NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

"Empat."

​Michelle menoleh dengan napas masih ngos-ngosan menyadari dirinya hampir saja terserempet sebuah mobil yang melaju kencang karena melamun sambil jalan di pinggir jalanan.

​"Empat kali ini, kalau sampai lima kali, gue dapet cium," ucap cowok itu lalu tersenyum miring.

​Michelle langsung mendorong cowok itu mundur sambil bergidik, sementara cowok yang tak lain adalah Devis itu malah tertawa.

​"Ngelamunin apa sih? Masa masih muda udah mikirin utang?" tanya Devis.

​Michelle melotot tidak terima. "Seenak jidat ngatain gue! Mana ada gue mikirin utang!"

​"Lagian lo ngapain sih pagi-pagi ngelamun di pinggir jalan? Awas aja diculik om-om pedofil entar, terus dijual kiloan,"

​"Lo pikir gue ayam kampung?!"

​Tawa Devis kembali meledak melihat wajah Michelle memerah menahan kesal, sementara Michelle yang merasa ditertawai langsung membuang muka. Masih terlalu pagi untuk terpancing emosi, tapi ia tidak pernah bisa menahan emosi saat berhadapan dengan cowok yang satu ini.

​"Serius nih nanya, lo ngapain di sini?" tanya Devis setelah tawanya mereda.

​"Merem lo? Udah tau gue lari pagi," jawab Michelle sewot.

​Devis menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan Michelle dari atas sampai bawah sampai dua kali, lalu berhenti di wajah cewek itu.

​"Kenapa lihatin gue kayak gitu? Nggak sopan tau!"

​"Serius lo lari pagi?" tanya Devis ragu. "Pakek celana jeans, kaos polos lengan panjang, pakek sendal, dan nggak keringetan. Lo lari pagi apa nungguin mang tukang sayur? Pink-pink lagi."

​Alih-alih langsung nge gas seperti biasa, Michelle malah tampak gelagapan mendapat pertanyaan itu dari Devis. Michelle menatap random menghindari tatapan cowok itu.

​"Ketahuan kan lo!" tuding Devis tiba-tiba. "Gue tebak, lo lagi ngikutin mereka pacaran." Cowok itu mengedikkan dagu ke arah sepasang remaja yang sedang duduk di salah satu kursi taman komplek.

​Michelle menggigit bibir bawahnya, dugaan Devis benar. Pagi-pagi sekali Michelle mendengar suara mesin motor yang ia yakin adalah motor Alvin, padahal hari ini adalah hari minggu. Saat Michelle memastikan dari balkon kamarnya, ternyata benar Alvin sedang mengelap motornya.

​Cowok itu memakai training hitam bercorak putih dan kaos hitam polos, juga memakai sepatu putih yang sangat serasi dengan pakaiannya. Dari penampilannya, cowok itu seperti akan pergi olahraga.

​Dengan segera Michelle yang baru membuka mata beberapa menit lalu langsung mencuci muka dan menggosok gigi, mengganti baju tidurnya dengan baju yang ia pakai kemarin malam, lalu segera turun menyusul Alvin.

​Awalnya Michelle kehilangan jejak Alvin karena cowok itu naik motor, tapi Michelle terus berjalan ke arah Alvin pergi hingga menemukan tempat ini, salah satu taman paling besar di komplek perumahan ini. Taman yang berbentuk lingkaran di tengah komplek dan dilingkari jalan aspal yang biasa digunakan untuk jogging orang-orang di sekitar sini.

​Michelle pikir Alvin hanya akan jogging sendiri, ia berniat menemani cowok itu. Tapi saat Michelle mendekat, ia malah melihat Alvin menghampiri seorang cewek yang ia kenal. Michelle menghela napas, berniat pulang tapi ia terlanjur di tempat ini, karena itu Michelle ikut saja walau pakaiannya memang tidak seperti orang lari pagi.

​"Heh, malah ngelamun!" Devis mengibaskan tangannya di depan wajah Michelle. "Lo ngebet banget pengen deket sama Alvin sampe rela ngintilin dia pacaran begini, lo waras kan?"

​Michelle langsung menoleh dengan mata melotot. "Maksudnya tanya gitu apa?" tanyanya merasa tersinggung.

​Devis menghela napas, menarik cewek itu agar sedikit minggir karena mereka berada di jalan. Sejak tadi Michelle teriak-teriak sebenarnya sudah membuat mereka jadi perhatian orang-orang yang lewat, bisa-bisa mereka dikira pasangan yang sedang berdebat.

​"Ngapain sih?" Michelle menghempaskan lengannya hingga pegangan Devis terlepas.

​"Cuma mau bilang aja, hati-hati."

​Kening Michelle berkerut. "Nggak jelas banget lo," ucap cewek itu, berbalik meninggalkan Devis yang malah terkekeh.

​Tangan Devis dengan cepat meraih lengan Michelle, membuat cewek itu kembali berbalik.

​"Ikut gue."

​"Heh, mau ke mana? Lepasin nggak?!"

​Sayangnya Devis menulikan telinga, cowok itu masih mencengkeram erat lengan Michelle dan menarik cewek itu menjauhi area taman. Michelle memberontak hingga mereka jadi perhatian yang membuatnya malu sendiri, hingga akhirnya Michelle memilih pasrah. Jika Devis berbuat macam-macam, ia bersumpah akan menggetok kepala cowok itu sampai amnesia.

​.

.

.

.

.

​"Misahin mereka?!"

​Devis mengangguk yakin, cowok itu menarik satu ujung bibirnya seperti pemeran antagonis yang sedang membuat rencana jahat. Sementara Michelle menatap dengan kening berkerut, ragu dengan penawaran yang tadi Devis berikan.

​Sekarang mereka sedang duduk di depan sebuah minimarket, Devis menariknya ke sini karena katanya mengobrol sambil minum sesuatu yang manis lebih enak daripada berdiri di pinggir jalan ngelihatin orang pacaran.

​Ya memang benar sih.

​"Kalau lo nggak mau sih nggak apa-apa, gue cuma nawarin diri buat bantuin, kasihan lihat lo ngenes banget tiap mereka pacaran."

​Michelle mendelik, tapi yang dikatakan Devis memang benar. Ia selalu menjadi pihak yang tersakiti saat Alvin berduaan dengan Rara, padahal hak mereka karena memang mereka pacaran. Sementara Michelle hanya tunangan yang tidak dianggap— ah, masih calon.

​"Berasa ngomong sama angin tau nggak?" ujar Devis yang membuat Michelle langsung tertarik dari lamunannya.

​"Kak Devis udah punya rencana?"

​Sebelah alis Devis langsung terangkat begitu mendengar bagaimana Michelle memanggilnya, nada bicara cewek itu yang semula selalu judes kini terdengar lebih kalem, lebih tepatnya melas.

​Devis malah terkekeh. "Setelah sekian lama jadi adek kelas kurang ajar, akhirnya lo sadar kalau gue lebih tua?"

​Michelle terdiam, tiga detik kemudian meringis sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, lalu berdehem.

​"Serius nanya nih, udah ada rencana apa cuma nawarin doang?"

​"Maunya udah apa belum?"

​"Kak Devis!"

​Devis tertawa, entah kenapa melihat Michelle kesal adalah sebuah hiburan untuknya, karena itu tadi Devis kaget melihat Michelle tiba-tiba memasang wajah melas di depannya. Cewek itu sudah tercap tukang marah-marah di mata Devis.

​"Senin pulang sekolah temuin gue di gazebo taman tengah, gue kasih tau rencananya," ujar Devis kembali ke gaya bicara semula setelah tawanya mereda.

​Michelle berdecak. "Kenapa nggak sekarang aja sih? Pakek besok-besok segala!"

​"Suka banget ya lama-lama sama gue?" tanya Devis. "Gue ada urusan, nggak bisa lama-lama."

​Michelle mendelik. "Pede amat lo!"

​"Tuh kan galaknya balik, lupa diri lagi kalau gue lebih tua?"

​Kedua mata Michelle menyipit, tanda ia benar-benar kesal. Cewek itu beranjak dan pergi begitu saja meninggalkan Devis yang masih duduk di tempatnya.

​Devis memerhatikan sampai cewek itu menyeberang dan berjalan sambil menggerutu memasuki area taman, ia dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah adik kelasnya itu.

​Setelah punggung Michelle semakin jauh, senyum Devis berubah. Cowok itu memasang ekspresi liciknya dengan senyum kemenangan.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!