Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Mitos Kutukan Mila
Matahari sore itu terasa membakar kulit, Daren kini sudah mahir mengimbangi goyangan motor bebeknya yang sering batuk-batuk, baru saja mengantar Jamila pulang dari pasar. Di tangan Daren, terdapat dua kantong plastik besar berisi sayuran dan bumbu dapur pemandangan yang setahun lalu mustahil dibayangkan oleh siapa pun di Seventeen Group.
Tepat di depan rumah Engkong Malik, motor itu berhenti. Namun, belum juga standar motor turun, suara cempreng dari teras seberang sudah membelah udara.
Di sana, di teras rumah yang letaknya persis berhadapan dengan rumah Engkong Malik, duduklah Bude Wati dan putrinya, Salina. Bude Wati sedang asyik memetik kangkung, sementara Salina sibuk memoles kuku kakinya sambil sesekali melirik sinis ke arah Mila.
"Aduh, Sal... lihat tuh," celetuk Bude Wati dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke seberang jalan.
"Mila itu emang seleranya antik ya. Mau-mauan jalan sama bule bangkrut. Padahal dulu kalau mau pinter dikit, hidupnya udah enak."
Salina mendengus, meniup kuku kakinya yang merah menyala.
"Iya, Mak. Mending kayak aku, punya laki kaya kayak Mas Arjuna. Jelas bibit, bebet, bobotnya. Anak Pak Kades, ganteng, besok juga mau ikut pemilihan kades. Hidup aku mah terjamin, nggak perlu naik motor butut yang suaranya kayak mesin giling padi gitu belum asap hitamnya bikin polusi udara"
Mila menunduk, tangannya meremas ujung jilbabnya. Kalimat-kalimat itu sudah biasa ia dengar, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih menyakitkan.
Bude Wati makin bersemangat melihat Mila diam.
"Emang bener kata orang lama, Sal. Mila itu bawa sial dari bayi. Emaknya aja ninggal pas melahirkan dia. Sekarang lihat si Daren, dulu katanya kaya raya sejagat raya, eh pas nempel sama Mila langsung jatuh miskin jadi tukang angkut belanjaan. Dulu sama Arjuna nggak jadi, untung Mas Arjuna selamat dari kutukan Mila!"
BRAAAK!
Pintu kayu rumah Engkong Malik terbuka dengan sekali tendang. Sang legenda betawi keluar dengan sarung yang disampirkan di bahu seperti pendekar, lengkap dengan peci yang miring ke kiri. Di belakangnya, Nyai Wati istri Engkong ,keluar membawa ulekan sambal yang masih berlumuran cabai.
"Woy, Wati! Mulut lu bau terasi basi, tau nggak?!" teriak Engkong Malik sambil menunjuk-nunjuk ke arah teras seberang dengan tongkat kayunya.
Bude Wati tersentak, kangkungnya berhamburan.
"Eh, Engkong... kan saya cuma ngomong kenyataan, Kong!"
"Kenyataan pala lu peyang!" sahut Nyai Wati sambil mengacungkan ulekan.
"Heh, Salina! Lu bangga-banggain si Arjuna? Itu laki lu kemarin minjem duit lima puluh ribu ke laki gue katanya mau buat beli pulsa token, sampe sekarang kagak dibayar! Kaya dari mana? Kaya hutang?!"
Daren menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia mendekati Jamila, mengambil alih kantong belanjaan, lalu menatap lurus ke arah Bude Wati dan Salina dengan tatapan dingin khas mantan CEO yang dulu sanggup membuat direksi gemetar.
"Bude Wati, Mbak Salina," suara Daren tenang tapi tajam.
"Saya mungkin kehilangan jabatan pekerjaan saya tapi saya mendapatkan gantinya di sini. Dan soal Mila... dia bukan pembawa sial. Dia adalah anugerah sehingga saya mau berjuang dan berada disini.
Salina mencibir,
"Halah, gaya banget bahasanya. Emang situ punya duit buat nikah sama Mila? Jangan-jangan maharnya cuma seratus ribu!"
" Udah Daren, engkong, nyai, jangan diladenin orang gak waras" sela Mila, sambil memberi kode menyuruh Daren masuk kerumah, sama engkong dan nyainya.
" Enak saja ngomong orang gak waras" seru Salina.
Suasana di depan rumah kayu itu sempat memanas. Suara melengking Bude Wati dan sindiran tajam Salina masih terngiang di telinga, namun Jamila tidak membiarkan kek Daren, berlama-lama menjadi sasaran empuk lisan mereka yang tak difilter. Dengan tegas namun lembut, Jamila menarik lengan kemeja Daren.
"Masuk, Daren. Nggak usah didengerin. Anggep saja angin lalu cuma bikin sakit telinga" ucap Jamila ketus sambil melirik tajam ke arah dua wanita itu sebelum menutup pintu depan rapat-rapat.
Begitu masuk ke dalam, aroma rempah yang kuat dan menggoda langsung menyambut indra penciuman. Jamila sudah berkutat di dapur sejak pagi, menyiapkan rendang daging sapi dengan bumbu warisan keluarga yang meresap hingga ke serat terdalam.
"Duduk dulu, aku sudah masak rendang kesukaanmu. Kita makan sama Engkong Malik dan Nyai Wati," lanjut Jamila, suaranya kini melunak, memberikan kenyamanan yang tak didapatkan Daren di luar sana.
Di meja makan kayu yang sudah tua namun bersih, sudah tersedia nasi hangat, rendang, sayur daun singkong, pepes jamur, Sambel pete, jengkol, pisang dan pepaya.
Engkong Malik dan Nyai Wati sudah menunggu. Engkong, dengan peci hitamnya yang sedikit miring, menatap Daren dengan pandangan menyelidik namun penuh kasih sayang kebapakan.
Sambil menyendokkan nasi hangat ke piring Daren, Engkong membuka percakapan.
"Jadi, gimana perkembangan ngajinya, Ren? Sudah sampai mana? Jangan cuma pinter nyari duit, bekal buat di akhirat dikejar juga"
Daren tersenyum sopan, meletakkan sendoknya sejenak.
"Alhamdulillah, Kong. Baru belajar Iqro, masih sering ketuker antara Kha dan Kho. Tapi Daren sudah mulai hafal beberapa surat pendek, dari Al-Ikhlas sampai An-Nas. Pelan-pelan, Kong."
Engkong Malik mengangguk-angguk puas. "Bagus. Agama itu pondasi. Kalau rumah pondasinya rapuh, kena badai dikit ya roboh. Belajar terus, jangan malu karena usia."
Suasana semakin hangat ketika Jamal, kakak laki-laki Jamila, pulang dengan peluh di dahi. Ia baru saja kembali dari bengkel, namun senyumnya mengembang melihat Daren ada di meja makan.
"Wah, ada calon ipar! Kebagian rendang nggak nih gue?" seloroh Jamal sambil mencuci tangan di wastafel.
Kuping Daren mendadak merah digoda Jamal, tapi dia, senang.
" Ayo, Ren, nambah lagi lauknya" Jamal menyodorkan daging rendang buat Daren.
" Terima kasih Bang Jamal"
Setelah piring-piring mulai kosong dan tersisa aroma bumbu rendang yang harum, Daren berdeham. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia dikejar tenggat pekerjaan di kantor. Ia melirik Jamila yang sedang menuangkan teh hangat, lalu beralih menatap Engkong Malik dan Nyai Wati secara bergantian.
"Kong, Nyai, Bang Jamal..." suara Daren terdengar berat namun mantap.
"Tujuan Daren ke sini, selain silaturahmi, Daren ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Apakah... apakah Daren sudah boleh melamar Jamila?"
Hening sejenak. Jamila menghentikan tuangan tehnya, wajahnya mulai merona merah.
"Daren memang bukan orang kaya raya lagi, tapi Daren punya tabungan yang cukup untuk biaya pernikahan dan membangun rumah sederhana buat Mila. Pekerjaan Daren dan Jerry di kantor juga sudah stabil. Daren ingin serius menjaga Jamila," lanjut Daren.
Engkong Malik menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap langit-langit sejenak, seolah mencari jawaban di sana. Namun kemudian, ia menatap cucu perempuannya, Jamila.
"Mila," panggil Engkong lembut.
"Keputusannya bukan di tangan Engkong atau Nyai. Ini hidup kamu. Kamu yang bakal ngejalanin pagi, siang, dan malam sama laki-laki ini. Kamu setuju kalau Daren jadi imam kamu?"
Jamila tertunduk, tangannya memainkan ujung taplak meja. Dengan perlahan namun pasti, ia mengangguk.
"Mila mau, Kong. Mila percaya sama Daren."Wajah Daren berbinar, namun sesaat kemudian gurat kesedihan muncul di matanya.
"Kong, Nyai, maafkan Daren. Daren tidak bisa membawa keluarga besar untuk melamar. Kondisi keluarga Daren... Engkong tahu sendiri. Daren datang sendiri sebagai laki-laki yang ingin bertanggung jawab."
Engkong Malik tersenyum bijak, tangannya yang keriput menepuk bahu Daren.
"Keluarga itu bukan cuma soal hubungan darah, Ren. Kehadiran kamu dengan niat baik sudah lebih dari cukup buat kami. Kami nggak butuh iring-iringan mobil kalau hatinya nggak tulus."
Engkong menarik napas panjang, memberikan jeda dramatis.
"Soal hari baik, nanti Engkong yang cari. Kita pakai perhitungan yang bagus biar berkah. Tapi..." Engkong menatap Daren dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada satu syarat lagi sebelum akad itu diucapkan."
Daren menelan ludah.
"Apa itu, Kong?"
"Kamu kan mualaf. Sesuai syariat dan kebersihan, sebelum kamu jadi suami Jamila, kamu harus disunat dulu," ucap Engkong tegas.
Sontak Jamal tertawa terbahak-bahak sampai tersedak tehnya. Nyai Wati hanya senyum-senyum simpul, sementara Jamila menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu bukan main.
Daren tertegun sejenak. Ia membayangkan rasa sakit yang sering diceritakan orang-orang tentang prosedur itu di usia dewasa. Namun, ia kemudian menatap Jamila.
Dilihatnya mata Jamila yang indah, ketulusan gadis itu
"Demi Mila... Daren bersedia disunat, Kong," ucap Daren dengan nada heroik yang justru terdengar lucu bagi Jamal.
Jamila mengintip dari balik celah jarinya, wajahnya semakin merah padam karena tersipu.
"Ih, Mas Daren..." bisiknya pelan.
Arjuna dan Salina
Daren
Jamila
Bersambung
bener bener kek dpt hidayah atas kemauannya sendiri