Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Serangan di Malam Hari
Angin malam berhembus pelan, bikin daun-daun plastik di area taman buatan shelter bergoyang pelan. Di pojokan, Shinn Minkyu lagi duduk sambil ngelapin senjatanya yang baru, hasil upgrade dari sistem: “Nano-Launcher v2.5” lengkap dengan peluru plasma otomatis. Di sebelahnya, Yuki udah ketiduran sambil meluk boneka kelinci yang diberi nama “Tompel.”
“Duh, anak ini… ngoroknya lucu banget,” Minkyu bisik sambil senyum kecil.
Tiba-tiba, sistem muncul dalam bentuk panel hologram di depan wajah Minkyu.
[ALERT: GERAKAN ZOMBIE TERDETEKSI DI ZONA UTARA – JARAK 1,3 KM DARI SHELTER]
Minkyu langsung berdiri. “Hah? Seriusan? Malam-malam gini?”
Dia nyalain mode siaga satu. Semua lampu shelter berubah jadi merah redup, tanda waspada. Di pojok ruangan, Mia—ibunya Yuki—lagi nyiapin teh herbal, langsung naruh cangkirnya dan ikut berdiri.
“Kamu jaga Yuki, aku cek perimeter dulu,” kata Minkyu serius.
“Tunggu, aku ikut. Aku bisa bantu.”
Minkyu ngangguk, meski hatinya agak ragu. Mia emang mantan perawat, tapi sekarang dia udah jadi bagian penting dari shelter ini. Nggak mungkin ninggalin dia gitu aja.
Mereka keluar bareng, lewatin lorong-lorong dengan lampu otomatis yang nyala tiap langkah diambil. Di luar, langit gelap kayak arang, dan suara geraman samar mulai terdengar dari kejauhan.
“Suaranya makin deket,” kata Mia, sedikit merinding.
Minkyu ngeluarin drone kecil buat patroli otomatis. Dalam hitungan detik, drone-nya udah kirim gambar zombie mutasi—yang satu punya kepala dua, satunya lagi tubuhnya dilapisi semacam duri-duri keras kayak landak.
“Sial… ini bukan zombie biasa,” gumam Minkyu.
Sistem kembali muncul:
[MISSION UPDATE: SURVIVE THE NIGHT – BONUS HADIAH JIKA TIDAK ADA KORBAN SELAMA 6 JAM KEDEPAN]
“Oke, challenge accepted,” kata Minkyu sambil ngencengin sarung tangan tempurnya.
Di Ruang Komando Shelter
Yuki kebangun karena suara alarm yang pelan-pelan makin kenceng. Dia duduk dan mengucek mata, masih setengah ngantuk. “Minkyu…?”
Tapi dia sadar, suasananya beda. Buru-buru dia loncat dari kasurnya kecil dan lari ke ruang kontrol, tempat sistem dipasang.
“Mister Sistem! Apa yang terjadi?”
Sistem muncul dalam mode chibi dan ngomong pake suara imut:
“Zombie menyerang, tapi jangan khawatir. Ayah Shinn dan Mama kamu sedang melindungi kita.”
Yuki manggut, tapi tetap cemas. Dia ngambil boneka Tompel, lalu ngeluarin “Walkie-Walkie Mini” yang pernah dikasih Minkyu.
“Shinn! Shinn! Yuki takut…” katanya lirih.
Suara dari walkie langsung jawab, “Tenang, Princess. Kamu tetap di dalam, ya? Kita pasti amanin tempat ini.”
Yuki senyum dikit, lalu duduk di pojokan ruangan sambil peluk bonekanya erat-erat.
Di Zona Utara Shelter
Minkyu dan Mia udah sampai di gerbang otomatis yang jadi batas pertahanan utama. Di balik pagar besi transparan, zombie-zombie udah mulai terlihat. Mereka jalan pincang-pincang, tapi jumlahnya banyak banget. Beberapa malah kayak bisa lari. Ada yang matanya nyala merah dan liurnya netes-netes kayak air hujan bocor.
“Jangan sampe mereka nyentuh pagar. Kalau satu tembus, bisa bahaya,” kata Minkyu.
Mia ngeluarin senjata listrik portable yang dia rakit sendiri dari alat dapur. “Aku siap.”
Begitu zombie pertama nyentuh pagar, alarm darurat berbunyi.
[KONTAK PERTAMA TERDETEKSI – OTOMATIS MENYALAKAN MENARA TEMBAK]
Dari atas, dua senjata turret otomatis mulai nyembur peluru. Cahaya merah dan suara dentuman menggelegar di malam yang sunyi.
“Woooooo!! Akhirnya senjata ini kepake juga!” teriak Minkyu, semangat.
Mia di sampingnya nembakin zombie pakai alat buat ngagetin otak zombie, bikin beberapa dari mereka kejang dan roboh sendiri.
“Hebat kamu!” puji Minkyu sambil senyum.
“Kamu juga,” Mia jawab, pipinya agak merah.
30 Menit Kemudian
Pertempuran makin sengit. Salah satu zombie dengan tubuh baja berhasil dorong pagar sampe bengkok sedikit.
“Sial! Yang itu kuat banget!” Minkyu langsung loncat dan ngaktifin mode tempur jarak dekat.
Dia luncur pake sepatu jet mini, nendang kepala zombie itu dari samping. KRAKK!! Suara tulang retak keras banget.
Zombie itu jatuh, tapi langsung bangun lagi. Minkyu nggak menyerah. Dia dorong tombol di sarung tangannya.
[ACTIVATING: NANO-FIST V3 – OVERDRIVE MODE]
Tangannya berubah jadi seperti logam mengilat, dan dengan satu pukulan keras, zombie itu mental dan meledak pas nabrak dinding luar.
“BAM! Satu down!” kata Minkyu, ngos-ngosan.
Mia ngelap pelipisnya. “Kita nggak bisa terus kayak gini. Terlalu banyak.”
Tiba-tiba, sistem muncul lagi.
[AKTIFKAN MODE DEFENSIF ULTIMATE? – MENGGUNAKAN 30% ENERGI UTAMA]
Minkyu mikir sebentar. Kalau aktifin mode ini, shelter bakal mati lampu sementara.
“…Aktifin sekarang. Demi semua orang di sini.”
Shelter Redup, Tapi Aman
Semua lampu padam, tapi muncul semacam perisai transparan menyelubungi shelter dari atas. Zombie yang nyentuh langsung kesetrum dan jadi abu.
Yuki ngeliat dari jendela kecil di ruangannya. “Waaah… kayak pelangi besar ya.”
Sistem bilang, “Itu adalah pelindung darurat, hanya bisa dipakai sekali sehari.”
Yuki peluk bonekanya makin erat. “Terima kasih, Mister Sistem.”
Pagi Hari
Matahari muncul malu-malu dari balik awan abu-abu. Bau gosong dari zombie yang kebakar semalam masih tercium samar. Shinn Minkyu duduk di kursi luar sambil minum air kelapa instan dari kaleng.
Mia datang sambil bawa handuk kecil. “Kamu capek?”
“Nggak juga. Tapi pegel sih.”
Dia bersandar di bahu Mia sebentar, dan Mia nggak nolak.
“Tapi kita berhasil…”
Mia senyum. “Iya… kita berhasil.”
Di Dalam Shelter
Yuki lari nyamperin mereka sambil senyum lebar. “Minkyu! Mama! Kita menang ya?!”
Shinn tertawa pelan, “Iya, Princess. Kita menang.”
Dia angkat Yuki dan muter-muter pelan. Tawa mereka bertiga menggema pelan di pagi itu, setelah malam yang panjang dan penuh ketegangan.
Sistem muncul pelan-pelan di udara:
[SELAMAT – MISI BERHASIL – REWARD TELAH DIKIRIM KE PENYIMPANAN UTAMA]
mampir kak