NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Takdir

Sang Pewaris Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: BigMan

~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]

Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.

Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.

Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 - Pewaris Kekuatan: Takdir yang Terbangun

Ilustrasi figur dari Abirama.

...----------------...

Delapan tahun kemudian, di Desa Ashura.

Fajar merekah perlahan. Udara pagi membawa aroma tanah basah, bercampur dengan keharuman dedaunan yang masih dipenuhi embun. Di antara semua keheningan ini, hanya ada satu suara yang memecah ketenangan—suara pedang yang menari di udara.

Di halaman rumah sederhana itu, seorang pria berdiri tegap. Pakaian lusuh yang membalut tubuhnya tampak tidak mencolok, seakan-akan ia hanyalah seorang pria biasa yang hidup tenang di pelosok negeri. Namun, gerakannya bertentangan dengan penampilan sederhananya—begitu halus, begitu cepat, seolah angin pun tunduk pada setiap ayunan pedangnya.

Abirama.

Ia bukanlah pria biasa. Setidaknya, tidak bagi mereka yang mengenal namanya di masa lalu.

Tangan Abirama menggenggam sebilah pedang ramping yang bilahnya berkilauan samar. Bukan pedang berat yang dibuat untuk mematahkan lawan dalam satu tebasan, melainkan pedang yang mengutamakan kecepatan dan kelincahan—pedang khas dari Klan Spaide.

Sebilah senjata yang sempurna bagi seorang pendekar yang bersembunyi di antara bayangan, menyerang sebelum lawan menyadari kematiannya telah datang.

Hanya dalam sekejap, pedang itu bergerak.

Udara bergetar. Daun-daun yang jatuh dari pohon terbelah tanpa suara. Bayangan pedang melintas begitu cepat hingga hampir mustahil diikuti oleh mata biasa. Setiap gerakan begitu bersih, begitu sempurna, seakan tidak dilakukan oleh manusia, melainkan oleh makhluk yang telah menyatu dengan senjatanya.

Sekarang, ia hanyalah seorang ayah. Seorang pria yang menjalani kehidupan damai bersama keluarga kecilnya.

"Selesai?"

Suara kecil itu membuyarkan konsentrasinya.

Abirama menghentikan pedangnya dalam satu gerakan mulus sebelum menyarungkan nya kembali. Ia menoleh ke arah pintu rumah, di mana seorang anak laki-laki berdiri dengan mata berbinar.

Sora.

Usianya baru delapan tahun. Tubuhnya masih kecil, dengan rambut hitam yang sedikit acak-acakan karena baru bangun tidur, ia berdiri menatap ayahnya dengan penuh kekaguman.

Matanya yang biru cerah mirip seperti ibunya, bibirnya yang tipis membuat senyumnya terlihat manis, dan tawanya yang keras dapat membuat siapa saja tersenyum. Saat terkena sinar matahari, kulitnya yang putih akan berkilauan seperti permata.

Bagi mereka yang melihatnya, akan melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Keindahannya membuat siapapun mencoba untuk mengindentifikasi nya. Laki-laki atau perempuan, karakteristiknya dapat disematkan kepada dua figur tersebut.

Meski begitu, ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda—sesuatu yang lebih tajam, lebih mendalam. Seperti bara api yang masih tersembunyi di balik abu, menunggu saatnya untuk menyala dengan kobaran yang tak terpadamkan.

"Hebat," kata bocah itu dengan kagum. "Pedang Ayah selalu terlihat keren."

Abirama hanya tersenyum tipis, mengulurkan tangan untuk mengusap kepala anaknya itu. "Masih terlalu pagi untuk memuji. Lebih baik kita pergi sekarang sebelum matahari semakin tinggi."

Sora mengangguk cepat, lalu berlari kecil ke dalam rumah untuk mengambil keranjang kecil. Ada antusiasme dalam setiap gerakannya—kegembiraan sederhana dari seorang anak yang akan pergi ke hutan bersama ayahnya.

Namun, Abirama melihat lebih dari itu.

Di dalam tubuh kecil itu, ada sesuatu yang hanya bisa dikenali oleh seorang pendekar sejati.

Langkahnya terlalu ringan. Gerakannya terlalu seimbang. Cara matanya memperhatikan hal-hal di sekitarnya terlalu tajam untuk anak seusianya.

Abirama telah bertemu dengan banyak pendekar berbakat di hidupnya, dan ia tahu bahwa bakat sejati bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan—itu adalah sesuatu yang tertanam dalam darah seseorang sejak lahir.

Abirama selalu mengawasinya, memperhatikannya dari waktu ke waktu.

Dan anaknya…

Anaknya memiliki bakat itu.

Bakat yang luar biasa, tetapi juga kutukan yang mengerikan.

Sora masih terlalu muda untuk menyadari potensinya sendiri. Namun, bagi Abirama—yang telah menghabiskan hidupnya di medan perang, yang telah melihat begitu banyak pendekar hebat lahir dan mati—ia tahu.

Bocah ini, suatu hari nanti, akan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun. Di sisi lain, hal itu juga sedikit membebaninya.

Menurutnya, Dunia pendekar bukanlah dunia yang hanya penuh kejayaan dan kebanggaan seperti yang diceritakan dalam legenda semata, tetapi juga dunia di mana nyawa bisa berakhir dalam sekejap, di mana kehormatan dan pengkhianatan hanyalah dua sisi dari koin yang sama.

Dan ia bersumpah, tidak peduli apa pun yang terjadi, selama dirinya masih bernyawa... ia tidak akan membiarkan anaknya menapak jalan yang salah.

"Siap?" Tanya Abirama.

Sora mengangguk penuh semangat. "Ayo!"

Abirama menarik napas dalam, mengusir pikiran yang menghantuinya.

......................

Abirama berjalan di depan, membawa kapak kecil yang terselip di pinggangnya. Sora, melangkah dengan penuh semangat di belakangnya, membawa keranjang kosong yang siap diisi dengan kayu bakar.

Mereka akhirnya tiba di pinggiran hutan, tempat di mana pohon-pohon yang lebih kecil tumbuh dan dahan-dahan kering berserakan di tanah. Abirama mengamati sekeliling sejenak sebelum mulai bekerja.

"Baiklah," katanya sambil menghunus kapaknya. "Kau kumpulkan ranting dan cabang kecil, sementara Ayah akan menebang beberapa batang kayu yang lebih besar."

Sora mengangguk penuh semangat dan segera berlari kecil, mulai mengumpulkan ranting-ranting yang berserakan di tanah.

Abirama memperhatikan anaknya sejenak sebelum mulai mengayunkan kapaknya ke sebatang pohon kecil yang cukup kering. Setiap tebasan nya dilakukan dengan presisi sempurna, tak ada gerakan yang sia-sia.

Namun, beberapa saat kemudian, sesuatu terjadi.

"Sial! Berat sekali!"

Suara Sora terdengar frustasi.

Abirama menoleh dan melihat anaknya berusaha mengangkat batang kayu yang jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Normalnya, bahkan seorang pria dewasa pun akan kesulitan mengangkatnya tanpa alat bantu.

Tetapi sebelum Abirama sempat memperingatkannya, sesuatu yang aneh terjadi.

Sora menggertakkan giginya, wajahnya memerah karena usaha yang ia keluarkan. Otot-otot kecil di lengannya menegang. Lalu, dengan gerakan yang nyaris mustahil—

—Batang kayu itu terangkat dari tanah.

Udara di sekitar mereka terasa bergetar. Tanah di bawah kaki Sora sedikit retak karena tekanan dari pijakannya. Matanya membelalak saat ia menyadari bahwa kayu besar yang seharusnya tidak bisa ia angkat, kini berada di atas bahunya.

"A-Ayah...!"

Dalam kepanikan, Sora secara refleks melempar batang kayu itu.

—BOOM!

Kayu itu terlempar seperti proyektil, menghantam pohon besar di depannya dengan kekuatan yang luar biasa. Batang pohon tersebut bergetar keras sebelum—

—KRAAAKK!

Pohon itu patah di bagian tengahnya dan roboh ke tanah dengan suara yang menggema ke seluruh hutan.

Burung-burung beterbangan dengan panik dari cabang-cabang pepohonan lainnya. Keheningan yang sempat menyelimuti hutan berubah menjadi kekacauan sesaat sebelum akhirnya kembali sunyi.

Sora berdiri diam, kedua tangannya masih terangkat di udara, matanya membulat dalam keterkejutan yang luar biasa.

Abirama hanya menatap pemandangan itu dengan ekspresi tak terbaca.

"Sora."

Suara ayahnya begitu tenang, tapi mengandung ketegasan yang membuat anak itu menelan ludah.

"Apa yang kau rasakan sebelum mengangkat kayu tadi?"

Sora menunduk, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Aku... hanya merasa kesal karena kayunya terlalu berat, lalu... aku tidak tahu. Rasanya tubuhku menjadi panas, dan tiba-tiba kayu itu terasa ringan..."

Abirama menghela napas panjang.

Kekuatan tubuh yang luar biasa...

Kini semuanya jelas. Kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya akhirnya menunjukkan wujudnya untuk pertama kalinya.

Akan tetapi... Dalam beberapa saat, Abirama tertegun.

Ia menyadari satu hal... itu adalah kemampuan Klan Strein—kemampuan yang bertumpu pada tubuh dan fisik yang luar biasa.

Namun, sesegera, Abirama menyingkirkan hal-hal yang mengganggu pikirannya, sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Sora," kata Abirama perlahan. "Dengar baik-baik. Apa yang baru saja kau lakukan bukan sesuatu yang biasa. Tidak ada manusia yang bisa mengangkat kayu sebesar itu dengan mudah, apalagi seorang bocah seusiamu."

Sora menelan ludahnya. "Jadi... aku kuat?"

"Ya."

Jawaban itu sederhana, tetapi mengandung beban yang besar.

Abirama mengulurkan tangannya dan menepuk bahu anaknya. "Tapi kau harus mengendalikan kekuatanmu. Kekuatan yang tidak terkendali bisa melukai orang lain, termasuk orang-orang yang kau sayangi."

Sora menggigit bibirnya, lalu menatap kedua tangannya sendiri.

"Aku tidak ingin menyakiti siapa pun..." katanya lirih.

Abirama tersenyum kecil, lalu berjongkok agar sejajar dengan anaknya. "Dan karena itulah, kau harus belajar. Kekuatan yang besar bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi."

Abirama menoleh ke kanan dan ke kiri—memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, sebelum akhirnya meneruskan perkataanya. "Ayah akan mengajarimu cara mengendalikannya, tapi... tolong rahasiakan hal ini dari ibumu."

Sora mengangguk dengan tekad yang mulai tumbuh dalam dirinya.

"Baik, Ayah. Aku akan merahasiakannya!"

Abirama menatap anaknya lama sebelum akhirnya mengangguk.

"Kita lanjutkan mengumpulkan kayu," katanya akhirnya.

Mereka kembali bekerja, meskipun dalam benak Abirama, kekhawatiran semakin bertambah.

Seorang anak dengan kekuatan tubuh sebesar ini...

Jika dunia mengetahui keberadaannya...

Mereka tidak akan membiarkan Sora hidup dengan damai.

...----------------...

Ilustrasi figur Sora kecil.

1
Abu Yub
Lanjut thor, aku datang lagi.
Abu Yub
tiba tiba
Abu Yub
merengut
Big Man
Mksh supportnya /Determined//Determined/.. Siap2 kita upp ya
Ernest T
bagus .n mantap .
Ernest T
up sampai sliiiiiiii . Thor semangat
Big Man: siap2 kita upp boss.. /Determined//Determined/
total 1 replies
Big Man
seru kok kak.. namnya aja yg jepang kak.. tp story line nya sma kek pendekar2 timur lain.. hnya saja.. gda kultivator .. tp istilahnya berbeda
Big Man: niat blas chat.. mlah ke post di koment.. asem dah
total 1 replies
Ernest T
lnjutttt. kren
Big Man: terimakasih kak /Applaud/
total 1 replies
Desti Sania
belum terbiasa dengan scien jepang
Big Man: Mudah2n cocok ya.. menghibur.. story line nya hmpir sma kok kak sma pendekar2 timur lainnya.. cmn istilahnya aja yang beda dan gda kultivator di sini /Grin/
total 1 replies
Desti Sania
mungkin
Desti Sania
prolog nya dah keren thor,semoga isinya gak membosankan ya
Big Man: amiin.. thanks kak.. semoga menghibur ya
total 1 replies
Bocah kecil
Abirama bukan kaleng2 keknya.. pra pendekar aja tau dan bisa merasakan kekuatan abirama yang tidak biasa.. menarik.. /Kiss/
Aditia Febrian
Aseekkk... Gass lah.. Hajar mereka Abirama!!! /Determined//Determined/
Bocah kecil
Gass lanjoot...!!!
Aditia Febrian
Makin seruu... /Determined//Determined/
Abu Yub
Aku datang lagi thor/Ok/
Big Man: Mksh thor.. /Kiss/
total 1 replies
Abu Yub
sip
Bocah kecil
Ni bocil sumpahna, yang satu baperan, yang satu cuplas ceplos.. /Facepalm/
Aditia Febrian
Tahapan ujian menjadi pendekar sejati:
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?

Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/
Big Man: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Bocah kecil: Bner.. relate sbnrnya..
untuk menjadi org sukses ya slah satunya :
1. Disiplin
2. Kerja keras.
3. Terusin aja sendiri
/Tongue//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Aditia Febrian
Ngakak parah /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!