NovelToon NovelToon
BITE ME IF YOU CAN

BITE ME IF YOU CAN

Status: tamat
Genre:Perperangan / Vampir / Cinta Beda Dunia / Balas Dendam / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Mafia / Tamat
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Tyo Fuller, seorang detektif pembasmi kejahatan, tengah mencari siapa pembunuh orang tuanya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raise Lee, vampir wanita yang tengah menghisap darah seorang manusia.


Tak disangka, setelah tak sengaja menyentuh tatto di pundak Tyo, justru membuat Raise Lee kehilangan sebagian kemampuannya untuk menghisap darah manusia.


Mengetahui kelemahan sang Vampir, akhirnya Tyo Fuller mengajukan perjanjian kerja sama memanfaatkan kemampuan indra penciuman dan penglihatan sang vampir untuk membantunya menangkap para penjahat, sedangkan Tyo akan menyiapkan darah sebagai makanan bagi Raise Lee.

"Penciumanmu berguna juga! bantu aku menangkapnya!"

"Itu mudah bagiku! pastikan kudapanku tersedia setelah ini selesai, minimal satu liter darah!" tegas Raise Lee memperjelas syaratnya.

Mampukah kerjasama dua makhluk berbeda itu akan berjalan semestinya?

Bisakah Tyo Fuller menemukan pembunuh orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Para penyidik bekerja sama dengan tim forensik menelusuri keseluruhan wilayah itu, mencari dan menggali semua bukti-bukti.

Pagi hari berikutnya, tim penyidik dua tengah berkumpul di ruang rapat, dengan petugas Radh sebagai ketua, dihadiri oleh petugas cantik Claudy dan petugas tampan Torre keduanya berpangkat kopral.

Opsir Yui dan opsir Dakka datang sedikit terlambat karena harus mengambil laporan dari tim forensik, diikuti petugas Bin dan petugas Rams yang juga terlambat karena harus mengambil hasil otopsi dari dokter.

“Atho dan Tyo, biarkan mereka istirahat di rumah sakit, setidaknya biarkan mereka tidur seharian.” Salah satu sifat ketua Radh, yang selalu memperhatikan setiap detail kondisi anggota timnya.

“Ya, mereka bekerja keras sendirian semalam,” sahut petugas Claudy.

Ketua Radh membuka amplop besar yang tadi dibawa anggotanya. Sesaat membaca dan menganalisa keterangan yang tertera di sana. Wajah serius, kedua alis terpaut, bahkan dahi yang berkerut, menggambarkan betapa kusut tulisan yang ia baca. “Kamu yakin hanya ini hasil otopsi?!” tanyanya kemudian.

Empat petugas yang tadinya mengambil laporan itu, saling bertukar pandang, meski hanya sekilas, tapi masing-masing mereka telah membacanya terlebih dulu.

“Kami juga tak ingin mempercayai situasi ini, Ketua!” sahut petugas Rams.

“Bagaimana ini bisa ….” Ketua Radh tak mampu melanjutkan ucapannya.

Petugas Torre meraih beberapa lembar kertas yang berserakan di depan ketua Radh lalu membacanya. “Ini sedikit tak masuk akal, tapi melihat situasi di TKP semalam ….” Petugas Torre menggantung ucapannya, menghela napas sejenak, “Entah kenapa yang tertulis di sini bisa masuk akal.”

“Apa maksudmu?” sahut ketua Radh.

Petugas Torre kembali menghela napas, seketika situasi menegang, tanpa sadar mereka menahan napas, menunggu bagaimana rekan mereka akan menganalisa.

“Dari rekaman CCTV, tak ada jejak orang lain keluar dan masuk, melihat bekas luka aneh di leher para korban, memaksaku menyimpulkan bahwa pelakunya adalah detektif Tyo. Waktu aku tiba, aku melihat noda darah yang mengerikan di sebagian besar dada dan arela mulutnya.”

“Lalu?” sahut penasaran petugas Claudy.

“Jangan bodoh! Jika kita mencurigai petugas Tyo, pikirkan bagaimana cara dia melukai para korban dalam waktu singkat, sementara luka yang ditimbulkan itu seperti luka tergigit oleh hewan atau sesuatu yang bertaring.” Petugas Yui menimpali seraya menghidupkan laptopnya.

“Itu juga yang aku pikirkan, tapi tak ada petunjuk lain, sama sekali,” ucap petugas Torre lagi.

“Jangan mengada-ada! Pasti ada yang terlewatkan!” Ketua Radh menengahi.

“Tapi tak ada petunjuk apapun, dia sendiri tak mengingat apa yang terjadi. Ingatan petugas Tyo hanya sampai saat ia dipukuli saja. Siapa yang tahu kalau saat dia pingsan lalu ada sesuatu yang merasukinya.” Bisik petugas Torre seraya melihat ke kanan dan ke kiri, seakan tak ingin ada telinga lain yang mendengar.

“Sebaiknya kita lakukan interogasi saja dulu pada mereka yang disandera. Petugas Claudy dan petugas Bin, persiapkan mereka ke ruang interogasi!” perintah ketua Radh.

Para petugas menempatkan diri pada posisi masing-masing. Ketua Radh akan memimpin jalannya interogasi silang, agar tak ada yang berkesempatan saling menuduh atau bersaksi palsu.

“Berapa lama anda disekap di tempat itu?” ketua Radh memulai jalannya interogasi para korban.

Seorang wanita berambut sebahu di usia sekitar tiga puluhan yang duduk tepat dihadapan petugas Radh menghela napas lalu memberanikan diri untuk menjawab. “Entahlah, karena di sana selalu gelap, kami hanya hidup bergantung sebuah lampu kecil. Ruangan tanpa ventilasi, tidak ada jam tangan atau apapun yang bisa menunjukkan waktu, bagaimana kami bisa tahu berapa lama kami disekap?” ujarnya dengan suara masih gemetar membayangkan situasi dalam gedung itu.

“Aku rasa itu sekitar bulan tiga. Aku hanya ingat waktu itu harusnya aku pergi ke toko perhiasan untuk membelikan hadiah kecil untuk istriku, tapi entah kenapa aku justru bangun di tempat gelap dan pengap itu!” terang seorang pria di usia sekitar tiga puluhan dengan sorot mata yang jauh melampaui semesta, seakan geram dan marah menguasainya namun tak berdaya dan tak kuasa menahannya untuk bertindak.

Lalu seorang pemuda yang tampak kurang sehat, matanya cekung, dengan lingkar panda di sekitar matanya, menandakan pemuda itu tak pernah tidur dalam jangka waktu lama.

Dengan sangat ragu dan ekspresi canggung yang mendominasi, perlahan ia mulai membuka diri untuk bicara. “Sebenarnya … aku punya pasir waktu. Aku menyimpannya di sudut kanan ruangan itu, di bawah bangku. Aku juga menghitung jumlah pergantian waktunya, aku rasa itu 615 kali pergantian pasir. Ambil saja pasir itu, aku rasa kalian bisa menghitungnya dengan membandingkan dengan jam masa sekarang.”

“Hm, baiklah terimakasih, petugas Dakka bisakah kamu berhati-hati dan kembali kesana untuk mengambil bukti yang ia ceritakan tadi.

“Siap!” Tanpa menunda, petugas Dakka segera melakukan tugasnya.

Ketua Radh melanjutkan interogasi, “Maafkan kami harus menanyakan ini, tapi bisakah kalian menceritakan apa saja yang mereka lakukan saat kalian disekap?”

Seorang wanita berusia mendekati tiga puluhan, terisak dalam tangis, dengan suaranya yang gemetar mendesis penuh emosional akhirnya ia pun berani berbicara, “Secara berkala seseorang akan datang dengan suntikan panjang. Mereka akan menyuruh kami meminum sesuatu, rasanya hambar, tapi baunya wangi seperti wewangian bunga. Lalu mereka akan mengambil darah kami secara brutal, hingga kami selalu mengalami anemia setelah itu,” kenangnya pilu.

“Benar! Meskipun setelah itu mereka memberikan makanan sehat dan vitamin, tapi aku tidak ingin lagi mengalami hal itu! Mereka harus dihukum seberat mungkin!” Penuh emosional wanita lainnya yang juga jadi korban menimpali pernyataan wanita sebelumnya.

“Tapi sebelum itu, mereka juga menyuruh kami mandi bersih, dan mengganti dengan pakaian yang bersih.” Pria muda berusia pertengahan tiga puluhan pun menyahut.

“Tak adakah yang tahu, darah itu akan mereka gunakan untuk apa?” ucap ketua Radh.

“Aku rasa mereka tak mungkin mengirimkannya ke PMI atau medis lainnya. Cara pengambilan sudah sangat salah,” sahut petugas Bins.

“Mereka itu datang tanpa bicara yang berarti satu sama lain, tapi aku pernah samar-samar mendengar mereka menyebut-nyebut kata Anggrek. Aku tidak begitu ingat percakapan detail mereka, aku hanya ingat salah satu diantara mereka bicara seperti ini ‘Jangan terlalu asik di sini, Anggrek sudah sangat lapar, dia harus segera diberi makan!”

“Anggrek?” sahut petugas Bins.

“Ya, aku juga ingat mereka bicara seperti itu, meski aku tak tahu mereka sedang membicarakan darah yang mereka ambil dari kami atau ada hal lain yang dipikiran mereka.”

“Yang lebih aneh karena bukankah Anggrek itu bunga? Sejak kapan Anggrek butuh makan?” imbuh korban yang lainnya.

Bagus! Penyelidikan mulai menemukan satu persatu bukti. Meski semua yang mereka temukan hanyalah bukti tak langsung.

“Bisakah kalian menceritakan ciri fisik mereka?” pinta petugas Claudy.

Para korban saling pandang, hingga salah satu wanita yang berambut pirang panjang berani angkat bicara, "Itu ...."

...****************...

Tp be continue....

1
༄𝚂𝙽⍟𝕬𝖗𝖓𝖊𝖙𝖆 🥑⃟
lupa aluur,yng mak inget cm gadis vampire nya doank ini nm nya lupaaaaa😭😭😭
Soraya
luar biasa thor. terimakasih telah membuat cerita yg menyuguhkan pengalaman fiktif yang luar biasa. ending yang memuaskan.
yosh—: terimakasih kk Soraya, 😁
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
luar biasa
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
yeeeaaahhh....
akhirnya tamat juga.
selamat ya Thor.
maaf baru bisa ngikutin.
beberapa hari pull terus.
tetap semangat, sukses juga di karya-karya berikutnya
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: Aamiin
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Siap,ditunggu karya barunya 😁
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Nah gitu dong 🤭
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
yah, padahal berharap tyo bisa sm raise lee, 🤗
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
cerita paling teranuuu pokoknya...sukses terus buat authornya...🤗 bingung lah mau kasih emot apaan 🤭
yosh—: terimakasih author Mentari Senja. sukses juga buat anda😁😁👏👏👏
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Petugas Tho apa Atho 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
#Ayo semangaaat lagi 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ketahuan kau Kalkon 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bahkan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tyo kah 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mimpi 😛
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tadi katanya ga butuh pengacara🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yang panik
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
hanya ada
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sejenak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!