Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Mas, bagai mana ini? Ibu tidak mau memberikan uang pada kita?" Tanya Santi saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Mau tidak mau kita akan menggadaikan rumah yang ada di kampung dulu, untuk biaya resepsi pernikahan kita!" Jawab Gibran sambil mengusap wajah nya kasar.
"Mas, aku tidak mau jika rumah itu di gadaikan. Rumah itu milik ku!" Santi menolak untuk menggadaikan rumah itu.
"Mau bagai mana lagi, ibu sudah bilang kan bahwa dia akan memberikan semua harta nya pada kita setelah kita menikah resmi!" Ujar Gibran lagi.
"Tapi mas,,,!" Santi tidak mau menggadaikan rumah nya.
"Santi, anggap saja kita sedang memancing dengan umpan rumah kita yang ada di kampung. Lagi pula harta kekayaan untuk sangat banyak dan semua itu akan menjadi milik kita!" Gibran membujuk Santi dengan kata - kata lembut.
Santi terdiam mendengar nya, dia sendiri tidak rela jika rumah nya yang ada di kampung harus di gadaikan. Semua orang sudah memuji nya, karena dia memiliki rumah yang paling besar dan bagus di sana.
"Santi, rumah itu tidak ada apa - apa nya jika di bandingkan dengan harta kekayaan ibu. Setelah kita resmi menikah, semua harta itu akan jatuh ke tangan kita!" Kembali Gibran membujuk istri nya.
"Baik lah mas, tapi aku mau semua harta itu di alihkan atas nama ku!" Santi menyatakan permintaan nya pada Gibran.
"Baik lah, aku setuju sayang!" Jawab Gibran sambil tersenyum.
Gibran dan Santi tidak masalah jika harus menggadaikan rumah mereka, toh harta kekayaan bu Meri cukup banyak dan semua itu akan menjadi milik mereka.
"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Aku mau temui bapak dulu!" Gibran berkata pada Santi.
"Iya mas!" Jawab Santi sambil menganguk kan kepala nya.
Gibran langsung pergi mencari pak Burhan, dia ingin membicarakan hal penting pada nya. Burhan melihat pintu kamar orang tua nya yang tidak tertutup rapat, dia hanya melihat ibu nya di sana dan tidak menemukan sang ayah di sana.
"Di mana Ayah sekarang? Apa jangan - jangan dia menemui bu Siti?" Gibran bertanya pada diri nya sendiri.
Gibran tahu ayah nya memiliki wanita lain di belakang ibu nya, bahkan setiap tahun pak Burhan selalu datang ke perantauan hanya untuk mengunjungi nya. Biasa nya pak Burhan datang bersama bu Siti dan memperkenalkan bi Siti lada semua orang sebagai istri nya.
Gibran mencari ayah nya dan dia menemukan laki- laki itu ada di halaman belakang rumah nya, dia tampak sedang bicara dengan suara pelan dengna seseorang melalui sambungan telepon.
"Iya sayang, kamu tenang saja. Nanti aku akan membelikan mu rumah setelah kami berhasil mendapatkan semua harta nya Meri!" Pak Burhan berkata pada seseorang di seberang sana.
Gibran duduk di kursi yang ada di samping kolam, dia menunggu pak Burhan selesai bicara dengan bu Siti. Pak Burhan langsung menutup sambungan telepon nya, dia duduk di samping putra nya.
"Kenapa wajah mu kelihatan kusut begitu?" Tanya pak Burhan pada putra nya.
"Pak, aku dan Santi akan melakukan pernikahan ulang. Dan kami akan mengadakan resepsi mewah di kampung halaman nya Santi!" Gibran berkata pada bapak nya.
"Bagus Gibran, itu memang harus di lakukan. Semua orang harus tahu bahwa kau dan Santi sudah resmi menikah dan agar semua orang kampung tahu, bahwa kau adalah orang kaya!" Pak Burhan mendukung apa yang akan di lakukan oleh putra nya.
"Tapi masalah nya pak, ibu tidak mau memberi uang untuk biaya resepsi itu. Sedangkan aku sendiri tidak memiliki tabungan, semua uang ku aku berikan pada Santi semua!" Gibran berkata sambil mengusap rambut nya dengan kasar.
"Kamu sudah bicara langsung pada ibu mu?" Tanya Pak Burhan lagi.
"Sudah pak, tapi ibu menolak memberikan uang nya sekarang. Dia meminta aku menggadaikan rumah yang sudah aku bangun untuk Santi untuk biaya resepsi pernikahan kami. Ibu bilang pada ku, bahwa dia baru akan memberikan seluruh harta nya pada ku setelah kami resmi menikah!" Gibran menceritakan apa yang di katakan oleh ibu nya kemarin.
"Lalu kenapa kau cemas? Tidak masalah kalau sekarang kau gadaikan rumah itu dulu, setelah ibu mu memberikan semua harta kekayaan nya pada mu baru lah kau tebus lagi rumah itu!" Pak Burhan berkata pada putra nya.
"Aku takut orang tua nya Santi tidak setuju jika rumah itu di gadaikan!" Ucap Gibran lagi.
"Gibran, mereka pasti akan setuju karena setelah ini kau akan mendapatkan harta kekayaan dari ibu mu yang jumlah nya sangat banyak. Janjikan saja uang pada mereka, setelah kau dapatkan harta itu. Bapak yakin mereka pasti tidak akan keberatan, siapa sih yang tidak mau uang banyak!" Pak Burhan berkata sambil menepuk bahu putra nya.
"Iya, benar juga apa yang di katakan oleh bapak!" Gibran setuju dengan usul dari bapak nya.
"Gibran, jangan lupa kamu berikan sebagain harta ibu mu pada bapak. Bapak juga butuh uang banyak, Siti minta di belikan rumah. Dia sudah bosan tinggal di rumah kontrakan terus!" Pak Burhan kembali berkata.
"Tenang saja pak, aku pasti akan memberikan sebagain harta itu pada bapak. Asalkan bapak dan bu Siti akan selalu mendukung ku dan Sarah!" Ucap Gibran lagi.
"Gibran, bapak dan bu Siti adalah orang pertama yang mendukung mu sejak dulu. Jika bapak tidak mendukung mu, mana mungkin bapak dan Bu Siti selalu mengunjungi mu setiap tahun di sana!" Ujar pak Burhan.
"Iya pak, setelah aku berhasil mendapatkan semua harta nya ibu. Aku akan mengusir nya dari rumah ini bersama Sarah, aku jadi sangat membenci ibu karena dia lebih membela Sarah di bandingkan aku yang putra kandung nya sendiri!" Gibran berkata dengan perasaan kesal.
"Kamu benar Gibran, bapak sendiri sudah muak dengan ibu mu yang selalu mengatur kehidupan bapak. Jika saja tidak karena harta nya, sudah lama bapak tinggalkan dia!" Ujar pak Burhan.
Tanpa mereka sadari, dari balik tanaman bunga yang ada di samping kolam, ada sepasang telinga yang mendengar semua ucapan ayah dan anak itu. Orang itu tidak lain adalah bu Meri, istri ny apak Burhan sekaligus ibu nya Gibran.
'Ya Allah, tidak ku sangka aku telah melahirkan putra selicik ini. Sifat licik dan curang putra ku di dapatkan dari ayah nya, lihat saja kalian. Tidak akan ku biarkan kalian mengambil harta ku, dari pada harta ku di kuasai oleh kalian lebih baik aku sumbangkan ke panti asuhan saja!" Batin bu Meri di dalam hati sambil mengepal kan tangan nya.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah