Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Penggelapan Pembangunan Sekolah
Di sudut kota yang dihiasi cahaya lampu kecil, terlihat gedung megah tapi gelap. Suasana itu bukan hanya sunyi tapi dingin. Di lantai paling atas, terdengar suara ricuh serta lampu kelap-kelip dari balik tirai tebal.
Di dalam ruangan itu, aroma anggur bercampur asal rokok memenuhi udara. Tawa beberapa orang terdengar samar. Beberapa dokumen penting sekolah berserakan di lantai. Mereka tidak memedulikan kekacauan yang ada, semua larut dalam kesenangan. Jas mereks yang biasanya terpasang rapi kini juga berantakan.
Pak Rehan, kepala sekolah yang selama ini dikenal tegas di depan semua orang, duduk santai di kursi empuknya. Dia memainkan sejumlah uang yang ada di tangannya sambil tersenyum lebar dan tertawa. Lembaran uang itu berjatuhan di lantai. Namun, Pak Rehan tidak mempedulikannya dan malah meminum segelas anggur sekali lagi.
"Semuanya, kita lupakan sejenak urusan pekerjaan. Biarkan malam ini kita bersenang-senang!" ucap Pak Rehan sambil mengangkat gelas anggurnya. Dia berdiri tersenyum menatap semua orang yang sedang berpesta di sana.
Semua orang ikut bersulan, tanpa mereka ketahui bahwa pesta yang mereka lakukan saat ini adalah hasil dari penggelapan dana kepala sekolah. Semua tampak senang seolah tidak terjadi masalah besar. Sementara di kursi besarnya, Pak Rehan terus saja menyeringai dengan tatapan mata yang menggelap karena bayangan duniawi.
Tiba-tiba seorang pejabat datang ke dalam ruangan itu membuat mereka semua terkejut. Semua berpura-pura menjaga sikap dengan merapikan pakaian mereka dan membersihkan barang berserakan di lantai.
Pejabat itu melirik keadaan di sekitar sekilas, tatapannya langsung fokus pada pak Rehan yang sedang duduk di kursi sambil bersantai. Dia tertawa dalam hati sekilas sambil menghela napas.
"Pak Rehan, bagaimana kabar anda?" tanya pejabat itu dengan suara tegas tapi juga ramah. Langkahnya semakin cepat menghampiri pak Rehan yang saat ini juga ikut berpura-pura alim di depannya.
Pak Rehan tersenyum ramah pada pejabat itu. "Baik, ada perlu apa bapak Rahardian ke mari?"
Pak Rahardian menghela napas, dia menunjuk beberapa dokumen penting sekolah itu yang berserakan di lantai. Alisnya bertaut dan matanya memicing, merasa curiga dengan sikap kepala sekolah itu. Dia mengangkat sebuah koper hitam, menaruhnya di atas meja kepala sekolah itu, membuat mata pak Rehan berbinar.
"Saya ke sini untuk bertanya bagaimana progres pembangunan sekolah, apa berjalan lancar?" tanya Pak Rahardian sekali lagi.
Mendengar pertanyaan pak Rahardian, jantung pak Rehan berdesir. Dia sedikit salah tingkah dan tatapan matanya seperti tidak fokus. Pak Rahardian dapat membaca sikap itu menjadi salah satu gerakan seseorang menyembunyikan sesuatu. Namun, dia mencoba untuk tidak menghakimi.
Pak Rehan mengusap wajahnya kasar. Dia tersenyum kaku menatap pejabat itu. Sejenak, pria itu menghela napas, mencoba menenangkan diri.
"Iya, semua berjalan lancar. Anda tidak perlu khawatir, Pak. Saya sudah mengurusnya dengan baik," jelas Pak Rehan, dia masih tersenyum walau suaranya sedikit terbata-bata.
Pak Rahardian masih curiga, tapi dia hanya bisa memicingkan mata tanpa berkata apapun. Dia tidak bisa menuduh sembarangan karena belum menemukan fakta yang sebenarnya. Sementara di sekolah, perkembangannya memang terlihat cukup besar.
Tanpa diketahui pejabat itu, bahwa pihak sekolah telah mencuri sebagian dana untuk berfoya-foya. Bahkan parahnya, digunakan untuk memanipulasi sistem aplikasi kejujuran moral yang ada di kota ini untuk sekolah mereka.
"Baiklah kalau begitu, aku harap sekolah yang kamu pimpin bisa terus maju," kata Pak Rahardian tegas tapi lembut.
Pak Rehan mengangguk. "Iya, anda tidak perlu khawatir, Pak."
Saat hendak pulang, Pak Rahardian kembali melihat berkas-berkas penting yang masih berserakan di lantai. Dia pun menoleh pada pak Rehan yang masih sibuk bersenang-senang dengan meminum segelas anggur. Dia menatap pria itu penuh rasa curiga.
"Pak Rehan, kenapa anda membiarkan ruangan ini berantakan?" tegur Pak Rahardian sambil menunjuk dokumen-dokumen yang ada di lantai itu.
Pak Rehan menelan ludah. Dia berdiri dari kursinya dan pusing melihat lantai berserakan berkas penting. Sebenarnya itu dokumen tentang rancangan pembangunan sekolah, tapi mereka sibuk bersenang-senang sampai lupa tanggung jawab.
"Saya memang berencana untuk membersihkannya, Pak. Namun, saat ini kami sedang healing dari pekerjaan. Jadi—" penjelasan Pak Rehan dipotong oleh Pak Rahardian yang tiba-tiba mengangkat tangan dan menatap tajam.
"Saya tidak butuh alasan apapun, kalau anda memang bertanggungjawab sebagai kepala sekolah. Seharusnya anda sadar bagaimana sikap seorang pemimpin! Sekarang saya ingin ruangan ini dibersihkan!" perintah Pak Rahardian dengan keras, nadanya penuh tekanan dan tatapannya tajam. Tidak ada senyum di wajahnya.
Tak mau imagenya buruk di depan pejabat itu, Pak Rehan pun pura-pura memarahi rekan-rekan yang ikut berpesta dengannya.
"Hei, ayo bersihkan tempat ini! Jangan sampai tempat ini terlihat tidak nyaman di mata orang penting," titah Pak Rehan sambil mengarahkan beberapa orang di sana untuk membersihkan ruangan.
Beberapa orang sibuk membereskan dokumen, sementara yang lain sibuk menyapu, atau mengepel. Perlahan, ruangan kotor ini berubah menjadi ruangan yang nyaman dan menenangkan. Pak Rehan melihat pekerjaan rekannya mendengus lega. Sementara Pak Rahardian masih memantau dengan tegas.
Salah satu rekan pak Rehan menaruh dokumen itu di atas meja atasannya. Dia menatap Pak Rehan dengan penuh rasa sopan.
"Pak Rehan, ini berkas-berkas penting untuk pembangunan sekolah," ujar staf perempuan itu sembari membungkuk memberi hormat.
Pak Rahardian menatap tajam pak Rehan. "Lain kali jangan buang dokumen penting sembarangan. Jika ini terjadi lagi, aku akan memecat jabatanmu sebagai kepala sekolah!" ancam pria itu membuat Pak Rehan berdesir dan sedikit merinding.
Setelah semuanya beres dan rapi, Pak Rahardian pun duduk sejenak dengan Pak Rehan untuk membicarakan proyek pembangunan sekolah. Pak Rehan berusaha fokus walau dia merasa linglung. Dalam hati, Pak Rahardian tahu pria itu tidak bisa diajak berdiskusi. Namun, Pak Rahardian sengaja menekan sisi profesionalisme kepala sekolah itu.
Beruntung, Pak Rehan bukan sembarang orang. Dia bisa menghadapi tekanan dari Pak Rahardian dengan baik. Semua masalah dia bisa atasi saat berdiskusi dengan wali kota itu. Setelah semua urusan selesai, pak Rahardian pun pamit pulang.
Melihat kepergian Pak Rahardian, semua orang mendengus lega, terutama Pak Rehan. Namun, saat ini dia mencoba untuk tidak terlalu gegabah untuk bersenang-senang. Pria itu menghela napas panjang dan memilih duduk di kursi sambil menatap kosong dokumen yang ada di tangannya.
Sementara itu, Pak Rahardian yang masih berada di sekitar gedung itu diam-diam memperhatikan ruangan yang ditempati oleh kepala sekolah dan rekan-rekannya. Dia memegang pintu mobil sambil menatap curiga.
"Aku tidak yakin sekolah yang dia urus berkembang lebih baik. Melihat sikap dia yang foya-foya membuatku sadar, dia tidak sepenuhnya bertanggungjawab," gumam Pak Rahardian.
Salah satu asisten wali kota itu mendekat. "Apa mereka telah mengkorupsi dana bantuan dari kita?"