Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Aurora mengernyit. Sementara di depan, Hank memejamkan mata sesaat karena ia tahu tuan mudanya baru saja menyederhanakan masalah yang sebenarnya jauh lebih rumit. Lalu menghembuskan napas beratnya bahwa ia tahu pekerjaannya pasti akan jauh lebih banyak.
“Siapa yang mengganggu Anda?”
“Semua orang.”
“Hah?”
“Investor.”
“…”
“Direktur.”
“…”
“Politisi.”
“…”
“Dan wanita-wanita yang berpikir mereka bisa menjadi Nyonya Hartmann.”
Aurora akhirnya mulai paham, lalu matanya membelalak. “Tunggu dulu!” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Jangan bilang Anda ingin menjadikan saya pacar pura-pura atau semacamnya?”
Aragon memandangnya beberapa detik, lalu...
“Tidak.”
Aurora menghela napas lega. “Syukurlah.”
“Karena itu terlalu murahan.”
“APA?!” Aurora mendelik.
Hank langsung berdeham keras. “Ehem!”
Aragon melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. “Orang-orang tidak akan percaya jika aku tiba-tiba memiliki pacar.”
“Kenapa?”
“Berhubung aku tidak pernah berkencan.”
Aurora terdiam. Hank terdiam. Bahkan sopir yang duduk di depan ikut terdiam. Aragon mengucapkan kalimat itu dengan nada yang begitu datar, seolah sedang membicarakan cuaca hari ini.
“Lalu?” Aurora mulai merasakan firasat buruk.
Aragon menatapnya. Tatapan itu begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. “Karena itu, aku membutuhkan sesuatu yang lebih meyakinkan.”
Aurora menelan ludah. “Seperti apa?”
Aragon menunjuk salah satu halaman kontrak.
“Halaman dua puluh tiga.”
Aurora segera menggulir layar. Begitu membaca judul pasal tersebut, wajahnya langsung pucat pasi. Matanya membelalak, mulutnya terbuka tanpa suara.
Sementara itu, Hank menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak melihat apa pun karena ia sudah tahu reaksi itu akan muncul.
Perlahan, Aurora mengangkat kepala, menatap Aragon seakan baru saja melihat iblis dalam wujud manusia.
“ANDA GILA!”
Aragon mengangkat sebelah alis. “Aku sering mendengar itu.”
“TIDAK MUNGKIN!”
“Sangat mungkin.”
“INI PASAL PERNIKAHAN!”
Keheningan langsung memenuhi kabin mobil. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aragon tersenyum lebar.
“Bagus.”
“Bagus apanya?!”
“Setidaknya kau membaca kontraknya.”
Aurora nyaris melempar tablet di tangannya tepat ke wajah tanpa ekspresi milik Aragon.
“Anda benar-benar mengisap semua milik saya sampai ke tulang-tulangnya.”
“Benar,” jawab Aragon santai, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Jawaban santai tanpa perasaan itu justru membuat Aurora semakin kesal.
“Saya pikir maksud anda, mengambil kebebasan saya adalah tawaran kerja.”
“Sayangnya aku tidak sedang membuka lowongan karyawan. Lagi pula tanpa membuka lowongan banyak karyawan yang mengantre.”
“Lalu apa maksud dari semua kegilaan ini?!”
“Calon istri.”
“ANDA BENAR-BENAR GILA!!!” Suara Aurora melengking, bergema di dalam kabin mobil yang kedap suara.
“Itu kali kedua kau mengatakannya malam ini,” sahut Aragon datar, nadanya terlampau tenang hingga membuat Aurora semakin frustrasi.
Kehabisan kata-kata untuk menghadapi pria batu di sampingnya, Aurora menoleh ke kursi depan. Dengan tatapan memohon yang kentara, ia menatap asisten pribadi pria itu.
” Tuan Hank, tolong katakan pada saya kalau bos Anda hanya sedang melontarkan lelucon buruk.”
Hank tetap bergeming, matanya lurus menatap asmaradana lampu kota di balik jendela kaca. “Saya dibayar untuk diam, Nona Aurora.”
“Itu bukan jawaban!”
“Justru itu jawaban terbaik dan paling aman yang bisa saya berikan saat ini. Untuk anda dan untuk diri saya sendiri.” Hank membetulkan posisi duduknya tanpa menoleh sedikit pun.
Aurora mengembuskan napas kasar, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Aragon. Napasnya memburu. “Kenapa saya?! Dari jutaan wanita di kota ini, kenapa harus saya?!”
“Karena kau memenuhi tiga syarat utamaku.” Aragon akhirnya mengunci ponselnya, meletakkannya di kursi, lalu memutar tubuh untuk menghadap Aurora sepenuhnya.
“Syarat apa?!”
“Pertama, kau tidak menyukaiku.”
Aurora tercekat. Tenggorokannya mendadak kering.
Aragon melanjutkan dengan artikulasi yang begitu jelas.
“Kedua, kau tidak tertarik pada uangku. Dan ketiga, kau sama sekali tidak terkesan dengan nama besarku, kau datang hanya untuk panti asuhan, dengan kata lain hanya untuk menolong orang lain bukan untuk dirimu sendiri.”
Aurora membuka mulut, hendak menyemburkan bantahan sengit, namun lidahnya mendadak kelu. Ia gagal menemukan satu kata pun untuk menyangkal. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu pria itu benar.
Sejak menit pertama mereka bertemu di antara puing panti asuhan, Aurora memang lebih sering meremehkan pria ini daripada mengaguminya seperti yang dilakukan wanita lain.
“Dan yang paling penting dari semuanya,” lanjut Aragon, netra kelamnya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurora, “kau cukup berani untuk berteriak di hadapanku. Apalagi meremehkan kekuatanku.”
Aurora mendengus, mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Kebanyakan orang juga bisa berteriak jika mereka sedang marah.”
“Tidak di depanku.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu dingin dan penuh penekanan, hingga Aurora bisa merasakan hawa mistis menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh punggungnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang mengerikan: Aragon tidak sedang menyombongkan diri. Pria itu hanya menyatakan fakta mutlak.
Aragon Hartmann hidup di puncak rantai makanan. Dunia di mana semua orang selalu menunduk, selalu mengangguk setuju, dan merangkak hanya untuk menyenangkan hatinya. Sementara Aurora? Gadis itu bahkan pernah berteriak dan memasang mata tajam.”
“Saya tidak bisa. Maafkan saya.” Aurora memalingkan wajah ke arah jendela. “Saya menolak. Cari saja wanita gila lain yang mau menjual dirinya.” Kata Aurora cepat dan melupakan sesuatu.
“Baik.”
Aurora berkedip. Ia menoleh cepat. “Hah?”
“Aku menghargai keputusanmu. Aku tidak suka memaksa.”
Seketika, alarm bahaya di kepala Aurora berdering nyaring. Terlalu mudah. Ini sangat teramat mudah untuk ukuran seorang predator bisnis seperti
Aragon Hartmann. Pria ini bukan tipe manusia yang akan menerima penolakan dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.
“Kalau begitu, kenapa Anda masih tersenyum seperti itu?” tanya Aurora penuh selidik, menyipitkan matanya curiga.
Senyuman Aragon justru semakin lebar, menciptakan impresi tampan sekaligus mengerikan di saat yang sama. “Karena kau belum membaca halaman dua puluh empat.”
Firasat buruk menghantam dada Aurora bak godam. Dengan jemari yang mendadak gemetar dan dingin, ia kembali menyalakan layar tablet. Menggulir perlahan ke halaman berikutnya.
Begitu halaman itu terbuka, napas Aurora tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna, nyaris melompat dari rongganya.
“Apa... apa-apaan ini?!”
“Lampiran kompensasi untuk pihak pertama,” sahut Aragon santai.
“INI NOMINAL UANG ATAU NOMOR TELEPON INTERNASIONAL?!” Pekik Aurora histris.
Di kursi depan, Hank menghela napas panjang lalu memijat pelipisnya yang mendadak pening. Ia sudah hafal betul bagian ini.
Aurora mencoba menghitung jumlah angka nol yang berderet panjang di layar sentuh itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pada hitungan keempat, fokusnya buyar. Otaknya menolak memproses jumlah digit yang tidak masuk akal tersebut.
“Ini... ini uang sebanyak apa?!” Suara Aurora mencicit, bergetar hebat.
“Nominal yang harus kau bayar, itu di luar biaya menginap para suster dan anak-anak panti, karena sekarang kita akan menuju hotel dimana para suster dan adik-adikmu berada.” ujar Aragon, memulai intonasi persuasifnya yang mematikan.
Aurora membeku. Jantung Aurora berdentang hebat di balik rongga dadanya, berpacu dengan rasa syok.
Seketika, keheningan total menyergap kabin mobil. Tidak ada deru mesin, tidak ada suara klakson dari luar. Hanya ada suara helaan napas Aurora yang terdengar berat dan tersendat.
“Aku sudah pikun karena… Tidak mau menukar kebebasanku… Tapi darimana aku mendapatkan uang sebanyak ini agar semuanya bisa aman.” kata Aurora lirih.
Aragon telah berhasil menembak tepat pada satu-satunya titik lemah yang dimiliki Aurora dengan masa depan anak-anak yatim piatu yang selama ini menjadi alasan tunggal bagi Aurora untuk tetap bertahan hidup di kerasnya kota ini.
Aurora perlahan menundukkan kepala. Air mata yang sempat menggenang di sudut matanya perlahan luruh, jatuh tepat di atas layar tablet yang menampilkan angka fantastis, angka yang setara dengan kebebasan hidupnya.
Aragon mengawasinya tanpa berkedip. Ia tahu, umpannya telah ditelan bulat-bulat. Pertarungan psikologis ini telah usai, dan ia keluar sebagai pemenang tunggal.
Bersambung