Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Sepasang Tikus
Atmosfer di dalam ruang VIP nomor 9 itu seketika mendingin hingga ke titik beku. Suara bariton Xavier yang tenang namun sarat akan ancaman mematikan membuat Adrian dan Valencia merasa seolah-olah leher mereka sedang dililit oleh ular sanca yang siap meledakkan tulang rusuk mereka kapan saja.
Adrian menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Dia melirik ke arah map dokumen warisan di atas meja, lalu beralih menatap kilauan cincin berlian di jari manis Eli. Keangkuhan yang dia tunjukkan di telepon dua hari lalu menguap tanpa sisa, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang menyedihkan.
"T-Tuan Arisatya... ini... ini pasti ada kesalahpahaman," ucap Adrian terbata-bata, mencoba memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang pucat pasi. "Kami... kami tidak bermaksud mengancam Eli. Kami hanya ingin menyelesaikan urusan keluarga yang sempat tertunda."
"Urusan keluarga?"
Xavier mendengus hambar, sebuah suara yang terdengar lebih mengerikan daripada makian kasar. Pria itu menegakkan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja marmer, mengikis jarak psikologis di antara mereka. Sepasang mata elangnya berkilat dipenuhi rasa muak yang mendalam.
"Apakah menjebak tunanganmu sendiri dengan obat perangsang enam tahun lalu disebut urusan keluarga, Adrian?" tanya Xavier dengan nada datar, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti hantaman palu godam. "Atau mencoba memeras istriku dengan ancaman menyebarkan rumor palsu ke media, apakah itu juga urusan keluarga yang kamu maksud?"
Mendengar rahasia paling kelam mereka dibongkar begitu saja oleh Xavier, Valencia langsung histeris. Dia tidak bisa lagi menahan rasa panik yang membakar dadanya. Dengan tangan gemetar, dia menunjuk ke arah Eli.
"Tuan Arisatya! Jangan percaya pada wanita jalang ini!" jerit Valencia dengan suara melengking tinggi, air matanya mulai merusak riasan tebal di wajahnya. "Eli yang menjebak kami! Dia sengaja tidur dengan pria lain malam itu karena dia wanita murahan! Dia tidak pantas menjadi istri Anda! Dia hanya menggunakan Anda untuk membalas dendam pada kami!"
Brak!
Xavier menggebrak meja marmer dengan satu tangan kekarnya hingga cangkir-cangkir teh di atasnya berdenting nyaring dan beberapa di antaranya retak. Gerakan tiba-tiba itu sukses membuat Valencia terlonjak kaget dan langsung menutup mulutnya dengan rapat, tubuhnya gemetar ketakutan di balik kursi.
"Jaga mulutmu, wanita jalang," desis Xavier, suaranya kini beralih menjadi sangat rendah dan penuh dengan aura membunuh yang pekat. "Wanita yang kamu sebut murahan itu adalah Nyonya Arisatya. Satu-satunya wanita yang memiliki hak penuh atas nama besarku. Dan pria lain yang kamu maksud di malam itu... adalah aku."
Kata-kata Xavier bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Adrian dan Valencia. Mereka berdua membeku, menatap Xavier dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya.
"A-Apa...?" gumam Adrian dengan bibir yang bergetar hebat. "Jadi... malam itu..."
"Benar. Kamar 909 adalah kamarku," potong Xavier dengan senyuman kejam yang sangat tampan. "Secara tidak sengaja, kalian justru mengantarkan calon istriku dan ibu dari anak-anakku langsung ke pelukanku. Untuk hal itu, aku harus berterima kasih pada kebebalan kalian. Namun, untuk penderitaan yang kalian berikan pada Eliku selama enam tahun pelariannya... aku akan membalasnya seribu kali lipat hari ini."
Xavier melirik Daniel yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. Daniel langsung maju satu langkah, membuka sebuah tas jinjing kulit hitam, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen resmi bertanda tangan kejaksaan agung serta surat penyitaan dari bank.
Daniel meletakkan dokumen-dokumen itu tepat di hadapan Adrian. "Tuan Adrian, per jam dua belas siang ini, otoritas pajak telah membekukan seluruh aset dan rekening pribadi maupun perusahaan Agensi Properti milik Anda atas dugaan penggelapan dana dan pencucian uang sebesar delapan puluh miliar rupiah."
Adrian terhuyung mundur, tangannya mencengkeram sandaran kursi agar tidak ambruk ke lantai. "Ti-tidak... ini tidak mungkin! Bagaimana bisa sedalam ini?!"
"Belum selesai," lanjut Daniel dengan nada profesional yang dingin. "Nona Valencia, pihak kepolisian juga sudah menerbitkan surat perintah penangkapan atas nama Anda terkait kasus penipuan investasi bodong berkedok agensi kosmetik yang Anda kelola bulan lalu. Seluruh korban telah melaporkan Anda pagi ini atas instruksi tim hukum Arisatya Group."
"Adrian! Tolong aku, Adrian!" Valencia mulai menangis histeris, menjatuhkan dirinya ke lantai dan mencengkeram kaki celana Adrian. Namun, Adrian sendiri sudah kehilangan jiwanya. Dia menatap kosong ke arah dokumen-dokumen yang menandakan akhir dari hidupnya.
Eli, yang sejak tadi duduk diam di samping Xavier, menatap sepasang pengkhianat itu dengan pandangan yang datar. Tidak ada lagi rasa takut di dalam hatinya, yang tersisa hanyalah rasa hambar. Enam tahun dia hidup dalam kesengsaraan karena bayang-bayang mereka, dan hari ini, di bawah kuasa mutlak suaminya, kedua orang itu dihancurkan hingga ke akar-akarnya tanpa perlu dia mengotori tangannya sendiri.
Xavier berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gestur yang sangat tenang seolah baru saja menyelesaikan makan siang biasa. Dia mengulurkan lengan kekarnya ke arah Eli.
"Ayo pulang, Istriku. Anak-anak pasti sudah menunggu," ujar Xavier lembut, berbanding terbalik dengan kekejaman yang baru saja dia tunjukkan pada musuh-musuhnya.
Eli tersenyum tulus, mengangguk pelan, lalu menyambut uluran tangan Xavier. Cincin berlian di jarinya kembali berkilau, menegaskan posisinya yang kini berada di tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh tikus-tikus seperti Adrian dan Valencia.
Tepat saat Xavier dan Eli melangkah menuju pintu keluar, beberapa petugas kepolisian berpakaian preman masuk ke dalam ruangan, langsung memasang borgol besi di pergelangan tangan Adrian dan Valencia yang terus berteriak histeris meminta ampunan. Namun, Xavier tidak menoleh sedikit pun. Perangkap sang serigala telah tertutup sempurna, mengubur masa lalu kelam Eli selamanya, dan kini saatnya dia membawa sang ratu kembali ke sangkar emas mereka yang aman.