NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Muncikari itu dengan berat hati mengalihkan pandangannya dari Jaka. Ia tidak melupakan ancaman Ratna Menur sebelum pergi: Segera usir pria ini dan larang dia menginjakkan kaki di Griya Seruling selamanya, atau tempat ini akan kuratakan dengan tanah dan kujadikan peternakan ayam!

Jadi, dengan nada penuh penyesalan, dia berkata kepada Jaka Utama.

"Tuan Muda, saya benar-benar minta maaf, tapi gadis-gadis di Griya Seruling tidak bisa melayani Anda hari ini."

"Mengapa?!" mata Jaka membelalak tidak percaya.

"Tuan Muda, mulai besok, lusa, dan seterusnya, Griya Seruling tidak bisa menerima Anda lagi. Anda telah masuk dalam daftar hitam permanen kami."

"MENGAPA?!!!"

Suara Jaka naik beberapa nada. Rasanya seperti mendengar kabar kiamat, jiwanya seketika merosot ke dasar jurang.

Di Jalan Raya Utama.

Ratna Menur berjalan sambil mengusap pinggangnya yang masih nyut-nyutan. Langkahnya terlihat gusar, ia bergumam sendiri dengan wajah merah padam karena malu sekaligus marah.

"Jaka, beraninya kamu menindasku!"

"Mulai sekarang, lihat saja apa kamu masih bisa masuk ke Griya Seruling!"

"Biar kamu 'jajan' sendiri di kamar!"

"Hm hm hm... hi hi hi..."

Tiba-tiba dia terkekeh geli.

"Dia pasti sedang menahan diri mati-matian sekarang."

"Pinggang Dewa katamu? Pakai saja Tangan Dewamu sendiri."

"Haha!"

Suasana hati Ratna membaik setelah berhasil membalas dendam. Sebagai tunangan (meski sudah diputus), adalah hal wajar bagi putri Bupati untuk memperbaiki moral buruk tunangannya, bukan? Begitu pikirnya.

Namun, ia tak bisa melupakan posisi mereka yang sangat dekat di tempat tidur tadi. Wajah cantiknya kembali memerah panas. Jantungnya berdebar kencang. Perasaan apa ini...

"Menur?"

"Kenapa kamu di sini?"

"Apa kamu sengaja menjemputku untuk kembali ke kediaman Bupati?"

Tiba-tiba suara itu datang dari arah depan. Ratna mendongak dan melihat Langgeng Sakti.

"Menur, wajahmu merah sekali. Apa kamu malu karena melihatku?" goda Langgeng sambil berjalan mendekat.

Senyum Langgeng mengembang lebar. Suasana hatinya sedang sangat bagus karena baru saja membeli informasi dari Siti di Gedung Kelam: misteri pembantaian keluarganya lima tahun lalu! Ternyata pelakunya adalah sekumpulan siluman dari lereng gunung.

Jadi, Musim Berburu besok adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam! Benih kebencian yang tertanam selama lima tahun akhirnya menemukan sasarannya. Setiap malam Langgeng terbayang rintihan penduduk desanya yang dibantai. Hatinya perih, ia ingin mencincang musuhnya!

"Menur, biarkan aku memberitahumu berita bagus ini..."

"Ah! Sampai jumpa!"

Ratna Menur menutupi wajahnya dengan panik dan lari terbirit-birit. Ia tidak mau Langgeng melihat wajahnya yang merah padam seperti kepiting rebus.

"Lho..."

Langgeng Sakti merasa sedikit kecewa, tapi kemudian dia tersenyum sendiri.

"Dia langsung tersipu begitu melihatku dan tidak berani menatap mataku."

"Mungkinkah dia naksir padaku?"

"Tadi si Siti juga tersipu dan bicaranya jadi gugup saat bersamaku. Sepertinya Menur benar-benar sudah mulai jatuh hati."

Langgeng merasa sangat percaya diri. Ia membusungkan dada, membuat beberapa gadis yang lewat mencuri pandang malu-malu. Bahkan ada beberapa janda muda yang berani memberikan kerlingan nakal padanya. Langgeng hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah.

"Wanita-wanita ini bahkan tidak sebanding dengan Siti, apalagi Menur dan Nyai Ratih," gumamnya sambil berjalan gagah menuju rumah Bupati.

Padepokan Tanpa Beban.

Baru saja sampai, Jaka Utama langsung mengeluarkan buku hariannya untuk curhat.

[Griya Seruling itu konyol banget, kan?]

[Masa aku kena blacklist permanen tanpa alasan yang jelas!]

[Aku sampai harus mandi air dingin dulu biar bisa tenang!]

Jaka merasa hidupnya kehilangan separuh kesenangan. Jarang ada kesempatan santai hari ini, tapi malah ditolak mentah-mentah. Soal alasannya, si muncikari tutup mulut rapat-rapat. Dia benar-benar tidak habis pikir.

Kediaman Bupati.

Ratna Menur melepas kain jariknya dan berbaring di tempat tidur. Sambil mengoleskan minyak urut ke pinggangnya yang bengkak, dia membaca buku harian Jaka dan terkekeh.

"Hahahaha, rasakan itu! Siapa suruh menindasku! Hmph!"

"Tapi... kenapa dia harus mandi air dingin?"

Tiba-tiba tulisan di buku itu berubah.

[Ya sudahlah, mending Pinggang Dewa ini aku berikan ke Naningsih saja mulai sekarang.]

Naningsih, yang sedang bermeditasi di tepi tebing belakang gunung, tiba-tiba membuka mata: [[?]]

[Yah, besok adalah Musim Berburu.]

[Itu adalah alur cerita utama kedua. Aku harus akting pura-pura dipukuli lagi.]

[Sial, hari ini gagal bersenang-senang, tapi besok aku masih harus berlutut dan menjilat si anjing polos Ratna Menur. Ini berat banget buatku.]

"KAMU YANG ANJING POLOS!"

Ratna Menur melempar buku harian itu dengan berang.

"Baiklah. Kita lihat saja besok."

"Gusti Jaka yang 'setia' itu... akan kulihat bagaimana cara dia berlutut menjilat di depanku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!