Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13
Tangis Usstica dan Kallida pecah setelah mendengar keputusan akhir dari sang pemimpin klan, disetujui oleh para tetua adat.
"Math Male, sebagai saudara laki-laki dari Usstica yang telah membawa kehidupan dalam perutnya, sebab berzina dengan pria kotor, kamu harus bertanggungjawab dan membawa Usstica sebagai istrimu, dengan begitu, nama istrimu dan keluargamu menjadi bersih kembali." Ketua adat tertinggi membacakan ayat satu proses pernikahan Math Male dengan adik tirinya Usstica Male.
Math dan Usstica telah didandani dengan pakaian adat pernikahan di negri itu, keduanya berdiri berdampingan menghadap sang ketua adat, disaksikan oleh semua anggota klan Male.
"Dia memang cantik. Sangat cantik setelah berdandan," puji seorang anggota Male yang berdiri diantara kerumunan.
"Math juga sangat tampan. Hanya saja aku rasa pernikahan itu tidak akan mendatangkan banyak keturunan. Aku dengar Math suka meniduri banyak gadis di kota ini, tapi tak satupun hamil karenanya," sahut yang lainnya.
"Aku rasa juga begitu, mungkin karena Math mandul."
"Sekarang tiba saatnya pada inti dari prosesi pernikahan ini, yaitu penyematan janji dan pengesahan dari seluruh pengurus adat." Pengatur upacara menerangkan urutan prosesi selanjutnya.
Math dan Usstica diarahkan untuk berdiri berhadapan, dengan kedua tangan mereka harus saling berpegangan.
Math tak bisa lagi menghindari hukum adat ini. Ia harus menyelamatkan keluarganya dari semua pandangan buruk, meskipun hati kecilnya ia pun merasa kecewa dan marah, tapi melawan klan hanya akan menghancurkan impiannya.
"Maafkan aku ibu, kakak. Akan aku pertanggungjawabkan semuanya setelah ini. tidak akan kubiarkan kalian menderita lagi karenaku." Usstica menitikkan air mata sambil terus tertunduk menatap tangannya yang digenggam oleh Math.
Math kembali menghela nafas, "Dimana perempuan itu? " Math kembali teringat akan kilasan bayangan wajah sendu Mesh Mayya. Tiba-tiba ada rasa nyeri yang tak pernah ia rasa sebelumnya. Rasa sesak yang sangat membingungkan dan membuatnya ingin berlari. "Aku ini kenapa? Ah, ini hanya karena aku harus menikahi adikku sendiri, konyol memang, tapi tak ada jalan untuk melakukan apapun untuk sekarang."
Pengurus adat berdiri di sisi Math dan Usstica, "Akan saya bacakan janji pernikahan kalian, dan kalian harus mengikuti apa yang aku ucapkan secara bergantian."
"Baik." Math dan Usstica menjawab bersamaan.
"Tirukan apa yang aku ucapkan berikut ya Math." Pengurus adat membimbing apa yang harus dilakukan Math. Dan hanya disahut dengan anggukan kepala math. "Aku Math Male, berjanji menjadi kepala keluarga yang akan memimpin dan mencintai istriku Usstica dan anak-anak yang akan dilahirkannya nanti serta mendidiknya dengan aturan adat turun temurun dari keluarga Male."
Math menghela nafas, lalu menirukan persis apa yang diajarkan oleh pengurus adat. "Aku Math Male, berjanji..."
"Hentikan pernikahan konyol ini!"
"Ayah!" Usstica tak bisa menahan haru saat menoleh dan melihat sosok sang ayah berdiri dengan raut wajah lelah, tegas, namun tersirat kesedihan yang begitu dalam.
Semua mata beralih memandang Taddeus. Berbagai opini kembali hadir. Yang lebih tak bisa dimengerti, karena Taddeus tidak datang sendirian.
"Siapa itu? Siapa pria bangsawan yang dibawa Taddeus itu?" ujar seseorang dengan lirih.
"Aku rasa Taddeus akan kembali melawan pengurus adat. Dia akan menimbulkan masalah lagi." Yang lain pun menyahut dengan tatapan sinis.
"Pernikahan Usstica telah lama aku rencanakan dengan pria bangsawan ini." Taddeus memasuki aula diikuti oleh beberapa orang dengan pakaian kebangsaan yang mewah.
Seorang pria berbadan tegap, dengan tinggi sejajar dengan Math, dan wajah yang sangat tampan, mengenakan pakaian mewah bak putra mahkota dari kerajaan dongeng.
"Perkenalkan, kami dari klan Zuba, klan kecil dari Utara. Kami menawarkan kerjasama berupa pasukan perang beserta perlengkapan senjata kami yang sangat modern. Sedangkan kami hanya akan menukarnya dengan bahan pangan yang begitu subur tumbuh melimpah di negri ini." Pemimpin klan memperkenalkan diri.
"Kesepakatan yang akan sangat dibutuhkan klan ini kedepannya kan?" Taddeus berusaha meyakinkan Mattew dan para pengurus adat.
"Benar, saya adalah Bongsia Zuba, selaku pemimpin klan Zuba, dan ini adalah sepupu saya Benedict Zuba. Kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan pelayaran, sehingga saya mengambil alih perwalian Benedict sejak lima belas tahun silam."
"Terimakasih atas kedatangan kalian, tapi putri klan kami bukan lagi sebagai gadis murni, melainkan gadis yang telah membawa kehidupan kotor dalam perutnya, sebab berzina dengan pemuda miskin." Mattew menjelaskan bagaimana keadaan Usstica.
"Kami tidak mempermasalahkan hal itu, selama kesepakatan tetap bisa berjalan baik, atau mungkin sebagai gantinya kami diperbolehkan mengambil dua gadis sekaligus." Bongsia Zuba mengedarkan pandangannya pada seluruh kerumunan dengan tatapan sombong.
Usstica menelisik penampilan Benedict, saat tak sengaja keduanya bertatap mata, Usstica merasa ngeri dan takut, seolah tatapan Benedict terlalu kejam bak seorang pembunuh. Usstica menunduk, beringsut ke belakang Math, membuat Math menyadari ketidaknyamanan Usstica.
"Ayah, sudahkah ayah mempertimbangkan baik-baik kesepakatan itu?" Math memberanikan diri menyapa sang ayah yang sebenarnya sangat dibencinya. "Kakek, aku tak keberatan melindungi Usstica, pernikahan kita lanjutkan saja."
"Math, ayahmu memiliki wewenang untuk memutuskan apa yang harus dilakukan keluargamu. Dan yang terpenting adalah keputusan Usstica yang akan melanjutkan hidupnya." Mattew menjawab dengan bijak.
"Aku rasa pasukan kita tak lagi membutuhkan bantuan, kita juga memiliki senjata yang cukup modern. kesepakatan ini tidak akan menguntungkan apa-apa untuk klan kita," sahut Redrik seakan ia pun tak merasa senang dengan kehadiran klan Zuba.
"Hahaha ... kalian ingin mengujinya? Kami bisa menunjukkannya bagaimana kehebatan pasukan perang dan senjata yang berhasil kami ciptakan. Jika kalian meremehkan hadiah dari kami, aku rasa kalian harus mencicipinya sendiri."
Suasana berubah mencekam, saat Benedict mengacungkan senjata dan mengarahkannya pada kepala Math.
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣