Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin ia merasa sedikit aman. Tubuh Amira terasa jauh lebih ringan setelah mandi rempah.
Air hangat bercampur aroma daun-daunan dan rempah membuat pegal di tubuhnya perlahan mereda. Setelah itu ia meminum jamu yang sudah disiapkan, lalu memakai pilis dingin di dahinya. Sensasinya menenangkan.
Sudah lama Amira tidak merasa tubuhnya diperhatikan sedetail ini. Dahulu, ia pernah begini. Meskipun tidak sesempurna ini. Sekali sebelum ia menikah dengan Mas Mirza.
Ia duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambut perlahan. Wajahnya memang masih pucat, tetapi setidaknya sekarang kepalanya tidak terlalu berat.
Di luar kamar, suasana ndalem mulai tenang. Suara langkah khadimah semakin jarang terdengar. Dari kejauhan hanya terdengar samar lantunan santri yang masih murojaah malam.
Amira melirik jam dinding. Sudah hampir larut. Namun sebelum tidur, ia mengambil alat pompa ASI yang tadi disiapkan Tiur. Duduk di tepi ranjang, Amira mulai memompa ASI perlahan. Suara kecil alat itu memenuhi kamar yang sunyi. Matanya sesekali tertuju pada botol bening yang mulai terisi sedikit demi sedikit.
Aneh rasanya. Kemarin ASI ini terasa seperti pengingat kehilangan. Setiap kali dadanya penuh, Amira hanya bisa menangis karena tidak ada bayi yang meminumnya.
Namun sekarang ASI itu akan diminum seseorang. Habibi. Bayi kecil yang bahkan bukan darah dagingnya.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan. Tiur masuk sambil membawa cooler bag kecil. “Sudah selesai, Bu?”
Amira mengangguk lalu menyerahkan botol ASIP itu dengan hati-hati. Tiur menerimanya sambil tersenyum. “Alhamdulillah. Ini cukup buat malam ini.”
Amira refleks bertanya, “Habibi sudah tidur?”
“Iya.” Tiur mengangguk. “Tadi sempat bangun sebentar, tapi sekarang sudah tidur lagi.”
Entah kenapa mendengar itu membuat hati Amira ikut tenang.
Tiur lalu berkata lagi, “Umi Salma berpesan malam ini Bu Amira istirahat saja.”
“Saya bisa bantu jaga…”
“Tidak usah.” Tiur cepat menggeleng. “Habibi dijaga saya dan dua khadimah lain bergantian.”
Amira terdiam.
“Bu Amira cuma dimintai ASIP dulu malam ini.” Tiur tersenyum kecil. “Tubuh panjenengan juga perlu istirahat.” Setelah mengatakan itu, Tiur pamit keluar membawa ASIP tadi.
Kamar kembali sunyi. Amira perlahan berbaring di atas ranjang. Tubuhnya memang lelah. Tetapi untuk pertama kalinya sejak kehilangan bayinya ia tidur tanpa tangisan.
Perasaan apa ini? Amira memandang langit-langit kamar dalam diam. Tubuhnya terasa ringan. Segar.
Perutnya kenyang setelah dipaksa menghabiskan makanan bergizi sejak tadi siang. Badannya hangat setelah mandi rempah. Kepalanya nyaman karena pilis dingin yang masih menempel samar di dahi. Dan ranjang yang sedang ia tiduri empuk sekali.
Amira menelan ludah pelan. Sudah lama ia tidak merasakan istirahat setenang ini. Bahkan sejak hamil, tidurnya sering terganggu karena harus membantu pekerjaan rumah, mencuci, memasak, dan melayani kebutuhan suami serta ibu mertua.
Namun di sini ia hanya diminta makan, istirahat, dan menyusui Habibi. Tidak ada suara ember cucian. Tidak ada dapur yang harus dibereskan. Tidak ada pekerjaan yang menunggu subuh-subuh. Semua sudah disiapkan untuknya.
Dan justru itulah yang membuat dada Amira terasa aneh. Bersalah. Seolah ia sedang menikmati sesuatu yang tidak seharusnya ia nikmati.
Baru dua hari lalu ia kehilangan anak. Tetapi malam ini tubuhnya justru merasa nyaman.
Amira memejamkan mata sambil menarik selimut hingga dada. “Astaghfirullah…” Bisiknya lirih. Ia takut dianggap tidak tahu diri. Takut kalau rasa nyaman ini berarti ia mulai melupakan bayinya sendiri.
Namun semakin ia mencoba menolak perasaan itu, semakin sadar pula Amira bahwa dirinya memang sangat lelah selama ini. Terlalu lelah. Dan tempat ini tanpa sengaja memberinya ruang untuk bernapas.
***
Pagi itu Amira terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Setelah salat subuh, ia mandi air hangat dan memakai gamis bersih yang sudah disiapkan khadimah. Rambutnya masih sedikit basah ketika ia duduk di depan cermin, mengeringkannya perlahan dengan handuk kecil.
Suasana ndalem masih tenang. Sampai tiba-tiba Tangisan Habibi terdengar. Kencang. Amira langsung menoleh ke arah pintu. Tangisan itu berbeda dari rengekan kecil semalam. Kali ini terdengar panik dan terus-menerus.
“Habibi?” Refleks Amira buru-buru berdiri.
Ia bahkan belum sempat memakai lotion atau merapikan jilbab dengan benar. Dengan langkah cepat, Amira keluar menuju kamar sebelah.
Pintu kamar Habibi terbuka sedikit. Dan begitu Amira masuk Ia langsung berhenti. Ada seorang lelaki di sana. Tubuhnya tinggi dengan gamis putih sederhana dan peci hitam. Wajahnya tampak tenang, tetapi gerakannya terlihat kaku saat mencoba menggendong Habibi yang terus menangis di pelukannya. Bayi itu justru semakin rewel. Lelaki itu tampak bingung harus bagaimana.
Amira refleks menegur, “Maaf… Habibi kenapa?”
Lelaki itu langsung menoleh.
Dan saat melihat Amira raut wajahnya berubah kaget. Benar-benar kaget. Tangannya bahkan sempat menegang sedikit di tubuh Habibi. Amira langsung bingung. Kenapa lelaki itu malah terlihat terkejut melihat dirinya? Bukankah ini kamar Habibi? “Panjenengan…” Amira mulai merasa tidak enak. “Siapa?”
Belum sempat lelaki itu menjawab, langkah seseorang terdengar mendekat dari luar.
“Habibi bangun ya?” Umi Salma masuk ke kamar sambil tersenyum tipis. Namun begitu melihat Amira dan lelaki itu saling berdiri canggung, beliau langsung paham situasinya. “Oh…” Umi Salma tertawa kecil pelan. “Kalian belum saling kenal.”
Amira menoleh bingung.
Sementara lelaki itu perlahan menundukkan pandangan, seolah baru sadar ada perempuan asing di kamar putranya sejak tadi.
Umi Salma lalu mendekat sambil berkata tenang, “Mira, ini Usman.” ia menunjuk lelaki igu. “Abinya Habibi.”
Wajah Amira langsung pucat. Ia spontan mundur setengah langkah lalu menunduk cepat. Astaghfirullah Jadi ini, Kyai Usman? Kyai muda yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang-orang? Amira langsung salah tingkah. Apalagi mengingat tadi ia masuk begitu saja dengan jilbab belum rapi lalu menegur beliau seperti orang biasa.
Sementara Usman sendiri tampak masih diam. Tatapannya sempat singgah sekilas pada Amira sebelum segera dialihkan lagi. Dan entah kenapa sikap dingin itu justru membuat Amira semakin gugup.
Habibi masih menangis di pelukan Usman. Tangisnya makin keras, tubuh kecilnya sampai melengkung gelisah seperti sedang mencari sesuatu yang tidak ditemukan.
Usman tampak semakin kaku. Ia mencoba menggendong lebih nyaman, tetapi jelas sekali lelaki itu tidak terbiasa menghadapi bayi yang menangis seperti ini. “Mungkin lapar,” ucapnya pendek sambil menoleh sedikit pada ibunya.
Umi Salma mengangguk pelan. “Iya.” Lalu pandangannya beralih pada Amira.
Amira langsung tahu maksud tatapan itu. Namun justru itu yang membuatnya makin salah tingkah. Karena sekarang situasinya berbeda. Ada ayah Habibi di ruangan ini. Dan entah kenapa keberadaan lelaki itu membuat Amira jadi sangat sadar diri. Ia menunduk semakin dalam.