NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ASING

Sunyi menelan ruang sempit itu. Tidak ada kata yang saling terucap, bahkan dalam ingatannya sendiri. Nama Erlangga berkelebat seperti bayangan lama—wajah yang pernah begitu dekat, yang kini muncul justru saat kedekatannya dengan Putra perlahan menyeret hatinya mundur ke masa lalu yang seharusnya telah terkunci rapat.

Salma masih bergeming di kamar mandi rumahnya. Telapak tangannya menempel pada wastafel yang dingin, napasnya tertahan lalu dilepas pelan, seolah ia takut perasaannya ikut pecah bersama embun di cermin. Pantulan wajahnya pun demikian pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tak sempat ia akui dengan suara.

Enggak!

Ia menggeleng kecil, seakan menegur dirinya sendiri. Ada Erwin, suaminya. Nama itu seharusnya cukup menjadi jangkar, cukup kuat untuk menahan pikirannya agar tak hanyut. Namun mengapa bayangan Putra justru hadir, begitu dekat, begitu mengusik, memunculkan rasa yang tak semestinya tumbuh?

Ayolah... Lupakan!

Kata itu ia ucapkan dalam hati berulang-ulang, seperti mantra yang dipaksakan. Tapi jantungnya berdegup terlalu keras, mengkhianati usahanya untuk tetap tenang. Salma kemudian memejamkan mata, menunduk, membiarkan air keran mengalir lebih lama—berharap suara itu mampu menenggelamkan kenangan, perasaan, dan segala hal yang tak boleh ia rasakan lagi.

Detik berikutnya, Salma menegakkan tubuhnya. Ia menatap cermin sesaat, seakan memastikan wajahnya kembali pada versi yaNg seharusnya—tenang, wajar, tanpa sisa keguncangan. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.

Langkahnya terhenti mendadak.

Erwin sudah ada di sana, duduk di tepi ranjang. Punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di paha, seolah baru saja tiba dan belum sempat benar-benar beristirahat. Kehadirannya membuat jantung Salma berdegup lebih cepat—bukan karena rindu, melainkan keterkejutan yang masih bercampur sisa keheranan.

“Mas… kamu kapan pulang?” Ucapnya, berusaha menjaga suara tetap stabil. “Bukannya kamu masih di luar kota?”

Erwin menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu berpaling lagi. "Ada sesuatu yang tertinggal, makanya aku pulang."

Salma mengangguk. Langkahnya perlahan mendekat ke arah Erwin dan terduduk di sana. Di samping Erwin.

Bau aroma sabun yang masih segar menyeruak di hidung Erwin dari balik handuk piyama yang dikenakan Salma. Wangi itu bersih, menenangkan—namun anehnya tak menimbulkan getaran apa pun di dadanya. Alih-alih mendekat, Erwin justru bangkit dari tepi ranjang, melangkah pergi sambil memalingkan wajah. Gerakannya singkat, dingin, seolah jarak itu sengaja ia ciptakan.

Salma terdiam. Ada sesuatu yang kembali menusuk perlahan menyayat di dadanya. Bukan karena Erwin menolak sentuhan, melainkan karena sikapnya yang lagi dan lagi selalu terasa asing. Sampai detik ini.

Erwin memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan membawa tas kantornya itu kembali dalam genggaman. "Aku sudah membawa apa yang aku perlukan." Katanya, memandang Salma sekilas. "Aku harus kembali pergi."

"Mas." Kata Salma beranjak dari duduknya. Langkahnya perlahan mendekati Erwin, ketika pria itu berbalik dan melangkah.

Ketika Salma mendekat ke arah Erwin, langkahnya pelan namun pasti. Ia sengaja merapatkan tubuhnya ke tubuh kokoh pria itu, lalu melingkarkan kedua lengannya, memeluk dari belakang. Hangat seharusnya hadir di sana—hangat yang menenangkan, yang menegaskan bahwa mereka adalah pasangan, suami dan istri, terikat bukan hanya oleh status, tetapi oleh rasa saling memiliki.

Namun yang Salma rasakan justru kehampaan.

Pelukan itu terasa satu arah. Tubuh Erwin tetap kaku, tak sepenuhnya membalas, seolah berada di sana hanya sebagai raga tanpa jiwa. Tidak ada kelekatan yang lembut, tidak ada keintiman yang lahir dari kedekatan batin yang ada hanyalah jarak tipis namun dingin, menyelinap di antara dada mereka.

Salma memejamkan mata. Ia menempelkan pipinya ke punggung Erwin, berharap ada degup yang bisa ia dengar, atau gerak kecil yang menandakan sesuatu yang ia diinginkan. Tapi harapannya menguap perlahan. Yang tersisa hanya rasa hambar, semakin nyata, semakin berat dan menyeret mereka perlahan menjauh, tanpa pertengkaran, tanpa kata, tanpa sebab yang berani diucapkan. Kenapa...? Batinnya. Kenapa dalam pelukan yang seharusnya menjadi rumah, aku justru merasa sendirian.

"Dulu kita gak seperti ini, Mas." Ucap Salma akhirnya. Kalimat yang harus ia simpan di hati, kini justru terucap dari bibirnya malam ini juga. "Kamu meluangkan waktu untukku, hanya beberapa menit saja tidak apa bagiku."

Erwin membisu. Rahangnya yang mengeras, perlahan longgar.

"Aku ini istri kamu, Mas." Lanjut Salma. "Tidak seharusnya kamu membuat jarak di antara kesibukan kamu yang sekarang. Aku tahu posisi kamu sekarang menjadi manajer bukanlah hal mudah. Tapi kamu harus ingat satu hal, kamu ada aku... Mas. Kamu punya aku."

Suara itu akhirnya memecah benteng yang Erwin miliki. Ia kemudian berbalik tanpa melepaskan pelukan Salma. Matanya mulai memandang Salma. Lebih dekat dan mulai memecah jarak di antara mereka, jarak yang seharusnya tercipta ketika ia datang. "Maafin aku." Lirihnya hangat, suaranya lembut tapi juga mengkhawatirkan.

Salma membuka matanya dan membalas tatapan Erwin. "Mas..."

Erwin berbalik. Tangannya terangkat, menangkup dagu Salma dengan sentuhan yang lembut namun terasa ragu. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya perlahan ke wajah Salma, cukup dekat hingga jarak di antara mereka hanya diisi oleh hembusan napas yang saling bersinggungan.

Salma memejamkan mata. Dadanya bergetar menanti—entah apa yang ia harapkan, ia sendiri tak benar-benar tahu. Detik itu terasa panjang, sunyi, sarat oleh sesuatu yang tak terucap.

Namun alih-alih bibir yang menyentuh, Erwin justru mengangkat wajahnya sedikit dan mengecup dahi Salma. Singkat. Hati-hati. Bahkan, terlalu sopan untuk sebuah kedekatan yang seharusnya intim. “Aku pergi dulu,” Katanya pelan.

Kata-kata itu jatuh begitu saja, meninggalkan ruang kosong di antara mereka. Erwin melangkah menjauh tanpa menoleh lagi, sementara Salma tetap berdiri di tempatnya, matanya masih terpejam, seolah berharap sentuhan tadi bertahan lebih lama.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!