"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
seperti mimpi rasanya sampai bab 25
.
___________&
Satu jam meeting berlangsung dengan baik, Shinta sudah selesai presentasi dan kini duduk kembali.
"Nabila, kamu sudah mencatat semua yang tadi saya sampaikan?" tanya Shinta ketus karena wanita yang curigainya itu tidak fokus.
"U-dah Bu," sahut Nabila gugup takut ketahuan kalau dirinya tadi memang sempat tidak fokus.
"Sssett!" Nabila kembali meringis sakit perutnya semakiin menjadi, tapi ia tidak mau lemah di sini nanti yang ada Alka suaminya marah dan menganggap dirinya lemah.
Alka yang tiba-tiba pindah ke kursi dekat Nabila mendengar ringisan sang istri dan kaget, tahu kalau istrinya sedang menahan sakit.
"Sepertinya meeting ini sudah selesai, dan saya permisi duluan." ucap Alka cepat dan langsung berdiri mengajak Nabila keluar.
"Kak Alka!" cegah Shinta.
"Maaf ini kantor, bersikaplah semestinya." ucap Alka dingin.
Shinta langsung menunduk,"Maaf Pak, meeting baru selesai sekarang saatnya kita bersantai dan makan dulu," ucap Shinta.
"Lanjutkan saya masih ada rapat lagi, Nabila ayo!" titah Alka.
Nabila pun bingung, bukanya sehabis ini tidak ada meeting lagi tapi kenapa suaminya bilang masih ada meeting lagi."
"Nabila!" panggil Alka.
"I-ya Pak." Nabila segera bangun dan membereskan berkas dan menutup laptop tapi ia sayangnya nyeri sakitnya terulang lagi dengan sangat keras.
Alka langsung mengambil alih dan mengambil berkas juga laptop dan meminta pada asistennya untuk mengurusnya.
Shinta yang melihat itu merasa jengkel karena Nabila seolah sengaja ingin menarik simpati dari Alka.
"Pak, maaf bukannya kita tidak ada meeting lagi ya?" tanya Nabila saat berjalan keluar menuju mobil.
"Iya," sahut Alka ketus.
"Terus kenapa-- Auw!" ringis Nabila yang akhirnya tidak tahan sambil meremas perutnya berhenti sejenak.
Alka reflek langsung menggendong Nabila dan membawanya ke dalam mobil, Nabila masih berusaha berontak karena malu di liaton orang lain. Beruntung di parkiran tak begitu rame.
"Kamu itu memang menyusahkan sekali." ucap Alka dingin dan seketika Nabila terdiam, ia sadar kalau suaminya sepertinya tahu kalau dirinya sedari tadi menahan sakit.
"Ma-af," lirih Nabila yang sudah lemah.
Keringat di dahinya mulai bercucuran, Nabila tidak bisa membantah ia lebih memilih bersandar di dada suaminya yang sedang menggendongnya.
"Obatnya tadi sudah di minum?" tanya Alka berjalan menuju mobil dan menurunkan Nabila pelan-pelan.
"Belum Pak," lirih Nabila karena tadi ia belum merasa sakit dan iapun lupa pas dapat kabar ada meeting dadakan.
"Huh! Kamu itu memang ceroboh, sudah tahu datang bulan pertama masih saja tidak di minum, nunggu sakit baru ingat." Alka membenarkan duduk Nabila agar nyaman dengan menurunkan kursi.
Alka berjalan menuju ke tempat duduknya, setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Nabila yang lemas hanya nurut saja sambil meringis dan meremas bagian perutnya yang sakit.
"Kita lansung ke rumah sakit saja ya," ucap Alka khawatr.
"Tidak perlu Pak, ini hanya kram sedikit karena lagi haid nanti juga sembuh setelah minum obatnya."
Alka langsung mengegas mobilnya melaju cepat menuju rumah, beruntung jalanan tidak begitu padat jadi Alka bisa menaikkan gas.
Sampai di rumah Alka lansung turun, menuju ke istrinya dan menggendong, sepertinya Nabila benar sakit karena wanita itu tidak cerewet.
"Sstt...., sakit." keluh Nabila akhirnya karena tak tahan.
"Kenapa tadi kamu masih ngiyel mau ikut rapat, begini kan jadinya. Lebih baik kamu istirahat dari pada sekarang kamu menyusahkan saya!" marah Alka, tapi pria itu sangat khawatir karena belum menghadapi perempuan sakit, ia juga bukan dokter.
Nabila hanya meremas perutnya tidak merespon ucapan suaminya, sampai di kamar Alka menidurkan Nabila sambil meletakkan bantal ke kepalanya.
"Sekarang minum obatnya, lalu istirahat." ucap Alka langsung keluar kamar.
"Hah! dia sadar nggak Aku di suruh minum obat sendiri dengan keadaan sakit begini," batin Nabila, lalu ia melirik ke arah plastik yang tadi di beli oleh Alka.
Nabila meraba dan menarik semua plastik hingga terjatuh ke dirinya yang sedang tiduran.
"Ya ampun kenapa banyak sekali, mana mungkin aku bisa meminum sebanyak ini."
Ceklek!.
"Astangfirullah, Nabila!" pekik Alka saat masuk kamar isterinya sedang tertimbun minuman herbal dan juga obat lainnya.
"Masyaallah, kamu itu bebal sekali ternyata ya?" ujar Alka yang masuk kemar membawa segelas air minum dan juga air hangat.
"Tadi aku cuma mau ambil obatnya Pak," sahut Nabila.
"Kamu itu selalu saja ceroboh!" Alka menaruk barang yang di pegang, lalu membereskan obat- obatan yang berserakan di atas kasur.
Nabila di buat terdiam karena ternyata suaminya keluar hanya untuk mengambil air bukan pergi meninggalkannya, Nabila benar di buat terkesima oleh sikap Alka yang diam-diam perhatian, walau mulutnya tetap saja seperti cabe tapi kini Nabila tidak merasakan karena Alka yang begitu telaten mengurus dirinya.
Dan tak lama ada ketokan pintu dari luar, Nabila terkesiap.
"Kamu pakek dulu hijabnya ada dokter yang mau memeriksa kamu," ucap Alka mengambil hijab bergo milik Nabila yang biasa di pakek kalau di rumah.
"Hah Dokter? Untuk apa Bapak memanggil dokter?" tanya Nabila.
"Nyuntik otak kamu."
"Masuk," ucap Alka saat Nabila selesai memakai hijab.
"Permisi," ucap dokter.
"Iya silahkan, tolong periksa keadaan istri saya dia lagi haid dari tadi perutnya sakit." tutur Alka, Nabila tak habis pikir segitu khawatirkah Alka sampai ia memanggil dokter.
Dokter mengangguk dan langsung memeriksa Nabila, kebetulan dokternya perempuan. Jelas, Alka tidak ingin istrinya di periksa oleh dokter laki-laki.
Dokter Eva memeriksa tensi Nabila lebih dulu.
"Maaf, apa ibu sebelumnya punya riwayat jantung?" tanya dokter Eva.
Alka menyerngit kenapa Dokter Eva bertanya begitu, mungkinkah isterinya memiliki penyakit yang di sembunyikan dari dirinya.
"Tidak, Dok," sahut Nabila, ia memang tidak punya riwayat penyakit jantung kalau maag iya.
Dokter Eva memeriksa kembali dan setelah itu ia baru sadar, apa yang menyebabkan istri sahabatnya itu.
"Tekanan darahnya lumayan tinggi, dan tadi saya cek debaran jantungnya juga kurang Normal ini mungkin karena kram di perutnya, minum obatnya dan setelah itu banyak istirahat kalau masih lanjut boleh bawa ke rumah sakit." ucap Dokter Eva memberi tahu.
Nabil terkesiap, ia canggung dan juga malu karena debaran jantungnya yang tidak menentu itu karena ulah Alka sang suami.
"Jadi untuk saat ini tidak perlu di periksa lanjut, dok?" tanya Alka yang nampak khawatir.
"Tidak perlu Pak, istri Bapak cukup istirahat yang banyak dan jangan sering dintinggalin, takut tiba-tiba kramnya kambuh," ucap Dokter Eva tersenyum tipis.
Alka mengantar Dokter Eva keluar kamar, sedang Nabila masih terbaring di tas kasur dengan lemah.
Saat Alka kembali ke kamar lansung meminta istrinya berbaring lagi karena Nabila setengah duduk sambil menyinden di kepala ranjang dan juga melepas hijabnya, Nabila merasa tidak nyaman.
"Hah? memangnya Bapak mau ngapain?" tanya Nabila heran sambil mengerutkan kening.
"Mau bercinta sama kamu." sahut Alka tanpa dosa.
Nabila pun langsung terkesiap, suaminya lupa apa pura-pura lupa.
"Pak, jangan ngadi-ngadi dech!" ujar Nabila panik.
Pletak!.
Alka menjitak kening istrinya, yang langsung meringis kesakitan, sudah tahu ia lagi sakit perut masih di tambah, benar kejam Alka.
"Ternyata otak kamu mesum juga, pikirnya ke situ terus atau jangan-jangan kamu sudah tidak sabar ingin bercinta dengan ku." ucap Alka tersenyum senang kalau memang istrinya ketagihan bercinta dengan dirinya.
"N-ggak, Bapak jangan asal nuduh, tadi aku cuma khawatir saja karena aku lagi haid, takut Bapak lupa," sahut Nabila sewot, enak saja dirinya di bilang tak sabar sedang sakit karna ulahnya saja belum sembuh.
"Makanya diem, jangan cerewet kalah orang belum selesai." Alka mengambil handuk kecil dan menaruknya dalam air hangat yang tadi ia siapkan, lalu membuka baju Nabila ke atas.
Beruntung otak Nabila masih on jadi ia mengerti kalau Alka mau mengompres perutnya, sebenarnya tadi Nabila memang ingin itu tapi malu yang mau meminta tolong pada suaminya takut merepotkan.
"Gimana, lebih enakan?" tanya Alka sambil memijit bagian perut Nabila agak keras sedikit.
"Auw!" Nabila meringis sedikit sambil mengangguk karena tekanan Alka lumayan keras tapi setelah itu Nabila merasakan nyaman.
"Sekarang kamu istirahat dulu, biar sakitnya cepat berkurang. Saya mau keluar dulu," ucap Alka, lalu keluar kamar sambil membawa sisa air hangat juga bekas kompresan Nabila.
Dan lama Alka tidak kembali membuat Nabila berpikir kalau Alka pasti keluar lagi dan meninggalkan dirinya yang sedang sakit.
"Kamu apa-an sih Bila! berharap cowok itu khawatir sama kamu hingga dia tidak akan kemana-mana dan memilih Nemani mu, bukankah dari tadi ia bilang kalau kamu itu merepotkan sekali," batin Nabila.
Tiba-tiba Nabila merasa jengkel sendiri, sebab ia bingung kenapa di saat situasi seperti ini ia berdekatan terus sama suaminya padahal ia tahu Alka sangat galak dan kejam, namun soal hati tak bisa di bohongi.
"Stop Nabila, jangan sampai kamu jatuh cinta lebih dulu sama manusia kutub itu." peringat Nabila cepat pada dirinya sendiri.
Nabila memilih untuk tidur saja dari pada memikirkan suaminya yang tak peka itu, tapi belum saja ia memejamkan mata.
Ceklek!.
"Kamu belum tidur juga?" tanya Alka yang ternyata tidak kemana-mana.
Deg!......