Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selaput Darah
Ritual macam apa ini?
Setahuku, di konten-konten yang pernah viral di medsos, ritual, penyembahan, memanggil setan atau apa lah itu namanya, belum ada yang sekeji ini.
Sesakit ini.
Apa mungkin karena aku tumbalnya?
Terus kenapa harus aku?
"Bisa diam gak? Kalau kamu gerak-gerak terus ini bakalan lama! Ngerti!" bentak Bahlil menghunuskan sebuah Kayu yang menyerupai buah pisang.
Sekuat tenaga aku masih berusaha menghindarinya, tampaknya si Bahlil bersikukuh menusuk keperawananku dengan bongkahan kayu itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh mereka, sebuah tamparan mendarat di wajahku.
...Plakkk Plakkk...
Tangan Ndaru bersarang di pipiku yang semula kedinginan kini menjadi hangat. Terpaksa aku harus diam, merelakan ketiga pria bejat ini menghancurkan semuanya.
"Darah!" kejut Ndaru. "Pa, dia berdarah. Basah banget!"
"Ini pelajaran buat kamu, Nak. Itu tandanya wanita ini masih perawan. Dan kamu tahu arti cairan lainnya?"
"Apa itu, Pa?" timpal Ndaru penasaran. "Dia ngompol, kan Pa?"
"Bukan, itu tandanya dia menikmati permainan ini, Nak!" jawab Bahlil sambil melemparkan senyum genit ke arahku. "Iya, kan?"
Kain merah tempatku terbaring basah berlumuran darah dan cairan yang entah dari mana, aku pun baru pertama kali merasakan seperti ini.
Perih, sakit, seperti saat pertama kali haid. Atau ini lebih sakit.
Tampak Ndaru mengumpulkan darah di sebuah cawan dan membersihkan tubuhku yang telah kotor dengan kain basah. Tapi darah terus mengalir dari sana. Dari sebuah tempat di tubuhku yang harusnya kujaga, dan hanya kupersembahkan untuk suamiku kelak.
Untukmu calon suamiku, maaf.
Aku benar-benar minta maaf, aku telah gagal menjaganya.
Cukup.
Tolong, jangan lakukan itu lagi kepadaku.
Benar-benar menyakitkan.
"Jangan nangis, dong cantik!" ucap Ndaru mencoba menenangkanku. "Habis ini, kita bersenang-senang!"
Dia pergi dengan membawa cawan yang berisi dengan darahku. Sedangkan Muis mulai melepas genggamannya. Aku sedikit bisa bergerak, tapi semakin aku bergerak rasanya semakin perih dan nyeri di pinggang bagian dalam.
Sungguh ini sangat tidak nyaman.
"Bersihkan dia, terus jadikan satu sama yang lain!" pinta Bahlil kepada Ndaru.
Yang lain?
Ada wanita lain yang menjadi tumbal?
"Siap, Pa! Tapi Ndaru mau main-main dulu sama dia bentar. Boleh, kan?"
"Kamu atur aja sendiri, tapi jangan lupa mandikan dia setelah semuanya selesai!" Katanya dengan nada menyerah. "Ingat, jangan buang di dalam!"
"Tenang aja, Pa." sahut Ndaru terkesiap.
Kini aku beralih dari lantai tempat aku dipersembahkan untuk ritual, menuju deretan sofa yang menempel di dinding. Dengan gaun putih yang masih berlumuran darah dan tanpa dalaman apa pun aku diseretnya, dipaksa untuk membungkuk dan memegang kepala sofa.
Setiap inchi tubuhku tidak ada yang luput dari jajahan tanganya yang kekar dan kapalan.
Muis beranjak meninggalkan kami. Pintu besar kembali tertutup setelah punggungnya menghilang. Cahaya dari luar sekilas berkilau, membuatku sadar kalau pagi ini di luar sedang benar-benar cerah. Secerah gairah Ndaru kepadaku.
Aku pernah dengar, kalau hasrat lelaki itu makin liar di pagi hari. Seperti kuda yang kelaparan. Dan benar, itu sungguh-sungguh terjadi kepadaku.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang mengejang, otot-ototnya yang mengeras dan gerakannya yang liar. Tapi tetap saja, apa pun yang dia perbuat kepadaku hanya akan membuatku membenci diriku sendiri.
"Cantik," pekiknya pelan. "Sekarang kamu yang di atas!"
Ndaru duduk di sofa dengan tangan telentang dan kaki terlempar ke depan. Tongkat bisbolnya yang berkedut-kedut dan mengacung keras membuatku sigap menutup mata.