NovelToon NovelToon
Forget Me Not

Forget Me Not

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Romansa / Cintamanis / Tamat
Popularitas:36.7k
Nilai: 5
Nama Author: Komalasari

Karena sebidang tanah, Emilia harus berurusan dengan pemilik salah satu peternakan terbesar di Oxfordshire, yaitu Hardin Rogers. Dia rela melakukan apa pun, agar ibu mertuanya dapat mempertahankan tanah tersebut dari incaran Hardin.

Hardin yang merupakan pengusaha cerdas, menawarkan kesepakatan kepada Emilia, setelah mengetahui sisi kelam wanita itu. Hardin mengambil kesempatan agar bisa menguasai keadaan.

Kesepakatan seperti apakah yang Hardin tawarkan? Apakah itu akan membuat Emilia luluh dan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Forget-Me-Not

Hardin cukup terkejut dengan yang Blossom lakukan. Namun, dia langsung tersenyum, kemudian mengelus lembut rambut panjang gadis kecil itu. “Pulanglah sebelum es krimmu mencair."

‘Terima kasih, Paman. Terima kasih juga karena sudah menjaga Stacey untukku,” ucap Blossom, seraya melepaskan pelukan dari Hardin.

“Ayo, Bee,” ajak Emilia, yang sudah bersiap di sepeda.

“Hati-hati di jalan,” ucap Hardin, setelah Blossom duduk di belakang Emilia. 

“Terima kasih, Tuan Rogers. Permisi,” pamit Emilia, kemudian mengayuh sepeda cukup cepat, diiringi tatapan Hardin. 

Sepeninggal Emilia, Hardin berbalik. Dia melangkah gagah menuju ruang kerja, lalu menghubungi seseorang.

“Tuan Bradley. Aku ingin bertemu untuk memantapkan hasil rancangan Anda,” ucap Hardin tegas dan penuh wibawa. Dia tetap yakin akan melakukan pembangunan di area sekitar danau, meskipun belum menemukan kata sepakat dengan Meredith. 

Namun, Hardin terlihat sangat percaya diri. Dia seperti sudah memegang kartu as sehingga bisa mengendalikan keadaan. Entah apa yang akan pria itu lakukan. Satu yang pasti, naluri Hardin sebagai seorang pengusaha besar, tidak mungkin terjegal oleh janda tua keras kepala.

......................

Malam itu, cuaca sangat cerah. Suasana malam pedesaan begitu tenang, diiringi suara hewan-hewan nocturnal yang membuat suasana jadi makin syahdu.  

Emilia tidak bisa tidur. Padahal, jarum jam sudah menunjuk angka sembilan lebih beberapa menit. 

Keluhan pelan meluncur dari bibir Emilia. Ibu satu anak itu bangkit, lalu turun dari tempat tidur. Dia meraih peignoir, kemudian beranjak ke dekat jendela kecil berhiaskan tirai bermotif bunga. 

Emilia menyibakkan tirai, lalu mengintip ke luar. Dari jarak beberapa meter, dia dapat melihat air danau berkilauan karena terkena pantulan cahaya lampu, yang sengaja dipasang sebagai penerang jalan. 

Timbul keinginan Emilia untuk mencari angin segar dan menikmati malam yang indah. Tanpa berpikir panjang, dia keluar dari kamar dengan langkah hati-hati.

Suasana sekitar tempat itu jadi lebih sepi dari biasanya. Beberapa rumah warga yang awalnya berada di dekat kediaman Meredith, kini telah rata dengan tanah. 

Emilia melangkah tenang ke dekat danau. Dia berdiri di sana, menatap keheningan malam berselimut pekat yang tidak menakutkan. Ya. Emilia sudah bersahabat dengan suasana seperti itu. Jiwanya telah bersatu dengan desa, yang menjadi rumah kedua setelah Yorkshire. 

Pikiran Emilia melayang jauh. Terngiang kembali di telinga ibu satu anak itu, ucapan Hardin yang menyebut dirinya tertekan. 

Sayup-sayup, terdengar suara langkah kaki kuda mendekat, membuat lamunan Emilia langsung buyar. Dia menoleh, dan mendapati Hardin sudah berada beberapa langkah di belakangnya. 

“Astaga,” gumam Emilia tak percaya. Kenapa dunia terasa begitu sempit, setelah dirinya berurusan dengan sang pemilik Rogers Farm tersebut?

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hardin, setelah turun dari kuda.

“Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu,” sahut Emilia, diiringi tatapan penuh keheranan.

“Aku hanya ingin mengetahui suasana malam di sekitar danau, sebelum membangun sesuatu di sini,” ujar Hardin mencari alasan. Itu dirasa cukup masuk akal dan tidak terdengar mengada-ada, meskipun ada alasan lain di balik kedatangannya ke sana.

“Kau tidak takut keluar seorang diri pada jam seperti ini?” Hardin berdiri di sebelah Emilia, setelah memastikan kudanya aman ditinggalkan.

“Aku sudah mengenal tempat ini. Tidak ada apa pun yang perlu ditakutkan, kecuali ….” Emilia menoleh, menatap Hardin dengan sorot tak dapat diartikan. “Kecuali kehadiran pria dari kota besar.”

“Kau takut padaku?” Hardin membalas tatapan Emilia, dengan sorot matanya yang teramat tenang.

“Aku tidak menyebutkan nama, Tuan Rogers,” bantah Emilia.

“Aku tahu siapa yang kau maksud.”

“Kau sangat hebat dalam segala hal. Hampir semua wanita di sini membicarakanmu. Kau juga berhasil menarik perhatian Blossom.”

“Hampir semua wanita artinya tidak seluruhnya.”

Emilia tidak menanggapi. Dia kembali memfokuskan perhatian pada danau berair tenang.

“Ada sebidang tanah yang tidak terpakai di dekat peternakan. Jika Nyonya Meredith setuju, kalian bisa pindah ke sana. Suasananya tidak kalah menenangkan dari tempat ini,” ucap Hardin, memecah kebisuan di antara mereka. “Selain itu, kau bisa menghemat waktu sekitar sepuluh menit jika hendak menuju Toko Nyonya McCallister,” ucap Pria itu lagi.

“Kau masih belum menyerah?” Bukannya menanggapi tawaran Hardin, Emilia justru mempertanyakan kegigihan pria itu dalam mendapatkan tanah milik Meredith.

“Kau harus tahu itu. Banyak orang yang malas berurusan denganku,” ujar Hardin enteng. “Hanya pecundang yang mudah menyerah pada kegagalan.”

“Kau terlalu percaya diri,” ucap Emilia, setengah mencibir.

“Aku tidak akan berada di titik ini, bila tak memiliki rasa percaya diri yang tinggi,” balas Hardin, tetap menanggapi tenang ucapan Emilia. 

Hardin mengalihkan perhatian kepada Emilia. “Kau akan bosan, Emilia. Lambat-laun, kau dan ibu mertuamu pasti menyerah. Ini bukan intimidasi, apalagi sesuatu yang dikategorikan sebagai ancaman.”

“Jangan meremehkan wanita, Tuan Rogers.”

“Aku sangat menghormati kalian.”

Emilia tersenyum sinis. Dia menoleh sekilas, sebelum kembali menatap lurus ke depan, menyaksikan riakan air danau yang terkena tiupan angin. Wanita 25 tahun itu termenung memikirkan sesuatu. 

Tak berbeda dengan Emilia, Hardin pun sama saja. Pria tampan bermata abu-abu itu sibuk memikirkan bahan obrolan, yang akan dibahas dengan wanita di sebelahnya. 

Hardin mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Tak sengaja, tatapannya tertuju pada sekumpulan bunga yang tumbuh tidak jauh dari danau. 

“Kau tahu itu bunga apa?” tanya Hardin basa-basi, seraya menunjuk ke arah bunga-bunga kecil tadi.

Emilia yang tengah termenung, langsung menoleh ke arah bunga-bunga itu. “Forget-Me-Not.”

“Oh, jadi seperti itu bentuk bunga Forget-Me-Not?” 

Hardin beranjak dari duduk, lalu berjalan ke arah bunga tadi. Dia berdiri sejenak, memperhatikan bunga kecil berkelopak biru terang itu. Hardin memetik satu tangkai, lalu kembali ke dekat Emilia. “Untukmu,” ucapnya, seraya memberikan bunga tersebut.

Sontak, Emilia tertawa renyah. Dia menatap Hardin, kemudian mengalihkan perhatian pada bunga berwarna biru terang dengan warna kuning di bagian tengah.

“Terimalah. Aku pernah mendengar filosofi mendalam tentang bunga ini.”

“Kau pikir itu nyata?” Emilia menatap ragu.

“Aku tidak tahu. Namun, bagaimanapun itu, kurasa tak ada salahnya untuk menghargai dan …. Apa kau suka bunga?” 

“Adakah wanita yang tidak menyukai bunga?” 

Hardin menggeleng samar. “Aku tidak mengerti. Kenapa kau selalu menanggapi pertanyaanku dengan pertanyaan.”

“Aku lebih tidak mengerti karena kau selalu ada di mana-mana.” Emilia hendak berbalik meninggalkan Hardin, tanpa menerima bunga pemberian pria itu. 

“Tunggu,” cegah Hardin.

Emilia langsung tertegun, lalu menoleh. “Apa lagi?"

“Setidaknya, terimalah bunga ini sebagai tanda persahabatan.”

“Apa rencanamu sebenarnya?”

“Tidak ada,” jawab Hardin, seraya menyelipkan bunga itu di telinga Emilia. 

1
yusnilawati yusnil
bagus
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ: Terima kasih
total 1 replies
Nur Yuliastuti
terimakasih cerita apik nya Thor,, sehat sll, dimudahkan sll dan sukses untuk semua karya nya 🤗😍😍
penapianoh: Halo kak baca juga d novel ku 𝙖𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya, trmksh🙏
total 3 replies
Nur Yuliastuti
turut berbahagia untuk kalian
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__: Halo sahabat pembaca ✨
‎Aku baru merilis cerita terbaru berjudul BUKAN BERONDONG BIASA
‎Semua ini tentang Lucyana yang pernah disakiti, dihancurkan, dan ditinggalkan.
‎Tapi muncul cowok muda datang dengan segala spontanitas dan ketulusannya.
‎Apakah Lucy berani jatuh cinta lagi? Kali ini pada seseorang yang jauh lebih muda darinya.
‎Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
‎Dukung dengan like ❤️ & komentar 🤗, karena setiap dukunganmu berarti sekali buatku. Terimakasih💕
total 1 replies
Rahmawati
cusss lanjut ke novel baru othor😊
Rahmawati
selamat berbahagia Harding dan Emilia 🥰
Yuyun Yuningsih Yuni
kereeeen ceritanya,, brasa d kehidupan nyata
Vionita Dwi
baguss sekalii
Sheety Saqdiyah
Luar biasa

Semua karya nya sangat nyaman buat dibaca
termakasih atas karyanya..
Evitha Junaedy
waduuuh tamat... karyamu sll luar biasa
Rahmawati
dendam masa lalu yg blm terselesaikan
Evitha Junaedy
jd semua berakar dr dendam masa lalu toh...
Rahmawati
pedes sekali omongan ethan🤣
Nur Yuliastuti
astaga naga nggak tuan nggak ajudan,, ya wis Nda usah diperjelas begitu to yo mass Eth 🤦 mesakne
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya🙏.

Kaka, Jika ada waktu luang, boleh coba baca karya ku yang berjudul "Parting Smile" ya, siapa tau Kaka suka.
insyaallah seru ko... xixi
di tunggu ya ☺️🙏
total 1 replies
Evitha Junaedy
nah bicara apa it s gene...
Lusy Purnaningtyas
ouch, paman eden.... 😱
Evitha Junaedy
nah it simple Grayson... nah s Gene ni ada mslh apa y m Emilia...
Rahmawati
memang seharusnya begitu Grayson
Evitha Junaedy
emg Ethan gra2 cinta sepihak kamu jd penghianat bwt Hardin dan hampir nyelakain s cantik Bee...
Rahmawati
dasar km penghianatan ethan😡
Rahmawati
keponakan darimana coba, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!