Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
Merencanakan kemunculan publik pertamaku memakan waktu tiga hari penuh, dan setiap detailnya diperdebatkan panjang lebar oleh orang-orang di sekelilingku yang, meski mendukung keputusanku, tidak berhenti mengkhawatirkan risikonya.
"Kalau di tempat terbuka, mereka bisa gampang tangkep kamu," kata Salim.
"Kalau kita umumin dulu tempatnya, mereka bisa siapin penyergapan," tambah Yanto.
Akhirnya, dengan bantuan Mira dan jaringan mahasiswa yang sebelumnya membantu menyebarkan kabar soal aksi lentera di pengadilan, kami menyusun rencana yang cukup berani: sebuah forum diskusi terbuka di aula kampus, diselenggarakan atas nama organisasi mahasiswa yang selama ini vokal soal isu penggusuran, dengan tema resmi "Krisis Pembangunan dan Hak Warga Kota"—cukup akademis untuk tidak langsung memicu kecurigaan berlebihan, tapi cukup jelas bagi siapa pun yang mengikuti berita belakangan ini soal apa sebenarnya forum itu akan membahas.
Aku akan hadir sebagai "narasumber tamu", tanpa pengumuman nama secara terbuka sebelumnya, untuk mengurangi risiko penyergapan dini.
---
Malam sebelum acara, aku duduk bersama Bapak dan Ibu di rumah kami yang masih menyisakan jejak penggeledahan—beberapa barang belum dikembalikan ke tempatnya semula, lemari yang sempat dibongkar paksa masih miring sedikit di satu sisi.
"Kamu yakin, Rangga?" tanya Ibu, tangannya menggenggam tanganku erat, seperti tidak ingin melepaskannya.
"Nggak sepenuhnya yakin, Bu," jawabku jujur. "Tapi aku tahu, kalau aku terus sembunyi, mereka yang bakal terus nulis cerita soal aku. Aku pengen, buat sekali ini, aku yang cerita versi aku sendiri."
Bapak menatapku lama, wajahnya masih menyisakan bekas memar yang mulai memudar. "Bapak inget, dulu Bapak bilang, pilih diam atau lari. Sekarang Bapak liat, kamu pilih jalan ketiga yang Bapak sendiri nggak pernah kepikiran—bukan diam, bukan lari, tapi ngomong terang-terangan, walau tahu risikonya."
Ia berdiri, memelukku singkat namun erat—pelukan yang jarang ia berikan, karena Bapak bukan orang yang mudah menunjukkan kelembutan semacam itu.
"Apa pun yang terjadi besok," katanya, "Bapak bangga sama kamu. Itu yang paling penting buat Bapak sekarang."
---
Aula kampus itu penuh sesak jauh melebihi perkiraan panitia—entah karena rasa penasaran publik yang sudah terbakar oleh artikel Mira, atau karena kabar dari mulut ke mulut yang menyebar lebih cepat dari yang kami kira. Aku duduk di barisan paling belakang bersama Ujang, menyamar sebagai mahasiswa biasa, menunggu giliranku dipanggil ke depan.
Waktu namaku akhirnya disebut moderator—bukan nama lengkap, hanya "Rangga, warga Karang Wetan yang terdampak langsung proyek revitalisasi"—aku merasakan setiap langkah menuju panggung seperti berjalan di atas jembatan yang bisa runtuh kapan saja.
Aku berdiri di depan mikrofon, menatap ratusan wajah yang menunggu, sebagian dengan rasa penasaran, sebagian dengan kecurigaan, sebagian lagi dengan simpati yang sudah lebih dulu terbentuk lewat tulisan Mira.
"Nama saya Rangga," kataku, suaraku sedikit gemetar di awal sebelum akhirnya menemukan kestabilannya. "Saya lahir dan besar di Karang Wetan, di keluarga tukang sol sepatu dan penjual gorengan. Beberapa dari kalian mungkin sudah dengar nama saya belakangan ini—entah sebagai buronan, sebagai kriminal, atau sebagai apa pun yang diberitakan tentang saya. Malam ini, saya nggak ke sini buat minta kalian percaya sepenuhnya sama saya. Saya ke sini cuma buat kasih tahu, versi cerita yang belum pernah kalian dengar."
---
Aku menceritakan semuanya—bukan detail teknis soal setiap operasi Lentera, tapi inti dari perjalanan yang membawaku sampai ke panggung itu. Kasusku bertahun-tahun lalu yang "kurang bukti". Warung Bu Inah yang dibakar. Sari yang ditahan karena mencari kebenaran. Dedi yang diculik karena berani bicara jujur. Keluargaku yang diserang, diinterogasi, hanya karena aku memilih untuk tidak lagi diam.
"Saya nggak akan bilang semua yang kami lakukan itu benar sepenuhnya," kataku menjelang akhir, mencoba jujur meski itu berisiko dipakai melawanku. "Kami pernah ambil jalan yang, kalau dilihat hitam-putih, melanggar hukum. Tapi saya tanya balik ke kalian semua: gimana caranya orang kecil kayak kami percaya sama hukum, kalau hukum itu sendiri yang selama ini melindungi orang yang nyakitin kami, dan sekarang dipakai buat nyerang kami yang cuma minta diperlakukan adil?"
Hening sesaat memenuhi aula itu, sebelum tepuk tangan pertama muncul dari sudut ruangan, disusul yang lain, hingga akhirnya menjadi gemuruh yang membuat dadaku bergetar dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
---
Aku tidak sempat menyelesaikan sesi tanya jawab. Di tengah pertanyaan ketiga dari seorang mahasiswa, Ujang tiba-tiba muncul dari sisi panggung, wajahnya tegang, berbisik cepat ke telingaku: "Bang, ada mobil polisi mulai kumpul di gerbang kampus. Kita harus pergi sekarang."
Aku menatap sekali lagi ke arah ratusan wajah yang masih menatapku, sebagian berdiri, sebagian merekam dengan ponsel mereka—bukti yang, apa pun yang terjadi setelah ini, tidak akan bisa dihapus atau diputarbalikkan lagi seperti kasusku dulu.
"Terima kasih sudah dengerin," kataku cepat ke mikrofon, sebelum bergegas turun dari panggung mengikuti Ujang, menyusuri jalur belakang kampus yang sudah lebih dulu dipetakan Salim untuk situasi seperti ini.
Waktu kami berhasil kabur lewat pagar belakang kampus, jantungku masih berdebar keras, tapi kali ini bukan cuma karena ketakutan. Ada sesuatu yang lain bercampur di dadaku—perasaan bahwa, apa pun yang terjadi setelah malam ini, aku sudah berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi mereka ambil dariku.
Untuk pertama kalinya, suara kami didengar bukan lewat bisik-bisik di gang sempit, melainkan di depan ratusan orang yang tidak akan lagi bisa berpura-pura tidak tahu.
---
*(Bersambung ke Bab 20)*