NovelToon NovelToon
Summer With You

Summer With You

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Slice of Life
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Shea Olivia

Sinopsis:

Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.

“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.

Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.

Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”

Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.

Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.

🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Ponselnya masih berdering. Aku ragu apakah aku harus menjawabnya atau tidak. Aku sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselku. Dari Mister Kim. Hari ini hari minggu dan seharusnya aku tidak bekerja.

Kenapa atasannya menelepon? Tapi aku juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponku sampai laut mengering. Akhirnya aku menyerah dan meraih ponselku.

“Hha-hlo...” Salah satu alasanku malas menjawab telepon adalah karena tenggorokanku sedang sakit dan aku tidak bisa berbicara seperti biasa. Sekarang suaraku nyaris seperti bisikan angin.

Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking. “Astaga, Miss Lee. Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk Choi Daehyun, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali."

"Tidak ada yang sempat membawakan pakaiannya. Tolong ya? Antarkan ke rumahnya. Kau tahu alamat rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar, ya... Mister Cha... MISTER CHA! Di mana kutaruh alamat Choi Daehyun?"

"Tolong carikan untukku. Miss Lee, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim alamat Choi Daehyun lewat SMS begitu kutemukan nanti. Kau bisa mengambil pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss Lee, kau baik sekali. Bye-bye!”

Aku mendengar telepon ditutup di ujung sana. Aku sama sekali tidak punya kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, aku tidak akan bisa bicara banyak. Ia menarik napas perlahan-lahan dan menghembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin atasanku ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri.

Diktator, pikirku alam hati sambil melotot kepada ponselku. Sebaiknya kau menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja untukmu.

Kata-kata ini sudah sering ku ucapkan tapi aku belum pernah benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Walaupun Mister Kim orang yang aneh dan seenaknya, aku merasa bisa belajar banyak darinya.

Sejak kecil aku suka sekali dunia fashion. Jadi, walaupun jalan tidak selalu lancar, aku senang bisa bekerja dengan perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajariku banyak hal.

Aku meneguk teh panas lagi dan duduk meringkuk di tempat tidur. Hari memang sudah siang, tapi aku masih segan bangun dari sana. Pagi tadi begitu aku bangun, tenggorokanku terasa sakit dan suaraku mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan dan teriakanku kemarin di acara jumpa penggemar Choi Daehyun.

Kemarin aku memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang ku teriakkan, aku sendiri juga sudah lupa. Aku hanya terus menjerit untuk meramaikan suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!

Aku baru saja akan terlelap kembali ketika aku teringat perintah Mister Kim. Sambil mendecakkan lidah dengan kesal dan mengumpat-umpat dalam hati, ia bangun dan berganti pakaian.

Sekitar satu setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di depan pintu rumah Choi Daehyun yang berada di kawasan perumahan mewah. Aku hanya bisa terkagum-kagum dalam hati. Malam itu, ketika pertama kalinya datang ke sana, aku tidak begitu memerhatikan sekelilingnya.

Saat itu aku kan sedang frustasi. Sekarang aku baru bisa melihat jelas bentuk rumah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi itu. Aku membiarkan mataku berpesta sepuasnya.

Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas, dan banyak jendela kaca. Aku menyukai beranda di lantai dua. Aku mengangkat tangan untuk menaungi mata dari sinar matahari dan mendongak memerhatikan rumah itu dengan perasaan senang. Lalu aku mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.

Selanjutnya terdengar suara Choi Daehyun dari interkom. Aku ragu. Aku berdeham, walaupun tindakan itu tidak membantu sama sekali, memencet tombol interkom, dan menyebutkan namaku dengan suara serak.

“Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas,” suara Choi Daehyun terdengar lagi.

Aku mengulangi ucapanku sambil mengerutkan kening. Seharusnya Choi Daehyun bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini pasti dilengkapi kamera pengawas. Pasti. Kenapa laki-laki itu harus membuat tenggorokannya bertambah sakit?

“Aku masih tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Tapi, baiklah. Masuk saja, Sheryn.”

Aku memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Choi Daehyun sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintu. Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, aku melewati pagar besi yang terbuka secara otomatis, lalu mendorongnya sampai menutup dengan kakiku. Aku menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.

Choi Daehyun sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu mengenakan kaus longgar kelabu dan celana panjang hitam. Rambutnya agak berantakan karena tidak ditata. Aku menyadari Daehyun menatapku dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan laki-laki itu kembali ke wajahku.

“Ada apa denganmu? Mana yang sakit?” tanya Choi Daehyun tanpa basa-basi. Aku menunjuk leherku.

“Sudah minum obat?” tanya Choi Daehyun lagi. Aku tersenyum dan mengangguk.

Choi Daehyun memandangku, lalu bertanya, “Kenapa kemari?”

Aku mengacungkan pakaian-pakaian yang dibawanya. “Misther Kim... coba pakhaian...”

Choi Daehyun mengibaskan tangan. “Astaga... Aku tidak tahan mendengar suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk.”

Aku berusaha berbicara, tapi leherku terlalu menyiksa. Akhirnya aku menurut saja. Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Choi Daehyun dalam keadaan seperti ini. Tunggu saja sampai suaraku kembali seperti semula.

Di dalam rumah, aku melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang ditunjukkan Choi Daehyun. Bagian dalam rumah itu ditata rapi sekali. semua perabot dan hiasan di dalam rumah itu terkesan mewah.

Setelah meletakkan pakaian di sofa terdekat, aku mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan wanita setengah baya. Aku menduga mereka orangtua Choi Daehyun. Ada juga beberapa foto Choi Daehyun sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.

Begitu asyiknya aku mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari Choi Daehyun sudah berdiri di sampingku. "Kenapa tiba-tiba sakit tenggorokan? Kemarin bukannya biasa-biasa saja?” tanyanya.

“Kemarinh... jhumpa pengghemar... menjerith,” Aku berusaha menjelaskan terpatah-patah.

Choi Daehyun tertawa. “Ah, jadi karena kemarin kau ikut menjerit-jerit? Gadis bodoh. Minum ini,” katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat pekat.

Aku menerimanya dengan bimbang. “Tidak usah kuatir. Itu bukan obat bius. Minum saja dan sebentar lagi tenggorokanmu akan membaik.”

Aku menatap Choi Daehyun yang berjalan kembali ke dapur. Setelah dengan ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, aku kembali melihat-lihat sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada di sana ketika pertama kali datang ke rumah itu.

Aku mengelus permukaan piano tersebut dan membuka tutupnya. Aku memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi aku suka mendengarkan musik. Aku menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.

“Hei, jangan pegang-pegang sembarangan.”

Aku mengangkat kepala dan melihat Choi Daehyun berjalan menghampiriku. Aku melambai-lambaikan tangan menyuruh Choi Daehyun datang sambil menunjuk piano.

“Apa?” tanya Choi Daehyun bingung setelah berdiri di dekat piano.

“Mainhkhan,” Aku berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti sedang bermain piano.

“Kau mau aku main piano?”

Aku mengangguk dan menarik Choi Daehyun supaya duduk di kursi piano. Choi Daehyun duduk dengan enggan dan berkata, “Kau mau bayar berapa?”

“Appha?” tanyaku sambil menggerakkan dagu.

“Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?” Choi Daehyun mengulangi.

Aku mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.

“Ya, ya. Aku mengerti,” kata Choi Daehyun.

Suara dentingan piano yang lembut mulai terdengar. Aku berdiri di samping piano, menopangkan dagu di atasnya sambil melihat jemari tangan Choi Daehyun menari-nari di atas tuts piano. Ketika alunan nada yang dimainkan laki-laki itu akhirnya berhenti, aku bertepuk tangan.

“Bagus sekali!” kataku, lalu memegang leher.

“Eh, tenggorokanku sudah tidak terlalu sakit lagi.”

Choi Daehyun tersenyum. “Sudah kubilang obatnya manjur.”

“Mainkan satu lagu lagi,” pintaku. Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel. Aku merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselku. Raut wajahku berubah ketika melihat layar itu. Aku segera membuka flap ponsel dan berjalan menjauh dari Choi Daehyun agar laki-laki itu tidak mendengar pembicaraanku.

“Halo? Ada apa, Han Eunho ssi?” aku berbicara dengan nada rendah.

“Apa? Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh...”

“Telepon dari Hyun-Shik Hyung, ya?” seru Choi Daehyun keras.

Aku terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak ada gunanya, Han Eunho sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.

“Hae-jin, kau sedang bersama seseorang?” tanya Han Eunho dengan nada curiga.

Aku membelalak kepada Choi Daehyun yang memasang tampang polos tak berdosa, lalu berkata pelan, “Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?”

Aku menutup ponsel dan berkacak pinggang. Choi Daehyun sudah gila ya? Kalau memang Paman Park Hyun-Shik yang menelepon, Sandy kan tidak mungkin berbicara dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!

“Choi Daehyun, kau ini kenapa? Kau mau orang-orang tahu tentang kita?” tanyaku sambil menatap Daehyun yang bangkit dari piano. Choi Daehyun kelihatannya tidak peduli.

Ia hanya melewatiku dan berkata, “Aku ke kamarku sebentar.”

Aku memandangi sosok Choi Daehyun yang menaiki tangga dengan cepat, lalu menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh! Aku menggeleng dan kembali melihat-lihat rumah Choi Daehyun. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis.

Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ia sedang mengamati tongkat pemukul bisbol dengan perasaan heran ketika mendengar ponselnya berbunyi lagi.

Siapa lagi? Jangan-jangan Han Eunho lagi, kataku pada diri sendiri sambil melihat ke kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselku ku taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas piano.

Aku berlari ke arah piano dan langsung membuka flap ponsel. “Halo?”

“Halo? Siapa ini?” tanya suara wanita di ujung sana.

Aku mengerutkan dahi. Aku tidak mengenali suara wanita itu. Maka aku bertanya, “Ini Lee Hae-jin. Anda ingin mencari siapa?”

Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, “Bukankah ini ponsel Choi Daehyun?”

1
🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐
emang boleh sepanjang ini, rajin up kak
🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐
singkat, padat, "jadi pacarku" 😭
🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐
keren banget kak, tapi kakak kenapa?
🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐: kak, DM aku
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: kakak mau namatin semua karya yang kakak punya dengan cepat lalu berhenti dari nt
total 2 replies
Mazz Tama_Meii
mantap Thor cerita nya bagus
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: makasih
total 1 replies
💫⃝𝙕𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧
singkat padat gay 😭😭
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: hehe gapapa 😅
total 1 replies
💫⃝𝙕𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧
Aku mampir nih, semangattt /Determined//Determined/
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: wih thank you 😁
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅🟡Rivana84
smngttt thoorr /Determined//Determined/
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: makasih /Smile/
total 1 replies
Ƙҽƚυα♥︎᥊іᥱ﷽𝐀⃝🥀
done
🟡Xuan
Baru bab 2 aja udh di pop 6k + /Determined/ semangat thor/Determined//Determined//Determined/
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: udah, masih review
🟡Xuan: kenapa sekarang ndk update? /Sneer/ seharusnya rutin update, setidaknya 1 bab sehari /Determined/ Hadehh, aku ceramahin orang 🤣tapi aku aja ndk pernah konsisten 🤣
total 5 replies
🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐
gay 😭😭
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: hehe 😅
total 1 replies
ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊
bungkus permen juga? 😭 lengkap banget isinya
ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊: 😭ngakak
🌸⃝𝑯𝒂𝒆𝒘𝒐𝒏❀​᭄➼࿐: banget, mau masukin rumah kalau bisa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!