Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang telah Hilang
Luna menatap dingin Raka saat pria itu menghimpitnya di antara dinding. Membiarkan pria itu mengecup lehernya. Namun Luna sama sekali tidak merasakan apa pun. Semua rasa cinta yang pernah ia berikan pada Raka hilang sudah.
"Ayo kita coba lagi?" bisik Ares.
"Di sini?" tanya Luna datar.
"Ini ruangan private. Tidak ada yang ganggu kita. Aku sudah menyuruh orang untuk melarang siapapun datang ke mari."
Luna menatap Raka dingin. "Aku sedang datang bulan."
Raka berhenti seketika lalu mengumpat di dalam hati. Padahal miliknya nyaris berdiri sempurna. Raka lantas menarik wajahnya, menatap Luna dengan tatapan kesal. "Jangan bercanda, Luna."
"Aku tidak bercanda. Setiap bulan datang bulanku memang di tanggal ini."
Raka mengumpat kesal lalu mundur beberapa langkah, memberikan jarak dengan Luna. Sementara Luna menoleh ke arah lain. Sejujurnya dirinya tidak sedang datang bulan. Itu hanya alasan, tetapi seperti dugaannya, Raka akan percaya. Lagipula sang suami juga tidak se perhatian itu sampai mengingat tanggal datang bulannya.
Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar tarik napas Raka yang tidak beraturan. Dari ekspresinya Raka terlihat sangat kesal.
Luna peduli? Jelas tidak.
Ia justru senang melihat Raka terlihat tersiksa.
Drrrrt …
Ponsel Raka berdering, memecah kesunyian di ruangan itu. Dengan segera Raka menerima panggilan yang ternyata dari Vanessa. Raka menatap sekilas Luna, ia sempat ragu untuk menerima pangilan dari Vanessa di depan sang istri. Namun jika tidak segera menerima panggilan itu, Vanessa pasti akan terus menghubunginya.
Pada akhirnya Raka menerima panggilan dari Vanessa, tetapi sedikit menjauh dari Luna.
"Halo, sayang."
"Ada apa? Aku sudah bilang jangan telepon malam ini." Raka bicara sambil berbisik.
"Aku ingat. Tapi Ciara tidak mau dengar. Dia menangis ingin terus."
"Ck, apa kamu tidak bisa menenangkannya?"
"Kalau bisa … aku tidak akan menghubungimu."
"Ck. Oke aku ke sana."
"Baiklah, aku tunggu."
Setelah itu Raka buru-buru menutup telepon, takut Luna akan curiga. Ia lantas berbalik menatap Luna dengan rasa gugup yang ia coba sembunyikan.
"Ehmm. Luna …." Raka menatap ragu pada Luna.
"Ada apa?" tanya Luna datar.
"Aku ada urusan mendadak," jawab Raka. "Aku akan mengantarmu lebih dulu. Tidak apa-apa, kan?"
Luna menggeleng tanpa melihat ke arah Raka. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
Luna lalu melihat ke arah Raka. "Kamu pergi saja."
"Kamu tidak apa?" tanya Raka memastikan.
"Tidak masalah. Ini juga bukan hal baru lagi," jawab Luna.
"Luna … aku benar-benar minta maaf."
"Bukan masalah," balas Luna. "Pergilah. Nanti kamu bisa terlambat."
Raka mengangguk, lalu berjalan ke arah Luna. Laki-laki itu membungkuk, memberikan kecupan di kening Luna. "Aku pergi dulu."
Tanpa bicara apa pun lagi, Raka pergi meninggalkan Luna sendiri. Setelah Raka sudah benar pergi, Luna juga keluar dari ruangan itu. Ia lebih dulu memastikan jika Raka sudah menjauh.
Saat baru sampai pintu keluar, Luna melihat mobil Raka baru saja akan meninggalkan area restoran. Luna segera pergi menuju tempat parkir taksi yang ada di dekat tempat itu.
"Pak, tolong ikuti mobil itu." Luna menunjuk mobil Raka yang sudah melaju meninggalkan restoran.
"Baik, Nyonya."
Luna segera masuk ke dalam taksi dan duduk di bangku penumpang belakang.
Taksi itu mulai melaju, mengikuti mobil Raka dalam jarak aman.
Sepanjang perjalanan, Luna terus menatap mobil Raka. Sengaja mengikuti lantaran ingin tahu ke mana sang suami pergi. Jika dugaannya benar, Raka akan pergi menemui Vanessa. Jika benar terjadi, Luna ingin menyelesaikan semuanya pada detik itu juga.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam, taksi yang Luna naiki masuk ke dalam komplek perumahan mewah. Penjaga gerbang sempat mencegahnya. Namun saat menunjukan foto dirinya dan Vanessa, penjaga gerbang langsung mengizinkan dirinya masuk bahkan memberikan alamat tempat tinggal Vanessa.
Luna sempat berputar mencari mobil Raka. Ia sempat kehilangan jejaknya. Namun Tuhan seolah menuntunnya, mobil Raka terlihat terpakir teras sebuah rumah yang sangat mewah.
Luna segera turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi.
Turun dari taksi, angin malam menyambutnya, membawa aroma tanah yang basah dan wangi bunga yang ada di sekitar komplek. Kening Luna mengernyit, menatap sekilas rumah mewah di hadapannya. Ia mengambil ponselnya lalu memotret rumah mewah di depannya dan mengirim gambar itu ke Bara.
"Apa ini rumah yang mama Imelda tinggalkan untukku, yang Papa ceritakan waktu itu?"
Luna mengirim pesan itu kepada Bara. Tidak butuh waktu lama, Bara mengirim pesan balas.
"Ya."
Satu kata itu sudah bisa membuat Luna merasa yakin, sebenarnya Raka tidak menggadaikan rumah itu, tetapi memberikannya kepada Vanessa.
"Kamu tunggu saja, Mas. Kali ini aku benar-benar tidak akan memaafkan dirimu."
Tanpa berpikir panjang, Luna melangkah masuk ke dalam rumah itu. Ia sudah bersiap diri menerima kenyataan pahit yang akan ia lihat nanti.
TOK … TOK … TOK
"Ya."
Luna mampu mendengar suara Vanessa.
Tidak berselang lama, pintu terbuka dari dalam.
"Siapa …." Ucapan Vanessa terhenti saat pandangannya bertemu dengan Luna.
"Hai," sapa Luna, mencoba bersikap biasa saja.
"Luna … kamu —"
"Surprise!" ucap Luna dingin.
"Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?"
Bukannya menjawab Luna justru bicara hal lain.
"Jadi … ini rumahmu?" tanya Luna. "Besar sekali," ucap Luna sarkas.
"Boleh aku masuk?"tanya Luna.
Namun sebelum Vanessa menjawab, suara seseorang lebih dulu terdengar.
"Sayang … siapa yang datang?"
Tanpa melihatnya secara langsung, Luna tahu siapa pemilik suara itu. Tatapan Luna mengarah Vanessa. Tatapan itu sangat berbeda, membuat Vanessa mulai panik.
"Sayang." Raka memanggil lagi.
Vanessa kelabakan, ia masuk ke dalam rumah, ingin mencegah Raka untuk keluar. Namun semuanya sudah terlambat. Raka datang dengan menggendong putri mereka.
"Sayang …." Ucapan Raka berhenti seketika saat tatapannya bertemu dengan Luna. "Luna … kamu …."
"Hai," sapa Luna seolah tidak terjadi apa pun membuat Raka dan Vanessa panik. " Kenapa wajah kalian? Apa aku terlalu mengejutkan kalian?"
"Luna … de—"
Luna menunjukkan telapak tangannya yang terbuka, mengisyaratkan pada Raka untuk berhenti.
"Apa kalian tidak menyuruhku untuk masuk?" tanya Luna.
Tak kunjung mendapatkan respon, Luna bertindak di luar dugaan Raka maupun Vanessa.
"Aku rasa … aku tidak perlu izin kalian untuk masuk ke dalam rumah ini." Ekspresi dan nada suara Luna berubah dingin. "Karena ini rumahku, bukan?"
Luna masuk ke dalam rumah itu, melewati Vanessa dan Raka begitu saja. "Rumah yang sangat besar."
Luna berbalik lalu duduk di sofa dengan santai dengan kaki yang bersilang. "Anak kalian?"
Luna menunjuk Ciara dengan dagunya. "Mirip sama kamu, Mas?"
Merasa akan ada sesuatu yang terjadi, Vanessa memanggil pengasuh Ciara. Tidak berselang lama, seorang wanita muda datang.
"Iya, Nyonya."
"Bawa Ciara ke kamar! Jangan keluar sampai aku menyuruhmu."
"Baik, Nyonya." Wanita itu lantas membawa Ciara pergi dari ruangan itu.
Kini hanya tersisa, Luna, Raka, dan juga Vanessa. Suasana kembali hening, namun ketegangan terasa begitu nyata.
Luna sendiri memilih untuk duduk dengan santai, kaki bersilang dan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya begitu dingin seolah mampu membekukan ruangan.
"Kenapa kalian diam? Tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur