NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Keesokan paginya, ketika fajar baru saja menyingsing, suhu udara di dalam kamar Zela terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Hawa dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela, membuat Zela tertahan di balik selimut tebalnya selama beberapa saat. Dengan tubuh bergetar pelan dan gigi bergelatuk, ia memeluk dirinya sendiri lalu perlahan bangkit dari tempat tidur.

Zela melangkah mendekati jendela kaca raksasa di kamarnya. Saat ia menyibak tirai tipis yang menutupi kaca, matanya seketika membelalak indah. Bulir-bulir halus berwarna putih tampak melayang perlahan di udara, jatuh perlahan membasahi dedaunan dan melapisi halaman mansion yang hijau menjadi putih bersih.

"Dingin bangett..." bisik Zela seraya menghembuskan napas yang kini membentuk uap putih tipis di udara. Salju pertama musim ini rupanya telah turun.

Saat matanya menikmati pemandangan serba putih di luar, pandangannya tak sengaja menangkap sosok tinggi tegap yang baru saja melangkah keluar dari pintu utama mansion menuju mobil hitamnya. Pria itu adalah Bashkar.

Zela mendadak memiringkan kepalanya, melongo tak percaya menatap penampilan suaminya di bawah guyuran salju tipis itu. Bashkar hanya mengenakan kemeja hitam yang dilapisi jas formal biasa tanpa mantel tebal, tanpa syal, bahkan tanpa sarung tangan. Pria itu melangkah tenang dengan raut wajah datar nan dingin, seolah cuaca beku di sekitarnya hanyalah angin sepoi-sepoi musim panas.

Anjir... itu badan tebal banget, dia kagak ngerasa dingin apa gimana sih?! pikir Zela histeris dalam batinnya seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang mulai membeku. Kulitnya terbuat dari lapisan baja apa gimana?! Orang mah minimal pakai mantel tebal, ini malah santai banget cuma pakai jas kerja biasa!

Melihat pemandangan itu, insting perhatian Zela langsung membara. Ia tahu betul betapa keras kepalanya Bashkar dalam menjaga gengsi dan citra kuatnya sebagai ketua mafia, sampai-sampai kesehatan dan kenyamanan dirinya sendiri selalu diabaikan.

"Gak bisa dibiarin nih," gumam Zela mantap. "Pria itu butuh pakaian hangat yang bener sebelum dia membeku tanpa sadar!"

Tanpa mengulur waktu, Zela segera membalut tubuhnya dengan pakaian tebal khas musim dingin sebuah oversized sweater bulu hangat berwarna krem, celana panjang tebal, boot hangat, serta syal rajut yang melilit rapi di lehernya. Setelah memoles wajahnya dengan sedikit pelembab dan riasan tipis, ia bergegas turun dan meminta sopir mansion mengantarnya ke salah satu shopping mall paling mewah di pusat kota.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Zela sudah melangkah di dalam pusat perbelanjaan megah bercahaya hangat yang didekorasi penuh ornamen musim dingin. Hawa hangat dari pemanas ruangan mall langsung menyapa tubuhnya.

Zela melangkah pasti menuju area boutique pria kelas atas yang mengoleksi pakaian-pakaian high-end. Koridor toko bertaraf internasional itu memajang deretan manekin bersetelan musim dingin yang sangat elegan.

Mata Zela berbinar-binar saat jemarinya menyusuri kain-kain berkualitas tinggi di rak-rak pakaian. Ia dengan sangat teliti memilih Pakaian yang tidak hanya hangat, tetapi juga cocok dengan aura maskulin dan dominan milik Bashkar.

"Mbak, tolong ambilkan long coat bahan wool tebal berwarna charcoal gray ini ukuran paling besar, ya," ujar Zela ramah pada pelayan toko yang langsung menyambutnya dengan hormat.

Tidak berhenti di situ, Zela memutari toko dan memborong beberapa barang sekaligus:

Dua buah mantel panjang (long coat) berbahan cashmere dan wool premium dengan potongan tegas pada bagian bahu agar pas dengan postur tegap Bashkar.

Beberapa sweater turtleneck (turtleneck knitwear) berwarna gelap seperti hitam, navy, dan cokelat tua yang lembut di kulit namun sangat hangat.

Syal rajut berbahan cashmere berkualitas tinggi dengan warna netral yang elegan.

Sepasang sarung tangan kulit berlapis bulu halus di bagian dalamnya.

Zela tersenyum puas membayangkan betapa makin tampan dan berkarismanya sang suami jika mengenakan pakaian-pakaian hangat ini. Saat membayar seluruh belanjaan bernominal fantastis itu di kasir, Zela hanya memamerkan senyum lebar tanpa ragu sedikit pun.

"Tolong bungkus semuanya, ya," pesan Zela penuh semangat pada kasir.

Dengan membawa beberapa kantong belanjaan besar berlogo merek ternama di tangannya, Zela melangkah keluar toko dengan senyum mengembang.

Setelah menempuh perjalanan dari pusat perbelanjaan, taksi yang membawa Zela akhirnya berhenti tepat di pelataran Deluca Corp. Dengan sigap, Zela melangkah turun seraya membawa dua kantong belanjaan besar berlogo merek fashion ternama yang berisi deretan pakaian hangat premium hasil buruannya.

Rintik salju yang turun makin lebat menempel di helai-helai rambut dan bahunya. Zela mempercepat langkahnya menuju pintu kaca otomatis lobby utama untuk menghindari hawa dingin yang makin menusuk.

Namun, sama seperti hari sebelumnya, begitu kakinya melintasi garis pintu masuk, dua satpam berbadan kekar berseragam jas hitam langsung melangkah tegap menghadang jalannya. Posisi tubuh mereka kaku, memasang barikade rapat.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Zelara," ujar satpam yang berdiri di sebelah kiri dengan nada penuh ketegangan. "Aturan dari Tuan Bashkar masih berlaku. Anda tetap dilarang keras memasuki area gedung maupun menggunakan lift eksekutif."

Zela menghentikan langkahnya. Kali ini tidak ada riak kekesalan atau dorongan untuk membuat keributan di wajah cantiknya. Zela menghembuskan napas pelan—memunculkan uap tipis dari bibirnya—lalu menatap kedua satpam itu dengan pandangan yang amat tenang dan penuh pengertian. Ia tahu betul bahwa Bashkar adalah tipe pria yang sangat menyukai ketertiban dan tidak ingin fokus kerjanya terganggu oleh hal-hal kecil.

"Aku paham kok," sahut Zela lembut seraya tersenyum tipis. "Suamiku memang lagi sibuk banget dan nggak mau diganggu, kan? Kalian cuma menjalankan tugas, aku nggak akan bikin kalian susah."

Kedua satpam itu sempat saling bertukar pandang terkejut. Mereka sudah bersiap menghadapi amukan atau makian dari sang Nyonya muda seperti biasa, namun respons yang sangat kooperatif dan ramah ini membuat kewaspadaan mereka goyah.

Zela meletakkan dua kantong belanjaan besar yang tampak mewah dan tebal itu di atas meja resepsionis yang bersih. Kemudian, ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan selembar kertas kecil beraroma wangi lembut beserta sebuah pulpen berujung emas.

Dengan jemari lentiknya yang sedikit memerah karena hawa dingin luar, Zela menuliskan beberapa baris kalimat singkat dengan tulisan tangan yang rapi dan manis

Halo Suamiku yang kaku kayak batu,

Di luar salju sudah turun lebat banget, dinginnya gak santai! Aku beliin mantel wool, turtleneck, sama syal hangat ini khusus buat Kamu.

Ini dipakai ya! Jangan sok kuat cuma pakai jas tipis gitu, nanti Kamu sakit. Kalau Kamu sakit, siapa yang mau galak-galak sama aku lagi?

Dari istri tercinta yang paling imut,

Zelara

Zela melipat kertas wangi itu menjadi dua bagian yang rapi, lalu menyelipkannya tepat di pita kantong belanjaan paling atas agar langsung terlihat.

Ia memutar tubuhnya kembali menghadap salah satu satpam yang berdiri paling dekat dengannya. Zela mengambil kantong-kantong belanjaan itu dan menyodorkannya secara halus ke tangan sang satpam.

"Tolong titipkan ini ke Rian atau langsung ke meja kerja Bashkar ya, Pak," pinta Zela dengan mata bulatnya yang berbinar tulus dan senyum manis yang mengembang hangat. "Kalian juga jangan lupa minum yang hangat-hangat, di luar lagi dingin banget. Aku titip ini buat suamiku ya."

Satpam itu memegang kantong belanjaan mewah tersebut dengan agak canggung, menganggukkan kepalanya refleks. "B-baik, Nyonya. Akan segera kami sampaikan kepada Pak Rian."

"Makasih banyak ya, Pak!" seru Zela ceria.

Tanpa memaksakan diri untuk menerobos masuk atau merengek minta bertemu, Zela merapatkan mantel tebalnya, merapikan syal di lehernya, lalu berbalik arah dengan langkah ringan. Ia berjalan santai menembus rintik salju menuju taksi yang sudah menunggunya di luar, merasa puas karena telah menunaikan perhatiak kecilnya hari ini.

1
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!