Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24.DAREN DICORET DARI AHLI WARIS
Di lantai paling atas gedung Seventeen Group, denting gelas kristal bersahutan dengan tawa kemenangan. Megan menyesap champagne mahalnya dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Di sampingnya, Mario, sang putra kandung yang selama ini berada di bawah bayang-bayang Daren, tampak membusungkan dada dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.
"Lihat ini, Ma," bisik Mario sambil menunjukkan tabletnya.
"Daddy benar-benar menghapus nama Daren dari seluruh akta kepemilikan aset. Per hari ini, posisi CEO resmi jatuh ke tanganku. Si mualaf itu benar-benar tidak punya apa-apa lagi selain ruko kumuh di pinggiran kota."
Megan tertawa anggun, matanya berkilat penuh kepuasan. Bagi Megan, kepergian Daren keberuntungan baginya dan Mario, anaknya.
Selama bertahun-tahun ia berperan sebagai ibu tiri yang manis di depan Daddy Farel, sambil perlahan menanamkan duri untuk menyingkirkan anak tiri yang terlalu cemerlang itu.
"Dia terlalu sombong dengan prinsip barunya itu," sahut Megan dingin.
"Semakin dia menderita, semakin Daddy-mu akan menganggapnya sebagai produk gagal. Sekarang, tugasmu adalah membuktikan bahwa Seventeen Group jauh lebih hebat di tanganmu."
" Siap mommy, aku tak akan mengecewakanmu"
Sementara itu, di ruko kecil yang kini menjadi markas "D&J Consulting", suasana jauh dari kata mewah. Kipas angin tua berderit di sudut ruangan, berusaha melawan suhu Jakarta yang mencapai 34 derajat. Daren baru saja menyelesaikan laporan analisis untuk klien UMKM pertama mereka sebuah pabrik konveksi hijab milik tetangga Jamila.
"Ren, cek ini!" seru Jerry sambil menunjukkan mutasi rekening di ponselnya.
"DP dari Pak Haji sudah masuk. Lima juta rupiah! Gila, gue nggak pernah nyangka liat angka lima juta bisa bikin gue jingkrak-jingkrak kayak menang lotre."
Daren mendekat, melihat angka itu dengan mata berbinar. Dulu, lima juta rupiah mungkin hanya harga satu botol anggur yang ia pesan saat makan siang. Tapi sekarang, angka itu adalah simbol martabat. Itu adalah uang halal pertama yang ia hasilkan sejak menanggalkan kemewahan Seventeen Group.
"Ini bukan cuma uang, Jer," kata Daren serius.
"Ini bukti kalau otak kita masih laku meski tanpa nama besar bokap gue. Kita janji kan? Hasil pertama ini, kita rayakan. Tapi bukan di restoran mewah."
"Gue tau ide lo," Jerry menyeringai.
"Ajak tuan putri dan pasukannya, kan?"
Sore itu, Daren dan Jerry menjemput Jamila, Kayla, dan Cintya. Tidak ada mobil mewah. Daren datang dengan motor bebek bekasnya, sementara Jerry membonceng Kayla dan Cintya di motor satunya. Mereka menuju ke sebuah warung tenda pecel lele legendaris di pinggiran Jakarta Selatan.
Asap dari pembakaran ayam dan aroma sambal terasi yang tajam memenuhi udara. Jamila tampak terkejut namun tersenyum lega melihat Daren yang kini tampak jauh lebih santai dengan kaos polo sederhana.
"Maaf ya, Mil, Kayla, Cintya... perayaannya cuma di sini. Ini hasil proyek pertama kami," ucap Daren tulus saat mereka duduk di kursi plastik panjang.
"Ini lebih dari cukup, Daren," jawab Jamila lembut.
"Rezeki yang berkah itu bukan dilihat dari besarnya, tapi dari bagaimana ia didapatkan dan untuk apa ia dibelanjakan."
Kayla, yang biasanya paling berisik, ikut menimpali,
"Gue salut sama lo, Ren. Dari CEO jadi tukang angkut kardus, tapi muka lo malah kelihatan lebih segar. Nggak kayak dulu, ganteng sih tapi auranya kayak mau nelan orang."
Gelak tawa pecah di meja itu. Jerry dengan semangat menceritakan betapa kaku dan lucunya Daren saat pertama kali mencoba menawarkan jasa konsultan ke pedagang pasar. Daren tidak membantah; ia justru menikmati proses menjadi manusia biasa.
Di sela-sela makan, Daren berbisik pada Jamila,
"Mila, terima kasih sudah bertahan. Aku tahu Megan menemuimu. Aku tahu dia menawarkan sesuatu yang mungkin bisa mengubah hidupmu dalam semalam."
Jamila meletakkan sendoknya, menatap Daren dengan tatapan yang dalam.
"Dia menawarkan uang Daren. Tapi uang itu akan cepat habis jika haram hasil suap, untuk menjauhi mu"
Ketenangan itu terusik saat ponsel Jerry berdering. Sebuah notifikasi dari media sosial menunjukkan foto terbaru Sakura, sahabat Daren yang kini semakin dekat dengan Mario.
Di foto itu, mereka sedang berada di kantor lama Daren, duduk di kursi kebesarannya.
Caption-nya tertulis
"Clean sweep. Out with the old, in with the new. Seventeen Group is finally in the right hands."
Jerry melihat layar itu menatap tak percaya.
"Gila, si Mario bener-bener nggak punya malu. Dia pamer di atas keringat yang lo bangun selama lima tahun, Ren."
Daren hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada nasi uduk di depannya.
"Biarkan saja, Jer. Gedung itu mungkin punya mereka, tapi sistem yang aku bangun di sana punya integritas. Kita lihat saja berapa lama Mario bisa bertahan tanpa memahami dasar-dasar manajemen yang jujur."
Namun, Daren tahu Megan tidak akan berhenti hanya dengan merebut jabatan. Megan adalah tipe penguasa yang ingin musuhnya hancur hingga ke akar-akarnya. Ia khawatir, sukses kecil yang mulai ia rintis akan menjadi sasaran sabotase berikutnya.
Keteguhan Hati
Malam semakin larut. Setelah mengantar Jamila pulang, Daren berhenti sejenak di depan masjid tempat ia biasa belajar mengaji. Ia mengambil buku Iqra dari bagasi motornya. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia mencoba mengingat kembali pelajaran sore tadi.
"Dha... Tha... Zha..." lidahnya masih kaku. Suaranya serak..
Tiba-tiba, telponnya berbunyi dari Daddy Farel
"Pemandangan yang menyedihkan," ujar Farel tanpa basa-basi.
"Berapa lama kau akan bertahan dalam drama kemiskinan ini, Daren?"
"Dad. Ini hidup saya yang sebenarnya sekarang tidak miskin tidak Ada drama. Saya lebih kaya di sini daripada saat saya duduk di kantor Daddy tapi merasa kosong."
"Megan benar, kau sudah dicuci otak oleh gadis itu," Farel mendesis.
"Ingat ini, Daren. Aku baru saja menandatangani pengalihan seluruh aset yayasan keluarga ke tangan Mario. Kau tidak akan mendapatkan satu rupiah pun, bahkan saat aku mati nanti."
Daren tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat ayahnya tertegun.
"Terima kasih, Dad. Dengan begitu, saya tidak punya beban lagi untuk membuktikan bahwa saya bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Sampaikan salam untuk Megan. Katakan padanya, uang satu miliarnya tidak cukup untuk membeli seorang Jamila."
Panggilan telpon itu diputus, Daren menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bebas. Ia kembali melihat buku Iqra-nya.
Perjalanan ini memang berat. Ia harus membangun bisnis dari nol di tengah ancaman sabotase Megan dan kebencian ayahnya.
Namun, setiap kali ia mengingat senyum Jamila saat makan pecel lele tadi, dan setiap kali ia berhasil mengeja satu huruf hijaiyah dengan benar, ia tahu ia telah menang.
Daren kembali duduk, mengabaikan dunia yang menertawakannya.
"’Ain... Ghain... Fa..." ucapnya mantap.
Di dalam ruko kecilnya, Jerry sedang menyiapkan strategi untuk klien kedua. Di rumah sederhananya.
Jamila sedang bersujud di atas sajadah, menyebut nama Daren dalam doa yang paling tulus. Dan di gedung pencakar langit sana, Megan mulai merasa gelisah, karena ia sadar bahwa orang yang tidak bisa dibeli dengan uang adalah orang yang paling berbahaya untuk dilawan.
Bersambung...