Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Rencana masuk kerja
Angin sore berhembus lumayan dingin menggeledah area danau buatan di halaman belakang kediaman mewah itu, namun Zevanna tak mengindahkannya. Gaun santai berlengan spaghetti yang ia kenakan membiarkan bahu mulus serta tengkuknya terekspos begitu saja. Dengan rambut yang dicepol asal-asalan ke atas kepala, ia mengernyit tajam menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di meja taman.
Jujur saja, membedakan grafik saham, rasio keuangan, dan laporan ekuitas Valerius Group, perusahaan yang beberapa kali dilimpahkan sang kakek menjadi hak miliknya, seribu kali lebih memusingkan daripada merancang maket gedung bertingkat saat ia masih berkuliah di jurusan arsitektur dulu. Ditambah lagi, seluruh persendiannya serasa lolos setelah seharian dihajar latihan tata krama yang kaku dan menguras emosi bersama ibu mertuanya.
Srett.
Sebuah selimut tebal dan lembut mendadak mendarat di bahunya, disusul aroma woody berpadu citrus khas yang sangat ia hafal. Zevanna tersentak pelan, namun jemarinya berhenti beraktivitas. Ia membiarkan saja saat sepasang bibir hangat mendarat mesra di pucuk kepalanya.
"Kebiasaan. Keluar sore-sore pakai baju kayak gini," bisik Areksa lembut. Suara berat itu terdengar tepat di samping telinganya.
"Main cium-cium aja kamu," sungut Zevanna ketus tanpa menoleh sedikit pun. Bibirnya mengerucut sebal.
Areksa hanya terkekeh ringan. Tanpa meminta izin, jemari panjangnya bergerak menyambar pulpen yang sedang dipegang Zevanna. Ia menarik kursi kayu jati itu mendekat lalu duduk tepat di samping istrinya.
"Apa yang lagi dilakukan istriku sampai-sampai suaminya pulang kerja pun nggak disadari, hm?" tanya Areksa sambil memutar-mutar pulpen di jarinya.
Zevanna menghela napas berat. Ia akhirnya memutar tubuh, menoleh ke arah Areksa dengan raut wajah mengeras. Bibirnya semakin mengerucut, sementara kedua alisnya bertautan erat menandakan rasa frustrasi yang menumpuk di kepalanya.
Melihat kening istrinya yang terlipat tajam, tangan Areksa terulur. Ibu jarinya mengusap lembut lipatan di antara kedua alis Zevanna, berusaha mengurai ketegangan di sana.
"Mikirin apa, sih, sampai alisnya menyatu gini?" tanya Areksa melunak, menatap dalam-dalam manik mata Zevanna.
Zevanna menggeleng pelan, lalu menyandarkan punggungnya lemas ke sandaran kursi. "Capek. Ngurusin perusahaan ternyata susah banget... Kayaknya aku nggak sanggup, Sa. Kepala aku mau pecah rasanya."
Areksa menatap raut lelah Zevanna dengan tatapan rumit. Ia tahu betul betapa berat posisi istrinya saat ini.
"Kalau gitu, kerja di perusahaanku aja dulu. Jadi asisten pribadi aku," tawar Areksa santai, walau matanya berkilat penuh maksud. "Kamu bisa belajar dari sana"
Mata Zevanna seketika melotot lebar. "Itu sih maunya kamu! Aku tahu ya pikiran mesum kamu itu! Yang ada nanti bukannya aku belajar kerja, aku malah disuruh melayani kamu melulu di ruangan!"
"Aku bisa profesional kok, Sayang," potong Areksa cepat dengan ekspresi seolah ia adalah pria paling tidak berdosa di dunia.
"Pembohong!" dengus Zevanna makin ketus, membuang muka ke arah danau.
"Beneran, Dear..."
Zevanna menghembuskan napas keras, menimbang-nimbang tawaran itu dalam kepalanya. "Oke, aku mau kerja di tempat kamu. Tapi bukan jadi asisten kamu. Aku mau mulai dari bawah, jadi karyawan biasa aja."
Areksa menghela napas pasrah. Walau hatinya berat membayangkan istrinya harus berinteraksi dengan orang luar tanpa pengawasan langsung di ruang kerjanya, ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Pasrah. Yang penting kamu tetap di gedung yang sama, masih dalam jangkauan mataku."
Areksa mengamati profil wajah istrinya dari samping. Ia tahu, ia harus melangkah pelan-pelan. Zevanna sedang membangun benteng pertahanan yang begitu tebal, bersikap dingin dan menjaga jarak karena takut perasaan lamanya tumbuh kembali, atau mungkin berpura-pura mati rasa padahal cinta itu tak pernah benar-benar hilang. Bagaimanapun juga, Areksa sadar dialah yang dulu membuat Zevanna membencinya. Dan kini, penyesalan itu meremukkan dadanya setiap kali melihat Zevanna membatasinya dengan dinding tak terlihat.
Untuk mencairkan atmosfer yang mendadak berat, Areksa menggeser kursinya lebih rapat hingga paha mereka bersentuhan. Ia menarik berkas laporan Valerius Group ke tengah meja.
"Sini, aku kasih kisi-kisinya," ujar Areksa, mengalihkan fokus ke lembaran saham. "Kamu bingung di bagian anjloknya harga saham minggu ini, kan?"
"Iya," sahut Zevanna pelan, matanya kembali tertuju pada angka-angka merah di kertas. "Gara-gara rumor yang beredar luas itu..."
"Bukan cuma rumor, Dear," bisik Areksa tegas. "Kenyataan bahwa berita keluargamu memang terlibat dalam kematian mamamu... itu berita benar, kan?"
Zevanna terdiam sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa puas dan kebahagiaan yang dingin. "Ya. Berita itu seratus persen benar. Aku sangat senang akhirnya kebusukan mereka terbongkar ke publik. Mereka pantas mendapatkan balasan itu." Ada kilatan dendam terselubung di balik binar matanya, rasa puas karena kebenaran atas kemalangan ibunya akhirnya terkuak.
"Aku tahu kamu senang kebenaran itu terungkap, dan mereka memang layak menerimanya," lanjut Areksa lembut sambil mengusap jemari Zevanna. "Tapi masalahnya untuk bisnis: publik menyerap informasi itu sebagai skandal moral yang masif. Sentimen pasar langsung hancur. Pemegang saham ketakutan, dan investor spekulatif memanfaatkan situasi ini buat jualan panik. Makanya grafiknya terjun bebas."
Zevanna mengangguk-angguk paham, mendadak mengerti korelasi antara dendam pribadinya yang terbalaskan dengan kehancuran finansial perusahaan. "Jadi... walaupun berita itu bikin aku puas, dampak ke sahamnya bikin perusahaan ini makin goyah?"
"Tepat sekali. Nah, untuk menahannya—"
Kalimat Areksa mendadak terputus. Pria itu justru memiringkan kepalanya, lalu tanpa peringatan menempelkan bibir hangatnya tepat di leher jenjang Zevanna yang terbuka. Ia menyesap kulit halus itu hingga menyisakan getaran di tubuh istrinya.
Plak!
"Areksa! Bisnis dulu, bisa nggak sih?!" Zevanna menapok lengan berotot suaminya kuat-kuat. Suara tepukan itu terdengar lumayan nyaring di tengah ketenangan danau.
Areksa cuma terkekeh geli tanpa rasa dosa sedikit pun. Ia sama sekali tidak meringis. "Iya, iya, ini lanjut..." Tangannya kembali menunjuk berkas, tapi alih-alih menjauh, wajahnya justru makin mengikis jarak ke telinga Zevanna.
"Nah, kisi-kisi keduanya..." bisik Areksa dengan suara serak yang berat. Bibirnya sengaja membelai lembut daun telinga Zevanna saat berbicara. "...kamu harus manfaatkan isu ini untuk buyback atau beli kembali saham di harga murah sebelum kamu rilis restrukturisasi manajemen."
Bibir Areksa turun ke rahang tegas istrinya, mengecup garis wajah itu dengan dalam dan perlahan.
Plak!
Lengan Areksa kembali jadi sasaran empuk tepukan maut Zevanna. Wajah wanita itu kini sudah merah padam, antara kesal dan menahan kebas di lehernya. "Areksa, astaga! Kamu sengaja banget, ya?!"
"Sengaja apa? Aku kan lagi ngajarin kamu strategi bisnis," goda Areksa dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan.
Tanpa mempedulikan protes istrinya, Areksa malah melingkarkan tangannya ke pinggang Zevanna, menarik tubuh wanita itu rapat ke dadanya. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zevanna, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil membuatnya ketagihan, sembari memberikan kecupan-kecupan kecil bertubi-tubi di sana.
"Kamu tuh benar-benar..." Zevanna sudah mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tepukan ketiga ke lengan suaminya.
Namun, rasa lelah akibat latihan tata krama seharian, ditambah kehangatan tubuh Areksa yang mendekapnya begitu protektif, perlahan-lahan mengikis pertahanannya. Kepalan tangannya melonggar di udara.
Pada akhirnya, Zevanna hanya mendengus pasrah. Ia membiarkan Areksa terus menghujani leher dan telinganya dengan kecupan-kecupan manja yang posesif, sementara matanya berpura-pura kembali menatap angka-angka saham di meja, meski fokus dan jalan pikirannya sudah sepenuhnya berantakan akibat ulah sang suami.
Saat kedua mata Zevanna mulai terpejam, suara langkah kaki cepat datang dari asisten pribadi Areksa. Wajahnya seperti biasa, datar dan dingin. Tak kalah dinginnya dengan Areksa.
"Jika apa yang kamu sampaikan tidak penting, siap-siap kamu akan mendapatkan hukuman" Ancam Areksa tanpa melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Nona Valerie memaksa masuk, tuan muda. Dia ingin bertemu dengan Nyonya"