NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Suasana lorong lantai VVIP St. Jude Memorial Hospital terasa mencekam dan pengap oleh ketegangan yang pekat. Aroma antiseptik bercampur dengan bau penyesalan yang terlambat dari orang-orang yang selama ini menganggap diri mereka suci.

Derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor. Ayah Lara, melangkah lebar didampingi oleh kakak kandung Lara—serta beberapa anggota keluarga besar yang selama ini memandang Lara tak ubahnya benalu dan pembawa sial dalam silsilah keluarga.

Mereka datang dengan raut wajah panik yang tak lagi mampu ditutupi, terdorong oleh berita utama yang menyebar kilat di seluruh saluran televisi dan media sosial Los Angeles: Skandal penganiayaan berat yang dilakukan oleh pengusaha muda Billy Davidson terhadap istrinya.

Namun, saat pintu kamar rawat intensif itu terbuka perlahan, langkah kaki Ayahnya dan seluruh anggota keluarga seketika terhenti. Tubuh mereka membeku.

Di atas ranjang perawatan yang dikelilingi oleh berbagai mesin pemantau detak jantung dan selang infus, terbaring sosok mungil yang hampir tak mengenali bentuk dirinya sendiri. Wajah Lara yang biasanya tenang kini dipenuhi lebam kebiruan yang mengerikan. Pelipisnya terbebat kasa steril, bibirnya yang pecah membengkak parah, dan napasnya begitu lemah menyusupi selang oksigen yang terpasang di hidungnya.

Pemandangan itu bagaikan hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh keangkuhan mereka.

"Ya Tuhan... Lara..." gumam kakaknya, dengan suara gemetar. Tangannya menutup mulutnya sendiri yang terbuka lebar oleh rasa sengatan syok yang luar biasa. Air mata seketika menetes membasahi pipinya yang dipoles tata rias tebal.

Sang ayah terhuyung satu langkah ke belakang. Pria tua yang selama belasan tahun tak pernah absen menyebut Lara sebagai "anak sial"—kambing hitam atas segala kemalangan dan kegagalan yang menimpa keluarga—kini menatap putri bungsunya yang hampir tak bernyawa dengan pandangan hancur berkeping-keping.

Rasa bersalah yang teramat sangat, racun yang selama ini membusuk di dalam hatinya, mendadak meledak dan menyiksa batinnya tanpa ampun.

Anak gadis yang selalu ia acuhkan dan ia dorong ke dalam cengkeraman pria iblis seperti Billy, kini berbaring tak berdaya akibat kelalaiannya sendiri sebagai seorang ayah.

Namun, di dalam ruangan yang serba putih itu, ada sosok lain yang berdiri tegak bagaikan benteng pertahanan yang tak tergoyahkan.

Darion Vale Knight duduk di kursi samping ranjang perawatan. Ia tidak mengenakan setelan jas pengacaranya yang kaku; kemeja putihnya tergulung hingga siku, dan matanya memancarkan ketegasan yang dingin dan tajam.

Sejak Lara dilarikan ke rumah sakit ini, Darion tidak pernah beranjak walau satu inci pun. Jemari tangannya yang hangat menggenggam erat jemari Lara yang dingin dan memar, memberikan kehangatan murni yang tak pernah membiarkan wanita itu sendirian di dalam kegelapan.

Ketika Tuan Prasetya ayahnya melangkah maju satu langkah berniat mendekati ranjang putrinya, Darion mendongak. Tatapan mata Darion begitu tajam, memancar bagaikan bilah pedang yang siap menebas siapa saja.

"Jangan melangkah lebih jauh, Tuan Prasetya," ucap Darion dengan suara bariton yang teramat dingin, penuh otoritas yang tak dapat diganggu gugat.

Tuan Prasetya tertegun, suaranya parau saat berucap, "Aku... aku ayahnya, Darion. Aku ingin melihat putriku—"

"Ayah?" cut Darion singkat, terkekeh sinis dengan senyuman yang menyayat hati. "Di mana predikat itu selama dua tahun terakhir saat dia disiksa secara mental dan fisik oleh Billy? Di mana keluarga ini saat Lara membutuhkan uluran tangan untuk keluar dari neraka yang kalian ciptakan sendiri?!"

Maya, Kakaknya mencoba menyela dengan suara terisak, "Darion, kami tidak tahu kalau Billy sekejam ini! Kami hanya—"

"Cukup," potong Darion tegas, berdiri dari kursinya namun tetap tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Lara. "Aku sudah mengatur segalanya secara hukum. Dokumen gugatan cerai atas nama Lara terhadap Billy Davidson sudah didaftarkan dengan bukti-bukti KDRT yang tak tertandingi. Aku juga sudah menyewa tim psikolog klinis terbaik di pantai barat Amerika untuk mendampingi pemulihan trauma wanita yang kucintai ini."

Darion menatap wajah-wajah penuh penyesalan di hadapannya tanpa sedikit pun rasa iba.

"Dan mulai detik ini," lanjut Darion, menunjuk pintu keluar dengan dagunya, "kalian semua... keluarga yang selalu menyebutnya sebagai anak sial... dilarang berada dalam radar sepuluh meter dari Lara. Jika ada satu pun dari kalian yang berani mendekatinya tanpa izin tertulis dariku dan tim medis, aku memastikan kalian akan berhadapan dengan tuntutan hukum atas tuduhan penelantaran dan persekongkolan."

Kata-kata Darion begitu mutlak. Otoritas pria itu sebagai pengacara papan atas dan pelindung utama Lara tak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah.

Di tengah ketegangan yang memuncak itu, tiba-tiba terdengar suara rintihan pelan dari atas ranjang.

"Uhuk! Uhuk... uhuk!"

Lara terbatuk kecil, tubuhnya bersetegang saat dorongan refleks batuk memicu rasa nyeri yang luar biasa pada rusuknya yang memar. Selang oksigen di hidungnya bergeser sedikit.

"Lara!" desis Darion seketika, mengabaikan orang-orang di sekitarnya dan berlutut di samping ranjang. Jemarinya yang bebas dengan lembut membetulkan letak selang oksigen dan mengusap dahinya yang dingin dengan kehangatan yang teramat sangat.

"Pelan-pelan, sweetheart... bernapaslah perlahan."

Perlahan-lahan, pelupuk mata Lara yang membengkak terkuak. Binar matanya yang semula redup mulai menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan.

Pandangannya menangkap sosok Darion yang menatapnya dengan rasa cemas yang mendalam, lalu melirik ke arah pintu tempat ayah dan keluarganya berdiri membeku.

Di balik rasa sakit yang meremukkan fisiknya, sebuah kekeh pelan yang terputus-putus lolos dari bibir Lara yang pecah.

"Kau... lihat, kan... Darion?" bisik Lara, suaranya sangat serak dan parau, namun ada nada kesombongan yang teramat khas di sana. Arogansi kecil dari jiwa yang menolak untuk dihancurkan. "Aku... aku sangat tangguh... kan? Aku bilang juga apa... pria itu... tidak akan pernah bisa membunuhku..."

Darion menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca melihat bagaimana wanita ini masih sempat-sempatnya bersikap sombong dan cerewet di tengah kondisinya yang hancur-hancuran.

"Ya, kau sangat tangguh, Lara. Kau wanita paling kuat yang pernah kukenal," bisik Darion dengan suara gemetar, menahan gejolak emosi di dadanya. "Tapi sekarang, diamlah dan beristirahatlah."

Lara melirik singkat ke arah Tuan Prasetya dan Maya yang menatapnya dengan air mata menetes deras. Tidak ada dendam di mata Lara, tidak ada pula permohonan kasih sayang. Yang ada hanyalah tatapan pelepasan—bahwa ikatan batin dengan keluarga yang pernah membuangnya kini telah terputus sepenuhnya.

Tuan Prasetya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari bahwa putrinya tak lagi membutuhkan dirinya. Dengan langkah lunglai dan hati yang hancur oleh rasa bersalah yang akan menghantuinya seumur hidup, sang ayah menuntun Maya dan keluarga besar lainnya keluar dari kamar rawat, menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.

°°°°

Ruang perawatan VVIP itu kembali tenang. Hanya tersisa bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung.

Begitu pintu benar-benar terkunci dan mereka hanya berdua, seluruh pertahanan dan ketegasan yang tadi ditunjukkan Darion mendadak runtuh. Pria perkasa yang tak pernah gentar di hadapan hukum itu menundukkan kepalanya di samping ranjang Lara.

Darion merengkuh tubuh mungil Lara dengan teramat sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh di dunia. Ia memeluk Lara, menyandarkan wajahnya di leher wanita itu, dan mengecupi pelipis, pipi yang lebam, serta jemari Lara yang gemetar secara bertubi-tubi dengan kepenuhan cinta dan rasa haru yang meluap-luap.

"Maafkan aku... maafkan aku karena membiarkanmu melewati neraka itu sendirian..." bisik Darion, air matanya akhirnya luruh membasahi sprei putih di bawah kepala Lara. "Kau sudah aman sekarang, Lara. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi. Aku bersumpah demi nyawaku... tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu."

Lara merasakan kehangatan air mata Darion di kulitnya, sebuah kontras yang luar biasa dibanding dinginnya pukulan Billy. Dengan sisa-sisa tenaga di tangan kanannya, Lara menggerakkan jemarinya naik, menyusup ke dalam rambut ikal Darion yang baru saja dipotongnya tadi siang.

Lara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang paling tulus dalam dua tahun terakhirnya. Jiwanya yang terluka dan hancur kini tahu bahwa di dalam pelukan pria ini, ia tidak perlu lagi menjadi prajurit yang bertarung sendirian. Masa lalunya yang kelam telah usai, dan proses penyembuhannya baru saja dimulai.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!