Mikhaila Danya Bimantara, 28 tahun, wanita mandiri pemilik toko bunga istri dari Rain Bagaspati harus menerima kenyataan pahit saat suami yang di cintainya harus menikah dengan sahabatnya yang telah hamil.
Fabyan Alkandra Sadewa, 30 tahun pria lajang tampan, dingin seorang CEO, memilih melajang di usianya yang sudah matang, wanita baginya hanya sosok yang membuat hidupnya tidak fokus mencapai tujuannya menjadi pebisnis nomor satu.
Pertemuan tak di sengaja antara Mikha dan Alka di sebuah cafe membuat hal yang tak pernah mereka bayangkan terjadi.
Sebuah kisah percintaan antara wanita yang pernah kecewa dengan pria yang menganggap wanita terlalu banyak dramanya, akankah membuat mereka bersatu?
Yuk, ikuti kisah cinta antara Mikha, Rain, Alka, pastinya seru dan bikin terharu.
Salam hangat,
ariista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alka Bertemu Mikha
Alka tersenyum lebar saat terdengar suara lembut wanita yang sedang mengacaukan hatinya di telinganya.
"Hai, Mikha, kamu di mana?" tanya Alka pura-pura tidak tau kalo Mikha berangkat ke Bali.
Mikha tidak menjawab, Alka menunggu.
"Ya sudah kalo gak mau ngejawab, aku udah ambil buket bunganya, terimakasih ya, cantik sekali buket bunganya secantik orangnya,"
Mikha di seberang sana tersenyum mendengar gombalan receh Alka.
"Pinter gombal ternyata yah, pak Alka,"
"Alka aja tidak pake pak, Mikha,"
"Baiklah Alka, terimakasih sudah memesan buket bunga di Mikha's Florist, semoga berkenan dan suka dengan bunganya,"
"Tentu saja suka, bagus sekali buket bunganya, terus terang saya suka sangat suka, suka juga sama pembuatnya," Alka terkekeh geli.
Mikha di seberang sana yang mendengarkan wajahnya merona, bisa-bisanya dirinya di gombalin dari jarak jauh.
Seandainya saja Alka mengatakannya langsung di depan dirinya, Mikha pasti tersipu malu.
Alka lelaki tampan yang sudah lama tidak berhubungan dengan wanita, merasakan kembali desiran-desiran di hati mulai bergetar.
Alka sudah merencanakan sesuatu untuk mendekati wanita yang baru saja terluka hatinya.
Alka tidak salah tujuan bertanya ke maminya sehingga mendapatkan jawaban yang akurat.
Alka akan berangkat ke Bali besok, ia sudah menelpon asistennya Farzan yang juga adik sepupunya itu.
Alka memiliki misi untuk dirinya, entah mengapa ada dorongan yang kuat di dirinya untuk mengenal lebih jauh tentang Mikha.
Mikha yang baru di kenalnya, sosok gadis yang ceria tetapi seperti menyimpan luka.
Alka malam ini tidak keluar rumah ia akan mempersiapkan keberangkatannya kk Bali besok pagi.
Alka sudah mendapatkan lokasi tempat Mikha menginap. Alka bukan mau menganggu Mikha, dirinya hanya ingin mengenal wanita itu lebih jauh.
Alka ingin menemani kesendirian Mikha di Bali. Alka gak peduli jika Mikha nantinya akan merasa terganggu dengan kehadirannya.
Malam cepat berlalu di ganti pagi yang cerah secerah wajah lelaki tampan yang sudah bersiap akan berangkat ke bandara.
Alka akan menaiki jet pribadi milik keluarganya.
Perjalanan ke kota Bali memakan waktu dua jam. Alka sudah berada di bandara. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang sudah membuat pikirannya berisik.
Alka sampai di bandara Ngurah Rai sudah mulai siang. Suasana terasa gerah. Alka melihat sekeliling. Suasana tampak ramai dengan orang-orang yang mondar mandir di seputar bandara.
Alka di jemput anggotanya yang sudah berada du Bali. Alka langsung menuju ke penginapan di mana Mikha berada.
Alka tersenyum sendiri membayangkan dirinya akan memberi kejutan kepada wanita cantik yang sedang tidak baik-baik saja itu.
Mobil yang ditumpangi Alka sampai juga di penginapan Mikha yang dirinya sendiri juga akan menginap di situ.
Alka masuk ke penginapan menuju ke resepsionis untuk cek in baru berjalan ke kamar penginapannya. Ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamar Mikha.
Alka membuka pintu kamarnya masuk ke dalam meletakkan koper kecilnya. Merebahkan dirinya di kasur untuk sesaat. Alka tertidur sebentar.
Sementara di dalam kamarnya Mikha bersiap untuk berenang. Kolam renang dibuat di setiap kamar penginapan. Karena penginapan yang di pesan oleh Mikha merupakan penginapan private tidak terlalu banyak kamarnya.
Mikha sedang asyik berenang ia mengenakan pakaian renang one piece kuning. Bergerak lincah di dalam kolam renang.
Alka yang baru saja bangun dari tidurnya keluar ke balkon kamar, ia berdiri di depan kolam renang kamarnya, sambil mengulet merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, saat pandangan matanya terhenti begitu melihat sosok yang sedang di incarnya sedang berenang lincah di dalam air kolam renang.
Mikha tidak menyadari sama sekali ada seseorang yang memperhatikannya berenang. Setelah berputar-putar beberapa kali. Mikha kelelahan, ia masih berada di kolam renang di pinggir kolam, menengadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya.
Alka yang terus memperhatikannya tersenyum.
Hanya ada batas dinding setinggi satu meter saja yang memisahkan kamar mereka.
"Hai," sapa Alka santai sambil tersenyum ramah.
Mikha kaget bukan main, ia seperti mendengar suara yang di kenalnya, tapi Mikha mengira ia hanya berhalusinasi saja. Mikha masih dengan mata terpejam tidak membuka matanya.
Alka melompati pagar pembatas kamar mereka. Ia berjongkok dengan satu lutut bertumpu di lantai kolam renang.
Alka menikmati kecantikan wajah Mikha dari atas.
"Cantik sekali," lirih Alka pelan.
Mikha kaget, ia seperti bermimpi tapi suara ini terlalu dekat di telinganya.
"Apa kamu lelah, cantik?" bisik Alka di telinga Mikha.
Mikha kaget bukan main, ini bukan mimpi, batin Mikha. Mikha membuka matanya. Matanya membola sempurna begitu melihat laki-laki yang baru di kenalnya ada di atas kepalanya.
Mikha berbalik, ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Mikha mengucek-ucek matanya. Mikha merasa dia masih bermimpi.
"Hei, ini aku," Alka menggerakkan tangannya di depan wajah Mikha.
Mikha mengernyitkan alisnya tanpa bersuara.
"Apa kamu kaget?" tanya Alka masih dengan kekehannya.
Mikha jadi yakin jika ia tidak sedang bermimpi. Ia mencubit lengannya kuat-kuat.
"Awww," Mikha meringis.
"Hei, mengapa kamu cubit lenganmu? Ini aku, Alka, apa kamu kira aku hantu?" Alka memanyunkan wajahnya pura-pura merajok.
"A-al-ka? Apa benar kamu Alka bukan hantunya?" tanya Mikha masih heran.
"Hei, Mikha sadar ini aku, Alka bukan hantu, ya ampun, orang cakep gini kok di bilang hantu," Alka beranjak dari jongkoknya ia pindah duduk di kursi sofa yang ada di balkon di depan kamar Mikha.
Mikha yang masih berada di dalam kolam renang ingin keluar dari kolam, tetapi ia bingung harus bagaimana. Alka ada di depan matanya, gak mungkin dirinya keluar kolam hanya mengenakan bikini saja di depan Alka.
Alka mengernyitkan alisnya, ia menatap ke Mikha yang tampak kedinginan di dalam kolam renang.
"Kamu mau naik?" tanya Alka yang paham dengan situasi.
Mikha mengangguk cepat.
Alka tertawa.
"Coba ngomong jangan diam aja, kamu malu sama aku?"
Mikha membolakan matanya, wajahnya memerah sudah seperti udang rebus.
"Waduh, wajahmu semakin memerah, ya udah aku balik badan aja tutup mata kalau kamu mau naik,"
Mikha mengangguk cepat.
Alka tertawa lepas melihat wajah Mikha yang tampak lucu. Alka membalikkan tubuhnya ke samping ke arah kamarnya. Ia masih duduk di sofa balkon kamar Mikha.
Mikha segera bergegas keluar kolam renang dan memakai bathrobenya.
Setelah memakai bathrobenya Mika duduk di dipan kayu dengan bisa atasnya. Ia belum beranjak berganti pakaian, itu akan memakan waktu yang lama.
"Ke-na-pa bi-sa ada di sini Alka?" tanya Mikha penasaran.
"Kenapa? Gak boleh ya?" Alka balik bertanya.
"Yah, ditanya malah balik bertanya,"
"Aku sengaja kesini ingin menemani dirimu," jawab Alka sambil menaik turunkan alisnya.
Mikha mengernyitkan alisnya.
Kenapa sih, lelaki satu ini, baru juga kenal, batin Mikha.
"Kamu gak suka aku di sini?" tanya Alka lagi.
Mikha diam saja tidak menjawab.
"Bukan begitu tapi aneh aja sih, tiba-tiba kamu muncul di sini, aku baik-baik aja kok, gak apa-apa," ucap Mikha tapi mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Mikha sedang berbohong, mana mungkin dirinya baik-baik saja setelah di ceraikan oleh suami yang di cintainya itu.
"Yakin kamu baik-baik saja? Aku kok gak yakin ya,"
Mikha memanyunkan bibirnya.
Sok tau banget sih ni cowok, batinnya.
"Kamu suka melamun ya? Bentar lagi makan siang, mandilah dulu aku tungguin, kita makan siang di luar,"
Mikha hanya menatap wajah ganteng di depannya ini.
"Jangan lama-mandinya, aku gak suka menunggu," Alka bicara agak teriak karena Mikha sudah berjalan masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Alka senang bisa bertemu Mikha saat ini, ia sudah menyusun rencana apa saja yang akan mereka lakukan sampai Mikha bener-bener akan melupakan kisah pahitnya berumah tangga dengan suaminya sekaligus kakak angkatnya itu.