatan plastiknya, lalu meratakan kertas kecil di telapak tangannya.

Tulisan tangan yang rapi dan tegas langsung menyapa pandangannya

“Maaf kemarin nggak sempat mampir. Semoga buburnya bisa nemenin hari kamu, dan... Pasti kamu lagi nungguin aku kan?” ucapnya dengan pede

— Nathan

Seketika itu juga, rona merah yang sangat pekat menjalar dari pipi hingga ke ujung telinga Acha.

Suara tawa Vika yang membaca sekilas isi surat tersebut langsung meledak nyaring di dalam minimarket, menambah suasana salah tingkah yang luar biasa bagi Acha.

Semesta seolah benar-benar mendengar doa dan penyesalannya kemarin—Nathan tidak hanya datang lewat sebuah pesan terselubung, tetapi juga sukses membuat pertahanan terakhir Acha runtuh seketika.

"Wah, parah sih! Ini mah level kepedean tingkat dewa tapi sukses bikin baper!" seru Vika sambil tertawa ngakak, menepuk-nepuk meja kasir saking gemasnya membaca kalimat terakhir surat dari Nathan.

"Tuh kan, Cha! Dia aja tahu kalau kamu kemarin nungguin dia seharian. Udah, jangan gengsi lagi, langsung bales sekarang!"

Acha, yang pipinya sudah semerah kepiting rebus, buru-buru melipat kembali kertas kecil itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Jantungnya bergemuruh hebat, separuh karena rasa malu yang teramat sangat, dan separuh lagi karena debar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan.

Kalimat “Pasti kamu lagi nungguin aku kan?” di akhir surat itu benar-benar membuat Acha ingin menghilang ke balik lantai minimarket saat itu juga. Sialnya, tebakan cowok itu memang seratus persen benar.

"Ih, rese banget dia..." cicit Acha pelan, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum yang nyaris merekah di wajahnya.

Vika langsung merebut kertas dan pulpen dari meja, lalu menyodorkannya secara paksa ke hadapan Acha.

"Udah, nggak usah protes. Buruan kamu bales suratnya di sini, atau mau aku aja yang tuliskan sekarang?" ancam Vika dengan mata berbinar usil.

Melihat Vika yang sudah siap mengambil alih, Acha akhirnya menyerah pada egonya sendiri. Dengan tarikan napas panjang dan senyuman kecil yang akhirnya lolos dari bibirnya, dia merebut pulpen tersebut.

Tanpa ragu lagi, Acha menuliskan ucapan terimakasihnya atas bubur ayam gratis di balik kertas surat dari Nathan, lalu melipatnya kembali dengan rapi.

Hari kemarin yang terasa hampa kini mendadak berubah menjadi hari paling cerah sedunia.

Sambil menyerahkan kertas itu kembali kepada abang penjual bubur yang masih berdiri menunggu mangkuk kosongnya.

Acha menatap pintu minimarket dengan debar yang jauh berbeda—siap menyambut babak baru yang manis, meski diawali dengan rasa malu setengah mati.

Beberapa hari setelah insiden surat bubur yang sukses membuat Acha salah tingkah setengah mati, hari libur kerjanya diisi dengan berkunjung ke rumah teman sekaligus langganan yang sering berbelanja ke Minimarket, Kasih.

Suasana ruang tamu rumah Kasih siang itu terasa hangat dan jauh lebih ramai dari biasanya.

Di atas karpet bulu yang lembut, Acha tampak duduk bersila sambil tertawa kecil, asyik menimang dan menggendong seorang bayi laki-laki berusia delapan bulan bernama Kiko—buah hati tercinta Kasih dan suaminya, Diki.

"Duh, Kiko gemesin banget sih, pipinya kayak bapau dikukus!" gemas Acha sambil mencubit pelan pipi gembul Kiko yang langsung disambut dengan tawa renyah si bayi berambut tipis itu.

Kiko tampak sangat nyaman berada di dalam gendongan Acha. Bayi mungil itu dengan tangan kecilnya sibuk menarik-narik ujung kalung yang dikenakan Acha, sementara matanya yang bulat mengerjap lucu menatap wajah sang "tante".

Kasih, yang baru saja keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat bersama Diki, tersenyum lebar melihat keakraban itu.

"Udah cocok banget tuh, Teh. Kalau udah telaten gitu gendong bayi, tinggal dicari bapaknya aja yang bener," ledek Diki sambil merangkul pundak istrinya dengan santai.

Mendengar godaan itu, pipi Acha langsung merona merah. Dia buru-buru mengalihkan perhatian dengan menciumi pipi Kiko yang beraroma bedak bayi.

Meski begitu, bayangan tentang pesan berani Nathan beberapa hari lalu tiba-tiba melintas di kepalanya, membuat debar di dadanya kembali bergemuruh di tengah kehangatan rumah Kasih dan Diki.

"Ih, Diki jangan gitu, nanti teh Acha malah salting beneran lagi," bela Kasih sambil tertawa renyah, lalu duduk di sofa sebelah suaminya seraya menyeruput teh hangat yang dia bawa.

Acha pura-pura sibuk menggelitik perut Kiko hingga bayi mungil itu tertawa terkekeh-kekeh, berusaha menutupi rona merah di pipinya akibat godaan Diki barusan.

Namun, ucapan usil itu telak mendarat di kepalanya, membuat pikirannya kembali melayang pada kejadian di minimarket beberapa waktu lalu.

Sejak dia membalas pesannya lewat abang penjual bubur, hubungannya dengan Nathan memang mulai bergeser ke arah yang lebih intens—pesan singkat dan obrolan malam kerap mencairkan kecanggungan di antara mereka.

"Tapi serius, teh, kamu sekarang keliatan beda banget," lanjut Kasih dengan mata menyipit penuh selidik, seolah bisa membaca gerak-gerik sahabatnya itu.

"Udah seminggu ini mukanya sumringah mulu. Ada angin apa nih? Jangan-jangan ada cowok tampan yang diam diam sudah mencuri hatinya teh Acha nih?"

Acha tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru mengalihkan Kiko ke pangkuan Diki, lalu mengambil cangkir teh hangatnya untuk meredakan gugup.

"Apaan sih, Kasih. Udah jangan mulai deh ah," elak Acha dengan nada yang sengaja dilebay-lebaykan, meski senyum tipis di bibirnya tak bisa disembunyikan.

Diki terbahak melihat reaksi salah tingkah Acha. "Tuh kan, dari mukanya aja udah ketahuan banget. Ngaku aja, deh teh, teteh tuh gak bisa bohong banget tahu, keliatan dari wajahnya yang merah padam kaya tomat!"

Acha hanya bisa mendengus pasrah, sementara Kiko di pangkuan Diki ikut-ikutan menepuk-nepuk tangan mungilnya seolah sedang menertawakan tantenya yang tengah salah tingkah.

Di tengah kehangatan keluarga kecil temannya itu, Acha menyadari bahwa benteng pertahanan yang dulu ia jaga mati-matian kini benar-benar telah runtuh, digantikan oleh debar bahagia yang tak sabar ia jalani.

Tawa kecil di ruang tamu Kasih perlahan mereda, digantikan oleh suasana yang lebih tenang dan hangat.

Kasih meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu menatap Acha dengan pandangan nanar yang menyiratkan kedewasaan. Jemarinya dengan lembut merapikan rambut Kiko yang sedang tertidur lelap di pangkuan Diki.

"Ngomong-ngomong soal pasangan, yah teh..." ucap Kasih memulai percakapan dengan nada yang lebih serius.

Dia melirik Diki sejenak, lalu kembali menatap sahabatnya. "Jujur, kadang kalau dipikir-pikir lagi, perjalanan aku mutusin nikah muda tuh emang nggak gampang sama sekali tahu."

"Oh yah, ceritain dong kasih, aku pengen dengar nih" Ucap Acha penasaran.

Acha menyimak dengan seksama, meletakkan cangkirnya dan memfokuskan perhatiannya kepada temennya itu.

Dia tahu betul liku-liku kehidupan yang sempat dilalui Kasih di awal pernikahan mereka.

"Banyak banget ujiannya, tahu teh. Mulai dari kaget sama tanggung jawab rumah tangga, masalah finansial di awal-awal, sampai omongan orang luar yang kadang bikin mental down," lanjut Kasih, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Tapi, di balik semua capek dan air mata itu, aku nggak pernah nyesel. Kenapa? Karena aku punya Diki."

Mendengar pujian itu, Diki hanya tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepala istrinya penuh kasih sayang.

"Diki selalu ada di samping aku, nggak pernah ninggalin waktu aku lagi rapuh, dan sabar banget nuntun aku belajar jadi seorang ibu," tambah Kasih tulus.

"Pernikahan itu bukan cuma soal romantisnya waktu pacaran, teh. Tapi tentang punya partner kerja seumur hidup yang mau diajak babak belur bareng, susah senang bareng."

Acha tertegun mendengar cerita Kasih. Nasihat tersirat itu meresap jauh ke dalam lubuk hatinya. Mengingat usianya dan bagaimana dia baru saja membuka lembaran baru dengan Nathan.

Perkataan Kasih memberinya perspektif baru yang menyejukkan—bahwa di balik debar dan manisnya masa pendekatan, sebuah hubungan pada akhirnya membutuhkan ketulusan dan kerja sama yang kuat seperti yang dimiliki Kasih dan Diki.

Sore hari menjelang senja, Acha melangkah keluar dari rumah Kasih dan Diki dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Udara sejuk kota menyambut langkah kakinya menuju halte terdekat untuk menaiki kendaraan umum kembali ke kosannya.

Obrolan mendalam bersama Kasih tadi siang masih terngiang jelas di benaknya. Bayangan perjuangan rumah tangga sahabatnya itu mengajarkan Acha bahwa cinta saja tidak pernah cukup.

Butuh komitmen, kesabaran, dan partner yang tepat untuk bisa bertahan menghadapi kerasnya dunia.

Debar di dada Acha kembali bergemuruh, namun kali ini tanpa ada rasa takut atau keraguan seperti sebelumnya.

Mengingat nasihat Kasih tentang pentingnya membuka diri dan memilih partner yang tepat, Acha tersenyum tipis.

Namun, di balik debar antisipasi yang menggelitik perutnya, bayang-bayang cerita Kasih tadi siang masih enggan beranjak dari benaknya.

Pemandangan Kasih yang telaten merawat Kiko, kehangatan tatapan Diki kepada istrinya, serta kisah perjuangan mereka membangun rumah tangga di usia muda mendadak menanamkan sebuah angan-angan asing di kepala Acha.

Selama ini, Acha selalu berpikir bahwa pernikahan adalah hal yang masih sangat jauh—sesuatu yang baru akan dia pikirkan nanti ketika usianya sudah jauh lebih matang mapan.

Namun, melihat kebahagiaan Kasih hari ini, cara pandangnya mulai bergeser pelan-pelan.

"Nikah muda... punya anak yang selucu Kiko..." pikir Acha sambil menggigit bibir bawahnya,

Wajah Acha sampai merona malu sendiri saat menyadari ke arah mana pikirannya melayang. Rasanya luar biasa manis sekaligus menakutkan di saat yang bersamaan.

Membayangkan hidup bersama seseorang, melewati hari-hari susah senang berdua, dan memiliki malaikat kecil penyejuk rumah—semua itu tiba-tiba terasa begitu menggoda.

Terlebih lagi, ketika bayangan wajah Nathan mendadak melintas di sela lamunannya.

"Apakah pria itu tipe orang yang siap diajak berjuang bersama seperti Diki?" batin Acha bertanya-tanya.

Acha menarik napas dalam-dalam, menepis sisa-sisa angan tentang rumah tangga dan bayi gemuk ala Kiko yang sempat mampir di kepalanya.

Acha spontan meraba pipinya sendiri, sedikit salah tingkah. "Ah, nggak kok. Cuma abis dari rumah teman aja, main sama ponakannya yang gemesin," elak Acha.

Acha berusaha menutupi fakta bahwa separuh dari isi kepalanya barusan justru membayangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan bersama pria yang kini duduk tepat di hadapannya.

Seorang pelayan kafe datang membawa secangkir teh jahe hangat pesanan Acha dan segelas kopi hitam milik Nathan. Selepas pelayan itu berlalu, suasana di antara mereka sempat melambat, menyisakan keheningan yang diisi oleh alunan musik akustik pelan dari sudut ruangan.

Nathan menyesap kopinya sejenak sebelum kembali menatap Acha dengan sorot mata yang serius namun tetap lembut.

"Omong-omong soal hari itu... makasih ya, Cha. Karena udah mau bales pesan aku lewat mangkuk bubur Abah," ucap Nathan membuka topik, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan.

Pipi Acha langsung merona panas. dia mendengus kecil, memutar cangkir teh hangatnya untuk menghindari tatapan langsung.

"Aa tuh ya, PD banget bikin catatan begitu di dalam bubur. Kalau yang nemuin bukan aku gimana?" sindir Acha, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya di balik nada ketus buatan.

Tawa renyah Nathan pecah seketika, membuat beberapa pengunjung di meja sebelah melirik sekilas ke arah mereka.

"Yakin bangetlah, orang aku nitipinnya khusus ke Abah buat dikasih ke kasir minimarket yang tiap hari aku perhatiin," balas Nathan tanpa ragu, membuat Acha semakin salah tingkah dan nyaris tersedak tehnya sendiri.

Melihat Acha yang salah tingkah, tawa Nathan mereda, digantikan oleh tatapan yang jauh lebih hangat dan teduh.

"Aku ngajak kamu kesini bukan cuma buat bahas soal itu, Cha. Aku cuma pengen kita pelan-pelan kenal lebih jauh. Tanpa buru-buru, tapi juga tanpa ada lagi sekat gengsi di antara kita. Boleh kan?"

Acha tertegun. Jantungnya bergemuruh hebat, namun kali ini rasa hangat menjalar ke seluruh relung hatinya. Mengingat kembali cerita Kasih tentang pentingnya memiliki partner yang tulus dan siap berproses bersama, Acha perlahan mengangguk kecil.

Senyuman tulus akhirnya terukir di bibirnya, menandakan babak baru dalam hidupnya kini resmi dimulai berdampingan dengan Nathan.

Acha menikmati hari liburnya dengan menemani salah satu rekan kerjanya yang lain di minimarket, Amina. Hari ini, Amina berniat mencari kue ulang tahun spesial untuk sang kekasih, Ari, yang akan merayakan hari ulang tahunya besok.

Langkah kedua gadis itu terhenti di sebuah toko kue artisan yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Begitu pintu kaca didorong, aroma harum mentega, vanila, dan cokelat panggang langsung menyergap indra penciuman mereka.

Di balik etalase kaca yang terang, beraneka rupa kue berhias krim lembut dan buah segar tersusun rapi, menggugah selera siapa saja yang melihatnya.

"Duh, Acha, yang mana ya yang bagus? A Ari tuh orangnya nggak terlalu suka manis, tapi kalau kuenya terlalu pahit kayak dark chocolate murni, dia protes juga," keluh Amina sambil mengetuk-ngetuk kaca etalase dengan jari telunjuknya, tampak kebingungan di antara puluhan pilihan yang ada.

Acha terkekeh kecil melihat kepanikan kecil sahabatnya itu. Dia mendekat, memperhatikan satu per satu kue di dalam etalase dengan teliti.

"Cari yang classic sponge cake aja, minimal. Pilih rasa opera atau tiramisu. Manisnya pas, nggak bikin enek, dan rasanya elegan. Cocok buat cowok," saran Acha sambil menunjuk sebuah kue berhias taburan bubuk kakao dan cokelat batang tipis di sudut etalase.

Amina manggut-manggut setuju, lalu memanggil pelayan toko untuk meminta rekomendasi lebih lanjut.

Di tengah kesibukan Amina berkonsultasi soal ukuran kue, pandangan Acha tiba-tiba tertuju kepada deretan cupcake mini di sudut etalase yang dihiasi figurin kecil berbentuk cangkir kopi dan pria memakai hoodie.

Seketika itu juga, bayangan wajah Nathan melintas di kepalanya, membuat sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis.

"Kira-kira, kalau nanti A Nathan yang ulang tahun, dia lebih suka kue yang rasa apa ya? batin Acha tanpa sadar.

Sebelum buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir lamunan konyol yang mendadak mampir di tengah misi belanja kue milik Amina.

"Nah, kalau yang model tiramisu ini gimana, Cha? Keliatannya pas banget buat A Ari gak," suara Amina membuyarkan lamunan Acha yang sempat melayang jauh.

Acha buru-buru menarik kesadaran kembali ke toko kue, lalu mengangguk cepat. "Bagus banget itu, Na! Elegan, rasanya juga dijamin masuk di lidah cowok."

Setelah berdiskusi singkat dengan sang pelayan toko dan menentukan ukuran kue yang pas, pesanan Amina akhirnya mulai diproses ke bagian pengemasan.

Sambil menunggu kotak kue itu diikat dengan pita cantik, Amina melirik ke arah Acha yang berdiri di sampingnya dengan senyuman penuh selidik.

"Kamu dari tadi keliatan senyum-senyum sendiri, Cha. Habis bayangin apa, ngaku hayo!" goda Amina menyenggol pelan lengan Acha.

"Jangan-jangan lagi mikirin mas-mas itu yah yang sekarang udah resmi jadi pacar baru ya?"

Pipi Acha seketika merona merah. Dia mendengus kecil, mencubit pelan lengan Amina untuk menghentikan ledekan itu.

"Apaan sih, Amina! Orang lagi mikirin kue ini biar nggak salah pilih, kok kamu malah jadi mikir ke mana-mana sih."

"Alah, ngeles aja terus kayak bajaj," tawa Amina renyah.

"Tapi, serius deh, semenjak deket sama cowok itu, muka kamu tuh auranya beda banget tahu Cha. Udah kayak orang jatuh cinta beneran."

Acha hanya bisa pasrah membiarkan sahabatnya terus meledek, sementara kotak kue pesanan Amina selesai diserahkan oleh sang pelayan.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!