Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
"Api... api... Tolong aku... Ayah, Ibu..."
"Pollux, Pax, tolong aku... Aaron..."
"Bukan... bukan aku yang membunuhnya. Bukan aku pelakunya... Bukan!"
Pax yang baru tiba di kediaman orang tuanya, segera berlari begitu mendengar suara adiknya. Jam 03.00 dini hari, pasti Paula sedang bermimpi lagi.
Pax segera masuk, beruntung ia dan keluarganya memiliki kunci cadangan khusus untuk kamar si bungsu mereka. Benar saja, Paula terlihat gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya sudah banjir keringat.
"Ck! Aaron bedebah!" Pax menghampiri adiknya, duduk di samping ranjang Paula, mengusap kepala gadis itu dengan lembut. "Hei baby, bangunlah. Aku di sini. Semuanya baik-baik saja."
"Luna... Megan... aku di sini. Tolong aku... Di sini panas sekali. Panggilkan Ayah..." Paula terlihat begitu sangat tersiksa. Napasnya tidak teratur seakan ia memang berada di tengah-tengah kobaran api. Air mata dan keringat menjadi satu, kedua tangannya mencengkram erat alas tidur di kedua sisinya.
"Hei princess, bangunlah. Itu hanya mimpi, Sayang." Pax melepaskan cengkraman tangan Paula, khawatir kuku panjang adiknya justru melukai kulitnya sendiri.
Paula masih belum tersadar, mau tidak mau terpaksa Pax mengguncang tubuhnya dengan sedikit kasar.
"Paman!" Paula terbangun dengan napas yang semakin memburu. Pax, menarik napas lega. Ia menarik adiknya ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Pax." Paula memeluknya dengan erat.
"Ya, aku di sini. Apa harimu begitu buruk?"
Paula menganggukkan kepalanya di dalam dekapan saudaranya itu. "Ke mana saja kau?"
"Berlibur," jawabnya asal. "Sebaiknya kita berobat kembali," ucap Pax penuh hati-hati.
"Aku tidak sakit," Paula melepaskan pelukannya. Tidak suka dengan apa yang dikatakan Pax. Wajahnya merengut, menatap kesal ke arah saudaranya yang menatapnya penuh khawatir.
"Tidak ada yang mengatakan kau sakit, tapi Lala..."
"Pax!"
"Baiklah, hindari bertemu Aaron dan kekasihnya. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bersabar. Pastikan kejadian seperti malam ini tidak terulang, dan sekarang tidurlah, aku akan menemanimu," tangan Pax terulur mengusap keringat adik tersayangnya itu. Ia pun membantu Paula untuk berbaring.
"Tidur denganku, Pax," pinta Paula.
"Hm," Pax segera berbaring dan menarik Paula ke dalam pelukannya. "Jangan memikirkan hal lain, pikirkan hal yang membuatmu senang dan bahagia," Pax mengusap rambut panjang Paula penuh kasih.
"Misalnya seperti apa?" tanya Paula.
"Misalnya seperti betapa bahagianya kau memiliki dua saudara tampan yang sangat mencintaimu."
"Hm, itu tidak terbantahkan. Pax, apa mungkin aku akan mendapatkan pria sepertimu, Pollux dan Ayah?"
"Oh, Paula. Jangan memimpikan pria sepertiku, kakakmu ini tidak bisa hidup dengan satu wanita. Dan Pollux? Hidup dengan pria kaku itu akan membuat hidupmu tidak akan berwarna. Tapi setidaknya hidup dengan Pollux lebih beruntung dibandingkan denganku. Dan Ayah, ya aku bangga padanya, dan malu pada diriku. Adikku sangat cantik, pasti mendapatkan pria yang bahkan melebihi hebatnya Ayah." Pax mengecup kepalanya. "Sekarang tidur lah."
"Pax, kau menyukai Megan?"
"Ya. Apa dia akan menetap?" tanya Pax.
"Sepertinya begitu."
"Aku senang mendengarnya."
"Megan tidak menyukaimu, Pax."
"Tidak ada wanita yang tidak menyukaiku, Lala," sahut Pax dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Setelah beberapa saat, terdengar dengkuran halus milik Paula. Pax mengembuskan napas. Sudah lama sejak terakhir kali Paula mengalami mimpi buruk yang bisa membuatnya pingsan, tidak sadarkan diri sampai berhari-hari.
Sejak Paula mengalami tragedi kebakaran itu, mentalnya sedikit terguncang. Secara tiba-tiba ia mau menjerit histeris ketakutan. Pengobatan yang dilakukan keluarganya juga tidak berjalan mulus, tidak membantu sama sekali.
Keadaannya membaik sejak Pollux dan Pax lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Mimpi buruknya hilang jika salah satu dari mereka tidur bersamanya. Sejak hari itu juga, keduanya berhenti menjahili si bungsu.
Deringan ponselnya membuat Pax mengalihkan tatapannya dari wajah adiknya yang sedang terlelap. Pax memindahkan kepala Paula secara perlahan, ia pun segera turun, berjalan ke arah jendela, menjauh dari gadis itu agar suaranya tidak mengusik tidur nyenyak gadis itu.
"Alena Ferara, tidak terdaftar sama sekali sebagai WNI. Tidak ada informasi yang bisa didapatkan," Ansel melapor di seberang telepon.
Pax menyeringai. "Menarik."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah perlu meminta seseorang memata-matainya?" tanya Ansel kemudian.
"Tidak perlu. Wanita itu juga tidak ada urusannya dengan kita." Pax segera memutuskan sambungan teleponnya yang di detik berikutnya kembali berdering.
"Aku belum selesai, brengsek," Ansel mengumpat begitu panggilannya tersambung kembali.
Pax tergelak. "Apa lagi?" tanyanya dengan nada malas.
"Nightmare."
Mendengar nama klub yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu saja membuat Pax yang tadinya terlihat tanpa minat kini memasang wajah serius.
Nightmare adalah tempat mematikan juga sekaligus tempat untuk kekuasaan didapatkan. Identitas aslimu adalah hal yang penting yang harus dilindungi di sana. Semua penuh penyamaran. Keserakahan, keangkuhan, kelicikan, dan kemunafikan komplit ada di sana. Nightmare adalah tempat paling mudah untuk mendapatkan informasi apa saja yang diinginkan. Tapi keluar dengan selamat dari sana adalah hal yang sulit untuk dilakukan.
Kedudukan atau kastamu bukan berdasarkan harta yang kau miliki, tapi seberapa banyak kau beruntung di atas ring kematian. Pax adalah salah satu anggota di sana, begitu juga dengan Ansel. Sampai sekarang mereka juga tidak tahu siapa pemilik klub setan itu.
"Chipnya. Lokasi terakhir yang kutemukan ada di sana. Dan dua hari lagi Ring kematian akan dibuka."
"Kau gantikan aku kalau begitu," timpal Pax dengan santai.
"Apa kau gila? Ibuku bisa membunuhku jika menemukan sedikit luka di wajah tampanku."
"Sayang sekali, aku sedang tidak ingin bertarung. Minta beberapa orang yang menjadi anggota Nightmare untuk berkunjung ke sana."
"Baiklah. Aku tutup teleponnya."
***
"Selamat pagi, Pax." Paula melayangkan ciuman singkat di pipi kiri pria itu.
"Pagi," Pax menyahut tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel miliknya.
Paula menarik kursi dan duduk di sampingnya, "Kau tidak bekerja?" Gadis itu mengambil selembar roti, mengolesinya dengan cokelat dan langsung melahapnya.
Pax menggelengkan kepalanya. "Aku malas."
Paula memutar bola matanya. "Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa kau memiliki harta yang lebih banyak dibandingkan Pollux yang sangat rajin bekerja, sedangkan kau dalam satu bulan hanya berkunjung satu kali ke perusahaanmu."
"Bayaranku sebagai model cukup mahal. Setiap inci tubuhku harus dibayar dengan dolar," Pax menyingkirkan ponselnya, Paula sudah mulai rewel, artinya gadis itu harus diperhatikan.
"Kau bekerja hari ini?"
"Aku lelah," jawab Paula yang masih berpakaian santai.
"Bagus. Mau berkencan denganku?"
"Wah, tentu saja. Manjakan aku hari ini. Aku butuh perhatian," Paula terlihat girang. Ia pun segera berdiri dari kursinya untuk bersiap-siap sebelum Pax berubah pikiran. Ya, pria itu mau berubah di detik terakhir.
"Habiskan sarapan dan susumu jika ingin berkencan denganku," perintah Pax sembari memberi isyarat dengan matanya agar Paula kembali duduk di tempatnya.
Puala memutar bola matanya. "Baik, Sir!" dengan patuh gadis kesayangan mereka itu kembali melanjutkan sarapannya.