"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Otoritas Sang Duda
***
Freya menarik napas panjang berulang kali didepan cermin wastafel kamar mandi lantai bawah. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menghilangkan jejak kemerahan di sekitar rahangnya akibat cengkraman kasar Galen beberapa menit lalu.
Menggunakan sedikit bedak tipis, ia menyamarkan bekas jemari kokoh itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sebagai gadis remaja yang kini menginjak usia tujuh belas tahun, Freya sudah terlatih untuk memakai topeng keteguhan.
Ia tahu betul, jika ia mengadu atau menangis didepan Baskoro dan Kirana, badai emosi yang jauh lebih besar dari Galen akan kembali menghantamnya saat orang tua pria itu sedang tidak ada di rumah.
Setelah memastikan raut wajahnya tampak normal dan tenang seolah tidak terjadi apa-apa, Freya melangkah anggun memasuki ruang makan yang megah.
Di sana, Baskoro dan Kirana sudah duduk santai sambil menikmati teh hangat dan sarapan pagi. Dan tentu saja, di seberang mereka, Galen Danendra duduk dengan postur tegap yang dominan.
Pria tersebut tampak sangat rapi dengan setelan kemeja formal abu-abu gelap, sepasang lengan bajunya terkancing sempurna, memancarkan aura seorang CEO kelas atas yang berkuasa dan tak tersentuh.
"Pagi, Tante, Om”. Sapa Freya lembut, memaksakan seulas senyum manis di bibirnya yang sebenarnya masih terasa sedikit kaku.
"Pagi, Freya sayang. Ayo duduk, Nak. Mama sudah siapkan nasi goreng kesukaanmu”. Balas Kirana dengan binar mata yang penuh kasih sayang, selalu memperlakukan Freya seperti putri kandungnya sendiri sejak enam tahun lalu.
Freya mengambil tempat duduk tepat di samping Kirana, yang berarti posisinya kini berhadapan langsung dengan Galen. Begitu ia mendudukkan diri, Freya bisa merasakan hawa dingin yang pekat mulai merayap di kulitnya.
Sepanjang prosesi sarapan berlangsung, sepasang mata elang milik Galen sama sekali tidak lepas dari wajah Freya. Dari balik cangkir kopi hitamnya, tatapan Galen begitu tajam, menusuk lambat, seolah sedang menelanjangi semua kebohongan dan ketakutan yang coba Freya sembunyikan di balik senyuman palsunya.
Kilat amarah yang membara di koridor lantai dua tadi kini telah meredup, berganti dengan pandangan posesif yang dingin, mengintimidasi, dan sarat akan peringatan berbahaya.
Galen seolah ingin menegaskan bahwa ruang gerak Freya berada di bawah kendali mutlaknya.
Sementara itu, Baskoro dan Kirana sedang asyik menikmati sarapan mereka sambil sesekali membicarakan urusan bisnis keluarga, sama sekali tidak menyadari adanya atmosfer kelam yang tersembunyi di antara Freya dan putra sulung mereka.
Meja makan yang terlihat damai itu sebenarnya menyimpan ketegangan instan yang begitu pekat, di mana Freya mati-matian menundukkan kepala agar tidak perlu beradu pandang dengan mata membunuh milik Galen.
Baskoro melirik jam dinding berlapis emas di sudut ruangan yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Pria paruh baya itu meletakkan sendoknya, lalu menoleh ke arah putra sulungnya.
"Galen," Panggil Baskoro dengan nada suara yang berwibawa. "Pagi ini sopir rumah sedang mengantar dokumen penting ke kantor cabang. Tolong kamu antar Freya berangkat ke sekolah, ya? Kebetulan jalur kantor dan gedung SMA-nya Freya searah."
Perintah itu adalah rutinitas biasa. Selama satu tahun terakhir, setelah kepergian istrinya, Galen memang terpaksa sering mengantar-jemput Freya karena tuntutan sang papa, meskipun setiap detik di dalam mobil selalu diisi oleh keheningan yang menyiksa atau sindiran kejam dari sang CEO.
Mendengar perintah ayahnya, Galen tidak langsung menjawab. Ia hanya menurunkan cangkir kopinya perlahan ke atas lepek marmer, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kayu jati.
Matanya menantang Freya, menunggu gadis remaja itu bergerak pasrah seperti biasanya.
Namun, kali ini takdir berjalan di luar perhitungan Galen.
"Tidak usah, Om". Potong Freya dengan cepat sebelum Galen sempat membuka mulutnya. Suara Freya terdengar tegas, meski ada sedikit getaran gugup yang ia sembunyikan di balik jemarinya yang saling meremas di bawah meja.
"Hari ini Freya tidak berangkat bersama kak Galen. Freya mau naik ojol saja."
Tindakan penolakan yang tiba-tiba itu seketika membuat gerakan sarapan Baskoro dan Kirana terhenti. Bahkan Galen pun tampak sedikit menyipitkan mata elangnya, rahang tegas sang duda berumur dua puluh sembilan tahun itu perlahan mengetat sempurna.
Selama enam tahun, Freya tidak pernah berani menolak apapun secara terang-terangan di depan orang tuanya.
"Lho, kenapa, Freya sayang?". Tanya Kirana heran, menatap wajah putri angkatnya dengan pandangan bingung. "Biasanya kan kalian selalu berangkat bersama agar lebih aman dan tidak terlambat? Apalagi jalur kantor kak Galen dan sekolahmu itu searah."
Freya memaksakan diri untuk berdiri dari kursinya, menyandang tas ransel sekolahnya dengan cepat seolah ingin segera melarikan diri dari ruang makan yang menyesakkan itu.
"Tidak apa-apa, Tante. Freya cuma sedang ingin naik ojek online saja pagi ini. Aplikasi ojolnya sudah saya buka."
Namun, tepat saat Freya baru saja menegakkan tubuhnya, sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan sarat akan otoritas dingin memotong langkahnya dengan telak.
"Duduk kembali, Freya”. Ucap Galen. Suaranya terdengar datar, namun memiliki penekanan yang mutlak dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu. Pria itu menaruh cangkir kopinya dengan dentingan pelan yang mengintimidasi.
"Kau akan tetap berangkat bersamaku pagi ini”. Keputusan itu terdengar mutlak. “Aku tidak suka membuang bensin atau membiarkan orang asing dari aplikasi luar mengantar orang dari rumah ini". Lanjut Galen dengan kata-kata dinginnya yang menusuk tajam, sepasang mata elangnya mengunci pergerakan Freya tanpa ampun.
Freya mematung di tempatnya berdiri. Bahu gadis remaja yang teramat cantik dan bertubuh sintal itu seketika merosot turun. Rasa frustrasi dan ketakutan akan ancaman kejam Galen di lantai atas tadi kembali membayangi pikirannya.
Menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menang melawan otoritas mutlak kakak angkatnya itu, Freya hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan yang mendalam.
"Batalkan ojolmu sekarang. Aku tunggu di mobil dalam tiga menit”. Perintah Galen lagi, nadanya datar seolah tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.
Melihat tingkah laku putra sulungnya yang selalu bersikap teramat dingin—kaku tanpa alasan yang jelas terhadap Freya, Kirana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia menghela napas, merasa heran mengapa Galen selalu bersikap sekaku itu pada putri angkat mereka.
Namun, Kirana memilih diam karena mengira itu hanyalah wujud ketegasan Galen sebagai kakak laki-laki yang protektif.
Dengan jemari yang gemetar menahan kesal, Freya merogoh ponsel dari saku seragamnya, membatalkan pesanan ojek online-nya dengan lesu, lalu melangkah kaku mengekor di belakang punggung tegap Galen yang sudah berjalan lebih dulu menuju garasi mobil mewah mereka.
***
Suasana di dalam kabin mobil Mercedes-Benz hitam milik Galen terasa begitu dingin dan mencekam, jauh lebih menyesakkan daripada atmosfer di meja makan tadi.
Freya duduk di kursi penumpang bagian depan, merapatkan tubuhnya pada pintu mobil, menatap lurus ke arah kaca jendela.
Tangan mungilnya mencengkeram erat tali tas ransel di pangkuannya, berusaha mengabaikan kehadiran pria yang di sebelah kemudi.
Mobil baru saja meluncur melewati gerbang besi tinggi rumah mereka dan membelah jalanan komplek yang sepi, namun Galen sudah tidak bisa menahan racun di dalam kepalanya. Sepasang mata elangnya melirik tajam ke arah Freya, rahang tegasnya mengetat sempurna.
"Kau pikir dengan berpura-pura ingin naik ojek online di depan Papa dan Mama, kau bisa lari dari kesalahanmu, Freya?". Suara bariton Galen memecah keheningan dengan nada rendah yang teramat sinis dan menusuk.
Freya tetap diam, matanya lurus memandang pohon-pohon yang bergerak mundur di luar kaca.
"Satu tahun”. Lanjut Galen, ketukan jemarinya pada roda kemudi terdengar konstan namun mengintimidasi. "Satu tahun penuh aku harus pulang ke rumah ini tanpa melihat senyuman istriku. Dan itu semua karena dia harus menjemput anak angkat pembawa sial sepertimu. Kau tahu? Rasa bersalahmu itu tidak akan pernah hilang seumur hidupmu."
Mendengar rentetan kalimat yang sama, tuduhan yang sama, dan racun yang sama selama satu tahun terakhir ini, sesuatu di dalam diri Freya mendadak mati.
Rasa takut yang biasanya mendominasi jiwa remaja tujuh belas tahun itu kini menguap, berganti dengan rasa lelah dan jemu yang teramat sangat.
Freya sudah benar-benar muak.
Gadis Itu memilih untuk mengabaikan ucapan Galen sepenuhnya. Ia tidak membantah, tidak menangis, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri seperti biasanya.
Freya hanya menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memejamkan mata indahnya dengan santai. Sikapnya begitu acuh tak acuh, seolah-olah semua perkataan kejam yang keluar dari mulut Galen hanyalah angin lalu yang tidak memiliki pengaruh apa pun lagi pada batinnya.
Sikap abai dan ketenangan palsu yang ditunjukkan Freya justru menjadi pemantik yang sangat kejam bagi amarah Galen Danendra.
Bagi seorang CEO raksasa yang terbiasa ditakuti, didengar, dan memiliki otoritas mutlak, pengabaian dari seorang gadis remaja yang menumpang di hidupnya adalah sebuah penghinaan besar.
Terlebih lagi, Galen merasa Freya sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan atas kematian istrinya.
Darah Galen seketika mendidih, amarah kejamnya yang memuncak membuat akal sehat pria dua puluh sembilan tahun itu terbakar.
Ciiiiiitttt!
Dengan gerakan yang sangat kasar dan tiba-tiba, Galen membanting setir ke kiri dan menginjak pedal rem sedalam mungkin, membuat mobil mewah itu berhenti mendadak di pinggir jalanan yang sepi dengan sentakan yang sangat keras.
Tubuh Freya terlempar ke depan, beruntung sabuk pengaman menahan tubuhnya agar tidak menghantam dasbor. Mata Freya terbuka sempurna, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
Sebelum Freya sempat menoleh, tangan kiri Galen yang besar dan kekar sudah bergerak secepat kilat. Jemari kokoh sang duda langsung mencengkeram kuat kedua rahang Freya dengan satu remasan yang teramat kejam, memaksa wajah cantik gadis itu berputar secara paksa untuk menatap lurus ke arah wajahnya.
"Buka matamu dan tatap aku, Freya Anindita!". Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang teramat berbahaya dan mematikan.
Jarak wajah mereka begitu dekat, membuat Freya bisa melihat dengan jelas kilat amarah yang membara di kedua bola mata elang Galen.
Cengkeraman pada rahangnya begitu kuat, menekan persendian pipi Freya hingga gadis itu memekik tertahan karena rasa sakit fisik yang nyata.
"Kau berani mengabaikan ucapanku, hah?!". Bentak Galen tepat di depan bibir Freya, cengkeramannya semakin kencang tanpa sedikit pun belas kasihan. "Siapa yang mengajarimu menjadi selancang ini? Kau pikir karena tubuhmu sudah beranjak dewasa kau bisa bersikap sombong di hadapanku?! Di rumah ini, aku adalah tuanmu! Kau tidak lebih dari sekadar anak pungut yang hidup dari sisa belas kasihan keluargaku! Jangan pernah berani berpaling atau menutup telingamu saat aku sedang bicara tentang kematian istriku!".
Wajah tampan Galen saat itu benar-benar menyerupai iblis yang haus darah—dingin—kaku dan penuh dengan kepuasan kejam saat melihat air mata ketakutan yang mati-matian Freya tahan akhirnya kembali luruh membasahi jemari kokohnya.
Di dalam cengkeraman Galen, Freya kembali disadarkan pada kenyataan pahit bahwa melarikan diri dari monster ini adalah hal yang mustahil di masa remajanya.
***