Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MODUS KLASIK
Entah terbuat dari apa dinding hatinya, dia mampu menahan segala prahara, Runa juga sudah melewati hari-hari buruk dan tak mudah, beberapa kesakitan berhasil dia obati sendirian, air matanya begitu mahal sehingga jarang sekali keluar.
Saat dia bangga karena bisa melawan rasa cemburu, ternyata harus kalah hanya dengan tatapan rindu yang sendu. Tapi Runa tak pernah menyesali apa-apa yang terjadi, toh Achy merebut miliknya dengan cara yang lebih menjijikkan, dia hanya ingin sekali lagi merasakan debar berikut getar yang sudah lama hilang.
"Cih, sekarang apa bedanya aku sama Mba Achy?"
Runa mengeringkan bibirnya yang basah dengan tisu, Rangga membantunya memasang kembali beberapa kancing baju yang tadi direnggutnya.
"Aku gak peduli, satu hal yang harus kamu ingat. Kamu hanya janda sementara. Hari ini aku mungkin menahannya hanya karena kita sedang di mobil, secepat mungkin semua akan kembali jadi milikku, seperti semula," ucap Rangga dengan matanya yang semakin merah. Kepalanya sakit seolah menahan beban yang sangat berat.
Setelah memastikan penampilannya kembali rapi, Red pamit untuk masuk sebelum Abah dan Reza memergoki mobil Rangga parkir di depan rumah mereka.
"Aku masuk dulu, Mas."
Rangga merengkuh tubuh wanita itu dan mencium lekat pucuk kepalanya.
"Maafin aku Runa, kasih aku kesempatan menebus semua dosa-dosa ini," pintanya memelas.
***
Red baru selesai melipat pakaian yang sudah disetrika, termasuk pakaian yang besok akan dia bawa ke Batam. Hanya homedress biasa, karena sejak tinggal sendiri, Red seperti berusaha menonjolkan sisi lain dari dirinya.
Sekuat tenaga dia berusaha keluar dari kepribadian Runa yang lemah dan payah. Sedikit liar tidak masalah selagi bisa menjaga diri tetap dalam batasan yang sudah dia buat, begitu pikirnya.
Saat terdengar suara Abah yang baru pulang dari masjid, Runa bergegas membukakan pintu untuk orang tuanya. hanya sendirian, tidak bersama Razqa.
"Razqa mana, Bah?" tanya Reza yang juga keluar dari kamar saat menyadari Abahya sudah pulang.
"Langsung Abah antar mengaji ke rumah Haji Syarif," jawab Abah santai sambil berjalan meletakkan perlengkapan shalat seperti biasanya, Reza mengekor dari belakang
"Abah gimana sih? ngantarin Razqa mengaji kan masuk dalam tupoksi Eja, Bah," protes Reza.
"Iya biar kamu bisa cari perhatian sama Aisyah 'kan?" tebakan Abah tak pernah salah.
"Emang salah ya, Bah?"
"Tidak ada yang salah selama kamu waspada."
"Lah, Sejak kapan curi perhatian berpotensi jadi bencana alam? Sampe harus waspada segala?"
"Cinta kan memang serupa bencana, jika bergeser sedikit saja dari lempeng fitrahnya, akan mampu mengguncang jiwa, memporak-poranda akal sehat bahkan hati bisa mati dan sulit sekali menerima nasihat!"
Jika sudah begitu, Reza hanya bisa memutar bola mata, menumpu keduanya di tengah, dan memajukan mulutnya. Walau sudah lebih dari dua pulu tahun dia terlahir menjadi anak Abah, kata-kata kiasan itu masih mental di otaknya.
"Ah Abah menyindir Runa," tutur Runa sambil berlalu dari hadapan Abah dan Reza.
Abah menyusul langkah anak sulungnya, "Hati yang masih merasa tersindir berarti belum kena bencana cinta, hehe. Abah gak nyindir kamu, sayang," Abah merangkul dari samping pundak puterinya, "udah selesai beres-beresnya? Yuk Abah bantuin!"
Runa tersenyum membalas rangkulan ayahnya, walau itu adalah sindiran, Runa tidak mempermasalahkannya, karna dia sadar sedang melakukan kesalahan, hanya saja belum bisa sepenuhnya dia tinggalkan.
Abah membantu Runa memasukkan beberapa buku referensi utama yang Runa butuhkan untuk sidang ke dalam sebuah tas. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Kamu bawa ini ya, nak. Sedikit dari pensiunan Abah bulan ini buat nambah-nambahin biaya sidang. Abah tau itu gak murah."
"Abah ....," lirih Runa sungkan dan haru, "terus Abah sama Reza, gimana?"
"Alhamdulillah, royalti dari penjualan buku antologi Abah bulan ini lumayan,Run."
"Wah wah, penyair tua makin bersinar aja nih," kagum Runa menyebutkan nama pena Abahnya.
Nama pena itu bahkan sudah Abah gunakan saat dia muda. Doanya terkabul, Abah menjadi penyair hingga hari tuanya. Dan syair juga karir Abah panjang umur adanya.
Runa menerima pemberian Abah, dia memang sangat membutuhkan bantuan itu walau sungkan sekali untuk mengatakannya. Bulan ini sudah dipastikan dia tidak akan mendapatkan bonus penjualan, karena targetnya belum tercapai. Bulan depan dia harus mendaftar sidang agar tidak ada perpanjangan uang semester jika dia menunda.
"Makasih banyak ya, Bah." Runa memijat lembut lengan Abah yang kian keriput.
"Sama-sama, Abah doakan sidangnya lancar," jawab Abah tulus.
"Aamiin ... Sayang Abah."
Obrolan mereka terjeda oleh suara notifikasi grup dari ponsel Runa, rasanya dia sudah membisukan semua grup yang ada di aplikasi hijau itu, suara barusan?
Club renang?
Runa memeriksa deskripsi grup yang tertera, dia sudah tergabung bersama beberapa orang tua murid yang anaknya dibawah bimbingan coach Abhi. Runa memperhatikan beberapa kontak yang ada, semua nama dan foto kontak milik para ayah. Runa kontak wanita satu-satunya disana.
"Siapa, Nak?"
"Ini Bah ternyata anak grup kelas renangnya Razqa, memang ada kegiatan apa ya, Bah? sampai harus ada grupnya segala?"
"Abah juga gak tau, kalau kamu keberatan biar ganti nomer Abah aja," ungkap Abah.
"Enggak kok Bah, biar Runa aja!"
Beberapa detik kemudian, sebuah panggilan masuk menampakkan foto seorang memakai seragam renang dengan nomer tidak dikenal. Runa memilih untuk mengabaikan panggilan itu, sebuah pesan masuk setelah panggilan itu berakhir.
"Maaf saya salah tekan"
ternyata pesan dari salah satu kontak yang berada dalam renang tadi. Runa dengan sopan membalasnya.
"Oh iya Pak, tidak masalah."
Sementara seseorang di sebrang sana tersenyum girang karena pesannya direspon dengan cepat.
"Izin simpan kontaknya ya."
"Silakan."
"Kontak saya boleh disimpan juga."
Runa mengernyit.
"Oke baik, saya simpan dengan nama siapa?"
"Abhi. Adha Abhimana. Hai Red 😁 saya yang tadi siang kamu lihat di kamar mandi pria."
Astaga, ternyata dia. Bisa banget sih modusnya.
Red menggumam dalam hati, tanpa dia sadari bibirnya membentuk senyum beberapa detik.
Entah dengan pertimbangan apa, anak sulung Abah Anwar itu bersedia menyimpan kontak Abhi, setelah tersimpan, Red justru melihat pemberitahuan kolom chat paling atas.
Abhi telah mengeluarkan anda
Heran dan penasaran, kenapa tiba-tiba dia dikeluarkan?
"Maaf kamu aku kick dari grup renang, setelah aku lihat lagi ternyata itu isinya laki-laki semua. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung japri aja."
"hmmmm 🙄"
Balas Red sekenanya.
***