"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyamar
Mobil Azra melaju membelah jalanan Kota Bandung yang mulai dipadati kendaraan pagi itu. Andara duduk di kursi penumpang sambil memeluk ranselnya.
Di dalam tas itu tersimpan gamis hitam longgar, khimar besar, dan cadar hitam yang sengaja ia siapkan.
Hari ini, ia sudah memutuskan. Kalau para pelaku memang menyadari dirinya sedang mencari tau, maka ia harus mengubah penampilannya.
Ia tak boleh dikenali lagi. Pikirannya kembali melayang pada wajah Riri. Gadis kecil penjual bunga yang selalu menyapanya dengan senyum ceria. Riri pernah menyelamatkan dirinya.
Kalau bukan karena Riri waktu itu, mungkin Andara sudah tertabrak kendaraan. Maka kali ini, Andara ingin membalasnya. Walaupun mungkin sudah terlambat.
Setidaknya, jangan sampai ada anak lain yang bernasib sama.
"Dara." Suara Azra membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
"Kamu ngelamun dari tadi."
"Nggak kok."
Azra melirik sekilas ke arah adiknya.
"Tumben hari ini Kak Azra yang nganter aku kuliah?" Andara menyipitkan mata. "Dapet ilham dari mana?"
Azra mendengus pelan. "Ck. Kakak cuma mau berbuat baik. Salah?"
Andara langsung terkekeh. "Halah. Pasti ada alasan tersembunyi. Aku tau itu."
Azra ikut tertawa kecil. Memang benar. Hari ini ia sekalian ingin menemui seseorang untuk urusan pekerjaan. Namun tentu saja ia tidak akan menceritakannya kepada Andara.
"Udah deh. Bawel banget."
"Iya... iya." Andara menyandarkan kepalanya ke jok. "Jemput sekalian bisa kaleee."
"Oh, sungguh tidak bisa. Kakak harus ke kantor."
Andara memutar bola matanya. "Cih. Pelit."
Azra hanya terkekeh.
Beberapa saat kemudian, Azra kembali membuka percakapan.
"Eh. Besok kan Kak Kafa ulang tahun. Kamu ngasih kado apa?"
Andara langsung tersenyum jahil. "Diri aku sendiri."
Azra spontan menoleh. "Lah?"
"Kenapa?"
"Kenapa kamu?"
Andara mengangkat bahu santai. "Ya... Aku kan Kafa's future wife."
Azra menepuk dahinya pelan. "Cegil dasar."
Andara langsung mengangkat telunjuknya. "Sssttt... Kalau nggak bisa berjuang mending diam."
Azra hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil. "Kasihan banget Kak Kafa. Setiap hari diteror sama kamu."
"Bukan diteror."
Andara mengoreksi dengan wajah serius. "Itu namanya perjuangan. Kalau aku nyerah nanti gimana kalau ternyata dia memang jodohku?"
Azra menghela napas pasrah. "Susah emang kalau ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta itu."
Andara tersenyum lebar. "Tuh kan. Berarti Kak Azra dukung."
"Mimpi."
"Hahaha."
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan gerbang kampus.
"Oke. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Hati-hati, Kak."
"Iya."
Andara turun sambil menggendong ranselnya. Ia melambaikan tangan kepada Azra sebelum berjalan memasuki area kampus.
Namun berbeda dengan biasanya, hari itu pikirannya bukan tentang kuliah. Bukan pula tentang hadiah ulang tahun Kafa. Melainkan tentang rencana yang sudah ia susun sejak semalam.
"Pulang kuliah nanti, Aku akan menyamar. Kalau memang mereka sedang mengawasi aku... kali ini mereka tidak akan mengenaliku."
***
Andara sebenarnya datang ke kampus pagi ini dengan suasana hati yang sangat baik. Bahkan sejak bangun tidur, ia terus membayangkan scrapbook yang semalam ia buat untuk ulang tahun Kafa. Sesekali ia tersenyum sendiri mengingat tulisan di halaman pertama.
"Happy Birthday, My Future Husband."
Namun... semua semangat itu perlahan menghilang ketika mengingat jadwal kuliah hari ini. Kelas Bu Giska.
Andara mengembuskan napas pelan.
"Kenapa harus hari ini, sih..." gumamnya dalam hati.
Ia tau bahwa Bu Giska dan Kafa tidak memiliki hubungan apa pun. Mereka hanya teman. Bahkan mungkin hanya sebatas rekan kerja.
Tetapi tetap saja hatinya menolak menerima kenyataan bahwa ada perempuan lain yang terlihat akrab dengan Kafa.
Akibatnya, sepanjang perkuliahan berlangsung, Andara jauh lebih pendiam dari biasanya. Ia tetap menjawab pertanyaan dosen saat diminta.
Tetap mencatat materi. Tetap memperhatikan penjelasan. Namun tidak seaktif biasanya. Hal itu tentu tidak luput dari perhatian Giska. Beberapa kali dosen muda itu melirik ke arah Andara.
"Tumben..." pikirnya. "Biasanya anak ini paling semangat berpendapat. Hari ini malah diam terus."
Bel tanda berakhirnya perkuliahan akhirnya berbunyi. Mahasiswa mulai membereskan buku masing-masing.
Andara menjadi orang pertama yang berdiri. Ia segera memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya.
"Gue balik duluan."
"Tunggu, Dar." Azlan menahan langkahnya. "Lo nggak nekat, kan?"
Andara langsung mengibaskan tangan. "Nggak elah. Santai."
"Lo pulang naik apa?"
"Gue dijemput supir."
Azlan mengangguk pelan, meski masih tampak ragu.
"Dar, lo buru-buru banget?" tanya Zuleykha.
"Iya. Mau nyiapin kado buat Kak Kafa. Udah ya. Bye!"
Andara melambaikan tangan sambil berlari kecil meninggalkan kelas. Padahal ia sama sekali tidak dijemput.
Rencananya, ia akan memesan taksi daring, lalu berganti pakaian di tempat yang sudah ia tentukan sebelum mulai menyelidiki lagi.
Ia tidak ingin Azlan tau. Kalau tidak... sahabatnya itu pasti akan melarangnya lagi.
Baru beberapa langkah keluar dari gedung fakultas, sebuah suara memanggilnya.
"Andara!"
Langkah Andara terhenti. Ia menoleh ke belakang. Ternyata Bu Giska sedang berjalan cepat menghampirinya.
"Bu Giska?"
Andara menunggu hingga dosennya berdiri tepat di hadapannya.
Giska tersenyum ramah. "Kamu buru-buru?"
"Iya, Bu. Ada sedikit urusan."
Giska mengangguk pelan. "Tadi di kelas kamu kelihatan nggak seperti biasanya."
Andara tersenyum tipis. "Oh ya?"
"Iya. Biasanya kamu paling semangat diskusi. Hari ini kamu lebih banyak diam. Semoga nggak ada masalah ya."
Andara menggaruk pelan pipinya. "Hehe... nggak kok, Bu. Mungkin lagi capek aja."
Giska menatap Andara beberapa saat. Ia merasa jawaban itu bukan jawaban yang sebenarnya. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
"Kamu marah sama saya?"
Andara mengernyit bingung. "Marah? Marah kenapa ya, Bu?"
Giska menarik napas pelan. "Mungkin, karena waktu itu kamu melihat saya bersama Kafa."
Tatapan Andara berubah datar. "Bukan urusan saya juga, Bu."
Jawabannya terdengar tenang.nNamun justru itu membuat Giska semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.
Dengan hati-hati, ia kembali bertanya. "Kamu menyukai Kafa?"
Andara terdiam sejenak. Lalu menatap lurus ke arah dosennya.
"Kalau iya, kenapa? Apa urusannya sama Bu Giska?"
Andara mengembuskan napas pelan. "Atau... Ibu juga menyukai Kak Kafa?"
Mata Giska sedikit membesar. "Bukan begitu, Andara. Saya cuma—"
"Maaf, Bu." Andara memotong dengan sopan. "Saya benar-benar buru-buru. Assalamu'alaikum."
Tanpa menunggu jawaban, Andara segera membalikkan badan dan berjalan pergi. Langkahnya cepat. Semakin lama semakin menjauh.
Giska hanya bisa memandangi punggung mahasiswinya itu. "Wa'alaikumussalam..." jawabnya lirih.
Setelah sosok Andara benar-benar menghilang dari pandangan, Giska menundukkan kepalanya pelan.
Senyum tipis yang sejak tadi ia pertahankan perlahan memudar.
"Iya, Andara. Saya menyukai Kafa." gumamnya pelan.
Ia menatap kosong ke arah halaman kampus.
"Entah sejak kapan. Mungkin sejak pertama kali kami mengerjakan proyek bersama. Tapi..." Giska tersenyum pahit. "Saya juga sadar. Di mata Kafa, saya mungkin hanya teman."
Dan yang lebih membuatnya bingung bukanlah perasaannya sendiri. Melainkan sorot mata Andara beberapa saat yang lalu.
Tatapan itu... bukan tatapan seorang adik kepada kakaknya. Melainkan tatapan seorang perempuan yang sedang mempertahankan laki-laki yang ia cintai.
***
Andara akhirnya tiba di tempat yang beberapa hari terakhir selalu ia datangi.
Tak jauh dari stasiun. Tempat Raju, bocah penjual tisu dan cangcimen, biasa berjualan sepulang sekolah. Raju memang setiap hari membantu kedua orang tuanya mencari nafkah.
Begitu selesai berganti seragam sekolah, ia akan membawa tas dagangannya lalu berdiri di antara keramaian pejalan kaki.
Andara mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah... masih ada."
Melihat Raju masih berada di tempatnya membuatnya sedikit tenang. Tanpa membuang waktu, Andara segera menuju toilet umum yang letaknya tak jauh dari halte. Sesampainya di dalam toilet, ia mengunci pintu lalu membuka ranselnya.
Di dalamnya sudah tersimpan gamis hitam longgar, khimar besar, dan cadar hitam.
Sambil berganti pakaian, mulutnya terus mengomel sendiri. "Ck... Kenapa sih Abi nggak pernah ngizinin aku bawa motor atau mobil sendiri. Selalu aja diantar-jemput. Kalau nggak ada kendaraan kan jadinya susah begini."
Ia memasukkan blouse, jumpsuit, dan kerudung yang dipakainya tadi ke dalam tas.
"Untung aja aku punya sahabat kayak Azlan. Dia paling bisa diandelin. Jadi aku diam-diam belajar nyetir mobil sama naik motor sama dia."
Tak lama kemudian, penyamarannya selesai. Kini tak ada lagi sosok mahasiswi ceria bernama Andara. Yang terlihat hanyalah seorang perempuan bercadar hitam dengan pakaian longgar.
Andara menatap dirinya di cermin. "Hmm... Semoga nggak ada yang kenal."
Ia kembali menggendong tas ranselnya. Tas hadiah dari Kafa yang selalu ia bawa ke mana pun. Setelah memastikan semuanya rapi, Andara keluar dari toilet.
Syukurlah... Raju masih berjualan.
Andara menghampiri bocah itu sambil mengubah sedikit intonasi suaranya.
"De, beli kacangnya satu."
Raju mengambil satu bungkus kacang. "Iya, Kak."
Namun, saat menyerahkan bungkus kacang itu, ia mengerutkan dahinya.
"Aku kayak kenal suara Kakak deh."
Andara langsung mengangkat telunjuknya ke depan cadarnya. "Ssttt... Jangan kenceng-kenceng."
Mata Raju langsung membulat. "Kak Andara, ya?"
Andara terkekeh pelan. "Iya. Tapi anggap aja kita nggak saling kenal. Kamu jualan aja seperti biasa."
"Iya, Kak." Raju mengangguk patuh.
Setelah membayar, Andara berjalan menuju halte yang berada tepat di seberang jalan. Ia duduk di bangku besi yang mulai berkarat.
Sengaja ia membeli sebuah koran bekas dari pedagang asongan agar penyamarannya terlihat lebih alami. Sesekali ia membuka lembaran koran itu. Terkadang memakan kacang. Sesekali melirik ke arah Raju.
Semuanya tampak biasa. Orang-orang berlalu-lalang.nBus datang dan pergi. Pedagang kaki lima sibuk menawarkan dagangannya.
Namun... 20 menit kemudian, perhatian Andara teralihkan.
Di seberang jalan, terparkir sebuah mobil SUV berwarna hitam.
Mobil itu sudah cukup lama berada di sana. Mesinnya tampak masih menyala. Kaca mobilnya gelap. Tak seorang pun turun.
Andara menurunkan sedikit koran yang menutupi wajahnya. "Mobil itu.... Kenapa dari tadi nggak pergi?"
Ia memperhatikan lebih saksama. Beberapa saat kemudian, pintu pengemudi terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan pakaian serba hitam turun dari mobil. Pria itu tidak langsung berjalan. Ia hanya berdiri di samping mobil.
Tatapannya mengarah ke kerumunan pejalan kaki. Lalu perlahan berhenti tepat ke arah Raju yang sedang menawarkan tisu kepada orang-orang yang lewat. Jantung Andara mendadak berdetak lebih cepat. Tangannya refleks meremas koran yang sedang dipegangnya.
"Jangan-jangan... Apa dia sedang mengincar Raju?"
Andara masih terus memantau laki-laki itu dari balik koran yang dipegangnya. Tatapannya tidak pernah lepas.
Beberapa detik kemudian, laki-laki berpakaian rapi itu kembali masuk ke dalam mobil hitam.
Tak lama berselang, pintu belakang mobil terbuka. Keluar seorang pria lain. Penampilannya sangat berbeda. Kaos hitam kusut. Celana jeans robek di beberapa bagian. Sebuah rantai menggantung di sisi celananya. Rambutnya acak-acakan. Sekilas tampak seperti preman jalanan.
Pria itu berjalan santai menghampiri Raju. Mereka berbincang beberapa saat. Andara tidak dapat mendengar isi percakapan mereka karena jaraknya cukup jauh. Namun yang membuatnya heran, Raju tampak mengangguk. Lalu mengikuti pria itu tanpa rasa curiga.
"Kenapa dia mau ikut?" gumam Andara pelan.
Tanpa berpikir panjang, Andara berdiri. Ia mengikuti keduanya dari kejauhan. Berusaha agar langkahnya tidak mencurigakan.
Beberapa meter kemudian, laki-laki itu berhenti. Raju terlihat menunjuk ke arah sebuah gang kecil sambil masih membawa tas berisi tisu dan cangcimennya.
Andara mempercepat langkahnya sedikit. Saat itulah...
"Andara."
Jantung Andara serasa berhenti. Ia spontan menoleh.
"Kak Kafa?" Matanya membulat lebar.
"Ya Allah...Kenapa Kak Kafa ada di sini? Kok dia tau ini aku? Aduh... gimana dong? Aku jadi nggak fokus mantau Raju!"
Tatapan Andara bergantian antara Kafa dan Raju yang mulai berjalan lagi.
"Maaf anda salah orang." Ia mencoba mengelak.
Kafa justru menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu mau bohongin kakak? Kamu pikir kakak nggak kenal kamu? Apa yang kamu lakukan, Andara? Mau bikin ulah apa lagi?"
Andara mendesah pelan. "Huft... Kenapa sih Kakak bisa tau kalau ini aku?"
Kafa mengangkat sebelah alisnya. "Kamu lupa? Tas yang kamu pakai."
Andara langsung menepuk dahinya. "Ya Allah... Pantes aja."
Tas ransel itu... Hadiah dari Kafa. Mana mungkin laki-laki itu tidak mengenalinya.
"Kak. Bisa minggir dulu nggak sih?"
Tubuh Kafa yang tinggi dan bidang justru menutupi pandangannya.
"Kamu lihat apa, sih?"
"Kakak kenapa bisa di sini sih?" tanya Andara tanpa mengalihkan pandangan dari arah Raju.
"Kakak ada urusan."
"Habis beli—" Ucapan Kafa terpotong.
"RAJU!!" Teriakan Andara membuat Kafa refleks menoleh.
Dilihatnya Raju tiba-tiba ditarik masuk ke arah mobil hitam itu oleh pria berpenampilan preman tadi.
Bocah itu tampak kebingungan.
"Kak! Mobil Kakak di mana?"
Kafa menunjuk ke arah parkiran. "Di sana."
"Ayo!" Tanpa menunggu persetujuan, Andara mearik tangan Kafa dan menariknya berlari menuju mobil.
"Andara! Sebenarnya ada apa?"
"Mana kunci mobil Kakak?"
"Buat apa?"
Andara menoleh dengan napas memburu. "Ck, aku nggak punya banyak waktu. Aku jelasin nanti. Sekarang kunci mobil Kakak mana?"
Melihat wajah Andara yang sangat serius, Kafa tidak lagi membantah. Ia segera merogoh saku celananya. Sebuah remote kunci mobil berpindah ke tangan Andara.
"Kakak naik. Aku yang nyetir."
Kafa langsung membelalakkan mata. "Hah?"
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰